From: Mundhi Sabda Lesminingtyas 

"Ketika Bukan KehendakMu Yang Jadi!"
Sebuah renungan untuk para jomblo
Oleh : Lesminingtyas

Seperti anak-anak muda seumurannya, Sarai pun memiliki kerinduan untuk 
mendapatkan pacar. Sambil melirik-lirik teman sekampusnya, tak lupa Sarai 
selalu berdoa "Tuhan, berikan aku seorang pacar yang takut akan Engkau, penuh 
pengertian, lembut hati, bijaksana dan setia. Terserah siapa yang Engkau 
pilihkan, aku akan menerimanya sebagai pemberianMu"

Ketika Sarai merayakan Natal di kampungnya, Sarai kembali bertemu dengan Gita 
sahabatnya sewaktu kecil dulu. Sarai sebenarnya tahu bahwa sejak kelas 5 SD 
Gita naksir dirinya. Saat  mereka duduk di bangku SMP, Gita selalu mencari-cari 
alasan supaya bisa mondar-mandir lewat di depan rumah Sarai.
Sarai pun sengaja keluar masuk rumah supaya bisa bertemu Gita. Rupanya mereka 
terlibat cinta monyet. Saat mereka duduk di bangku SMA, mereka tetap menyimpan 
rasa cinta di dalam hati masing-masing. Sarai tidak pernah berani menatap mata 
Gita, karena malu kalau terbaca seberapa besar cintanya kepada Gita. Gita pun 
demikian. Walaupun hati mereka dekat dan saling menyayangi, tetapi mereka tidak 
pernah berani menyatakan kata cinta.  Gita, sebagai anak kampung dari strata 
sosial di jauh bawah keluarga Sarai, tentu saja tidak
memiliki keberanian untuk menyatakan cinta kepada Sarai. Jadilah hati mereka 
saling berpacaran, tanpa kata, tanpa sentuhan, tanpa pelukan dan juga tanpa 
kencan.

Saat mereka bertemu lagi dalam acara Natal itu, Gita memberanikan diri 
menyatakan cintanya kepada Sarai. Walaupun sebenarnya Sarai masih menyimpan 
cintanya untuk Gita, tetapi gengsinya terlalu tinggi untuk menerima cinta Gita. 
Sarai yang berasal dari keluarga terpandang, tidak berani mengambil resiko 
untuk menjadi kekasih Gita, kaum jelata dari kelas "sudra". Sarai juga kuatir 
Gita yang hanya berpendidikan diploma, tidak akan bisa menyesuaikan diri dengan 
teman-teman kuliah Sarai di kampus yang cukup bergengsi itu. Saat itu Sarai pun 
berdoa "Tuhan, sebenarnya saya mencintai Gita, tapi saya malu karena status 
sosial Gita. Berikan saya pacar yang sebaik Gita, tetapi tidak culun, udik dan 
berpendidikan minimal S-1!"

Ketika Sarai aktif dalam pelayanan gereja, ia berteman akrab dengan Ito, 
seorang mahasiswa Theologia, teman sekampusnya. Persahabatan itu mendatangkan 
suka cita di antara mereka berdua dan bagi teman-teman di sekitarnya. 
Kematangan Ito dan kesediaannya mendengar keluh kesah Sarai, membuat ia layak 
menjadi kakak sekaligus penolong bagi Sarai. Saat Ito
hendak mengubah kedekatan itu menjadi hubungan percintaan, Sarai menolak, 
karena menurutnya Ito bukanlah tipe laki-laki yang didambakannya.  Walaupun 
sejujurnya Ito memenuhi kriteria laki-laki yang sering disebut dalam 
doa-doanya, namun mata Sarai lebih menguasai hatinya. "Tuhan, berikanlah 
sahabatku Ito seorang pacar, tetapi jangan saya. Saya tahu dia baik dan 
penyayang, tapi dia tidak rapi, tidak tampan dan mulutnya terlalu lebar.
Tolong berikan saya pacar, tapi jangan yang sejelek Ito"

Walaupun Ito dan Sarai masih bersahabat, tetapi mereka tak seakrab yang dulu. 
Ito yang telah memasuki smester-smester akhir harus mempersiapkan diri untuk 
praktek penggembalaan di luar kota. Sarai pun makin sibuk dengan kegiatan 
kampusnya. Mereka semakin jauh, jauh, dan lama kelamaan nama Ito terhapus dari 
kehidupan Sarai.

Suatu ketika Sarai ditunjuk mewakili kampusnya untuk mengikuti seminar antar 
kampus di tingkat regional untuk beberapa hari. Saat bertemu dengan Arjuna, 
mahasiswa tertampan dari kampus lain, Sarai langsung berdoa dalam hati "Tuhan, 
sungguh indah ciptaanMu! Engkau yang Maha Murah, berikanlah Arjuna menjadi 
pacarku". Si tampan Arjuna yang berpenampilan clam dan cool itu membuat Sarai 
semakin penasaran. Walaupun Sarai berpura-pura cuek, tapi hatinya terus menerus 
berdoa, memaksa Tuhan untuk menggerakkan hati Arjuna supaya mau menghampirinya.

Entah karena doa-doa yang setengah memaksa Tuhan atau karena sikap Sarai yang 
jinak-jinak merpati, tahu-tahu Arjuna aktif melakukan PDKT. Usaha Arjuna terus 
dilanjutkan walaupun mereka telah kembali ke kota masing-masing. Singkat cerita 
mereka berpacaran jarak jauh dan hanya seminggu sekali mereka bertemu. Walaupun 
Arjuna mengakui secara jujur bahwa ia berasal dari keluarga miskin, Sarai nggak 
mau tahu. Rupanya Sarai sudah
terjerat cinta sejak pandangan pertama! Sebulan dua bulan hubungan mereka 
lancar. Namun begitu masuk bulan keenam komunikasi mereka agak tersendat.
Arjuna yang dulu rajin mengunjungi kost Sarai setiap akhir pekan, tiba-tiba 
minta dimengerti karena tidak bisa berkunjung terlalu sering. Untuk membuktikan 
bahwa Arjuna tidak pindah ke lain hati, ia pun mempersilakan Sarai untuk datang 
sewaktu-waktu ke pondokannya.

Saat Sarai ingin membuktikan kebenaran kata-kata Arjuna, ia pun berkunjung ke 
tempat kost Arjuna. Sarai hampir pinsan ketika melihat kenyataan bahwa Arjuna 
tak semiskin yang ia bayangkan. Dari mulut Arjuna, Sarai sudah bisa 
membayangkan bahwa Arjuna memang bukan anak dari keluarga berada. Namun keadaan 
yang didapati Sarai benar-benar membuatnya shock. Ternyata Arjuna hanya 
menempati kamar ukuran 2X3 meter yang berdinding bambu dan berlantai tanah. 
Sarai pun mundur teratur sambil berdoa "Tuhan, bukan yang ini yang saya minta! 
Saya ingin pacar yang setampan dan sebaik Arjuna tetapi jangan
yang terlalu miskin. Bolehlah Engkau kasih saya pacar yang sederhana, tetapi 
jangan yang sekere ini"

Lama sekali Sarai tidak menemukan kekasih hati. Ia pun masih terus berdoa 
supaya Tuhan memberikan teman laki-laki yang sesuai dengan kriterianya. Namun 
ketika bertemu dengan Suromenggolo, laki-laki tampan, gagah dan berpenampilan 
sempurna itu, Sarai menjadi lupa dengan doa-doanya. Ia merasa yakin suatu saat 
laki-laki itun akan menjadi miliknya.

Suromenggolo yang duduk sebagai ketua panitia kegiatan cinta alam, mulai 
melirik-lirik Sarai yang terlibat sebagai peserta. Setiap ada kesempatan, Sarai 
pun mencuri-curi pandang supaya bisa menikmati ketampanan Suromenggolo. 
Suromenggolo yang berwajah oval dan dihiasi kumis tipis dan sepasang mata 
bersinar di bawah alis yang indah, benar-benar membuat tercengang setiap 
perempuan yang melihatnya. Kulitnya yang hitam manis,
sangat serasi dengan senyumnya yang manis dan menggetarkan hati setiap 
perempuan .

Ketika Sarai mengalami kesulitan untuk mendirikan tendanya, Suromenggolo 
menghampiri nya dengan senyum yang sungguh menawan. Sapaan nan lembut dan 
santun Suromenggolo membuat Sarai bagaikan Dewi di kayangan. Dengan sopan 
Suromenggolo menyodorkan tangan untuk berkenalan, membuat Sarai yakin bahwa 
laki-laki tampan di hadapannya berasal dari keluarga yang beradab. Beberapa 
hari berpetualang di alam bersama, membuat Sarai dan Suromenggolo semakin 
akrab. Setiap Sarai mengalami kesulitan, Suromenggolo datang membantu tanpa 
diminta. Setiap menjelang magrib, saat Sarai dan teman-teman perempuannya pergi 
untuk mandi di kali, tanpa diminta Suromenggolo pun bersedia mengawal bak 
pahlawan yang selalu siap menjaga kehormatan teman-teman perempuannya.
Sikap Suromenggolo yang "care" dan penuh perhatian, membuat  Sarai yakin bahwa 
Suromenggolo adalah laki-laki ideal yang diinginkannya.

Ketika petualangan di alam bebas itu diakhiri dengan mendaki gunung, 
Suromenggolo menggunakan kesempatan untuk merebut simpati Sarai. Selama 
perjalanan, Suromenggolo menunjukkan perhatian yang sangat besar dan kesediaan 
menolong setiap anak buahnya. Sikap Suromenggolo yang melindungi, benar-benar 
membuat setiap orang yang berada di dekatnya merasa aman.
Kata-kata Suromenggolo yang lembut, santun dan bijaksana sungguh menyejukkan
hati Sarai. Terlebih dengan sikap dan perhatian khusus yang penuh cinta, yang 
selalu diarahkan Suromenggolo kepada Sarai.

Sarai benar-benar tersanjung melihat Suromenggolo yang begitu memperhatikan dan 
mengkuatirkannya. Melalui tatapan mata dan bahasa tubuhnya, Suromenggolo 
mengisyaratkan bahwa ia tak ingin Sarai merasakan kesusahan.
Suromenggolo seolah tahu kapan keringat Sarai hendak menetes dan kapan ia harus 
mengeluarkan sapu tanganya untuk membersihkan kening Sarai. Ketika Sarai 
tergelincir, tangan Suromenggolo meraihnya dengan cepat, sehingga Saraipun aman 
bersamanya. Suromenggolo rela menggendong dua ransel, supaya pundak Sarai tidak 
terkelupas oleh beratnya beban. Begitu cuaca mulai berkabut, Suromenggolo 
melepas jaketnya untuk dipakaikan ke tubuh Sarai.
Ketika kaki Sarai terkelupas oleh jauhnya perjalanan, Suromenggolo tidak 
mempercayakan perawatan luka di kaki Sarai kepada petugas P3K. Dengan tangannya 
sendiri, Suromenggolo mencuci dan mengobati kaki Sarai.

Selama perjalanan pulang ke kampus, Suromenggolo selalu menjagai Sarai.
Walaupun Sarai masih bisa berjalan dengan baik, tetapi Suromenggolo selalu 
berusaha menjaganya. Tanpa diminta, Suromenggolo selalu menuntun Sarai ketika 
naik dan turun dari bis. Di dalam bis pun Suromenggolo selalu berusaha 
mencarikan minum dan makanan untuk Sarai. Setibanya di kampus, sebenarnya Sarai 
bisa pulang sendiri ke kostnya. Tetapi Suromenggolo merasa bertanggung jawab 
untuk mengantar Sarai hingga di depan pintu kostnya.

Tidak berhenti di situ saja! Malam harinya Suromenggolo datang lagi ke tempat 
kost Sarai dengan membawa dua rantang makan malam dan obat kompres untuk kaki 
Sarai. Semula Sarai menolak pemberian itu, karena ia menyangka bahwa 
Suromenggolo adalah sesama anak kost yang uangnya mepet. Tetapi Suromenggolo 
berusaha meyakinkan bahwa makanan yang dibawanya adalah masakan ibunya yang 
memang disiapkan untuk Sarai.

Malam-malam berikutnya Suromenggolo selalu datang dengan setangkai bunga yang 
terselip di rantang catering ibunya. Teman-teman kost Sarai pun memuji 
perhatian dan kasih sayang Suromenggolo yang seakan tak pernah ada habisnya.
Tidak berlebihan jika Sarai GR (gede rasa). Ia pun langsung berdoa "Tuhan, 
inilah orang yang kupilih. Berkatilah supaya dia menjadi kekasihku selamanya". 
Saat itu bagi Sarai, berdoa adalah nomor kesekian. Tuhan bukanlah tempat Sarai 
berkonsultasi karena Sarai bisa memilih sendiri laki-laki yang diinginkannya.  
Setiap berdoa, Sarai hanya cukup melapor dan
meminta dukungan Tuhan atas apa yang diinginkannya. Ketampanan, cinta dan 
romantisme Suromenggolo telah membuat Sarai menempatkan Tuhan hanya sebagai 
asisten yang selalu diminta membantu Sarai mencapai keinginannya. Mungkin 
inilah yang dinamakan cinta buta. Api asrama yang berkobar di antara mereka, 
telah membuat Sarai tidak mampu melihat sisi lain kehidupan Suromenggolo.

Walaupun Sarai tahu bahwa Suromenggolo bukan anak Tuhan yang sepadan dengannya, 
namun Sarai ngotot dan merasa mampu memperkenalkan Juru Selamat kepada 
Suromenggolo. Terlebih lagi Suromenggolo sendiri sudah bersedia untuk beribadah 
di gereja Sarai. Inilah yang selalu dijadikan senjata pembela diri, ketika 
orang tua dan kakak Sarai tidak menyukai hubungan mereka.
Walaupun kakak Sarai sudah memberitahukan berkali-kali tentang masa lalu 
Suromenggolo yang suka berkelahi dan mabuk-mabukan, tetapi perhatian dan 
kelembutan Suromenggolo telah memabukkan Sarai. Sarai merasa saat itu dia lah 
yang paling tahu siapa Suromenggolo yang sesungguhnya.

Walaupun induk semang Sarai berkali-kali memberitahu bahwa Suromenggolo adalah 
anak kolong yang keluargnya amburadul, Sarai tetap dengan keyakinannya bahwa 
laki-laki yang dikenalnya adalah sosok yang penuh cinta dan kasih sayang. 
Ketampanan, romantisme dan sikap santun Suromenggolo sama sekali bertolak 
belakang dengan  pernyataan induk semang Sarai.

Ketika berkenalan lebih dekat dengan keluarga Suromenggolo, Sarai dihadapkan 
kenyataan bahwa Suromenggolo memang bukan berasal dari keluarga yang harmonis. 
Kenyataan bahwa ayah Suromenggolo sering melakukan kekerasan terhadap istri dan 
anak-anaknya, justru didengar Sarai dari mulut ibu Suromenggolo. Dengan 
berlinang air mata ibu Suromenggolo menceritakan penderitaan dirinya yang 
sering diperlakukan kasar dan ditinggal kabur
ayahnya. Penderitaan ibu Suromenggolo semakin lengkap ketika ia tidak memiliki 
daya untuk melindungi anak-anaknya dari siksaan suaminya. Kisah mengharukan itu 
semakin diperkuat dengan cerita Suromenggolo yang mengaku bahwa siksaan dari 
ayahnya merupakan makanan sehari-hari untuknya.

Pengenalan Sarai terhadap keluarga Suromenggolo tidak menyurutkan cintanya.
Sebaliknya, Sarai semakin mengagumi Suromenggolo. Di mata Sarai, Suromenggolo 
adalah pribadi yang tegar. Walaupun tidak pernah menerima kasih sayang dari 
ayahnya, namun ia memiliki cinta dan kasih sayang yang begitu besar untuk orang 
lain, terutama untuk Sarai. Sarai semakin kagum karena Suromenggolo yang sedari 
kecilnya terbiasa menerima siksaan, tetapi setelah dewasa bisa tampil sebagai 
sosok pelindung yang penuh kasih.

Bukan hanya Sarai yang membutuhkan Suromenggolo. Kehadiran Sarai pun semakin
mengobarkan semangat hidup Suromenggolo. Sarai adalah satu-satunya orang yang 
mengerti penderitaan Suromenggolo. Ibu Suromenggolo yang harus berjuang keras 
menghidupi anak-anaknya, telah membuat Suromenggolo tidak mendapatkan perhatian 
dan kasih sayang yang cukup. Menurut Suromenggolo, setelah masa remajanya 
terbuang sia-sia dalam kehidupan yang penuh nikotin, alkohol dan perkelahian, 
ibunya baru datang menghampirinya. Saat Suromenggolo menjelang dewasa, ibunya 
berusaha menebus kesalahannya dengan memberikan kasih sayang yang berlebih.

Walaupun ibunya telah memberikan kemanjaan yang berlebih, Suromenggolo tetap
membutuhkan kasih lembut Sarai. Walaupun kecantikan Sarai tak sebanding dengan 
ketampanannya, Suromenggolo tetap membutuhkan Sarai sebagai calon pendamping, 
sekaligus sebagai "ibu". Tanpa pikir panjang lagi, setelah 2 tahun berpacaran 
mereka  memutuskan untuk menikah, setelah Suromenggolo bersedia dibaptis di 
gereja Sarai. Ketika itu Sarai menodong Tuhan untuk mencari pembenaran atas 
keputusannya "Tuhan, inilah orang yang Kaupilih untuk mendampingiku. Walaupun 
banyak muridMu tidak sepenuhnya mendukung hubungan kami, namun untuk kali ini, 
biarlah aku mewujudkan keinginanku.
Untuk lain kali, bolehlah kehendakMu yang jadi. Namun untuk kali ini saja, 
biarlah kehendakku yang jadi"

Walaupun secara materi mereka berdua tidak memiliki kesiapan sama sekali, 
mereka nekad membina rumah tangga hanya dengan bermodal cinta. Layaknya syair 
yang dilantunkan oleh pedangdut, mereka rela hidup menderita, tidur hanya 
beralas koran dan makan sepiring berdua. Sarai yang sudah bekerja harus 
menopang bahtera yang dikemudikan oleh Suromenggolo. Sarai yang bekerja di dua 
tempat hingga larut malam, tidak membuat Suromenggolo lelah menunggunya di 
rumah. Suromenggolo justru senang kalau ia bisa memasak makan malam untuk 
mereka berdua. Tahun pertama perkawinan mereka benar-benar penuh dengan 
kemesraan. Mereka tidak peduli apa kata orang. Mereka juga tak peduli kalaupun 
dunia ini akan runtuh, asalkan mereka selalu berdua. Kebahagian mereka semakin 
bertambah saat Suromenggolo mendapatkan pekerjaan yang cukup bagus dengan gaji 
yang lumayan.

Memasuki tahun kedua, Sarai dan Suromenggolo sepakat untuk melewatkan libur 
Natal di rumah keluarga Suromenggolo. Saat malam Natal tiba, Sarai mulai kecewa 
karena Suromenggolo dan ibunya menghalanginya untuk pergi ke gereja.
Suromenggolo menenangkan Sarai dengan menjanjikan untuk mengantarnya ke gereja 
esok paginya. Mereka berdua sepakat untuk pergi ke gereja pada jam 05.00.

Di pagi yang buta Sarai menggandeng tangan Suromenggolo untuk pergi ke gereja. 
Belum sempat pasangan muda itu melangkah keluar pintu, ibu Suromenggolo 
menggagalkan rencana mereka. Suromenggolo meminta pengertian Sarai untuk 
menggeser rencana mereka sampai jam 07.00. Sarai pun setuju.
Namun begitu waktu ibadah yang kedua sudah hampir tiba, Suromenggolo masih 
sibuk menemani ibunya. Sarai kembali bersabar, menunggu Suromenggolo 
menyediakan waktu untuk istri dan Tuhannya pada jam 09.00.

Lagi-lagi gagal! Suromenggolo mencoba menggeser rencana mereka sampai jam 
11.00. Namun, gagal lagi gagal lagi! Hari itu tampaknya Suromenggolo 
benar-benaar milik ibunya. Kesabaran Sarai sudah sirna. Ketika hari  telah 
bergeser  hingga jam 17.00, dan ibu Suromenggolo belum ingin melepaskan anaknya 
menikmati kebersamaan dengan istrinya, Saraipun mengambil sikap.
Tanpa ijin suami dan mertuanya, Sarai nekad pergi ke gereja sendiri.
Walaupun berbakti dan memuji Tuhan adalah hak Sarai yang paling azazi, namun
Suromenggolo dan ibunya menganggap hal tersebut merupakan pelecehan terhadap
kekuasaan sang suami. Hari itu Sarai divonis bersalah karena berani 
meninggalkan rumah tanpa restu suaminya. Sarai yang berasal dari keluarga yang 
taat beribadah, tentu saja sangat kecewa melihat suaminya menerima Kristus 
hanya di bibirnya saja. nilah sumber konflik yang pertama.

Mulai saat itu, Suromenggolo semakin mengatur dan menuntut sarai untuk berperan 
sebagai mana ibunya. Sarai yang bekerja di kantor tentunya tidak sanggup 
menerima beban ganda yang ditimpakan oleh suaminya. Masakan Sarai yang tidak 
lezat dan  dandanan yang tak seluwes ibu mertuanya, seringkali dipakai 
Suromenggolo untuk melecehkan Sarai. Sarai baru menyadari bahwa ia sedang hidup 
bersama dengan penderita oidepus complex. Sarai tidak menyerah.
Ia justru ingin belajar dari ibu mertuanya yang merupakan figur ibu rumah 
tangga yang nrimo, mengabdi dan menerima apa saja perlakukan suaminya. Namun 
sayang, belum selesai berguru kepada mertuanya, Sarai hamil. Sejak saat itu 
Sarai lebih berkonsentrasi pada buah hati yang ada di dalam perutnya.
Perhatian sarai yang terbagi untuk memikirkan kesehatan diri dan janinnya, 
membuat Suromenggolo merasa perhatian dan kasih sayang Sarai tak cukup lagi 
buatnya.

Suromenggolo mulai mencari perhatian dari teman-teman sekantornya. Ia rela 
melakukan apa saja supaya bisa diterima dan dikagumi teman-temannya.
Seringkali Suromenggolo tidak membawa pulang uang gajinya demi menyenangkan 
teman-temannya. Panggilan "Bos" dari rekan-rekannya membuat Suromenggolo merasa 
tidak cukup hanya dengan bermodalkan uang gajinya. Tak jarang ia menggunakan 
uang istrinya hanya untuk berfoya-foya dengan teman-temanya.
Merasa uangnya kurang, Suromenggolo mulai berkhayal menjadi orang kaya melalui 
perjudian. Saat Suromenggolo kalah berjudi, ia meyakinkan Sarai bahwa lain kali 
ia akan meraup keuntungan dari permainan judinya. Ketika Suromenggolo 
mendapatkan kemenangan yang kecil, ia semakin bersemangat untuk meyakinkan 
Sarai bahwa di waktu-waktu mendatang ia akan mendapatkan keuntungan yang lebih 
besar dan lebih besar lagi. Keuangan mereka semakin kacau. Baik kekalahan 
maupun kemenangan, bagi Suromenggolo harus dirayakan dengan alkohol.
Bau alkohol dari mulut Suromenggolo membuat Sarai tidak bisa melayaninya di 
tempat tidur. Namun penolakan Sarai tidak membuat Suromenggolo mundur.
Sebaliknya, Suromenggolo menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya.
Semakin dilecehkan dan diperlakukan secara tidak bermartabat, Sarai semakin 
frigit. Inilah neraka bagi Sarai. Semakin ia frigit, Suromenggolo semakin 
bersemangat untuk "memperkosanya".

Walaupun anak mereka telah lahir, Suromenggolo tidak berubah. Mau tidak mau, 
Sarai bersikap lebih tegas lagi. Ia berusaha mengendalikan uang gajinya sendiri 
supaya bahtera keluarganya tidak tenggelam. Paling tidak Sarai merasa 
bertanggung jawab untuk menghidupi anaknya. Kesenangan Suromenggolo bersama 
teman-temannya, membuat Sarai seolah janda beranak satu, yang harus berjuang 
sendiri menghidupi anaknya. Buah hati mereka yang sakit-sakitan seolah bukan 
masalah Suromenggolo. Semua ditimpakan kepada Sarai.

Kesulitan hidup yang dihadapi Sarai membuat ia seolah mati rasa.
Ketidakhadiran Suromenggolo di saat anaknya perlu dilarikan ke rumah sakit 
karena demam tinggi, sudah dianggap hal yang biasa. Sarai tidak punya waktu 
lagi untuk mengemis cinta dan belas kasihan dari suaminya. Ia merasa harus bisa 
hidup dan membagi cinta bersama anaknya. Merasa kehadirannya tak berpengaruh 
dalam kehidupan istri dan anaknya, Suromenggolo mulai mencari pengakuan, baik 
di dalam maupun di luar rumah. Sejak saat itu, Suromenggolo bukan saja menuntut 
Sarai menjadi sama dengan ibunya, tetapi ia sendiri
menghadirkan potret ayahnya. Kesalahan-kesahalan kecil yang dilakukan Sarai 
bisa membuat ia murka. Cerita tokoh Suromenggolo yang penuh cinta, kasih sayang 
dan romantisme sudah berakhir. Ia hadir layaknya "warok suromenggolo" yang 
menakutkan. Ia telah berubah wujud menjadi monster yang tertawa puas ketika 
melihat Sarai dengan kening terluka, bibir dan hidung yang berlumuran darah, 
mata yang membengkak atau yang merangkak kesakitan sambil berlutut atau mencium 
telapak kaki sambil memohon  belas kasihan dari Suromenggolo

Suromenggolo menerima Tuhan Yesus hanya karena cintanya kepada Sarai, bukan
karena ia mencintai Juru Selamat. Suromenggolo menjadikan Kristen hanya sebagai 
identitas, dan bukan karena ia ingin hidup meneladani Kristus. Ia menjadi 
Kristen, bukan karena dia "ngefans" dengan pribadi Kristus, tetapi karena ia 
"ngebet" untuk mendapatkan cinta Sarai. Ketika cinta itu redup, Suromenggolo 
pun rela meninggalkan Kristus. Ia rela menukar Janji Keselamatan dengan 
perempuan lain yang lebih cantik, sexy, menggairahkan dan bersedia diperlakukan 
sebagai "ibunya".

******
Kisah nyata di atas terjadi karena Sarai tidak mengandalkan Yesus. Ketika ia 
kepincut dengan ketampanan dan terbius oleh cinta seorang laki-laki, ia menomor 
duakan Tuhan Yesus. Karena merasa yakin bahwa pilihannya bisa memuaskan 
matanya, ia pun berdoa "Biarlah kehendakku saja yang terjadi, bukan 
kehendakMu". Kesalahan yang terbesar dalam hidup Sarai adalah tidak 
mengandalkan campur tangan Tuhan ketika mengambil keputusan. Bahkan orang-orang 
di sekitar Sarai yang dipakai oleh Tuhan untuk mengingatkannya,
dianggap angin lalu saja. Walaupun banyak orang bilang bahwa Tuhan akan 
menyediakan "Abraham" yang lebih baik bagi Sarai, tetapi ia telah dibutakan 
oleh ketampanan dan romantisme dari laki-laki yang tak sepadan di hadapan Allah.

[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke