Senin, 31/05/2010 15:23 WIB
Israel Serang Kapal Kemanusiaan
Tulisan Santi Sehari Sebelum Mavi Marmara Diserang Israel
Fitraya Ramadhanny - detikNews
 
 Jakarta - Santi Soekanto adalah salah satu dari 12 WNI di kapal Mavi
Marmara yang diserbu Israel. Sebelum penyerbuan itu, Santi sempat
mengirimkan surat elektronik yang sangat menyentuh.

Surat jurnalis Hidayatullah ini bertajuk 'Gaza Tidak Membutuhkanmu!'
yang dikirim pada Minggu 30 Mei 2010, atau sehari sebelum serangan
Israel. Surat ini dibuat di atas kapal Mavi Marmara saat masih berada di
Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.

Saat itu, Santi dan anggota tim Freedom Flotilla lain tengah menunggu
kedatangan tim lain untuk nanti sama-sama berangkat ke Gaza. Namun kabar
akan serangan Israel sudah beredar.

"Kami masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai
ancaman Israel berseliweran," kata Santi dalam pembukaan suratnya.

Santi berbagi pengalamannya bertemu dengan ratusan orang dengan berbagai
latar belakang. Masing-masing dengan gayanya sendiri. Ada anak buah
politisi Inggris yang petantang-petenteng, sampai aktivis perempuan
muslimah yang pendiam, namun cekatan untuk memastikan semua rombongan
bisa makan tepat waktu. Berikut adalah surat lengkap Santi untuk
temannya Tommy Satryatomo yang kemudian dipasang di blognya:

Gaza Tidak Membutuhkanmu!

Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.

Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena
sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari
Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa
yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami masih
menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel
berseliweran.

Ada banyak cara untuk melewatkan waktu -- banyak di antara kami yang
membaca Al-Quran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan
halaqah. Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab
untuk peserta Muslimah Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang
seorang ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits
Arbain an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji bahwa para peserta akan
mendapat sertifikat.

Wartawan sibuk sendiri, para aktivis -- terutama veteran
perjalanan-perjalanan ke Gaza sebelumnya -- mondar-mandir; ada yang
petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia
"tangan kanan" seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah
satu konvoi ke Gaza.

Activism

Ada begitu banyak activism, heroism. Bahkan ada seorang peserta kafilah
yangmengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan "Heroes of
Islam" alias "Para Pahlawan Islam." Di sinilah terasa sungguh betapa
pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah Ta'ala.

Yang wartawan sering merasa hebat dan powerful karena mendapat perlakuan
khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta
lain tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota
parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan
material yang besar terhadap Gaza.

Kalau dibiarkan riya akan menyelusup, na'udzubillahi min dzaalik, dan
semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air
laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena
menjadi sumber amarah Allah Ta'ala.

Mengerem

Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan
pekejaan menyita kesempatan untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh
perlu bagiku untuk mengerem dan mengingatkan diri sendiri. Apa yang kau
lakukan Santi? Untuk apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau
berlindung kepada Allah dari ketidakikhlasan dan riya? Kau pernah berada
dalam situasi ketika orang menganggapmu berharga, ucapanmu patut
didengar, hanya karena posisimu di sebuah penerbitan? And where did that
lead you? Had that situation led you to Allah, to Allah's blessing and
pleasure, or had all those times brought you Allah's anger and displeasure?

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini,
Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh
seisi dunia di  sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim
sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak
berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan,
makan siang dan malam pada waktunya. Dari para ulama terkemuka di atas
kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk
membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.

Kalau  hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini,
Subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang
petantang-petenteng karena ketenaran mereka.

Semua berteriak, "Untuk Gaza!" namun siapakah di antara mereka yang
teriakannya memenangkan ridha Allah? Hanya Allah yang tahu.

Gaza Tak Butuh Aku

Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak
membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan
aku.

Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza
hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau,
sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan
Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.

Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh
berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam
daftar hamba-hambaNya yang bergerak - betapa pun sedikitnya - menolong
agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.

Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya
Aqsha. Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!

Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan
seruan hati.

Cara Allah Mengingatkan

Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara
terbaik untuk mengingatkan aku.

Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya - karena
tak mungkin mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa pun
gerah dan bau asemnya tubuhku.

Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata toilet jongkok yang
dioperasikan dengan sistem vacuum seperti di pesawat itu dalam keadaan
mampheeeeet karena ada dua potongan kuning coklaaat menyumbat lubangnya!
Apa yang harus kulakukan? Masih ada satu bilik dengan toilet yang
berfungsi, namun kalau kulakukan itu, alangkah tak bertanggung-jawabnya
aku rasanya? Kalau aku mengajarkan kepada anak-anak bahwa apa pun yang
kita lakukan untuk membantu mereka yang fii sabilillah akan dihitung
sebagai amal fii sabilillah, maka bukankah sekarang waktunya aku
melaksanakan apa yang kuceramahkan?

Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil. Kotoran itu
ndableg bertahan di situ. Kukosongkan sebuah keranjang sampah dan kuisi
dengan air sebanyak mungkin -- sesuatu yang sebenarnya terlarang karena
semua peserta kafilah sudah diperingatkan untuk menghemat air - lalu
kusiramkan ke toilet.

Masih ndableg.
Kucoba lagi menyiram
Masih ndableg.
Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku sendiri

Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol
flush. Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan kiriku
ke lubang toilet.

Blus!
Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana

Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik
mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa
tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.

Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi - agar aku berendah-hati,
agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan
pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau
bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi.

Allahumaj'alni minat tawwabiin
Allahumaj'alni minal mutatahirin
Allahumaj'alni min ibadikassalihin

29 Mei 2010, 22:20

Santi Soekanto
Ibu rumah tangga dan wartawan yang ikut dalam kafilah Freedom Flotilla
to Gaza Mei 2010.

Kirim email ke