Assalamu'alaikum wr. wb.,

Sepenggal kisah kehidupan sosialita kota. Both good and bad.

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah
permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan
berbangga-banggaan di antara kamu dan bermegah-megahan tentang
banyaknya harta dan anak..." (Petikan QS Al-Hadid [57]: 20).

Wassalamu'alaikum wr. wb.,
Andri

--begins--
"Kinclong" Tapi Bolong

Oleh : Fradhyt Fahrenheit, Penulis Novel
KOMPAS, Jumat, 25 September 2009 | 02:45 WIB

Tiga hari menjelang Lebaran lalu, saya sedang menunggu teman-teman
saya berbuka puasa bersama di sebuah restoran berputar nan mewah di
salah satu gedung pencakar langit di Jakarta. Suasana begitu syahdu
di ruangan ini, jauh berbeda dengan jalanan di bawah sana yang hiruk
pikuk dan macet.

Di meja sebelah berkumpul tiga ibu muda. Mereka adalah para
sosialita yang
sering terlihat di berbagai pesta kalangan atas Jakarta. Di hadapan
mereka tersaji hidangan melimpah-ruah untuk berbuka puasa.

Tiba-tiba, salah satu dari mereka memaki di telepon genggam.

"Tahu, enggak, Yem?! Baju itu seharga sepuluh tahun kamu kerja!
Belum pernah
dipakai, sudah kamu laundry?! Bego amat sih?! Pokoknya, harus sudah
ketemu sebelum saya berangkat umrah besok! Kalau tidak, potong gaji
dan kamu tidak boleh mudik!" sergahnya.

"Wah, Jeng Sisly jadi umrah?" komentar satu temannya. "Biasa, Si
Madame. Kalau Lebaran enggak ada bedinde sama tukang kebun, escape,
deh!" timpal temannya yang lain.

"Oh iya, dong, habis umrah, kita langsung belanja ke Eropa. Aku lagi
incar tas
Louis Vuitton terbaru di Paris, sekalian ke London lihat konser 100
hari wafatnya Michael Jackson!" ujar orang pertama yang ternyata
bernama Jeng Sisly itu.

Saya cuma tersenyum memandang "hiburan gratis" itu. Tiba-tiba di
meja lain,
terdengar seorang bapak muda bergaya metroseksual tidak kalah heboh
mengumpat di telepon genggamnya. "Pokoknya, saya tidak mau tahu,
mobil harus sudah sampai besok pagi! Lebaran
nanti buat saya pakai ke open house Pak Menteri! You minta servis
yang bagus. Harga mobil itu, kan, hampir Rp 3 miliar?"

Sungguh suasana buka puasa yang bikin bete. Apakah mereka tak tahu
makna puasa? Mereka mengejar kesempurnaan dan tampang kinclong pada
hari Lebaran dengan cara mencaci-maki.

Akhirnya, teman-teman saya pun datang. Mereka suami istri dari
keluarga pengusaha jamu terpandang dan tentu saja kaya. Mereka
mengajak saya ikut berlebaran bersama para korban gempa di sebuah
desa di Tasikmalaya. Mereka berencana membagi zakat dan sembako
kepada para korban itu dan tak mau
ada publikasi!

Ah, seandainya semua orang terkaya di Jakarta seperti sosok teman
saya itu.
--ends--
Sent from my AXIS BlackBerry®


------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke