Agus Rasyidi

Transfer Ilmu
Jumat, 30/04/2010 06:15 WIB | 
Oleh Halimah
“Sesungguhnya amal itu sesuai dengan niatnya.” Hadits ini merupakan sebuah 
peringatan penting yang harus dipegang dengan erat, agar setiap aktifitas kita 
dalam kehidupan yang serba “berbasis materi” dapat kita lalui dengan selamat. 
Tapi masalahnya, walaupun hadits itu sudah hapal di keluar kepala, tapi 
penerapannya kadang sangat susah untuk dilaksanakan. Apalagi kalau menyangkut 
untung-rugi. Kadang wilayah “ikhlas” menjadi terabaikan, atau dapat dikatakan 
terlupakan.

Saat ini, saat saya sedang berusaha agar bisa sukses pada sebuah jaringan MLM. 
Kemauan yang kuat dan keinginan untuk dapat berkembang, membuat saya mengalami 
gejolak yang lumayan berat. Tempat ini membuat kita harus berlomba dengan 
sekuat daya, agar kita dapat “memengaruhi” orang lain untuk masuk ke jaringan 
kita. Tentu hitung-hitungan yang akan kita dapat akan sesuai hasil usaha kita. 
Bila banyak merekrut orang lain, dan bisa membinanya agar mereka bisa menarik 
orang lain pula, maka jaringan kita bisa dikatakan sukses. Begitu seterusnya.

Pembinaan jaringan tentu dengan sebuah ilmu, dan didalamnya harus ada sebuah 
transfer ilmu. Semua ilmu yang kita punya tentang apa dan bagaimana pemanfaat 
produk yang kita pasarkan, tentu harus diketahui oleh downline kita. Proses 
transfer ilmu sesungguhnya sebuah perbuatan mulia. Bukankah bila kita 
memberikan ilmu bermanfaat kepada orang lain dan kemudian orang lain pun 
membaginya kepada orang lain, maka ilmu itu merupakan amal jariyah bagi kita. 
Tentu transfer ilmu tersebut dapat dikatakan sebuah amal jariyah bila 
didasarkan dengan niat karena Allah Swt. Tapi apakah itu yang terjadi?

Rasanya semangat berbagi memang menggelora di dalam dada. Usaha untuk membuat 
orang lain bisa seperti apa yang kita ketahui, membuat dada sedikit membuncah. 
Perasaan senang, karena orang yang kita transfer ilmu itu pun gembira dengan 
bertambah ilmunya. Semangat saling membagi membuat kita selalu berkomunikasi 
tentang apa saja yang ingin kita ketahui, Saling berbagi ilmu memang sangat 
indah. Karena dengan berbagi itu lah perasaan lebih dekat pada kawan akan lebih 
terasa “mewangi”.

Tapi apakah saya bisa memastikan, bahwa tranfer ilmu dilakukan dengan ikhlas? 
Bukan karena ingin banyak materi? Karena ukuran kesuksesan kita, adalah 
bagaimana bisa membuat jaringan di bawah kita lebih banyak dan lebih berbobot. 
Hingga saya sering kali terdiam dan merenung, “sudah benarkah niatku ini?” 
Apakah bukan karena ingin mendapat “materi” yang lebih banyak dengan membagi 
ilmu ini? Atau kah memang hanya menginginkan peningkatan jumlah jaringan ku? 
Ilmu ini memang sangat bermanfaat saya rasakan, dan membaginya pun karena ingin 
manfaat yang dirasakan bisa pula mereka rasakan. Tapi?

Sungguh susah! Susah membuat garis batas yang jelas dan jernih antara 
keikhlasan karena Allah dan keuntungan dunia. Padahal keuntungan dunia 
seharusnya mengiringi bukan menjadi tujuan utama, karena niat ikhlas dalam 
berbagi ilmu terhadap sesama. Bukankah orang yang berilmu derajatnya lebih 
tinggi di hadapan Allah Swt.?

Sengata, 24 April 2010

Halimah Taslima

Forum Lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sengata

[email protected]

Kirim email ke