From: Donny Adi Wiguna 

Surat Petrus - Renungan Sehari (25)

HARI PENGHAKIMAN
1 Pet 4:17-19  Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada 
rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu 
dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya 
pada Injil Allah? Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah 
yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa? Karena itu baiklah juga 
mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan 
selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.

Hidup ini adil. Yang baik akan mendapatkan upahnya, yang jahat akan mendapatkan 
hukumannya. Tiap-tiap orang akan menerima bagiannya masing-masing, sesuai 
dengan perbuatannya. Manusia tidak dapat mengelak dari keadilan ini, karena 
demikianlah Tuhan telah menetapkannya.
Tetapi mungkin banyak di antara kita yang ingin memprotes. Sebaliknya dari 
hidup yang adil, kita menemukan ketidakadilan di mana-mana. Kita melihat yang 
baik menerima hukuman, sedang yang jahat mendapatkan upah yang besar.
Rejeki yang melimpah. Kita melihat bagaimana orang-orang fasik menjadi kaya 
raya, dengan kesehatan yang prima, pendidikan yang lebih baik, fasilitas yang 
lebih lengkap. Semuanya mendukung mereka untuk meneruskan kefasikan, dan 
sebagai hasilnya mereka menjadi semakin makmur saja. Dan itu bukan hanya jaman 
sekarang, melainkan sudah sejak dahulu kala. Cobalah dengar protes dari Asaf si 
pemazmur,

"Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang 
bersih hatinya. Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku 
tergelincir.
Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran 
orang-orang fasik.
Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka 
tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang 
lain.
Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan.
Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan 
sangkaan. Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan 
dibicarakan mereka dengan tinggi hati.
Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi.

Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air 
yang berlimpah-limpah. Dan mereka berkata:
"Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?"
Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang 
selamanya!
Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, 
tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap 
pagi."

Asaf mendapatkan karunia dari Tuhan untuk melihat bagaimana kesudahan 
orang-orang fasik itu. Ia akhirnya tahu bahwa mereka yang nampaknya makmur dan 
sejahtera itu akan menghadapi kebinasaan, lenyap habis oleh kedahsyatan.  Namun 
mungkin banyak di antara kita yang tidak berkesempatan menerima karunia 
demikian. Sebaliknya kita menemukan yang jahat menjadi semakin berkuasa, 
menjadi semakin jahat. Rasanya hidup ini tidak adil. Dan bila hidup ini tidak 
adil, maka juga tidak ada kebenaran. Dan jika tidak ada kebenaran, maka tidak 
ada suatu nilai yang nyata yang harus dipelihara manusia.

Apa itu kebaikan? Apa itu kejahatan? Di saat seseorang bisa mengatakan "ini 
baik" dan "itu jahat", sebenarnya ia sedang mengekspresikan nilai yang ada pada 
dirinya. Keseluruhan nilai yang terdapat dalam diri manusia membentuk cara 
pandang seseorang terhadap dunia, suatu wawasan dunianya.
Hal-hal yang baik adalah hal yang bernilai, yang patut untuk dipelihara. Hal 
yang jahat adalah hal yang harus dibuang. Demikianlah manusia meyakini wawasan 
dunia sebagai kebenaran, serta menghidupinya hari demi hari.

Kita pun telah menerima nilai-nilai ini dari Firman Tuhan, dari ajaran Tuhan 
yang menghendaki kita hidup menurut nilai-nilai-Nya. Dia mau kita mengasihi. 
Dia mau kita memberkati, bermurah hati, dan membagi. Dia mau kita menjaga 
kekudusan. Semua ini bernilai tinggi di hadapan Tuhan, menjadi hal-hal yang 
baik untuk kita lakukan. Tetapi apa yang terjadi
ketika semua nilai ini dianggap hanya imajinasi?

Kini banyak orang yang berseru dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada kebenaran 
yang mutlak. Segala hal di dunia ini relatif, tergantung pada situasi dan 
kondisi dan kepentingan. Nilai-nilai pun hanyalah rekaan, suatu hasil dari 
interaksi dalam kehidupan manusia. Orang dilarang mencuri, misalnya, karena ada 
orang lain yang dirugikan oleh pencurian itu. Tetapi ketika korban pencurian 
adalah seorang hartawan kikir yang tidak peduli pada sesamanya, sedang harta 
yang dicuri itu hanya sedikit saja untuk dibagikan pada orang-orang miskin, 
tindakan mencuri itu tidak lagi dianggap salah. Sebaliknya, pencuri yang "baik 
hati" ini dipuji,
diangkat tinggi-tinggi sebagai pahlawan pembela rakyat (tentu saja, namanya 
"Robin Hood"). Perintah untuk "jangan mencuri" tidak lagi dianggap sebagai 
kebenaran yang mutlak, yang selalu benar di setiap saat dan disegala keadaan. 
Tahu-tahu, kita pun terbiasa dengan mencuri berdasarkan 'alasan yang bisa 
dibenarkan' -- di mana setiap alasan merupakan hal yang amat subjektif. Tanpa 
terasa, kita kehilangan nilai-nilai. Dengan berbagai alasan, kita terbiasa 
untuk berbohong, mencuri, menjadi budak nafsu, bahkan membenci dalam hati yang 
dipenuhi rasa iri. Selalu saja ada alasan untuk itu.

Penyebabnya, jika kita renungkan pula, adalah ketidakadilan. Betapa tidak 
adilnya, ada hartawan kikir yang semakin kaya di kota, sementara ada begitu 
banyak orang miskin di desa yang tidak punya apa-apa untuk dimakan hari ini, 
sampai-sampai mereka menjual diri mereka sendiri demi sesuap nasi. Penipu 
berkeliaran bebas, sementara orang yang jujur ditolak dimana-mana. Koruptor 
terus menerus berkolusi dan memperkaya diri, sementara
rakyat ditindas oleh pajak dan harga-harga yang semakin menekan. Maka mereka 
katakan, tidak ada kebenaran yang mutlak. Tidak ada nilai yang nyata. Sesuai 
dengan teori evolusi yang dipercaya, kehidupan dilihat sebagai ajang perjuangan 
untuk bertahan hidup, di mana yang paling pandai menyesuaikan diri adalah 
penerus kehidupan. Yang tidak mau berubah, yang kaku dalam prinsip, akan 
musnah. Punah. Betulkah?

Tetapi yang sebenarnya adalah: hidup ini adil. Rasul Petrus menegaskan pada 
kita bahwa "sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah 
Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu 
dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya 
pada Injil Allah?" Penghakiman, atau judgement, atau krima (bahasa asli surat 
ini) -- adalah saat di mana yang baik dibenarkan dan yang jahat dihukum. 
Keadilan Allah dinyatakan, ditegakkan -- tak ada seorang pun yang
dapat melepaskan diri. Kapan? Sekarang, kata Petrus. Itu sudah berlangsung dua 
millenium tahun yang lalu bagi kita saat ini. Apakah hal ini benar?

Ya, penghakiman sudah dimulai dan hukuman sudah dijatuhkan. Seharusnya manusia 
yang berdosa yang menanggungnya, tetapi oleh kasih Allah, yang terhukum adalah 
Anak Allah yang tunggal, Tuhan kita Yesus Kristus. Penghakiman itu sudah 
dimulai ketika Tuhan Yesus terpancang di atas salib, menanggung segala dosa 
yang tidak pernah dilakukan-Nya. Hukuman sudah dijatuhkan, keadilan telah 
ditegakkan, dan karunia telah disediakan bagi
orang yang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Ketika kita berhadapan dengan Allah, kita tidak dapat menyembunyikan segala 
dosa dan kesalahan kita. Di hadapan Allah kita dihakimi dengan adil, dan kita 
harus siap menanggung hukuman-Nya. Tetapi Ia menimpakan kesalahan kita sekalian 
pada Kristus, di saat keadilan-Nya diteruskan oleh kasih-Nya yang amat besar. 
Kita, orang-orang percaya, dapat tetap hidup melewati saat penghakiman, 
mengenakan manusia baru yang diciptakan oleh Allah menurut kasih karunia-Nya. 
Tetapi bagaimana dengan orang yang tidak percaya?

Allah yang penuh kasih menyediakan waktu yang sangat panjang agar Injil dapat 
diberitakan ke seluruh dunia, kabar keselamatan dapat mencapai segala penjuru 
dan pelosok bumi. Sepanjang masa karunia ini, jiwa demi jiwa dihakimi dan 
diselamatkan oleh darah Anak Domba Allah, menjadi kumpulan bermilyar-milyar 
orang-orang percaya di segala abad dan tempat. Tetapi di sepanjang masa itu 
pula, ada banyak orang yang tidak percaya pada Injil Allah. Mereka hidup dan 
mereka mati, tetapi mereka belum dihakimi. Belum. Menjadi satu pertanyaan yang 
jujur, "bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil 
Allah?" -- karena memang Petrus tidak tahu. Kita tidak tahu.

Yang Petrus dan kita ketahui adalah, orang-orang benar sekalipun nyaris tidak 
diselamatkan. Bagaimana tidak; dengan segala kelemahan dan kekurangan, semua 
sikap dan karakter yang buruk dan tidak pantas ini, tak satu pun yang layak 
bagi Tuhan. Bahkan menjadi percaya pun sepertinya suatu hal yang semu, di mana 
kepercayaan itu dengan mudah lenyap tertiup
angin masalah. Ketika ada tentara, ketika ada tantangan, rasanya sukar sekali 
untuk tetap percaya. Kadang terasa bodoh sekali untuk percaya, di saat ada 
seribu satu alasan untuk tidak percaya. Saat itu mungkin iman sudah setipis 
rambut dibelah tujuh dengan membiarkan diri tetap bodoh dan percaya pada Tuhan. 
Bahkan di saat iman yang tipis itu, orang dapat
melakukan hal-hal yang menunjukkan ketidakpercayaan seperti Petrus yang tiga 
kali menyangkali Tuhan Yesus. Sungguh, hampir-hampir orang benar pun tidak 
diselamatkan. Bagaimana dengan orang fasik dan orang berdosa?

Setiap orang harus menghadapi hari penghakiman. Ini adalah hal yang nyata dan 
benar, sebuah kepastian di masa yang akan datang. Saat itu semua yang pernah 
hidup akan menghadap pengadilan Allah, di mana tidak ada yang dapat 
menutup-nutupi atau berdusta atau menyuap untuk membengkokkan keadilan. Ada 
pedoman yang kekal, prinsip-prinsip Allah yang tidak berubah dari dahulu, 
sekarang, sampai selama-lamanya. Orang tidak bisa berkilah dengan mengatakan 
bahwa prinsip-prinsip itu sudah kuno. Orang tidak bisa
menyangkal dengan menyebut kalau semua kehendak Tuhan itu sudah tidak perlu 
lagi dilakukan. Tidak bisa.

Maka pada hari penghakiman itu, yang hidup tanpa nilai akan diperhadapkan 
dengan nilai yang kekal. Mereka yang mencemooh kebenaran dan memperkosa 
keadilan akan dihakimi Allah, dan mereka harus mempertanggungjawabkan segala 
dusta yang dilontarkan, pencurian yang dilakukan, korupsi dan kolusi dan segala 
bentuk kejahatan lain yang telah menjadi kebiasaan. Segala hal jahat yang 
semula dilakukan dengan perasaan ringan tak bersalah, akan dinyatakan. Kalau 
sudah demikian, maka semua orang kurang lebih serupa di hadapan Allah: berdosa. 
Bahkan orang Kristen pun tidak bisa dikatakan lebih benar atau lebih suci 
daripada banyak orang lainnya. Perbedaannya hanyalah bahwa bagi orang Kristen, 
hukuman itu sudah ditanggung oleh Tuhan Yesus, sedangkan orang dunia harus 
menanggung sendiri hukumannya.

Kasih karunia Tuhan Yesus sungguh luar biasa, darah-Nya amat mahal, dan tak 
mungkin kita dapat bermain-main dengan karunia ini. Jangan anggap enteng 
pengorbanan-Nya, jangan anggap remeh kasih karunia-Nya. Jika kita sudah 
diselamatkan melalui penghakiman, selamat karena ditebus oleh darah Kristus, 
janganlah kembali lagi ke kehidupan lama yang penuh dosa.
Setialah kepada Tuhan, walau itu mungkin berarti penderitaan, harus mengalami 
kesusahan. Jika ini adalah kehendak Tuhan, marilah jalan terus. Iblis tak 
pernah kenal lelah dalam mencobai anak-anak Tuhan, tetapi jika kita telah 
menyerahkan jiwa kita kepada Tuhan, tak ada lagi yang perlu ditakutkan untuk 
melakukan perbuatan baik. Dia lebih besar dari segala
cobaan, lebih besar daripada segala rintangan dan masalah yang kita hadapi.

Akhirnya, kita boleh bersukacita karena keadilan-Nya. Kita bersukacita karena 
kebenaran-Nya. Tetapi  kita tidak bersukacita memandang orang-orang fasik dan 
berdosa dihukum, kita tidak senang melihat orang terus menerus hidup dalam 
kejahatan, menghidupi suatu kehidupan yang tak bernilai, kosong dan hampa.  
Sebaliknya, kita bersukacita karena Tuhan telah memberikan nilai yang penuh 
dalam hidup ini, suatu nilai yang nyata dihadapan-Nya. Biarlah kiranya hidup 
kita pun menjadi bernilai bagi-Nya.

Terpujilah TUHAN!
Ref. Mzm 73:1-19

Untuk didiskusikan:
1. Menurut Anda, apa artinya "telah tiba saatnya penghakiman dimulai"? Apa arti 
penghakiman bagi Anda?
2. Mengapa rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi? Mengapa bukan 
orang-orang fasik dan berdosa?
3. Bagaimana Anda bersikap untuk menanggapi adanya penghakiman ini, bila orang 
benar hampir-hampir tidak diselamatkan?
4. Apa yang Anda lakukan, ketika pilihan untuk benar di hadapan Allah ternyata 
menimbulkan penderitaan, ketika perbuatan baik Anda justru berbalik merugikan 
diri Anda sendiri?
===========================================
From: damarina 

Dalam keheningan malam yom Kippur itu 

Derek berkata "Tahukah, bahwa sebenarnya aku belum bebas sama sekali untuk 
melamar kamu saat ini juga?"
Aku mengangguk. Aku tahu mengenai hubungannya yg khusus dengan para pengajar 
Firman Tuhan yg lainnya itu.
"Kami MEMPUNYAI kesepakatan pribadi YG PENTING tanpa BERKONSULTASI 
satu sama lain." demikian di katakannya.

"Aku memang tidak dapat mengatakan apa apa kepada mereka sebelum aku mengetahui 
bagaimana reaksimu.Sekarang aku harus berkonsultasi dulu dengan mereka. Aku 
akan bertemu dengan mereka pada akhir bulan Oktober nanti."
Sekarang adalah bulan September.
Berarti masih sebulan lagi! "Aku akan berdoa," jawabku.

Maka kamipun berdiri dan berjalan kembali menuju ke penginapanku. Derek 
memandang kepadaku dengan lembut sekali. "Aku percaya semuanya akan beres," 
katanya
"Jangan takut. Aku percaya Tuhan sudah menunjukkan dengan jelas sekali 
kehendakNYA kepada kita berdua. Marilah kita MENERIMANYA DENGAN IMAN.
Aku tidak dapat mengajak engkau untuk makan padi besok, tetapi aku mengundang 
kamu untuk bertemu lagi jam sembilan pagi, lalu kita akan bersama sama 
sepanjang hari. Esok harinya lagi aku harus berangkat pagi pagi sekali."

Demikianlah permulaan dari hubungan kami:
Sehari DALAM DOA DAN PUASA yg khidmat. Pada akhir hari itu kami MENYERAHKAN 
satu sama lain dan masa depan kami KEPADA TUHAN kemudian berpisah.

Aku mempunyai banyak kawan di Yerusalem, tetapi tak ada seorangpun yg dapat 
kuajak berbagi cerita tentang pengalamnku pada hari raya Yom Kippur itu. Sama 
seperti selama tujuh tahun terakhir ini, hanya Yesuslah yg dapat mendengarkan 
seluruh curahan isi hatiku.
Maka aku MENCURAHKAN ISI hatiku kepadaNYA dan menunggu DIA MEMBERI 
NASIHAT kepadaku.

Hubungan dengan Yesus bukan sesuatu yg besifat mistik.
Percakapanku dengan Dia seperti obrolan yg hangat dengan seorang sahabat karib.
Selama tahun tahun yg silam aku belajar untuk menunggu petunjukNYA dalam 
kehidupan sehari hari;
Kapan dan dimana aku harus pergi berbelanja
kapan aku harus menelpon seseorang
kapan aku harus melakukan tugas tertentu
KETAATAN dalam PERKARA PERKARA yg bersifat sehari hari ini pada akhirnya 
memberikan kepadaku kupercayai diri dalam mengambil keputusan keputusan yg 
lebih besar.

Setelah sekian bulan lamanya menjadi orang yg setengah invalid, kini aku 
semakin bergantung kepadaNYA
Aku selalu MEMINTA NASIHATNYA dalam segala perkara.

oleh:Derek Price
GBU

[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke