Bacaan Pada Shalat Tarawih Apa Ada Dalilnya?
Pertanyaan

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 Ustad saya saat ini saya tarawih disalah satu mesjid dimana setiap selesai 
salam pada setiap dua rakaatnya membaca doa atau bacaan tertentu secara 
bersama-sama, apakah yang dibaca tersebut?, apakah ada dalilnya?

Terima kasih sebelumnya, Jazakallah...

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hendra

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tarawih, sebagaimana makna bahasanya, adalah istirahat. Jadi shalat Tarawih itu 
adalah shalat yang diselingi dengan istirahat. Biasanya istirahat dilakukan di 
sela-sela 4 rakaat, meski pun shalatnya tetap 2 rakaat 2 rakaat.

Pada selang istirahat itulah kemudian biasanya orang-orang di negeri kita 
menyenandungkan bait-bait syair yang indah. Tapi memang sayangnya, terkadang 
bait syair yang seharusnya indah itu, umumnya malah kurang dipahami oleh 
hadirin. Yang didengar oleh para jamaah malah sekedar bacaan-bacaan yang sama 
sekali tidak dipahaminya.

Masjid di depan rumah saya sendiri juga begitu. Ada petugas khusus yang entah 
bagaimana kemudian diistilahkan dengan sebutan `bilal`, dimana dia akan 
melantunkan syair-syair. Biasanya di malam-malam pertama, dia akan melantunkan 
senandung : marhaban ya syahra Ramadhan, dengan nadanya yang khas. Lalu jamaah 
yang hadir mengikutinya menjadi sebuah koor.

Sebagai orang yang pernah belajar sastra arab dan sering dilatih melakukan 
tahlil (makna tahlil disini adalah penguraian bukan tahlilan nih) atas karya 
sastra, apa yang dilantunkan itu sesungguhnya merupakan syair yang indah. 
Secara pribadi saya sangat suka dengan syair-syair itu, karena semunya memang 
karya yang menarik dan puitis.

Walau pun saya kurang yakin jamaah yang ikutan koor itu paham apa yang mereka 
lantunkan, bahkan barangkali sang `bilal` pun boleh jadi tidak mengerti juga. 
Buktinya, artikulasi dan penyebutan huruf-hurufnya juga sering tidak pas. Yang 
seharusnya huruf `ain malah dibaca hamzah, yang harusnya huruf sin malah dibaca 
syin. Yang seharusnya panjang malah dibaca pendek. Kadang saya hanya 
senyum-senyum sendiri saja kalau mendengar mereka salah disana -sini saat 
melantunkannya. 

Habis mau bagaimana lagi. Masak mau protes dan interupsi?

Dan apa boleh buat, baik sang `bilal` maupun jamaahnya, kelihatannya juga asik 
sekali melantunkan bait-bait syair itu. Sampai mata mereka merem semua, berarti 
bait-bait itu sudah mereka hafal di luar kepala. Tidak butuh teks sama sekali.

Terkadang bait-bait syair itu mengandung doa juga, tergantung apa yang sedang 
mereka baca. Kadang berisi pujian kepada Allah, juga kadang berisi shalawat 
kepada Rasulullah SAW. 

Adakah Dalil Quran atau Sunnah Atas Bait-bait Itu?

Jawabnya ya sama sekali tidak ada. Lha wong apa yang mereka lantunkan itu pun 
juga bukan ayat Quran atau hadits nabawi, bagaimana bisa dibilang ada dasarnya?

Yang mereka baca itu sebagaimana saya sebutkan adalah karya sastra buatan para 
pujangga. Dan sebagai karya sastra, saya akui semuanya bagus, baik, indah dan 
tentu saja puitis. Pas kalau dijadikan selingan buat rehat sejenak.

Apakah Jadi Bid`ah?


Nah ini dia pertanyaan pamungkasnya. Justru pertanyaan ini yang paling seru dan 
ditunggu-tunggu. Kalau tidak ada dalilnya dari Quran dan Sunnah, apakah 
pembacaan lafadz-lafadz itu menjadikan shalat tarawih itu bid`ah?

Jawabannya tergantung anda termasuk mazhab mana?

Kalau antum penganut kalangan yang punya hobi membid`ahkan apa pun, maka jelas 
sekali semua itu jadi bid`ah. Resikonya, dengan metodologi pembid`ahan itu, 
siapa pun yang hadir dalam shalat tarawih adalah termasuk pelaku bid`ah. Dan 
logika yang sering dipakai, berarti semuanya akan masuk neraka. Sebab sesuai 
sabda Nabi SAW, semua bid`ah sesat dan semua sesat itu di neraka.

Dengan nalar seperti ini, haram hukumnya shalat tarawih di masjid, karena 
hampir semua masjid di negeri ini ketika menyelenggarakan shalat tarawih, akan 
melantunkan bait-bait syair seperti ini.

Bahkan dengan nalar seperti itu, kita malah jadi diwajibkan memerangi semua 
orang Islam yang shalat tarawih di masjid. Kok begitu? Ya, karena doktrin 
pembid`ahan paling utama adalah kita wajib memerangi para ahli bid`ah. Kalau 
perlu kita wajib melakukan boikot dan memutuskan hubungan tali silaturrahim 
kepada para pelaku bid`ah.

Serem juga ya, kok kita malah jadi memusuhi umat Islam?

Tapi, 

Tetapi kalau antum tidak termasuk yang berpaham seperti itu, lalu punya 
pandangan yang luas dan terbuka, tidak didoktrin oleh satu pandangan yang 
ngotot mau menangnya sendiri, pasti masalahnya tidak akan terlalu rumit.

Sebenarnya kalau kita mau membid`ahkan pembacaan syair-syair itu, kita pun 
seharusnya membid`ahkan ceramah tarawihnya juga sekalian. Sebab ceramah tarawih 
itu pun sesungguhnya tidak ada di zaman Rasulullah SAW.  

Kenapa ceramah tarawih tidak dibid`ahkan sementara pembacaan syair justru 
dibid`ahkan? Ini namanya tidak adil dan tidak berimbang. Ini yang disebut 
membuat vonis hukum dengan cara tebang pilih. Kalau cocok dengan selera, 
dibolehkan. Tapi giliran kurang cocok, lantas dibid`ahkan.

Maka saya cenderung untuk tidak mudah membid`ahkan apa-apa yang logika hukumnya 
masih belum terlalu kuat. Jadi silahkan saja di sela-sela shalat tarawih itu 
kita melakukan aktifitas, yang penting tidak termasuk yang dilarang. Di 
sela-sela tarawih itu kita malah boleh makan minum, mengkaji ilmu, bersyair, 
bahkan melakukan pembicaraan ringan yang bermanfaat.

Asalkan semua itu tidak dilakukan pada saat sedang di dalam shalat tarawih. 
Kalau sampai demikian, barulah itu namanya bid`ah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Ahmad Sarwat, Lc

Kirim email ke