From: "Irnawan Silitonga" <[EMAIL PROTECTED]>
Renungan Keluarga Kegagalan Keluarga Elimelekh
"Pada zaman para Hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah
seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke
daerah Moab untuk menetap disana sebagai orang asing" [ Rut 1:1 ].
Pada zaman para Hakim, Israel cenderung menyembah berhala dan meninggalkan
Tuhan. Seringkali Tuhan menggunakan bangsa-bangsa lain untuk mendisiplin Israel
agar kembali bertobat dan berpaling kepada Tuhan. Tetapi Tuhan juga menggunakan
kelaparan sebagai
salah satu cara agar Israel kembali kepada Tuhan. Pada ayat diatas, nampaknya,
Tuhan menggunakan kelaparan untuk mendisiplin Israel. Dan kita lihat ada satu
keluarga yang pergi meninggalkan tanah Israel dengan maksud memperoleh makanan
yang cukup di daerah Moab ( Rut 1:6 ). Kepala keluarga ini bernama Elimelekh,
isterinya bernama Naomi, dan kedua anaknya laki-laki, Mahlon serta Kilyon.
Setelah menetap selama 10 tahun di daerah Moab, Naomi kehilangan suaminya serta
kedua anaknya laki-laki karena meninggal. Dan Naomi tinggal bersama kedua
menantunya, bangsa Moab, yaitu Rut dan Orpa.
Naomi sadar bahwa penyebab kematian anggota keluarganya adalah karena tangan
Tuhan teracung terhadapnya ( Rut 1:13 ). Mengapa demikian ? Penyebab utamanya
adalah karena keluarga Elimelekh pergi meninggalkan tanah Israel ketika Tuhan
sedang mendisiplin Israel dengan kelaparan. Pemazmur berkata, "Diamlah di
negeri dan berlakulah setia". Seharusnya,
keluarga Elimelekh tetap bertahan di tanah Israel, dan menerima disiplin Tuhan
dengan sabar. Tetapi keluarga Elimelekh mencoba menghindari disiplin Tuhan,
dengan pergi ke tanah Moab. Perbuatan seperti ini justru membuat tangan Tuhan
teracung terhadap keluarga Elimelekh. Sangat disayangkan, keluarga ini hancur
karena para anggotanya meninggal.
Elimelekh telah gagal memimpin keluarganya agar tabah menerima disiplin Tuhan.
Tujuan hidup Elimelekh, jelas bukan supaya keluarganya mengenal Tuhan melalui
disiplinNya, tetapi bagaimana keluarganya tidak kekurangan makanan jasmani.
Kepala keluarga yang mempunyai tujuan hidup seperti ini, sangat membahayakan
anggota keluarga. Akibat kesalahan Elimelekh, anak-anaknyapun terjerumus karena
mengambil perempuan asing sebagai isteri mereka. Bahwa Rut memiliki iman yang
luar biasa adalah soal lain.
Tetapi, sebagai bangsa pilihan Tuhan, laki-laki Israel diharapkan menikah
dengan bangsanya sendiri.
Ini pelajaran penting bagi keluarga-keluarga, terutama para bapa, sebagai
kepala keluarga. Tujuan hidup keluarga harus sangat jelas, yaitu mengenal
Tuhan, melayaniNya dan beribadah kepadaNya. Keluarga-keluarga Kristen tidak
secara otomatis memiliki tujuan mengenal
Tuhan. Banyak keluarga Kristen, nampaknya, seperti keluarga Elimelekh, dalam
arti mengutamakan berkat jasmani. Keluarga Elimelekh bukan sama sekali
meninggalkan Tuhan, sebab salah satu orang yang masuk kedalamnya, yaitu Rut,
memiliki iman yang luar biasa terhadap Allah Israel. Keluarga Elimelekh
hanyalah tidak mengutamakan Tuhan. Keluarga Elimelekh mengutamakan roti dari
pada Firman. Bukankah banyak keluarga Kristen juga demikian ?
===========================================
From: Irnawan Silitonga
Renungan Keluarga : Kegagalan keluarga Gideon
"Kemudian Gideon membuat efod dari semuanya itu dan menempatkannya di kotanya,
di Ofra. Disanalah orang Israel berlaku serong dengan menyembah efod itu;
inilah yang menjadi jerat bagi Gideon dan seisi rumahnya" [ Hakim-Hakim 8:27 ].
Gideon adalah seorang yang dipakai Tuhan untuk menyelamatkan UmatNya dari
tekanan orang Midian. Perbuatan Tuhan melalui Gideon sangat besar, sehingga
orang Midian tunduk pada Israel selama 40 tahun di zaman Gideon. Pelayanannya
ini membuat bangsa Israel
ingin menjadikan Gideon dan anak cucunya, sebagai orang yang memerintah Israel
( Hak. 8:22 ). Tetapi Gideon menolaknya serta menegaskan agar Tuhanlah yang
memerintah Israel.
Tetapi ada satu hal yang diminta oleh Gideon pada orang Israel, yaitu
anting-anting mas yang kemudian dipakainya untuk membuat baju efod. Perbuatan
Gideon ini sebenarnya sah-sah saja. Yang menjadi persoalan adalah bahwa efod
yang dibuat Gideon ini, dijadikan berhala dan disembah oleh orang Israel.
Alkitab berkata bahwa inilah yang menjadi jerat bagi Gideon dan seisi rumahnya.
Kita tahu cerita selanjutnya pada Hakim-Hakim pasal 9, dimana salah satu anak
Gideon, yaitu Abimelekh membunuh 70 anak Gideon yang lainnya. Malapetaka atas
keluarga Gideon ini sungguh mengerikan. Apa yang menyebabkan semua ini terjadi
? Tentu kejadian ini
tidak kebetulan, dan memang demikian, sebab Alkitab mencatat bahwa perihal efod
itu telah menjadi jerat bagi Gideon dan seisi rumahnya.
Pelajaran apa yang dapat diambil dalam kasus Gideon ini ? Gideon adalah
seorang yang dipilih Tuhan untuk melayaniNya, demi penyelamatan Israel.
Wajarlah jika bangsa Israel menghargainya dan ingin menjadi pengikut Gideon.
Sebenarnya Gideon sudah dengan tegas menyatakan agar Israel mengikut Tuhan
sepenuhnya dan menjadikan Dia Raja. Kita tidak tahu dengan jelas, apa motivasi
Gideon dalam membuat baju efod, yang biasanya dipakai oleh Imam-Imam yang
dikuduskan untuk melayani mezbah. Tetapi yang jelas, perbuatannya ini menjadi
penyebab Israel tersandung dan menyembah sesuatu yang bukan Tuhan. Jadi, kita
sebagai orang yang terpanggil dan melayaniNya, hendaklah diingat selalu, agar
jangan sampai perbuatan kita menyebabkan Umat Tuhan tersandung dan menyembah
sesuatu yang bukan Tuhan.
Memang semua ini tergantung sejauh mana pengaruh kita terhadap Umat Tuhan. Jika
pengaruhnya besar, maka kerusakannya juga besar. Dan hajaran Tuhan juga cukup
besar, seperti dalam kasus Gideon. Tetapi baik besar maupun kecil, kita tetap
harus berhati-hati agar Umat Tuhan tidak tersandung.
Secara khusus, ini adalah pelajaran bagi para pemimpin Umat Tuhan. Pemimpin
yang membuat sesuatu, entah itu berupa pengajaran tertentu, bentuk ibadah
tertentu,
atau peraturan-peraturan tertentu, yang menyebabkan Umat Tuhan tidak menyembah
Tuhan dalam roh, maka ia memasang jerat bagi dirinya sendiri dan juga
keturunannya. Semoga para pemimpin tidak menarik pengikut kepada dirinya
sendiri, dan tidak mengambil keuntungan dari Umat Tuhan.
========================================
From: "Irnawan Silitonga" <[EMAIL PROTECTED]>
Renungan Keluarga : Kegagalan Keluarga Ishak
"Lalu terkejutlah Ishak dengan sangat serta berkata: .dia akan tetap orang yang
diberkati" [ Kej. 27:33 ].
Ayat diatas menceritakan bagaimana Ishak ditipu oleh Yakub anaknya. Yakub
menipu bapanya dan merampas berkat kesulungan yang dimiliki Esau. Sebagai anak
sulung, Esau sebenarnya memiliki berkat hak kesulungan. Tetapi Esau telah
menjual hak
kesulungannya kepada Yakub, untuk roti dan masakan kacang merah [ Kej. 25:31-33
].
Tetapi yang akan kita perhatikan disini adalah apakah Ishak sebagai bapa telah
menjadi saluran berkat bagi Esau dan Yakub, anak-anaknya. Ketika Ishak tertipu
oleh perbuatan Yakub, dan Esau berseru meminta berkat lain kepada bapanya, maka
jawab Ishak, ".apa lagi yang dapat kuperbuat, ya anakku?" [ Kej. 27:37 ]. Jadi,
Ishak tidak mempunyai berkat lain selain dari berkat kesulungan yang telah
dirampas oleh Yakub.
Dari kisah ini, kita dapat melihat bahwa Ishak gagal menjadi saluran berkat
bagi Esau maupun Yakub. Esau tidak memperoleh berkat kesulungannya dari Ishak.
Demikian juga berkat yang didapat Yakub dari hasil penipuannya, sesungguhnya
bukanlah berkat sejati.
Karena pada tahun-tahun berikutnya dalam kehidupan Yakub, ia tertipu
berulang-ulang oleh Laban [ Kej. 31:41 ]. Yakub benar-benar menuai apa yang
telah ia tabur. Bahwa kemudian Yakub diberkati Tuhan, baik secara jasmani
maupun rohani, adalah semata-mata karena ia memang telah dipilih Tuhan oleh
kedaulatanNya [Roma 9:11-13 ].
Jadi, Ishak gagal menjadi saluran berkat bagi anak-anaknya. Hal ini sangat
berbeda dengan Yakub, ketika ia akan meninggal. Yakub memberkati semua anaknya
yang dua belas itu, "dengan berkat yang diuntukkan kepada mereka
masing-masing" [ Kej. 49:28].
Semua berkat ini sangat indah, khususnya "berkat Yehuda" yaitu tongkat
kerajaan, dimana berkat ini dimiliki mereka yang sungguh-sungguh ada dalam
Kristus.
Mengapa Ishak gagal menjadi saluran berkat bagi anak-anaknya, sedangkan Yakub
berhasil ? Ini disebabkan karena Yakub adalah orang yang didisiplin/ dibentuk /
diremukkan Tuhan, sedangkan Ishak tidak.
Melalui proses disiplin Tuhan, Yakub menjadi seorang yang memiliki kekayaan
rohani. Ishak, sekalipun diberkati Tuhan juga, namun tidak dibentuk Tuhan
sebagaimana Yakub. Ishak tidak memiliki kekayaan rohani didalam dirinya. Inilah
yang menjadi sebab mengapa Yakub menjadi saluran berkat bagi anak-anaknya,
sedangkan Ishak tidak.
Bagaimana dengan para bapa dalam keluarga-keluarga Kristen ? Sudahkah para bapa
memiliki kekayaan rohani dalam dirinya ? Apabila seorang bapa tidak mengalami
peremukkan Tuhan, bahkan selalu mengelak jalan salib dan mencari jalan yang
mudah, maka ia tidak dapat menjadi saluran berkat rohani bagi anak-anaknya. Dan
jika ia tidak menjadi saluran berkat bagi anak-anaknya, bagaimana ia dapat
menjadi saluran berkat bagi gereja ?
Gema Sion Ministry.
[Non-text portions of this message have been removed]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]
Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/