Lebaran Tidak Lewat Sini
oleh Fiyan Arjun 

Menghitung bilangan hari Raya Idul Fitri memanglah gampang untuk diucapkan. Bak 
selaksa membuang air liur tanpa lebih dahulu diproses. Dibuang lantas tak perlu 
dipikirkan lagi. Namun hal ini beda bila bulan Ramadhan sudah dipenghujung 
hari. Sehingga tak terasa puasa sudah memasuki dua pekan dari hari pertama 
berpuasa. Tinggal 14 hari lagi seluruh umat muslimin di dunia akan menuju hari 
Kemenangan. Menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri dengan suka cita 
nantinya.Sayangnya hal itu tidak dirasakan oleh orang yang sangat familiar 
untuk saya. Dialah kakak perempuan saya. Ia merasa dibuat pusing tujuh keliling 
bila memikirkan hari Raya Idul Fitri. Atau, lebih dikenal dengan Hari Raya 
Lebaran. Dimana kakak saya itulah yang merasakan dampak dan efeknya bila hari 
raya itu tinggalah menjadi bilangan waktu yang akan segera tiba. Apalagi kalau 
bukan meluluskan permintaan baju Lebaran untuk anak perempuanya. Ironi memang!
"Memang puasa tinggal berapa hari lagi, Yan?" tanya kakak saya itu saat ia 
sedang membuat bumbu masak untuk lauk pauk berbuka puasa di tengah hari 
teriknya matahari yang sangat membakar kulit.
"Lha, memangnya nggak tahu kalau puasa tinggal berapa hari lagi," jawab saya 
memastikan bahwa kakak saya itu memang benar-benar tidak tahu. Atau, memang ia 
lagi sibuk membuat bumbu masak jadi tidak tahu-menahu sudah berapa hari puasa 
terlewati.
"Iya nih habisnya mikirin dagangan lagi sepi dan si Pritha minta baju lebaran 
lagi. Pusing nih Mpok, Yan!" seru kakak saya sambil mengoseng bumbu masak di 
dapur yang aroma baunya tercium sampai ke indera penciuman saya hingga.hatcihhh 
dan saya pun jadi terbersin-bersin. Itu semua karena kenakalan aroma bau bumbu 
masak yang di oseng kakak saya itu. Terus menggelitiki bulu hidung saya agar 
merasa ikut menikmati aroma itu. Hmm.untungnya iman saya kuat jadi segala aroma 
tercium tidak membuat keteguhan saya untuk menjalani ibadah puasa merasa 
terganggu sedikit pun. Apalagi sampai jebol. Ih, nggak kali,,,Malu sekali kalau 
hal itu sampai terjadi. Malu sama keponakan saya yang sekarang ini lagi belajar 
puasa sampai penuh. Pol! Puasa sebulan penuh. Jikalau hal itu bisa terjadi malu 
dong saya sebagai pamannya. Kok begitu aja tidak kuat tahan iman. Cape deh!


Saya yang melihat kegelisahan kakak saya yang memikirkan anak perempuannya 
yang-masih duduk dibangku kelas 6 SD itu merasa cukup prihatin selaku saya 
sebagai adiknya. Dikarenakan anak perempuannya itu tak mengerti juga untuk 
segera dibelikan baju Lebaran tanpa melihat kondisi orangtuanya (Ibunya) itu 
yang notabene kakak saya itu. Tidak mengerti kalau kondisi keuangan kakak saya 
itu lagi tak menentu hingga membuat ia semakin jadi tak konsentrasi menjalankan 
ibadahnya. Hmm.ternyata susah juga ya jadi orang tua?Jika saya melihat rasa 
kegelisahan saat-saat menjelang hari Raya Idul Fitri yang dialami kakak saya 
itu jadi teringat kawan saya yang belum lama ini curhat dengan saya. Lagi-lagi 
tentang Hari Raya Idul Fitri yang sebentar lagi tiba. Ya, walau lain kasus tapi 
tujuannya sama. Yakni, sama-sama gelisah untuk menghadapi hari raya nanti itu.
"Gue belum ada persiapan apa-apa ini, Yan," ucap kawan saya saat ia membuka 
topik pembicaraan tentang menjelang Hari Raya Kemenangan itu ketika sedang 
silturahim ke rumah saya. Kawan saya itu terasa tidak afdhal bila hari raya itu 
nanti tidak mempersiapkan apa-apa.
"Memangnya ente belum nyiapin apa," jawab saya memastikan persiapan apa yang 
belum kawan saya siapi saat itu.
"Gue belum nyiapan THR buat para keponakan gue. Apalagi gue sudah married 
berarti bukan keponakan gue aja yang perlu di kasih tetapi keponakan bini gue 
juga, Yan," terucap sudah apa yang menjadi kegelisahaan kawan saya itu ketika 
hari-hari puasa hanya tinggal hitungan jari saja.
"Dikira apa! Ya, santai aja lagi. Nggak usah dipikirin kayak begitu. Gue juga 
banyak keponakan tapi gue santai aja. Kalau ada ya kasih, lha kalau memang 
nggak ada mau dikata apa," jawab saya apa adanya.
Kawan saya hanya geleng-geleng kepala saat saya berkata demikian. Ia tak 
menyangka kalau saya menjawab seperti itu. Seperti saya tak ada beban saat-saat 
orang lain memikirkan akan datangnya Hari Raya Lebaran nanti tetapi ini saya 
santai saja. Hingga membuat kawan saya tambah pusing lagi melihat respon saya 
seperti itu. Ada-ada saja!
Lagi-lagi saya yang melihat keadaan kakak saya dan kawan saya itu saya jadi 
khawatir jika hari raya sealu didentikan selalu baju baru Lebaran, kue Lebaran, 
salam tempel serta THR. Wah, bisa-bisa kesakralan hari Raya Idul Fitri sendiri 
itu akan ternoda dengan hal-hal semacam itu. Hanya karena baju baru Lebaram, 
kue Lebaran, salam tempel serta THR terus menggelayuti pikiran kakak saya dan 
kawan saya itu. Kalau sudah begitu bagaimana (mungkin) bisa menjalani ibadah 
puasa dengan tenang dan khusyu. Bila soal baju baru Lebaran buat anak, salam 
tempel buat para keponakan, kue Lebaran untuk penyambutan tamu jika bertandang 
disaat Lebaran hingga THR tidak tepat waktu diberikan oleh perusahaan menjadi 
hantu disaat hari Raya Idul Fitri sebentar lagi tiba.
Entahlah. Itu membuat saya mengernyitkan kening jika saya melihat apa yang 
sudah saya alami dari kejadian dua orang yang saya jadikan contoh. Agar saya 
selalu terus menguatkan ibadah saya agar tidak terusik dengan datang hari Raya 
Idul Fitri nanti. Toh, lagi pula memangnya Lebaran jadinya juga lewat sini. 
Begitulah ketika saya melempari joke-joke ketika kalau saya sedang berkumpul 
dengan kawan-kawan saya yang lainnya jika topiknya selalu membicarakan tentang 
hari Raya Idul Fitri yang sebentar lagi tiba. Alias, Lebaran yang identik 
mempersiapkan keperluan ini-itu. Alah, pusing euy.Padahal belum tentu Lebaran 
lewat sini! Dan mereka yang mendengar guyonon saya seperti itu tentunya akan 
sejenak melupakan kegelisahannya saat itu. Hmm.aneh bin ajaib menjadi manusia 
itu ya? Diberi kenikmatan kadang lupa bersyukur. Bukannya berpikir tahun depan 
bisa bertemu Ramadhan lagi atau tidak. Lha ini malah memikirkan besok Lebaran 
pakai apa ya? Padahal belum tentu Lebaran tahun depan lewat sini!(fy)

Penulis adalah anggota dan pengurus FLP Jakarta dan penulis buku Bela Diri for 
Muslimah. Jika ingin bersilaturahim tinggal 
klik:http://sebuahrisalah.multiply.com/Fb:[email protected].

Ulujami-Pesanggrahan, 14 Ramadhan 1430 H

www.eramuslim.com

Kirim email ke