From: "GBI Buaran" <[EMAIL PROTECTED]> Bedah Tajuk Sinar Harapan Oleh: Joshua MS
Adalah sebuah "lagu lama" untuk mengharapkan perlakuan yang sama terharap hak hidup dan berkembang bagi kekristenan di Indonesia. Berkali-kali bahkan mungkin sudah ratusan bahkan ribuan kali ada permohonan untuk menaruh perhatian terhadap penganiayaan terhadap gereja di tengah-tengah bangsa dan negara Republik Indonesia yang konon adalah bangsa dan negara yang religius agamis. Namun, apa hendak di kata, semua itu tidak lebih dari sebuah wacana mengambang yang tidak pernah di tengani dengan secara serius. Kenyataan yang kita lihat adalah, para penentu kebijakan di bangsa ini lebih mempetieskan setiap kasus penganiayaan terhadap gereja. Sebagai orang yang beriman, tentunya kita harus selalu berupaya untuk mengacu kepada Kitab Suci. Karena sudah menjadi hukumnya, setiap orang Kristen harus mengerti segala sesuatunya sudah di "gariskan" oleh yang kuasa. Memang kalau kita melihat kepada Injil, maka kita akan mengelus dada dan berkata: "Mau bilang apa lagi, lah Alkitab udah tulis bahwa orang-orang yang percaya akan mengalami aniaya pada akhir Zaman". Setiap orang Kristen pasti tahu ayat ini: "Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti kepada Allah." (Yohanes 16:2) Sehingga sesungguhnya bukanlah berita baru kalau gereja terus-terusan mengalami tekanan dan pengrusakan. Memang itu sudah di nubuatkan oleh Tuhan Yesus 2000 tahun yang lalu. Nubuatan itu memang harus di genapi. Apapun situasi dan alasannya, bahwa gereja Tuhan pasti mengalami aniaya dan bahkan pembunuhan. Masih teringat dalam memori kita dengan sangat jelas peristiwa Situbondo. Dengan ganas dan garang, mereka-mereka yang menyerukan nama Allah mengangkat parangnya dan membabat mati orang-orang yang tak bersalah hanya karena mereka memiliki KTP Kristen. Linangan air mata tanda duka yang dalam ketika keluarga Hamba Tuhan yang mengasihi Tuhan itu terpanggang hidup-hidup di rumahNya mengalir dari banyak kelopak mata orang percaya. Tidak lama berselang setelah kejadian itu, sebuah gereja kecil yang kami gembalakan di datangi oleh segerombolan orang-orang berbusana aneh. Mereka merangsek masuk ke ruangan gereja dan mencabut beberapa brosur dari papan pengumuman. Mereka menebar teror hendak membakar dan membunuh jika kebaktian terus di adakan di tempat tersebut. Beberapa anak muda yang sedang fellowship berhamburan ketika akhirnya saya tiba di tempat. Dengan angkuh dan sombong laksana jumawa menang perang, mobil mereka berlalu dengan kebulan asap hitam. Menyisakan penderitaan yang mahaberat bersarang di jantung saya. Nubuatan akhir zaman ini memang sedang di genapi. Dilematis sekali memang. Di tengah-tengah kita mengharapkan keadilan di tegakkan di tengah-tengah bangsa yang sedang bangkit dari keterpurukan ini, Alkitab justru memberi pesan-pesan yang sangat "menyeramkan". Lantas kita berdiri di mana? Apakah kita terus-terusan akan menerima perlakuan yang tidak manusiawi dan melanggar HAM dari orang-orang yang mengatasnamakan Allah yang Akbar kemudian sewenang-wenang mengangkat parang dan batu kemudian menganiaya umat Kristen? Atau kita hanya sekedar mencoba bertahan dengan berlindung di bawah ketiak penguasa yang (percayalah!!!) tidak pernah akan mendengar secara tulus suara minoritas? Ataukah kita akan bangkit sebagai umat martir tanpa mencoba membuka mulut menuntut keadilan di tengah-tengah republik yang sakit-sakitan ini? Semua berpulang kepada Anda? Berpulang kepada keputusan Anda. Sebab Tuhan dari Sorgapun tidak berhak untuk mendikte anda. (Dari Perenungan Seorang Pelayan Tuhan yang Mengalami Secara Langsung Tindakan Arogan dari Kaum yang Mengusung Idealisme Mayoritas dan Melindas dengan Semena-Mena Kelompok Minoritas.) Jakarta, 9 Juny 2004 ======================================= From: "job palar" <[EMAIL PROTECTED]> ini tajuk rencana koran sinar Harapan hari ini Selasa, 8 Juni 2004, salah satunya menyikapi pembakaran gereja yang terjadi. Kemajemukan Masih Barang Mahal Tajuk, Sinar Harapan, Selasa (8/6) SEPANJANG hari Senin, kemarin, kita disuguhi berita mengenai sejumlah kekerasan yang terjadi di masyarakat. Semuanya terjadi di aras akar rumput, dan tidak ada kaitannya satu dengan lainnya, karena konteks dan tempatnya juga amat berjauhan. Pertama, dua suku yang berperang di Timika, Papua mengakibatkan sekurangnya tiga orang meninggal dan puluhan luka-luka. Kedua, sekitar seratusan massa merusak empat rumah-toko yang dijadikan tempat ibadah di Ciputat, Tangerang, Banten. Tidak ada korban jiwa, hanya pendetanya yang luka-luka dipukul oleh gerombolan itu, ketika berusaha menenangkan para penyerang di tengah ibadah. Ketiga, dua kelompok masyarakat asal Indonesia yang lain suku di Selangor Malaysia terlibat bentrokan, mengakibatkan tiga orang meninggal termasuk seorang anak kecil usia satu setengah tahun. Mengapa kita masih mendengar, melihat dan menyaksikan hal-hal seperti itu, perseteruan yang mengakibatkan penistaan atas harkat dan martabat sesama manusia yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa? Padahal kita disebut sebagai bangsa yang ramah, agamis. Apakah kita hanya ramah kepada orang asing, sementara kepada saudara sendiri kita berlaku sadis, kejam dan setiap menyelesai kan persoalan harus dengan kekerasan? Bangsa lain semakin maju dengan sikap demokratis dalam segala segi kehidupan termasuk menyelesaikan sengketa serta menghormati hukum, sementara kita semakin brutal dan dengan mudah merusak dan menghilangkan nyawa saudara sendiri? Di mana letak kekeliruan pola pemikiran yang menyebabkan kita selalu ingin mencari jalan pintas dalam mengatasi setiap kemelut? Di manakah tempat para pemuka agama, kaum cendekiawan, tokoh masyarakat dan pemuka adat, sehingga sampai sekarang hukum nyawa ganti nyawa tidak dapat dihapuskan di Papua. Dimanakah peranan aparat pemerintah dan penegak hukum yang sampai sekarang belum mampu menerapkan hukum nasional/hukum positif di Papua? Sebagai orang Indonesia yang mengakui Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Pancasila sebagai dasar Negara, masih saja kita dengar perusakan tempat-tempat ibadah, khususnya gereja. Bagaimana sebenarnya keimanan dan ketaqwaan kita? Kalau ada yang kurang, apakah aparat pemerintah setempat tidak dapat mengatasinya sehingga harus turun massa untuk bertindak dengan kekerasan? Kita tidak tahu masalah apa yang terjadi di Ciputat dan Pamulang, Tangerang, Banten, sehingga dalam tempo singkat empat tempat ibadah harus dirusak secara beruntun. Apakah tidak ada cara lain selain merusak? Apakah sudah sedemikian sempit tempat berpijak bagi kelompok tertentu di daerah itu sehingga untuk beribadah juga tidak diperbolehkan lagi? Itulah yang sering dan sedang mengiang dalam pikiran kita saat mendengar masih terjadinya perusakan tempat-tempat ibadah yang sering terjadi belakangan ini. Sering kita dengar dari para pejuang hak-hak asasi manusia bahwa kebebasan untuk beribadah dan melaksana kan ibadah bukanlah diberikan oleh Pemerintah maupun oleh kelompok tertentu. Tetapi dalam kenyataannya, untuk mendirikan tempat ibadah masih tetap menjadi barang mahal dan malah sering tak terjangkau di Republik Indonesia ini. Kalau ijin mendirikan rumah ibadah sudah begitu sulit, lalu dicari tempat yang tidak mengganggu lingkungan, sehingga dalam ketidak berdayaan mereka mencari tempat di ruko-ruko, tetapi itu pun dirusak dan diserang. Bagaimanapun mereka yang melakukan ibadah di ruko-ruko itu adalah sesama saudara bangsa Indonesia, dan mengapa sampai ada yang masih tega melarang mereka beribadah? Sudah begitu besarkah dosa mereka sehingga harus diperlakukan sebagai orang yang tidak memiliki hak lagi di tengah-tengah bangsa ini? Sejumlah pertanyaan di atas kelihatannya tidak akan terjawab kalau tidak ada pemikiran ulang dari Pemerintah dan para tokoh-tokoh agama dan pemuka masyarakat termasuk para elite politik. Perlu dicarikan jalan untuk mengatasi perusakan tempat ibadah yang sudah sejak lama terjadi tetapi tidak ada penyelesaian. Kepada pihak yang berkaitan dengan kasus-kasus seperti itu hendaknya menyelesai kan secara manusiawi dan sesuai dengan hukum yang berlaku. Ini kalau kita tidak ingin disebut sebagai bangsa yang terbelakang, sehingga dalam setiap masalah menyangkut agama selalu diselesaikan dengan kekerasan. Padahal semua kita mengatakan agama mana pun mengajarkan keselamatan dan kasih sayang kepada sesama umat manusia. Demikian jugalah berita yang kita dengar dari Selangor, Malaysia, dua kelompok masyarakat Indonesia saling menyerang. Malunya, pertikaian seperti itu terjadi di negara orang. Sudah mengadu nasib untuk mencari sesuap nasi di rantau orang, masih juga harus menyelesaikan persoalan dengan kekerasan. Apakah karena kemiskinan dan kelaparan yang melilit perut sebagian besar bangsa kita sehingga mudah terprovokasi melakukan kekerasan terhadap sesama bangsa Indonesia? Kasus-kasus yang kita kemukakan itu, walau dengan alasan yang berbeda-beda, memperlihatkan ternyata kita masih rentan dalam memelihara persaudaraan dan kemajemukan. Hendaknya ini menjadi bahan renungan sekaligus pekerjaan rumah yang amat besar bagi kita semua, sekarang dan terutama di masa depan. Pertama-tama, Pemerintah harus tegas mencari solusi dan menindak setiap pelaku pelanggaran hukum, tanpa terkecuali dan transparan. Janganlah suka menutup-nutupi dan mengampuni (impunity), karena hanya akan semakin menurunkan wibawa Pemerintah. Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang berdiri di atas semua kepentingan dan tidak pilih kasih. *** ===== Bukankah esok atau lusa, mati pun aku sendiri --Messakh, Obbie [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IYOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [EMAIL PROTECTED] Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED] WebSite: http://jnm.clear-net.com (Webmaster wanted!) -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

