Good posting. Saya juga mencium hal-hal yang kurang positif dari 'f' ini.
Saya sendiri punya account-nya, tapi sekedar melayani permintaan teman-teman
yang pengin mengajak pertemanan online. Anak saya bilang 'fesbuk ayah
sepiii...' (soalnya gak pernah diisi ...).

Saya fwd ya pak Yahya ...

--amin

Pada 22 Oktober 2009 08:22, A. Yahya Sjarifuddin <[email protected]>menulis:

> Ketika Iffah Mulai Luntur (di balik fenomena facebook)
>
> Ketika perpecahan keluarga menjadi TONTONAN YANG DITUNGGU dalam sebuah
> episode infotainment setiap hari. Ketika aib seseorang ditunggu-tunggu
> ribuan mata bahkan jutaan dalam berita-berita media massa.
>
> Ketika seorang celebritis DENGAN BANGGA menjadikan kehamilannya di luar
> pernikahan yang sah sebagai ajang sensasei yang ditunggu-tunggu "siapa
> calon bapak si jabang bayi ?"
>
> Ada kabar yang lebih menghebohkan, lagi-lagi seorang celebrities yang
> belum resmi berpisah dengan suaminya, tanpa rasa malu berlibur, berjalan
> bersama pria lain, dan dengan mudahnya mengolok-olok suaminya.
>
> Wuiih......mungkin kita bisa berkata ya wajarlah artis, kehidupannya ya
> seperti itu, penuh sensasi. Kalau perlu dari mulai bangun tidur sampai
> tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh publik.
>
> Wuiiih......ternyata SEKARANG BUKAN HANYA ARTIS yang bisa seperti itu,
> SADAR atau TIDAK, ribuan orang sekarang sedang menikmati aktivitasnya
> apapun diketahui orang, dikomentarin orang bahkan mohon maaf
> ....'DILECEHKAN' orang, dan HERAN-NYA perasaan yang didapat adalah
> 'KESENANGAN'...???
>
> Fenomena itu bernama FACEBOOK, setiap saat para facebooker meng update
> statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentarin lainnya. Lupa atau
> sengaja hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga,
> menjadi kebanggaan di statusnya. Lihat saja beberapa status facebook :
>
> Seorang wanita menuliskan :
>
> "Hujan-hujan malam2 sendirian, enaknya ngapain ya.....?"
> Kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan perempuan, bahkan
> seorang lelaki temannya menuliskan,
> "mau ditemanin ? Dijamin puas deh..."
>
> Seorang wanita lainnya menuliskan :
>
> "Bangun tidur, badan sakit semua, biasa....habis malam jumat ya begini..."
> Kemudian komen2 nakal bermunculan...
>
> Ada yang menulis,
>
> "bete nih di rumah terus, mana misua jauh lagi....",
> Kemudian komen2 pelecehan bermunculan
>
> Ada pula yang komen di wall temannya,
> "eeeh ini si anu ya..., yg dulu dekat dengan si itu khan? Aduuh dicariin
> tuh sama si itu....”
> Lupa klu si anu sudah punya suami dan anak-anak yang manis
>
> Yang laki-laki tidak kalah hebat menulis statusnya:
> "habis minum jamu nih...., ada yang mau menerima tantangan ?"
> Langsung berpuluh2 komen datang..
>
> Ada yang hanya menuliskan,
> "lagi bokek, kagak punya duit..."
>
> Dan ribuan status-status yang numpang beken dan pengin ada komen-komen
> dari lainnya
>
> Dan itu sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita, mata kita,
> telinga kita, bahkan pikiran kita.
>
> Ada yang lebih kejam dari sekedar status facebook, dan herannya seakan
> hilang rasa empati dan sensitifitas dari tiap diri terhadap hal-hal yang
> semestinya di tutup dan tidak perlu di tampilkan.
>
> Seorang wanita dengan nada guyon mengomentarin foto yang baru sj di
> upload di albumnya, foto-foto saat SMA dulu setelah berolah raga memakai
> kaos dan celana pendek.....padahal sebagian besar yg didalam foto
> tersebut sudah berjilbab.
>
> Ada seorang karyawati mengupload foto temannya yang sekarang sudah
> berubah dari kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan islami, foto saat
> dulu jahiliyah bersama teman2 prianya bergandengan dengan ceria....
>
> Ada pula seorang pria meng-upload foto seorang wanita mantan kekasihnya
> dulu yang sedang dalam kondisi sangat seronok padahal kini sang wanita
> telah berkeluarga dan hidup dengan tenang.
>
> Rasanya hilang apa yang diajarkan seseorang yang sangat dicintai
> Allah...., yaitu Muhammad, Rasulullah kepada umatnya. Seseorang yang
> sangat menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya. Ingatkah ketika
> Rasulullah bertanya pada Aisyah :
>
> "Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi ini?" maka Istri tercinta,
> sang humairah, sang pipi merah Aisyah menjawab "Rasul, kekasih hatiku,
> sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi ini". Rasul dengan
> senyum teduhnya berkata "baiklah Aisyah, aku berpuasa hari ini."
> Tidak perlu orang tahu bahwa tidak ada makanan di rumah Rasulullah....
>
> Ingatlah Abdurahman bin Auf mengikuti Rasulullah berhijrah dari mekah ke
> madinah, ketika saudaranya menawarkannya sebagian hartanya, dan sebagian
> rumahnya,
>
> Maka abdurahman bin auf mengatakan, tunjukan saja saya pasar.
> Kekurangannya tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan hidupnya.
> Bahwasanya kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan seseorang,
> sebagaimana Rasulullah, bersabda:
>
> "Malu itu sebahagian dari iman." (Bukhari dan Muslim).
>
> Dan fenomena di atas menjadi Tanda Besar buat kita umat Islam, hegemoni
> ‘kesenangan semu’ dan dibungkus dengan ‘persahabatan fatamorgana’
> ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang
> melindas semua tata krama tentang Malu, tentang menjaga Kehormatan Diri
> dan keluarga.
>
> Dan Rasulullah menegaskan dengan sindiran keras kepada kita,
>
> “Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu mau.” (Bukhari).
>
> Arogansi kesenangan semakin menjadi-jadi dengan tanpa merasa bersalah
> mengungkit kembali aib-aib masa lalu melalui foto-foto yang tidak
> bermartabat yang semestinya dibuang saja atau disimpan rapat.
>
> Bagi mereka para wanita yang menemukan jati dirinya, dibukakan cahayanya
> oleh Allah sehingga saat di masa lalu jauh dari Allah kemudian ter
> inqilabiyah – tershibghoh, tercelup dan terwarnai cahaya ilahiyah,
> hatinya teriris melihat masa lalunya dibuka dengan penuh senyuman, oleh
> orang yang mengaku sebagai teman, sebagai sahabat.
>
> Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib masa lalu,
> mudah-mudahan Allah menjaga aib-aib kita.
>
> Maka jagalah kehormatan diri kita, simpan rapat keluh kesah kita, simpan
> rapat aib-aib diri, jangan bebaskan ‘kesenangan’, ‘gurauan’ membuat
> Iffah kita luntur tak berbekas.
>
> Jazakallah khair
>
> Sumber : FTJAI
>
>

Kirim email ke