-------- Original Message --------

http://www.eramuslim.com/berita/analisa/belajar-perang-gaza-kekalahan-kedua-israel.htm

Belajar Perang Gaza : Kekalahan Kedua Israel
Selasa, 01/06/2010 11:51 WIB | email | print | share


Tidak ada yang menaruh simpati secuilpun terhadap Israel. Tindakan
membajak kapal Marmara, yang ditumpangi ratusan aktivis dari berbagai
dunia, kemudian menyerang dan membunuh hanyalah menghasilkan kekalahan
Israel.

Tanpa di komando dari pojok-pojok dunia langsung tergerak melakukan
protes terhadap kebiadaban Israel. Pasukan komando Israel yang
menyerang iring-iringan kapal Marmara yang membawa para aktivis
kemanusiaan, dan bantuan itu, menyisakan goresan yang paling dalam di
hati masyarakat internasional.



Siapa sejatinya Zionis-Israel itu. Selama ini orang-orang Yahudi,
selalu identik dengan korban kekerasan, dan ujungnya adalah holocaust
(pembantaian massal), yang dilakukan Nazi-Hitler. Tetapi sekarang
masyarakat internasional sadar, sejatinya yang biadab dan menjadi
Nazi-Hitler itu adalah Israel sendiri.

Demonstrasi di depan Gedung Kedutaan Israel di Washington, Senin
kemarin, menunjukkan betapa masyarakat Amerika sudah muak dengan
bentuk tindakan kekerasan yang dilakukan Israel. Tidak ada lagi
simpati terhadap Israel. Hari ini semua masyarakat dunia diperlihatkan
tentang jati diri Israel yang sebenarnya.



Agresi Israel ke Gaza, Desember 2008, lalu, begitu lekatnya Israel
telah menanamkan ke dalam benak hati masyarakat dunia tentang jati
dirinya yang sesungguhnya, bahwa Israel adalah bangsa paling biadab
saat ini. Israel telah kehilangan simpati dan dukungan.

Negeri Zionis itu telah menelanjangi dirinya sendiri. Negeri yang
selama ini selalu meneriakkan adanya 'anti Semit', justru mereka lah
yang keji melakukan pembantaian terhadap bangsa Arab dan Palestina,
tanpa henti. Dari waktu ke waktu. Pantas lah ketika para demosntran
yang berada di depan Gedung Kedutaan Israel di Washington itu membawa
bendera Israel dengan tengahnya lambanbg Bintang David digambari
sebuah : tengkorak.



Kemarahan terus berkumandang bukan hanya di Dunia Islam, tetapi di
negara-negara Barat, yang selama menjadi sekutu Israel, sudah tidak
lagi sudi menerima tontonan yang disuguhkan para pemimpin Israel
dengan cara-cara yang kejam dan biadab terhadap rakyat Palestina.

Di Istambul dan Ankara, begitu tersiar berita serangan yang dilakukan
pasukan komando Israel atas kapal Marmara, masyarakat di kedua kota
besar di Turki itu, langsung tumpah dan mendatangi konsulat dan
kedutaan Israel. Mereka mengutuk tindakan Israel yang sangat biadab
itu. Rakyat di kedua kota itu juga menginginkan agar pemerintah Turki
memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel.



Serangan terhadap kapal-kapal yang membawa para aktivis dan bantuan
yang akan berlabuh di pantai Gaza, yang sudah diblokade selama hampir
empat tahun itu, justru menimbulkan kerugian politik bagi Israel.

Pemerintah yang moderat yang selama ini memiliki hubungan dengan
Israel, mereka telah mengevaluasi kembali untuk memutuskan hubungan
diplomatik dengan Israel. Turki telah menarik pulang duta besarnya,
dan membatalkan rencana latihan perang kedua negara. Tidak tertutup
bila tekanan dari masyarakat semakin kuat di Turki, maka hubungan
diplomatik antara Turki -Israel akan putus.



Israel ingin menghancurkan Hamas yang sudah mengikuti cara-cara yang
diinginkan Barat yaitu ikut dalam pemilu, di tahun 2006, dan
memenangkan pemilu dengn suara 60 persen. Tetapi hasil pemilu yang
dimenangkan Hamas itu ditolak.

Kemudian, di tahun 2007, mengambil alih kekuasaan Mahmud Abbas di
Gaza. Selebihnya, Hamas tidak mau mengakui keberadaan (eksistensi)
Israel sebagai sebuah negara yang berdaulat, karena hakekatnya Israel
adalah penjajah,yang menganeksasi tanah-tanah rakyat Palestina.

Langkah Israel yang tujuannya ingin memberikan pelajaran kepada Hamas
dengan cara kekerasan adalah kesalahan yang sangat fatal. Agresi
militer yang menggunakan pasukan udaranya menggempur Gaza, hanyalah
menguntungkan Hamas. Pembangunan tembok di sepanjang garis
perbatasannya dengan Gaza, tak juga menyebabkan Hamas menjadi
menyerah. Ini hanyalah menjadikan Israel sebagaimana hidup di zaman
'Getto', yang pernah dialami di Polandia.

Sekarang dengan menyerang kapal Marmara yang mempunyai tujuan
kemanusiaan, hanyalah membuat bencana bagi Israel. Perang di Gaza
telah membuat resolusi DK.PBB, dan laporan dari mantan Jaksa Goldstone
dari Afrika Selatan, benar-benar Israel kalah di dunia internasional.

Tetapi, Israel tidak pernah mau belajar dengan peristiwa masa lalu,
dan terus bergerak menggali liang kuburnya sendiri dengan melakukan
tindakannya yang biadab, dan perlahan-lahan menghilangkan simpati
terhadap negeri Yahudi itu.

Pada saatnya nanti dengan akumulasi kebiadabannya, Israel, pasti akan
dikucillkan masyarakat dunia yang menginginkan perdamaian. Inilah
skenarion akhir dari perjalanan kehidupan rejim Zionis-Israel. Ia
menggali liang kuburnya sendiri.

Israel seharusnya tahu, bahwa yang ada di dalam kapal Marmara itu,
bukan hanya aktivis, tetapi anggota parlemen, menteri, dan peraih
hadiah Nobel. Bukan sembarangan. Mereka mendapatkan dukungan dan
simpati dari masyarakat dunia.([email protected])


Kirim email ke