----- Original Message ----- 
From: masjid annahl 
Sent: Monday, October 05, 2009 11:06 AM

Seri : Renungan
Surauku Telah Roboh
Senin, 05/10/2009 10:20 WIB 

Kita menjadi sangat sedih. Kita menitikkan air mata. Kita menjadi berduka, 
ketika melihat akibat gempa di kota Padang dan sekitarnya. Konon, ribuan orang 
masih terperangkap dalam rerentuhan bangunan. Lebih perih lagi dengan kabar 
hampir 400 orang penduduk di tiga desa Padang Pariaman yang terkubur 
hidup-hidup, ketika saat berlangsung pesta pernikahan.

Mengapa harus sedih? Mengapa harus menitikkan air mata? Mengapa harus berduka? 
Wajar kalau manusia menjadi sangat tersentuh dengan peristiwa yang secara 
visual dirasakan langsung. Dapat menyentuh seluruh esensi perasaan. Bangunan 
porak-poranda. Gedung-gedung, rumah, sekolah, rumah sakit, dan masjid-masjid 
ikut runtuh. Tangisan-tangisan orang-orang yang kehilangan.Kehilangan 
sanak-famili,harta benda, dan segalanya, yang pernah mereka miliki.

Tapi, pernahkah kita bersedih, ketika melihat Surau (masjid) yang sedikit 
jamaahnya, saat shalat tiba? Hanya orang-orang tua, yang sudah hampir uzur, 
yang pergi ke Surau, dan jumlahnya tidak sampai satu shaf. Anak-anak muda sudah 
jarang ke Surau. Mereka hanya duduk-duduk di dekat Surau, saat adzan tiba 
berkumandang. Tak tergerak hatinya untuk shalat. Padahal, Islam akan tegak bila 
para pemeluknya menegakkan shalat. Bila pemeluknya sudah tidak lagi 
melaksanakan shalat, pertanda agama itu akan roboh, dan pemeluknya akan ikut 
roboh.

Bila kita berkunjung ke Sumatera Barat, dan Sumatera, pada umumnya, keadaan 
itu, dan begitu sedikitnya orang-orang melaksanakan shalat di Surau.

Tidak ada cerita lagi, anak-anak di Sumatera Barat, yang tidur di Surau di 
malam hari, dan mengaji serta mnghafal Al-Qur’an, seperti dahulu kala. Mereka 
banyak tak lagi mengenal Kitabullah Al-Qur’anul Karim. Pemerintah daerah 
mewajibkan anak-anak belajar Al-Qur’an, karena sudah banyak anak-anak yang 
tidak lagi pandai membaca Al-Qur’an. Konon, di Sumatera Barat, ada ungkapan, 
yang memiliki akar sejarah, yaitu, ‘Adad bersendi syara’, dan syara’ bersendi 
Kitabullah’. Masihkah, Kitabullah (Al-Qur’an) menjadi pegangan, sandaran, dan 
rujukan hidup, serta pedoman hidup terutama dikalangan masyarakat Sumatera 
Barat?

Pernahkah kita bersedih, jika anak-anak muda jauh dari agama Islam, dan tidak 
faham dengan Islam? Sekarang tak ada lagi, ulama, fuqaha, dan orang-orang yang 
‘tafaqu fiddin’ (mendalami agama), yang lahir dari Sumatera Barat. Generasinya 
Buya Hamka, Buya Sutan Mansyur, Buya Malik Ahmad, Buya Zas, Buya Datok Palimo 
Kayo, Isa Anshari, dan Mohammad Natsir, sudah tidak tumbuh lagi. Orang-orang 
yang terdidik, dan memiliki pemahaman Islam serta komitment memiliki terhadap 
Islam, yang baik, sudah tidak tumbuh lagi.

Sekarang, yang ada hanya kaum ‘pedagang’, yang menjadi generasi baru dikalangan 
masyarakat ‘Minangkabau’, semangat mengumpulkan harta, itulah yang menjadi 
kecenderungan baru. Mereka semuanya sibuk dengna urusan harta dan dunia, tapi 
mereka tidak mau lagi mengenal akhirat, dan kematian. Mereka terus mengumpulkan 
harta, setiap hari dan waktu, tanpa lagi mengingat Rabbnya. Di pasar-pasar, 
toko-toko, dan perusahaan-perusahaan, yang memberikan kenikmatan kehidupan 
dunia, dan melalaikan mereka.

Pernahkah kita bersedih, ketika melihat anak-anak muda di kota Padang dan 
sekitarnya, yang wanitanya tidak lagi menutup aurat mereka? Pergaulan bebas 
melanda kehidupan mereka. Mereka yang mulai makmur, dan menikmati melimpahnya 
materi menjadi sangat bebas. Tempat-tempat wisata menjadi saksi atas berubahnya 
kehidupan mereka. Di malam minggu, pesisir kota pelabuhan Teluk Bayur, menjadi 
saksi atas bentuk-bentuk kemaksiatan, dan lupanya mereka kepada Rabbnya.

Di kota Padang, mall, plaza, hotel berbintang, serta kafe, menggantikan Surau 
bagi anak-anak muda. Di kota tempat-tempat yang menjadi kunjungan wisata, dan 
didatangi turis asing, seperti kota yang dekat dengan Danau Maninjau, tempat 
lahirnya Buya Hamka, konon sudah berani pedagang, yang memiliki rumah makan, 
menjual minuman keras (bir). Tidak takut lagi dengan syara’ (hukum agama). 
Konon, kalangan masyarakat Padang, yang sudah makmur ekonominya, orang tua 
menjadi sangat ‘malu’, kalau anaknya masih menggunakan bahasa Minang.

Dikalangan masyarakat, diantara orang tua, banyak yang memberi nama anaknya, 
yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama (Islam) yang mereka peluk, 
misalnya mereka memberi nama anak-anak mereka diantaranya, seperti Samuel, 
David, John, Edward, Oktovianus, Henry, dan lainnya. Sepertinya, menjadi ‘malu’ 
atau ‘takut’ memberi nama dengan kata-kata yang memiliki keterkaitan dengan 
Islam. Mereka menjadi terasing dengan agama mereka.

Belakangan ini, terdapat pula, diantaranya, kalangan terdidik dari ‘Minang’, 
yang ikut dalam gerakan liberal, dan diantaranya telah ada, konon, yang berani 
menikahkan orang yang berbeda agama. Orang-orang ini yang disebut generasi 
‘kosmopolitan’, menjadi genarasi baru dari rantau ‘Minang’, yang ada di 
Jakarta, dan disebut penganut faham ‘pluralis’, dan merasa generasi yang paling 
modern, dan berhasil meninggalkan budaya mereka, yang mereka anggap ‘kolot’.

Mengapa kita hanya menangisi bangunan yang porakporanda, dan kematian yang 
menimpa penduduknya?

Mengapa kita tidak menangisi terhadap mereka yang sudah jauh dari Rabbnya, dan 
meninggalkan agamnya Islam? Mengapa kita tidak menangisi generasi yang sudah 
jauh dari agamanya Islam, dan menjadi porakporanda akhlaknya, perlilakunya 
kehidupannya, yang akan lebih menghancuarkan lagi bagi kehidupan. Tidak ada 
artinya kerusakan dan kehancuran akhlak, disbanding dengan gempa yang 
porakporandakan itu. Sebelumnya, mereka hanya disibukkan dengan urusan dunia, 
dan tidak lagi mengingatkan kematian, dan hari akhirat. Ketika datang peristwa 
yang menyentakkan kesadaran, mereka menangis, mereka tidak dapat menerima 
kenyataan. Padahal, semua kehidupan di dunia pasti akan berakhir.

Wahai manusia, hiduplah sesukamu dalam keadaan sehat,

di bawah naungan istana-istana yang megah, dan segala keinginanmu terpenuhi,

di waktu pagi dan petang.

Tapi, “Apabila nafas sudah mulai tersengal, tinggal satu-satu di dada,

saat itulah kamu tahu pasti,

bahwa dahulu kamu tidak hanya terpedaya dengan kehidupan dunia”.

Betapa sedihnya hati ini, melihat Surauku telah roboh. Bukan karena dahsyatnya 
hentakan gempa, tapi Suarau itu telah ditinggalkan ummatnya. Wallahu ‘alam.

sumber : eramuslim.com 

Kirim email ke