From: Mundhi Sabda Lesminingtyas 

Stop Iri Hati
(Oleh Lesminingtyas)

Sejak memutuskan untuk pindah rumah ke Bogor, saya sudah memperhitungkan resiko 
untuk bangun lebih awal supaya tidak terlambat sampai di kantor.
Perjalanan kurang lebih 60 km menuju kantor di Jakarta, menuntut saya harus 
meninggalkan rumah pada di saat orang lain masih tidur. Saya tidak mau 
terlambat dengan alasan jauhnya perjalanan, karena menurut saya hal tersebut 
sudah seharusnya diperhitungkan sebelum memutuskan tempat tinggal. Walaupun 
setiap pagi saya berangkat ketika teman-teman kantor masih tertidur lelap, saya 
tidak pernah mempertanyakan tindakan teman-teman yang tinggal hanya beberapa 
kilo dari kantor tetapi hampir tiap hari terlambat masuk kantor.

Walaupun orang lain sering menggunakan anaknya yang masih balita (bawah lima 
tahun) sebagai excuse untuk terlambat masuk kantor, saya tetap berusaha 
meninggalkan anak saya yang masih batita (bawah tiga tahun) tepat jam 05.15.
Walaupun orang lain sering menggunakan alasan anak sakit untuk datang siang 
atau ijin tidak masuk kantor, tetapi saya membiasakan diri untuk membawa anak 
sakit ke klinik 24 jam sebelum jam 03.30, supaya saya bisa bekerja seperti 
biasa dan tidak merugikan lembaga. Kalaupun dokter mengatakan anak saya 
membutuhkan perawatan atau perhatian khusus, saya lebih baik meminta ijin tidak 
masuk kantor dengan resiko hak cuti tahunan saya dipotong.

Walaupun orang lain sering menggunakan alasan keterlambatan karena anak rewel 
dan tidak mau ditinggal ke kantor, saya selalu membiasakan anak-anak sejak umur 
3 bulan untuk menerima perpisahan sementara dengan ibunya. Saya juga tidak 
pernah berusaha membohongi mereka atau mencuri-curi kesempatan untuk 
meninggalkan anak-anak saat mereka lengah. Saya lebih suka untuk berterus 
terang dan mengajak anak untuk menerima kenyataan bahwa ibunya harus bekerja di 
luar rumah. Walaupun pada awalnya anak menangis dan merengek tidak mau 
ditinggal, tetapi saya berusaha mencari cara untuk
meninggalkan mereka dalam keadaan suka cita. Mau tidak mau, saya harus 
membangunkan anak-anak sebelum jam 05.00 supaya bisa menjalani "prosesi" 
berpamitan yang anak kehendaki, seperti misalnya cium tangan, pipi dan kening 
sebelum pergi, menggendong anak sampai mulut gang dan sebagainya.

Sebagai karyawan, saya berusaha untuk tidak mencampuradukkan masalah pribadi 
atau keluarga dengan masalah kantor. Saya selalu berusaha memberi pengertian 
kepada anak-anak bahwa jam 05.15 sampai sepulang kantor kira-kira jam 18.00 
adalah waktu saya untuk kantor. Anak-anak berhak menuntut kebersamaan dengan 
saya mulai jam 18.00 sampai esok paginya sebelum jam 05.15.

Walaupun orang lain bisa menikmati "kebebasan" untuk datang siang dengan 
berbagai alasan, saya tidak merasa iri karena saya selalu ingat Amsal 14 : 30 
yang mengatakan "Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati 
membusukkan tulang". Iri terhadap sikap atau tindakan orang lain memang tidak 
perlu. Biarlah setiap orang mempertanggungjawabkan sikap dan tindakannya 
masing-masing kepada atasan dan Tuhannya.
Karena saya tidak pernah mempermasalahkan sikap dan tindakan orang lain yang 
tidak ada kaitannya dengan saya, tidak berlebihan jika saya pun memiliki 
harapan yang sama terhadap orang lain. Namun ternyata tidak semua yang kita 
harapankan itu menjadi kenyataan.

Menjelang Natal 2004 manajemen tempat saya bekerja memutuskan untuk mengadakan 
retret staf selama 3 hari 2 malam. Kegiatan tersebut diadakan disebuah out bond 
training center di lereng Gunung Pangrango, kurang lebih 25 km dari rumah saya. 
 Sayang sekali jadwal tersebut betepatan dengan jadwal test akhir smester untuk 
anak SD. Saya bingung sekali dengan keputusan manajemen tersebut. Anak-anak 
memang sudah terbiasa dan tidak menuntut kehadiran saya pada siang hari, namun 
untuk malam hari adalah hak mereka
untuk bersama ibunya.

Kalau saya tidak mengikuti retret dengan alasan anak sedang menghadapi test, 
berarti saya tidak professional. Namun kalau saya meninggalkan anak-anak pada 
malam hari, berarti saya bukanlah ibu nyang baik karena menelantarkan mereka. 
Terlebih lagi selain anak sulung sedang membutuhkan dukungan untuk menghadapi 
test akhir semester, di malam hari anak bungsu yang belum genap 3 tahun masih 
sangat bergantung pada saya sebagai ibunya.

Semula saya mencoba meminta bantuan kedua orang tua saya untuk menjaga 
anak-anak selama saya retret. Namun karena kedua orang tua saya sibuk dengan 
pelayanan gereja menyambut Natal, saya tidak mungkin memaksa mereka untuk 
membatalkan rencana pelayanan hanya untuk urusan pribadi saya.

Setelah saya bergumul cukup lama, saya pun memberanikan diri untuk memohon
kebijaksanaan secara tertulis kepada atasan dan panitia retret. Dalam surat 
tersebut, saya mengajukan beberapa alasan yang meyakinkan bahwa sangatlah tidak 
bijaksana kalau saya meninggalkan anak-anak pada malam hari. Tidak cukup hanya 
dengan surat, dalam pertemuan dengan semua staf, saya mengemukakan permasalahan 
yang saya hadapi. Dengan berat hati, saya mengatakan bahwa selama ini saya 
sudah berusaha untuk professional. Sesulit apapun saya selalu berusaha untuk 
tidak mengambil waktu kantor untuk urusan pribadi dan keluarga. Namun sebagai 
ibu dari 3 anak yang masih kecil-kecil, rasanya tidak bijaksana kalau saya 
harus meninggalkan mereka selama 3 hari 2 malam.

Kepada forum saya lemparkan pergumulan saya. Kalau saya mengikuti retret selama 
3 hari 2 malam, berarti saya menelantarkan anak-anak. Hal tersebut tentunya 
bertentangan dengan visi dan misi lembaga yang memiliki core business untuk 
memperjuangkan kesejahteraan anak. Dalam forum tersebut, semua orang bersikap 
manis dan tak satupun memprotes ketika saya meminta kebijaksanaan untuk 
mengikuti retret pada siang hari dan pada malam harinya
tetap pulang ke rumah.

Beberapa saat kemudian saya mendapat balasan surat dari atasan yang mengatakan 
sebagai berikut : "Karena tempat retret masih berada di wilayah Bogor, saya 
mengijinkan Anda untuk pulang ke rumah pada malam hari, dengan catatan Anda 
tetap mengikuti kegiatan pagi tepat waktu. Urusan transport menjadi tanggung 
jawab Anda sendiri" Kebijaksanaan tersebut rasanya tidak berlebihan, karena 
selain ada kelonggaran, namun tetap menuntut tanggung jawab untuk datang tepat 
waktu. Hal tersebut juga sejalan dengan pemikiran panitia yang memandang bahwa 
retret adalah kegiatan diselenggarakan yang
lembaga untuk memenuhi hak staf dalam pengembangan diri. Setiap staf bisa 
memutuskan untuk mengambil haknya atau tidak. Menurut panitia, staf yang tidak 
mengikuti kegiatan akan mengalami kerugian sendiri, tetapi tidak merugikan 
orang lain atau pun panitia.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban saya terhadap atasan dan Tuhan, saya pun 
berusaha berangkat dari rumah ke tempat retret tepat jam 05.15, seperti biasa 
kalau berangkat ke Jakarta. Menjelang malam, saya harus menuruni lereng Gungung 
Pangrango yang berkabut hanya dengan ojek. Saya pun rela basah kuyup terguyur 
air hujan ketika teman-teman yang lain menikmati hidangan malam dan merasakan 
hangatnya selimut tebal di villa.  Esok paginya saya harus kembali naik ojek 
menaiki lereng gunung yang masih berkabut dan diselimuti udara yang amat dingin 
itu. Saya bukan hanya datang pada saat kegiatan pagi dimulai, tetapi saya telah 
berada di villa ketika banyak teman masih tertidur pulas. Walaupun keadaan kami 
berbeda, saya tidak pernah mempermasalahkannya baik kepada Tuhan maupun kepada 
sesama. Saya pikir itulah resiko dari keputusan yang saya pilih.

Walaupun saya sudah berusaha mempertanggungjawabkan apa yang saya dapatkan,
kepada atasan dan Tuhan, namun sebagian orang menjadi gerah karena perbedaan 
tersebut. Beberapa teman menuding saya memanfaatkan kedekatan saya dengan 
atasan. Beberapa teman yang lain mempertanyakan kebijakan atasan yang mereka 
nilai tidak bijaksana dan pilih kasih. Jadilah mereka menggunjingkan kebijakan 
atasan yang mereka anggap menganakemaskan saya.

Saya tidak habis pikir dengan teman-teman yang "usil" menggunjingkan sikap saya 
yang meminta kebijaksanaan. Saya tidak mengerti mengapa mereka yang biasa 
datang terlambat ke kantor, mempermasalahkan saya yang meninggalkan tempat 
retret yang jelas-jelas sudah di luar jam kantor. Mengapa ketika saya mengalami 
kesusahan, mereka tidak iri dan meminta kepada Tuhan untuk merasakan hal yang 
sama? Mengapa ketika saya mendapatkan berkat atau sesuatu yang dirasa enak, 
mereka menuntut yang sama? Mengapa mereka tidak
menghentikan pikiran siriknya supaya bisa mencurahkan perhatian dan tenaga 
untuk memperbaiki diri dan mencari berkat?

Seorang teman panitia sependapat dengan saya yang melihat bahwa atasan kami 
tidak pilih kasih atau memperlakukan saya secara istimewa. Bahkan ketika 
beberapa teman menggunjingkan keputusan atasan kami, panitia kembali bertanya 
kepada mereka "Apa yang dimaksud dengan keistimewaan? Kalau ada sepuluh orang 
yang meminta kebijaksanaan, kemudian hanya satu orang yang dikabulkan, itu baru 
namanya pilih kasih. Kalau memang kalian ingin mendapat perlakukan yang serupa, 
kenapa kalian hanya buang-buang waktu untuk mempermasalahkan usaha orang lain? 
Kenapa kalian tidak berusaha mengajukan
ijin yang sama, supaya diperlakukan yang sama pula?"

Saya terus bertanya:
Mengapa banyak orang sering menuntut orang lain mengerti keadaan mereka, 
sedangkan mereka tidak mau mengerti keadaan orang lain?

Mengapa orang siap menerima suka cita, tetapi bersungut-sungut ketika 
menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan? Mengapa  orang tidak mau mensyukuri 
setiap keadaan, baik suka maupun duka?

Mengapa orang sering iri melihat orang lain yang bersuka cita, sedangkan suka 
cita yang dirasakan orang lain tidak merugikan mereka? Keuntungan apa yang bisa 
diperoleh dari iri hati?

Mengapa orang sibuk mempermasalahkan keberhasilan orang lain, tetapi lupa untuk 
memperbaiki diri dan belajar dari keberhasilan orang lain?

Mengapa orang lebih mudah melihat kuman di seberang lautan, sedangkan selumbar 
di mata sendiri tak tampak? Tidakkah lebih baik kita memperbaiki sikap dan 
tindakan diri sendiri supaya layak dipertanggungjawabkan kepada atasan dan 
Tuhan, dari pada sibuk menggunjing atau mempermasalahkan sikap dan tindakan 
orang lain?

Kalau iri hati tidak memberikan keuntungan sedikitpun, tetapi justru membuat 
kita tidak berdamai dengan Tuhan, dengan diri sendiri dan dengan orang lain, 
untuk apa kita lakukan? Sebagai anak-anak Tuhan, kita harus berani mengatakan  
"Stop Iri Hati!" 
===========================================
From: [EMAIL PROTECTED] 

Puasa

Keseimbangan Jasmani dan Rohani
------------------------------------------------------

Didunia ini yang berhasil melaksanakan puasa 40 hari 40 malam hanya Musa dan 
Yesus.Ini menurut catatan Alkitab. Orang berpuasa selama itu tentu akan lapar 
dan haus.
Pada kondisi demikianlah Iblis mencobai Tuhan sampai 3x dengan menggunakan 
ayat2 Alkitab seperti tertulis dalam Lukas 4:3-12:"Bila Engkau anak Allah 
suruhlah batu itu menjadi roti dst....
Yesus juga tdk terpengaruh dgn bujukan Iblis dan menjawab juga dengan Ayat2 
Alkitab. Ada tertulis dst....
Yang ingin saya kemukakan disini adalah bahwa Iblis banyak mengetahui tentang 
Firman Tuhan. Dia mengemas Firman Tuhan sedemikian rupa untuk menipu manusia.
Kita ingat betul bagaimana dia memperdaya Adam/ Hawa untuk melanggar perintah 
Tuhan akhirnya mereka jatuh dalam dosa. Saat ini banyak ahli yang mengetahui 
ayat 2 Alkitab, pengetahuannya mengenai Firman Tuhan diacungin jempol, tetapi 
tdk melakukannya
dalam kehidupan sehari-hari. Itu sama dengan bangkai hidup tetapi mati rohani.
Ada orang hanya memberikan makanan rohani, tanpa memperhatikan kebutuhan 
jasmani. Setiap hari berdoa, tetapi malas bekerja.
Dia berpuasa terus tanpa mengindahkan kesehatan fisiknya, akhirnya jatuh sakit. 
Tubuh yg diberikan Tuhan seharusnya kita rawat.
Ada juga orang yang hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan jasmani tanpa pernah 
memberi makan rohaninya.
Dia hanya kegereja sekali dalam satu tahun untuk santapan rohani. Bayangkan 
bila saudara tidak makan selama satu tahun..mungkin sudah koit.
Tetapi Iblis mengatakan: "Nikmatilah apa yang kamu kehendaki, karena hidup cuma 
satu kali".
Secara tidak sadar banyak manusia digiring kepada kehancurannya oleh ajaran2  
sesat seperti diatas.
Saat ini banyak orang aktif dalam kegiatan gereja,tanpa sadar waktunya tersita  
dan tidak ada lagi saat2 bersama keluarga. Dengan halus Iblis berbisik, 
pergilah, tinggalkan keluargamu.. kamu kan aktifis gereja?
Keseimbangan perlu kita waspadai..agar kita tidak diperalat Iblis.

Walsinur Silalahi

[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke