From: Dearborn
Aceh dan Politisasi Isu Agama
Oleh Trisno S Sutanto
GELOMBANG tsunami boleh jadi sudah lama surut dari Aceh. Tetapi,
sisa-sisa yang ditinggalkannya masih terus menghantui. Bukan soal
puing-puing yang berserakan, ladang-ladang yang rusak, dan mayat-
mayat yang sampai lebih dari seminggu belum mampu diangkat. Atau,
gelombang pengungsi yang jumlahnya sudah menembus setengah juta jiwa.
Esai ini tidak mau berbicara mengenai dampak fisik tersebut,
melainkan persoalan yang kadang terbuka kadang diam-diam sering
membuat risau kalangan di luar Aceh: politik agama.
Sengaja penulis memakai istilah "politik agama", walau dengan risiko
disalah pahami, untuk menunjukkan bahwa diskursus yang sedang bertarung
bukan
masalah agama an sich -kalau istilah ini dapat dipakai- tetapi lebih
merupakan kalkulasi
kepentingan politis dengan menggunakan simbol-simbol keagamaan.
Di situ agama direduksi pemahamannya menjadi sekadar angka-angka,
jumlah pengikut, maupun simbol-simbol, dan dipakai untuk kepentingan
sesaat.
Dan, politik agama itu, selama Orde Baru, berhasil dipupuk dan diam- diam
menyebarkan
kanker kecurigaan yang membentuk cara memandang, menyikapi, dan menerima
"yang
lain". Lewat proses pelan-pelan - sekali lagi, boleh jadi tanpa
disadari!- kanker itu lalu
membentuk kultur serbacuriga yang mewarnai relasi-relasi antaragama di
Tanah Air.
Karena itu, sekalipun Indonesia dulu dikenal sebagai "contoh kerukunan
hidup antarumat
beragama" yang mengesankan (bahkan Paus Yohanes Paulus II pun pernah
memuji itu!),
sesungguhnya, pada lapis di bawah permukaan, kanker serbacuriga sudah
menyebar luas
dan, penulis beranggapan, sudah mencapai tingkat yang akut.
"Kristenisasi"
TIDAK ada indikator yang lebih gamblang dan menyakitkan dari kanker
itu selain isu-isu yang berkembang seputar bencana tsunami yang
melanda Aceh dan wilayah sekitarnya. Memang sulit membayangkan, atau
bahkan terasa sangat absurd, bagaimana di tengah bencana yang sudah
disebut orang bak "kiamat kecil" itu pun politik agama masih bermain
leluasa.
Sudah sejak sangat awal, ketika bencana tsunami melanda Aceh dan
sekitarnya, isu-isu destruktif tentang adanya "Kristenisasi" para
pengungsi lewat bantuan kemanusiaan menyebar bak virus. The Straits
Times (ST) di Singapura (6/1/2005), misalnya, sudah mencatat isu-isu
yang merisaukan banyak kalangan kristiani yang ingin mengulurkan
tangan dan dengan tulus mau memberi bantuan kepada masyarakat Aceh.
Yang menarik, seperti dicatat ST, isu-isu seperti itu beredar sekaligus
pada dua
komunitas. Menurut penuturan Mangase Sibutar-butar, wartawan Harian
Sumatera
kepada wartawan ST, korban dari lingkungan Kristen juga dikabarkan
mengeluh karena
mereka harus mengucapkan kalimat syahadat sebelum memperoleh bantuan
kesehatan.
Sementara, pada pihak lain, dalam komunitas Muslim beredar santer isu
bagaimana
bantuan yang diberikan harus diimbali dengan masuknya korban menjadi
Kristen!
Pada harian yang sama, juga terdapat laporan mengenai SMS adopsi
anak-anak korban
tsunami yang sempat membuat heboh awal Januari lalu. Yang menarik, SMS itu
disebarluaskan di Malaysia dan Singapura. Kalimatnya hampir sama. Menurut
SMS itu,
dicari keluarga-keluarga Muslim yang mau mengadopsi "300 anak korban
tsunami".
Mengapa harus keluarga Muslim? Karena, menurut SMS itu, "Lembaga-
lembaga misionaris Kristen akan mengambil mereka."
Sulit rasanya untuk mengatakan sekadar kebetulan, bahwa jumlah yang
sama ("300 anak korban tsunami") juga disebut oleh laporan koran
Washington Post (WP) (13/1/2005) yang menghebohkan itu. Koran itu
menyitir kelompok misi Kristen yang berbasis di Virginia, WorldHelp,
di bawah kepemimpinan Vernon Brewer, pendeta Baptis lulusan Jerry
Falwell's Liberty University di Lynchburg, Virginia, yang mengklaim
telah "menerbangkan 300 anak yatim korban tsunami" ke Jakarta dan
berencana
menempatkan mereka di rumah-rumah tangga serta panti-panti asuhan
Kristen.
Jelas, laporan itu dengan sekejap membuat geger, apalagi setelah
beberapa media nasional memuatnya.
Namun, anehnya, sehari setelah itu WP (14/1/2005) memuat laporan
berikutnya yang menyangkal pemberitaan sebelumnya. Menurut WP, pihak
WorldHelp telah membatalkan rencana awal mereka, dan bahwa "anak-
anak itu masih di Aceh dan belum diterbangkan ke Jakarta".
Apa pun alasan yang diberikan Brewer untuk membatalkan rencana awal
mereka (konon mereka sudah berhasil mengumpulkan dana sekitar 70.000
dolar AS untuk upaya awal itu!), berita yang diterbitkan WP sudah
memperkeruh relasi-relasi antaragama di Tanah Air yang terkena
kanker kecurigaan. Berita itu -didukung oleh prestise nama besar WP -
hanya akan memperkuat kecurigaan yang sudah ada, dan seakan-akan
membenarkan
isu-isu yang sudah beredar sebelumnya tentang "Kristenisasi melalui
adopsi".
Politik Isu
Jelas, benar atau salahnya suatu isu tidak akan dapat dibuktikan.
Tidak ada cara melakukan investigasi untuk itu. Lagi pula, soal benar
atau salah tidak
akan berpengaruh apa-apa. Suatu isu merupakan sejenis self-validating
statement,
pernyataan yang membenarkan dirinya sendiri, karena selalu berada dalam
kerangka di
mana isu-isu seperti itu tumbuh subur: kultur kecurigaan tadi. Artinya,
apa pun "bukti"
yang diberikan - kalau toh ada - makna isu itu akan selalu ditangkap dalam
kerangka pra-
paham yang melandasinya.
Karena itu percuma saja mencari bukti untuk menyangkal suatu isu.
Lebih baik melihat kira-kira dampak apa yang diakibatkannya. Pertama-
tama harus dicatat, seluruh isu tadi, hanya beredar di luar Aceh.
Seorang teman relawan di Aceh bertanya jengkel, mengapa di luar Aceh
beredar aneka ragam isu yang memojokkan, sementara kehidupan di Aceh
berjalan seperti biasa? Maksudnya, relawan dari berbagai bangsa dan
keyakinan tetap bekerja demi kemanusiaan tanpa harus tersekat-sekat
oleh halangan perbedaan suku, bangsa, kebudayaan, apalagi agama.
Jadi, bisa diduga, isu-isu itu diproduksi dan ditujukan pada
masyarakat di luar Aceh. Tetapi demi kepentingan apa? Setidaknya,
jika diukur dari dampaknya, ada tiga ranah (domain) yang perlu mendapat
perhatian.
Pertama, isu-isu itu jelas mendistorsi kenyataan yang ada di Aceh,
membuat problem-problem mendasar Aceh makin kabur dan sulit ditangkap.
Kedua, penggunaan agama yang kental dalam isu-isu itu menstigmatisasi
masyarakat
Aceh. Masyarakat Aceh lalu dipersepsi sebagai masyarakat dengan identitas
tunggal
("Muslim"), atau bahkan seakan penuh kecurigaan pada orang asing.
Dan, akhirnya, isu-isu itu juga mempersempit ruang gerak para relawan,
maupun
mengecutkan niat orang-orang yang ingin terjun sebagai relawan. Malah,
bisa jadi,
membuat para relawan di sana tidak betah, lalu pergi meninggalkan Aceh,
selain militer
asing yang deadline kehadirannya sudah ditetapkan itu.
Maka Aceh kembali menjadi "daerah tertutup". Jika benar ini yang menjadi
tujuan isu-isu
itu, masa depan Aceh pascatsunami akan menjadi lahan kosong yang siap
diperebutkan
oleh segelintir orang yang haus harta dan kekuasaan! Isu-isu yang
diproduksi
dengan bungkus agama dan diedarkan, entah lewat SMS, e-mail, maupun bisik-
bisik tak
jelas, menjadi selubung bagi langkah-langkah itu.
Penulis adalah Direktur Eksekutif Madia (Masyarakat Dialog Antar- Agama)
SUARA PEMBARUAN DAILY
Last modified: 20/1/05
[EMAIL PROTECTED]
===============================================
From: Leonard Han
Info 02 Feb Edisi 6
JARINGAN KOMUNIKASI BANTUAN ACEH-SUMUT (JARKOMBAS)
Updated: 2 Pebruari 2005
POKOK-POKOK HASIL RAPAT DI DEPSOS TGL. 1 PEBRUARI
Bpk. Hamonangan Hutabarat kemarin menghadiri rapat di Departemen Sosial yang
diadakan berkaitan dengan kegiatan di Aceh. Berikut ini adalah beberapa point
dari hal-hal yang dibicarakan/diputuskan.
1.. Rapat koordinasi bantuan ke Aceh selanjutnya akan diadakan sekali tiap
dua minggu.
2.. Semua kegiatan yang dilakukan dalam rangka membantu masyarakat Aceh mulai
sekarang harus diinformasikan kepada SATGAS DEPSOS di Aceh.
3.. Yang sangat diperlukan di Aceh sekarang ini adalah tenaga-tenaga ahli di
bidang Psiko-sosial dalam jumlah yang cukup besar.
4.. NGO (LSM) yang bergerak di Aceh hanya boleh mengimpor mobil untuk tenaga
asing, maksimal 6 buah. Sesudah pekerjaan mereka selesai di Aceh, maka
mobil-mobil tsb. harus diserahkan kepada Pemerintah.
5.. Telah ditetapkan bahwa Masa Darurat (Emergency) akan berakhir pada tgl.
26 Maret 2005. Masa pemasukan barang-barang impor untuk Aceh secara bebas bea
masuk akan berakhir pada tgl. tsb. Selanjutnya akan berlaku lagi prosedur yang
normal.
6.. Ada 25 (duapuluh lima) Panti Sosial di Aceh yang dilaporkan telah
mengalami kerusakan (dari kerusakan ringan hingga kerusakan total) dankini
ditawarkan kepada NGO yang ingin membantu merehabilitasinya.
UNDANGAN PERTEMUAN DI BANDA ACEH
Bp. Junius Suhadi dan JarKomBAS (Jaringan Komunikasi Bantuan Aceh-Sumut) [bhs.
Inggrisnya: Aceh-N. Sumatra Relief Communication Network) bermaksud mengadakan
pertemuan dengan rekan-rekan dari berbagai gereja/organisasi/lembaga Kristiani
yang ikut aktif di Aceh (baik yang mempunyai Posko maupun yang bukan) pada
akhir pekan ini.
Pertemuan akan diadakan pada hari Jum'at, 4 Pebruari 2005, pk. 19.00, bertempat
di:
Restoran Bigtop, Jl. Nyak Adam Kamil II/1, Nesu - Banda Aceh. Tel. 0651-24172.
Yang hendak dibicarakan adalah bagaimana jejaring komunikasi dapat lebih
ditingkatkan, sehingga benar-benar bisa melayani kebutuhan dari rekan-rekan
gereja/organisasi yang bergerak di Aceh. Saran-saran dan masukan sangat
diharapkan.
Pimpinan gereja/organisasi yang "kebetulan" berada di Banda Aceh pada waktu
tsb. sangat kami harapkan kehadirannya, atau paling tidak, wakil-wakil yang
telah diutus/ ditempatkan di Banda Aceh kiranya bisa hadir dan turut
berpartisipasi.
Kiranya mereka yang akan hadir memberitahukan terlebih dahulu, supaya
mengetahui jumlah makanan yang akan dipesan. (RSVP 0813-19278997)
MELAYANI SEBAGAI "TENTMAKERS" DI ACEH
Rasul Paulus berprofesi sebagai seorang "tentmaker" (pembuatan tenda, yaitu
sebuah komoditi tempat penginapan yang sangat diperlukan oleh para musafir yang
melakukan perjalanan jauh dengan naik unta atau kuda pada masa tsb.). Demikian
juga di zaman modern salah satu cara yang praktis untuk membawa Kabar Baik ke
negeri-negeri atau daerah yang tertutup bagi Injil, adalah dengan menjalankan
profesi tertentu di tempat-tempat yang membutuhkan sehingga bisa menjadi berkat
bagi masyarakat setempat.
Jelas, hadirnya lebih dari 100 LSM asing yang selanjutnya akan berada di Aceh
untuk jangka panjang akan memberi peluang yang istimewa bagi anak-anak Tuhan
yang terpanggil untuk menghadirkan Kerajaan Allah melalui bidang profesi mereka
masing-masing, entah sebagai manajer, sekretaris, supir, dokter, jururawat,
konselor pasca trauma, tukang batu, ahli pemboran sumur, dsb. Minimal mereka
harus bersedia untuk bekerja selama enam bulan atau setahun.
Sebuah kantor yang akan berfungsi sebagai biro jasa tenaga kerja telah
didirikan di Banda Aceh, yaitu: The Source (Aceh Human Resources Center)
Jl. Sultan Mansyursyah no. 5, Banda Aceh.
Tel/Fax No. 0651-205053
HP 0815-3165650
Email: [EMAIL PROTECTED]
Barangsiapa merasa terpanggil untuk "melayani" sambil bekerja/ mencari nafkah
di Aceh dapat meminta formulir lamaran kerja, dan biro jasa ini akan
menghubungkan mereka dengan NGO yang memerlukan. NGO tsb. sudah mempunyai
rincian kualifikasi yang harus dipenuhi oleh pelamar (antara lain, apakah harus
mampu berbahasa Inggris secara aktif atau cukup pasif saja). Untuk itu pelamar
ybs. perlu melampirkan fotokopi ijasah, dll. dan mengajukan surat lamaran.
Kiranya gereja-gereja di seluruh Indonesia diberitahukan mengenai kesempatan
ini, supaya dapat menyebarluaskan lowongan kerja yang bagus ini di antara
jemaatnya. Dan alangkah baiknya bila jemaat-jemaat pun akan mengutus
tenaga-tenaga kerja tsb. sebagai misionaris mereka, dan tetap setia mendukung
mereka dengan doa, dana dan daya. (Jangan dilepas begitu saja, dan sebaiknya
yang diutus adalah tenaga gereja yang terbaik, bukan orang yang termasuk
trouble maker atau tipe pengganggu yang hendak diusir "pergi".)
APABILA ANDA BELUM MENDAPATKAN DATA ORGANISASI YANG MELAYANI DI ACEH-SUMUT,
BAIK YANG MEMPUNYAI MAUPUN TIDAK MEMPUNYAI POSKO, SILAHKAN HUBUNGI KAMI ATAU
DATANG SENDIRI KE ISTANA KANA (JAKARTA).
CATATAN: Informasi di atas akan terus di-update, karena itu kami mohon bantuan
setiap Bapak/Ibu/saudara untuk dapat memberikan informasi apa saja yang berguna
bagi kita semua. Jika ada informasi yang ingin disampaikan ataupun yang perlu
dikoreksi, harap segera menghubungi kami melalui e-mail: [EMAIL PROTECTED]
atau sms kepada kami: 081319278997 (Peter Rondeel) atau 081319222765 (Jeffrey
Kurniawan).
JarKomBAS
POSKO BERSAMA adalah aliansi berbagai LSM (PGI, PDS, PIKI, PARKINDO, PII, PGPI,
Ayub, NPC, Sahabat Kristen, PJRN, JDN, YVI Pluit, Gereja Rakyat, OBI, Aceh Task
Force, Yay. Setia Bakti, dll) untuk membantu korban gempa & tsunami di Aceh &
Nias.
Sumbangan dana SAHABAT PEDULI melalui milis SAHABAT KRISTEN dapat ditransfer ke
rekening BCA 654.0039761 (a/n Leonard Handjojo).
Mohon agar memberi-tahukan saya di 0813-14081427 apabila Anda mentransfer agar
dapat kami data.
Love & pray,
Team modie milis SAHABAT KRISTEN
[Non-text portions of this message have been removed]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]
Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/