From: Gani Catatan kenangan tentang ibu
Kami semua berkumpul di ruang tamu. Duduk melingkar di atas sehelai karpet. Kemarin di tempat ini peti jenasah ibu diletakkan. Terbujur melintang. Suana sedih masih terus menggantung di wajah kami. Adik iparku masih mudah sekali terisak bila bercerita tentang ibu. Dialah orang yang duduk di sebelah ibu ketika dibawa ke rumah sakit, sedang adikku menyetir mobil. Dialah yang tahu pertama kali ibu meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Sebuah kematian yang cepat. Tanpa sakit atau keluhan. Kemarin ibu masih membersihkan halaman, ngobrol dengan anak dan cucunya. Masih mempersiapkan kue untuk lebaran. Kini ibu sudah tenggelam dalam sebuah peti jenasah. Suasana berkumpul membuat hatiku pedih. Kata panggilan sudah tergantung di bibir tapi tidak terucapkan. Ada sosok tubuh yang hilang. Ingin rasanya memanggil, tapi ibu sudah tidak ada. Ingin kucari ke dapur dimana dia biasa berada, tapi dapur sudah kosong. Aku masih merasa janggal akan suasana kumpul kali ini. Kurang satu orang yang biasanya duduk di antara kami. Tempat kami menyandarkan tubuh dalam pangkuan. Kadang aku dan adikku tidak malu untuk berebut dengan keponakan atau anak-anak mereka untuk bisa bersandar atau tidur dipangkuannya. Ada kekosongan tempat yang tidak terisikan. Kami belum siap untuk menerima semuanya ini. Kematian ibu sangat cepat. Kami membicarakan peristiwa demi peristiwa terakhir. Tidak ada yang istimewa, semua berjalan seperti biasa. Akhirnya kami membongkar warisan ibu yang sangat berharga yaitu keteladanan berbelas asih. Adik iparku berulang kali mengatakan kita diminta untuk welas pada orang lain. Ini yang diajarkan ibu. Kami diminta rukun. Ini yang diharapkannya. Tindakan belas kasih ibu memang sering membuat kami bingung dan bertanya-tanya. Kadang jengkel juga, sebab ibu sering kali berbuat tanpa banyak memikirkan akibat bagi dirinya sendiri. Hari sabtu ada tetangga yang sakit parah. Dia tidak mempunyai uang sama sekali. Maka ibu menyuruh adik untuk membawanya ke dokter. Padahal ibu sendiri seharusnya kontrol. Seluruh uang yang dimilikinya untuk biaya ke dokter diberikan pada tetangga. Ibu berpesan jangan ditagih. Kalau dikembali diterima tapi jangan sekali-kali menagihnya. Kasihan mereka. Kalimat itu sudah sering kami dengar meski kami kadang menggerutu mengapa terlalu memikirkan orang lain. Hari minggu ada seorang tua yang datang dan membutuhkan uang. Ibu bertanya pada adikku apakah masih punya uang? Adik menjawab bahwa masih ada uang untuk belanja. Ibu meminta uang itu dan memberikan pada pak tua yang sedang sakit. Dia mengatakan bahwa Tuhan pasti akan memberi gantinya. Kasihan orang tua itu jauh lebih miskin daripada kita. Adikku bingung. Tidak ada uang untuk belanja hari itu. Syukur ada orang pesan kue. Melihat itu ibu menunjukkan pada adikku bahwa Tuhan tidak pernah akan lupa dengan setiap tindakan manusia. Inilah warisan ibu yang sangat besar bagi kami semua. Keteladanan berbelas kasih. Kesiapan untuk memberi kepada siapa saja yang datang. Kepasrahannya pada Tuhan yang tidak akan meninggalkannya. Tuhan yang senantiasa akan melihat setiap perbuatan manusia. Ibu memberi dengan sembunyi. Baginya biar semua Tuhan yang melihat. Ibu tidak mengingat siapa saja yang berhutang padanya, sebab dia senantiasa bersyukur bahwa anaknya bisa hidup seperti orang pada umumnya, meski tidak satupun yang bisa dianggap berlebihan. Ibu senantiasa percaya akan belas kasih Tuhan kepada siapa saja yang percaya padaNya. Padahal ibu bukan seorang teolog, ahli Kitab Suci atau penulis buku spiritual. Membaca Kitab Sucipun jarang sekali, mungkin tidak pernah. Ibu hanya berdoa rosario. Ibu juga bukan seorang yang suka membaca buku rohani atau renungan harian. Ibu hanya percaya bahwa Yesus penyelamat. Dasar iman yang sederhana berusaha diwujudkan dalam sikap hidup. Yesus mengatakan kalau kita punya iman sebesar biji sesawi saja, kita akan dapat memindahkan pohon terbantin ke laut. Iman yang kecil sudah cukup untuk membuahkan sebuah tindakan yang sangat besar. Iman ibu bukan berdasarkan dari pengajaran melainkan dari pengalaman dan kepercayaannya tentang Allah yang berbelas kasih. Allah yang senantiasa melindungi umatNya. Dari dasar iman yang sederhana itu banyak dibuat tindakan kasih yang sering kali tidak kami pahami. Inilah iman yang dikehendaki oleh penulis surat Yakobus. Tunjukkan imanmu dan aku akan tunjukkan imanku dari perbuatanku. Aku rasa ibu belum membaca dan merenungkan surat Yakobus itu. Ibu hanya tahu Yesus menyelamatkan manusia dengan penderitaanNya di salib. Seorang saudara bertanya mengapa ketika dimakamkan memakai baju seperti itu? Bukankah ibu mempunyai baju dan kerudung putih? Adikku cerita bahwa dia sudah mencari-cari baju putih itu namun semua sudah tidak ada. Baru diingat bahwa baju itu sudah diberikan pada orang. Ternyata bukan hanya baju putih, masih banyak lagi baju dan jarik yang dibelikan oleh kami sudah tidak ada lagi. Ibu meninggalkan sebuah bungkusan berisi pakaian yang akan diberikan pada tukang becak langganannya dulu ketika masih tinggal di Babat. Kota yang jaraknya 150 km lebih dari Malang, tempat kami tinggal saat ini. Bagi ibu satu pakaian cukup, maka yang lain bisa diberikan pada orang lain yang sangat membutuhkan. Semula aku kecewa ketika pemberianku diberikan pada orang lain padahal aku membelikan dengan mahal dan dari tempat jauh, namun ibu mengatakan bahwa orang lain lebih membutuhkan, maka aku jadi terbiasa. Kami hanya tersenyum kalau tahu bahwa yang kami berikan tiba-tiba sudah dipakai oleh orang lain. Kepedulian ibu pada orang lain bukan saat ini saja. Itu sudah sejak masih muda dulu. Ketika anak-anaknya masih kecil. Aku ingat rumah kami di Bogor tidak pernah sepi dari mahasiswa yang kekurangan uang saku. Mereka makan dan minum tanpa bayar, padahal dari katering itulah kami hidup. Atau orang yang mengaku teman saudaraku dan hanya minta makan. Dimanapun kami tinggal rumah kami sering didatangi oleh orang yang tidak kami kenal dan ibu senantiasa memberi makan. Anak ngamen pun dipersilakan masuk dan makan di ruang makan. Inilah warisan yang sangat besar bagi kami yaitu ingatan akan teladan belas kasih pada sesama. Tindakan belas kasih yang dikembalikan pada Allah. Ibu berani memberi sebab dia yakin Allah akan memberi jauh berlimpah bukan kepada dirinya melainkan kepada kami anak-anaknya. Ibu percaya bahwa Allah tidak akan membalas langsung pada dirinya namun Allah akan membalas pada anak-anaknya. Ibu mewariskan buah kebaikan agar bisa dipetik oleh kami. Dulu ibu pernah menanam pohon kelapa. Ketika kami mempertanyakan tindakannya apakah ibu akan sempat menikmati buahnya? Dengan senyum ibu mengatakan bahwa tidak setiap orang menanam akan memetik buahnya. Biarkan buah itu dipetik oleh kami, anak-anaknya. Buah tidankan ibu memang masih dapat dipertanyakan dalam mentalitas dewasa ini yang sangat mendewakan materi, sebab kami tidak ada yang hidup berkecukupan. Namun ibu telah mempersiapkan kami dengan warisan yang tidak akan rusak. Yesus mengatakan simpanlah harta yang tidak akan dimakan ngengat. Ibu sudah mewariskan harta itu. Harta yang akan tetap dapat kami kenang sampai mati dan akan kami wariskan pada anak cucu kami. Harta belas kasih pada sesama. Kami masih duduk melingkar. Suasana sedih masih bergantung di wajah kami. Rasa kehilangan orang yang selama ini mengayomi masih sangat terasa. Kehilangan tangan yang siap membelai, meski tidak jarang mencubit pantat. Bibir yang sering tersenyum meski sering mengeluarkan kata-kata omelan panjang dan membosankan. Mata yang penuh kasih meski sering menatap penuh selidik dan sinis. Semua bercampur dalam diri ibu. Seorang perempuan sederhana yang berusaha mendidik anak-anaknya dengan tindakan nyata. Kami semua masih kagum dengan wajah ibu yang seperti orang tertidur. Ibu sangat cantik daripada biasa. Wajahnya bersih dan tersenyum. Kami sengaja tidak memberi make up agar bisa melihat apa adanya. Mungkin ibu tidak takut lagi dengan kematian yang sudah beberapa kali dibicarakan. Ada saatnya untuk bekerja ada saatnya untuk diam dan melihat semua yang sudah dikerjakan. Ibu kini tinggal melihat apa yang sudah ditaburkan dalam diri kami. Semoga kami bisa mengembangkan benih yang sudah ditaburkan. Semoga kami mewariskan pada anak-anak harta yang kami terima dari ibu. Selamat jalan ibu. salam gani yang masih linglung.. ============================================= From: "job palar" <[EMAIL PROTECTED]> Kristov, Tuhan Adalah Penolongmu Dari Harian Sinar Harapan, Sabtu, 13 November 2004 Oleh Tyas Budi Utami Siapa yang memberitakan kepada anakku bahwa Tuhan adalah Penolongnya? Itu yang membuat aku termotivasi untuk mengenalkan Tuhan kepada anakku. Aku, ibu tunggal dari dua anak. Salah satu anakku penyandang autisma hiperaktif. Aku ingin sekali mengatakan kepada anakku, "Tidak apa-apa, Kristov. Kamu belum bisa bicara. Tetapi kamu harus tahu bahwa Tuhan itu Penolongmu. Kalau mama tidak ada, Tuhan itu Penolongmu." Aku ingat waktu anakku, Kristov, umur 3 tahun.. Untuk mengerti perintah duduk dan berdiri, dia perlu waktu 3 bulan. Aku bilang pada pendeta, "Pak Abdi, bagaimana ya kalau saya mati? Kristov kan mesti tahu siapa Tuhan itu, bahwa Tuhan itu penolong dia. Tapi bagaimana mengenalkan Tuhan pada anak seperti Kristov. Untuk mengenal objek yang kelihatan saja dia tidak bisa, apalagi mengenal Tuhan yang tidak terlihat! Kita perlu punya hubungan interpersonal kalau berhubungan pribadi dengan Tuhan. Kita juga perlu merefleksikan pengalaman bersama dengan Tuhan. Autisma dicirikan oleh triad gangguan dalam kemampuan berkomunikasi, sosialisasi, dan kemampuan berimajinasi. Apakah saya bisa mengenalkan Tuhan kepada anak saya?" Sekarang ini, kami hanya bertiga: aku, Kristov, dan Bunga. Jadi, kalau Tuhan mengambil aku, Kristov tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Bunga, adiknya yang masih kecil. Tapi aku bersyukur sekali diberi pendeta yang bijaksana. Pak Abdi menjawab, "Memang, Ibu Tyas tidak bisa mengenalkan Tuhan pada Kristov. Namun, Tuhan tidak pernah bingung memperkenalkan diri-Nya pada anak ini. Tugas kita adalah mendampingi Kristov, memberikan teladan dan contoh." Aku ternyata tidak sendiri. Ada begitu banyak anak dengan kebutuhan khusus. Selain penyandang autisma, ada anak-anak dengan Attention Deficit and Hyperactive Disorder (ADHD), sindroma down, dan sebagainya. Aku mengetahui bahwa aku tidak sendiri saat aku mengikuti Training Counseling for Kids yang diselenggarakan oleh Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK3), Sabtu, 6 November, lalu. Lembaga ini menjadi andalanku untuk mencari jalan keluar mendampingi Kristov. Sebetulnya, LK3 bukan lembaga khusus pelatihan penanganan autisma. Namun, lembaga ini memberi porsi besar para orang tua yang merasa kesulitan dalam mendampingi anaknya. Training LK3 berikutnya adalah "Konseling Anak dengan Masalah Kecanduan Game dan Internet". Tapi, tak mungkin aku mengikutinya, Kristov tidak membutuhkannya. Mungkin, pembaca membutuhkan, telepon saja ke 55650281, atau hadir pada 27 November 2004 ini. 18 Bulan Kristov diketahui menyandang autisma sejak berusia 18 bulan. Sekarang usianya 8 tahun. Dia sangat hiperaktif, memiliki sensory overload yang sangat tinggi, nonverbal, dan tidak tahan dengan kerumunan banyak orang. Dia tidak tahan terhadap volume atau suara tertentu. Sensitivitasnya berpindah-pindah. Pernah anakku ini sensitif terhadap suara motor. Rumah kami di pinggir jalan. Kalau motor lewat, Kristov menggelepar-gelepar sambil menutup kupingnya. Suatu kali kami ke McDonald. Petugas sedang membersihkan lantai dengan vacuum cleaner. Mendengar dengungnya, Kristov langsung menggelepar-gelepar. Keadaan ini tidak memungkinkan Kristov ikut Sekolah Minggu. Dia tidak tahan dengan riuh rendahnya suara anak-anak, apalagi kalau ada anak-anak menjerit. Kristov tidak tahan itu. Dengan kondisi ini, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana mengajar Kristov ke gereja? Mengajarnya berdoa atau menghafalkan ayat? Aku pernah memberanikan diri membuat kelas sekolah minggu khusus untuk anak-anak penyandang autisma. Muridnya tiga, gurunya enam. Aku dan beberapa teman mengajar anak-anak itu dengan alat peraga, tapi kami jadi kelelahan sendiri. Di gereja, jemaat, bahkan pengkhotbah cukup terganggu kalau tiba-tiba Kristov teriak "Eeeee" atau memukul-mukul saat khotbah berlangsung. Setelah beberapa kali dicoba, aku memutuskan bahwa gereja dengan liturgi ketat, pengunjung yang banyak, dan alat musik elektrik mungkin bukan sarana yang tepat untuk menolong Kristov belajar berbakti. Kemudian, aku mencoba membawa Kristov ke sebuah persekutuan di daerah Klaseman di Salatiga. Kelompok ini kecil, sekitar 40 orang, kebanyakan misionaris dan orang-orang yang berjiwa pelayan. Mereka cukup memahami anak saya. Musiknya gitar; jadi suaranya tidak setajam keyboard. Di sini, Kristov sudah empat bulan Kristov bisa belajar mengikuti kebaktian, meskipun ada minggu-minggu yang hanya bisa dijalani separo ibadah. Bagaimana mengajar Kristov menghafalkan ayat? Aku pernah mencoba beberapa cara. Gagal. Terakhir, aku membuat gambar sebagai visual aid, dan dihapalkan. Aku mengajarkannya tiap hari. Tidak hanya sambil duduk, tapi kalau Kristov ke kamar mandi, aku gandeng dia lalu ajak dia menghafal Mazmur 23: Tuhan adalah gembalaku. Waktu sore-sore kami jalan-jalan, aku ajak Kristov menghapal lagi. Jadi yang disebut Ulangan 6-mengajarkan anak sambil duduk, berdiri, berbaring-aku lakukan pada Kristov. Jika aku mati nanti, dan Kristov hanya tahu "Tuhan adalah gembalaku", itu sudah cukup buat aku dan Kristov. Bunga juga ikut membantu sebagai model. Waktu aku mengajari Kristov, Bunga ikut belajar. Dia mengerti lebih dulu dan membantu kakaknya menghafal. Ide ini sangat membantu. Kristov tidak merasa sendirian atau disuruh-suruh terus. Ayat ini selalu kami ulang-ulang di mana pun kami berada. Akhirnya, setelah 2 bulan berjuang dengan berbagai cara, Kristov bisa menghapal.. Dengan pelan dia berujar, "Tuhan adalah gembalaku". Aku terkesima. Aku memang percaya bahwa dia tidak hanya terdiri dari badannya yang terbatas. Dia juga punya roh, aku dan Bunga yakin Tuhan bisa menolong. Ini adalah ayat yang dihapalkan Kristov selama setahun: Mazmur 23:1: Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku, Amsal 15:13: Hati yang gembira adalah obat; I Tesalonika 5:16: Bersukacitalah senantiasa: I Tesalonika 5:17: Tetaplah berdoa; I Tesalonika 5:18: Mengucap syukurlah selalu. Bagaimana Kristov bisa berdoa? Sekali lagi dengan memberi contoh dan teman. Aku mengumpulkan teman-teman Kristov dan Bunga, ajak mereka makan dan berdoa bersama. Kristov tertarik untuk berdoa. Aku mengajar anak-anak itu berdoa secara konsisten (selalu mengucapkan kata-kata yang sama, misalnya: Tuhan Yesus, saya mau makan/tidur . amin). Tapi diusahakan jangan dengan gaya yang membosankan. Memang, orang tua bertugas mencarikan teman bagi anaknya yang mengalami kesulitan mencari teman sendiri. Jangan segan "memanfaatkan" siapa saja yang bisa membantu kita. Hal penting yang harus dimiliki oleh setiap orang tua anak penyandang autisma (khususnya) adalah sebagaimana yang dilakukan Hana waktu menyerahkan Samuel kepada Allah, ".selanjutnya, terserahlah dia kepada Tuhan." Ayat ini membuat aku memiliki harapan. Meskipun di mata manusia, Kristov sama dengan "keterbatasan". Tuhan adalah ALLAH yang tidak terbatas. GOD IS ABLE. Tuhan mampu mengurus semuanya karena Kristov adalah anak Tuhan; bukan punyaku. Penulis adalah Volunteer Staf LK3, tinggal di Salatiga Tulisan kesaksian lainnya bisa lihat di eklesia-sinar.blogspot.com ===== People killin', people dyin' Children hurt and you hear 'em cryin' Can you practice what you preach And would you turn the other cheek Father, Father, Father help us Send some guidance from above 'Cause people got me, got me questionin' Where is the love -----Black Eyed Peas featuring Justin Timberlake [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IYOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [EMAIL PROTECTED] Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED] WebSite: http://jnm.clear-net.com (Webmaster wanted!) -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

