Alhamdulillah, berarti Pak Lana sudah bisa menggunakan dan memanfaatkan
FB dengan baik :)

Kalau saya lihat, artikel itu memang hanya membahas FB dari sisi
negatifnya saja (sisi positifnya tentu banyak juga) dan artikel itu
sepertinya memang ditujukan sebagai warning untuk para pengguna FB
pemula agar mereka tidak salah kaprah dan ikut-ikutan mengumbar aib
seperti yang saat ini banyak ditulis di status fesbuk-nya.

Allahu a'lam.

    -- A. Yahya Sjarifuddin.


lana sularto wrote:
> Saya juga baca di banyak milis tulisan ini, namun bagi saya tetep yang 
> namanya teknologi, selalu mempunyai 2 mata, satu positif dan satu lagi 
> negatif, tergantung bagaimana kita menggunakannya.
> Saya sendiri jarang sekali mendapat tulisan2 seperti yang ditulis ini, karena 
> saya sangat selektif dalam memilih teman di FB, sehingga jaringan kita hanya 
> berisi teman2 yang memang kita sudah kenal, jadi kemungkinan muncul tulisan2 
> aneh seperti itu bisa diminimalkan.
> Yang saya heran, kenapa tulisan2 yang selalu menjelekkan FB banyak beredar 
> akhir2 ini, tanpa ada yang berani meng-counter...tapi amat sangat minim 
> tulisan yang menunjukkan manfaat FB. Saya sendiri merasa terbantu karena saya 
> ikut forum2 yang di FB seperti Al Qur'an dan hadits today, belajar bahasa 
> arab, Al-Qur'an & Sunnah Pelitaku, dll
> Lana's
>
> --- On Wed, 10/21/09, amin widada <[email protected]> wrote:
>
>   
>> From: amin widada <[email protected]>
>> Subject: Re: [Ar-Royyan-9327] Ketika Iffah Mulai Luntur (di balik fenomena  
>> facebook)
>> To: [email protected]
>> Date: Wednesday, October 21, 2009, 10:11 PM
>> Good posting. Saya juga mencium hal-hal
>> yang kurang positif dari 'f' ini.
>> Saya sendiri punya account-nya, tapi sekedar melayani
>> permintaan teman-teman yang pengin mengajak pertemanan
>> online. Anak saya bilang 'fesbuk ayah sepiii...'
>> (soalnya gak pernah diisi ...).
>>  
>> Saya fwd ya pak Yahya ...
>>  
>> --amin
>>
>>
>> Pada 22 Oktober 2009 08:22, A.
>> Yahya Sjarifuddin <[email protected]>
>> menulis:
>>
>> Ketika Iffah Mulai Luntur
>> (di balik fenomena facebook)
>>
>> Ketika perpecahan keluarga menjadi TONTONAN YANG DITUNGGU
>> dalam sebuah
>>
>> episode infotainment setiap hari. Ketika aib seseorang
>> ditunggu-tunggu
>> ribuan mata bahkan jutaan dalam berita-berita media massa.
>>
>> Ketika seorang celebritis DENGAN BANGGA menjadikan
>> kehamilannya di luar
>> pernikahan yang sah sebagai ajang sensasei yang
>> ditunggu-tunggu "siapa
>>
>> calon bapak si jabang bayi ?"
>>
>> Ada kabar yang lebih menghebohkan, lagi-lagi seorang
>> celebrities yang
>> belum resmi berpisah dengan suaminya, tanpa rasa malu
>> berlibur, berjalan
>> bersama pria lain, dan dengan mudahnya mengolok-olok
>> suaminya.
>>
>>
>> Wuiih......mungkin kita bisa berkata ya wajarlah artis,
>> kehidupannya ya
>> seperti itu, penuh sensasi. Kalau perlu dari mulai bangun
>> tidur sampai
>> tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh
>> publik.
>>
>>
>> Wuiiih......ternyata SEKARANG BUKAN HANYA ARTIS yang bisa
>> seperti itu,
>> SADAR atau TIDAK, ribuan orang sekarang sedang menikmati
>> aktivitasnya
>> apapun diketahui orang, dikomentarin orang bahkan mohon
>> maaf
>> ....'DILECEHKAN' orang, dan HERAN-NYA perasaan yang
>> didapat adalah
>>
>> 'KESENANGAN'...???
>>
>> Fenomena itu bernama FACEBOOK, setiap saat para facebooker
>> meng update
>> statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentarin lainnya.
>> Lupa atau
>> sengaja hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal
>> keluarga,
>>
>> menjadi kebanggaan di statusnya. Lihat saja beberapa status
>> facebook :
>>
>> Seorang wanita menuliskan :
>>
>> "Hujan-hujan malam2 sendirian, enaknya ngapain
>> ya.....?"
>> Kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan
>> perempuan, bahkan
>>
>> seorang lelaki temannya menuliskan,
>> "mau ditemanin ? Dijamin puas deh..."
>>
>> Seorang wanita lainnya menuliskan :
>>
>> "Bangun tidur, badan sakit semua, biasa....habis malam
>> jumat ya begini..."
>>
>> Kemudian komen2 nakal bermunculan...
>>
>> Ada yang menulis,
>>
>> "bete nih di rumah terus, mana misua jauh
>> lagi....",
>> Kemudian komen2 pelecehan bermunculan
>>
>> Ada pula yang komen di wall temannya,
>>
>> "eeeh ini si anu ya..., yg dulu dekat dengan si itu
>> khan? Aduuh dicariin
>> tuh sama si itu....”
>> Lupa klu si anu sudah punya suami dan anak-anak yang manis
>>
>> Yang laki-laki tidak kalah hebat menulis statusnya:
>>
>> "habis minum jamu nih...., ada yang mau menerima
>> tantangan ?"
>> Langsung berpuluh2 komen datang..
>>
>> Ada yang hanya menuliskan,
>> "lagi bokek, kagak punya duit..."
>>
>> Dan ribuan status-status yang numpang beken dan pengin ada
>> komen-komen
>>
>> dari lainnya
>>
>> Dan itu sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita,
>> mata kita,
>> telinga kita, bahkan pikiran kita.
>>
>> Ada yang lebih kejam dari sekedar status facebook, dan
>> herannya seakan
>> hilang rasa empati dan sensitifitas dari tiap diri terhadap
>> hal-hal yang
>>
>> semestinya di tutup dan tidak perlu di tampilkan.
>>
>> Seorang wanita dengan nada guyon mengomentarin foto yang
>> baru sj di
>> upload di albumnya, foto-foto saat SMA dulu setelah berolah
>> raga memakai
>> kaos dan celana pendek.....padahal sebagian besar yg
>> didalam foto
>>
>> tersebut sudah berjilbab.
>>
>> Ada seorang karyawati mengupload foto temannya yang
>> sekarang sudah
>> berubah dari kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan islami,
>> foto saat
>> dulu jahiliyah bersama teman2 prianya bergandengan dengan
>> ceria....
>>
>>
>> Ada pula seorang pria meng-upload foto seorang wanita
>> mantan kekasihnya
>> dulu yang sedang dalam kondisi sangat seronok padahal kini
>> sang wanita
>> telah berkeluarga dan hidup dengan tenang.
>>
>> Rasanya hilang apa yang diajarkan seseorang yang sangat
>> dicintai
>>
>> Allah...., yaitu Muhammad, Rasulullah kepada umatnya.
>> Seseorang yang
>> sangat menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya. Ingatkah
>> ketika
>> Rasulullah bertanya pada Aisyah :
>>
>> "Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi
>> ini?" maka Istri tercinta,
>>
>> sang humairah, sang pipi merah Aisyah menjawab "Rasul,
>> kekasih hatiku,
>> sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi
>> ini". Rasul dengan
>> senyum teduhnya berkata "baiklah Aisyah, aku berpuasa
>> hari ini."
>>
>> Tidak perlu orang tahu bahwa tidak ada makanan di rumah
>> Rasulullah....
>>
>> Ingatlah Abdurahman bin Auf mengikuti Rasulullah berhijrah
>> dari mekah ke
>> madinah, ketika saudaranya menawarkannya sebagian hartanya,
>> dan sebagian
>>
>> rumahnya,
>>
>> Maka abdurahman bin auf mengatakan, tunjukan saja saya
>> pasar.
>> Kekurangannya tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan
>> hidupnya.
>> Bahwasanya kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan
>> seseorang,
>>
>> sebagaimana Rasulullah, bersabda:
>>
>> "Malu itu sebahagian dari iman." (Bukhari dan
>> Muslim).
>>
>> Dan fenomena di atas menjadi Tanda Besar buat kita umat
>> Islam, hegemoni
>> ‘kesenangan semu’ dan dibungkus dengan ‘persahabatan
>> fatamorgana’
>>
>> ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam
>> facebook yang
>> melindas semua tata krama tentang Malu, tentang menjaga
>> Kehormatan Diri
>> dan keluarga.
>>
>> Dan Rasulullah menegaskan dengan sindiran keras kepada
>> kita,
>>
>>
>> “Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu
>> mau.” (Bukhari).
>>
>> Arogansi kesenangan semakin menjadi-jadi dengan tanpa
>> merasa bersalah
>> mengungkit kembali aib-aib masa lalu melalui foto-foto yang
>> tidak
>>
>> bermartabat yang semestinya dibuang saja atau disimpan
>> rapat.
>>
>> Bagi mereka para wanita yang menemukan jati dirinya,
>> dibukakan cahayanya
>> oleh Allah sehingga saat di masa lalu jauh dari Allah
>> kemudian ter
>> inqilabiyah – tershibghoh, tercelup dan terwarnai cahaya
>> ilahiyah,
>>
>> hatinya teriris melihat masa lalunya dibuka dengan penuh
>> senyuman, oleh
>> orang yang mengaku sebagai teman, sebagai sahabat.
>>
>> Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib
>> masa lalu,
>> mudah-mudahan Allah menjaga aib-aib kita.
>>
>>
>> Maka jagalah kehormatan diri kita, simpan rapat keluh kesah
>> kita, simpan
>> rapat aib-aib diri, jangan bebaskan ‘kesenangan’,
>> ‘gurauan’ membuat
>> Iffah kita luntur tak berbekas.
>>
>> Jazakallah khair
>>
>> Sumber : FTJAI
>>     


------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke