Senin, 14 September 2009 | 05:24 WIB
Muhammadiyah Pastikan Idul Fitri Minggu

JAKARTA, KOMPAS.com — Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan, Idul Fitri
1 Syawal 1430 Hijriah jatuh pada 20 September 2009. Muhammadiyah mengacu
pada hasil hisab (perhitungan) kalender.

Sementara itu, Departemen Agama dan Majelis Ulama Indonesia baru akan
melangsungkan sidang isbat penetapan Idul Fitri pada 19 September.

Wakil Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Fatah Wibisono mengatakan, hasil hisab itu sudah dicantumkan dalam
maklumat PP Muhammadiyah Nomor 06/MLM/I.0/E/2009 tentang Penetapan 1
Ramadhan, 1 Syawal, dan 1 Zulhijah tertanggal 23 Juli 2009. Penetapan
berdasarkan sidang hasil hisab Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah
di Yogyakarta pada 11 Juni 2009.

”Majelis memedomani hisab hakiki wujudul hilal dan hasilnya 1 Syawal
1430 Hijriah jatuh pada 20 September 2009,” ujarnya ketika dihubungi
dari Jakarta, Minggu.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Departemen Agama Bahrul Hayat
mengatakan, pemerintah belum menentukan Idul Fitri secara resmi.
Rencananya, Depag baru akan menggelar sidang isbat pada 19 September.

Hargai

Pemerintah menghargai keputusan Muhammadiyah yang telah menetapkan
tanggal Idul Fitri. Hal itu adalah hak setiap organisasi massa dalam
menentukan hari raya keagamaan yang disesuaikan dengan keyakinan dan
cara perhitungan masing-masing. ”Itu adalah keputusan internal
Muhammadiyah sebagai sebuah ormas. Berdasarkan hisab atau perhitungan
mereka, Idul Fitri jatuh pada hari Minggu,” ujarnya.

Meski demikian, Bahrul berharap masyarakat mengikuti hasil sidang isbat.
Dalam sidang itu, semua ormas Islam, termasuk Nahdlatul Ulama dan
Muhammadiyah, akan diundang dan dilibatkan dalam Dewan Hisab dan Rukyat
Departemen Agama.

Bahrul menegaskan pentingnya kebersamaan dan persatuan umat. ”Penetapan
hari Idul Fitri oleh Depag sebagai wakil pemerintah juga bukan untuk
kepentingan salah satu ormas tertentu,” katanya.

Ia berharap masyarakat dan semua komponen ormas Islam bersabar menunggu
sidang isbat dan merayakan Idul Fitri tahun ini dengan mengikuti
keputusan pemerintah.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Amidhan mengakui, ada dua metode penetapan
awal bulan, yakni hisab dan rukyat hilal. Hasil kedua metode itu bisa
saja berbeda.

Hisab hakiki merupakan penghitungan awal bulan dalam tahun Hijriah, yang
antara lain menggabungkan ilmu falak dan matematika. Sementara rukyat
hilal mengutamakan pengamatan langsung hilal atau bulan sabit pada hari
pertama sebagai dasar penetapan awal bulan. (RAZ/REK)

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke