From: Donny Adi Wiguna 

Surat Petrus 

API UJIAN

1 Pet 4:12-16  Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala 
api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang 
luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian 
yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira 
dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. Berbahagialah kamu, 
jika kamu dinista karena nama Kristus,
sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. Janganlah ada di antara kamu 
yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau 
pengacau. Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia 
malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.

"Ya TUHAN! Apa salahnya hamba?"
Karena rumah kami baru saja dibakar orang.
Karena keluarga kami baru saja dirampok massa.
Karena teman kami baru saja diperkosa.
Karena hari-hari kami diisi oleh kemalangan.
Semua itu, karena kami Kristen.

Sepertinya, janji TUHAN tentang pemulihan sama sekali tidak kelihatan. Tak ada 
wujudnya. Tak ada realisasinya. Padahal kehidupan semakin memburuk, semakin 
suram. Sudah kehilangan pekerjaan, kini modal yang ada untuk berusaha habis 
pula ditipu orang. Sudah tidak punya apa-apa, sekarang rumah pun mau digusur 
demi pembangunan. Entah apa yang dibangun itu, jika meminta korban 
kehidupan-kehidupan dirusakkan. Inilah hidup, inilah
kesusahan. Sebagian sudah mengalaminya. Sebagian sedang mengalaminya.
Sebagian lain, belum mengalaminya.

Orang Kristen mula-mula tak lepas dari kesusahan dan penderitaan yang hebat. 
Mereka harus menghadapi pemerintahan yang kejam. Mereka harus menghadapi 
penyesat-penyesat, pemfitnah, dan pergolakan yang muncul dari dalam. Dan tak 
jarang, mereka harus mengalami siksaan yang luar biasa kejinya, dijadikan 
santapan binatang buas sambil disaksikan ratusan -- bahkan ribuan -- orang yang 
bersorak-sorak setiap kali cakar yang besar mencabik tubuh yang tidak berdaya. 
Selama abad-abad pertama, orang Kristen harus lari bersembunyi demi 
menyelamatkan diri mereka. Suatu nyala api siksaan yang hebat, seolah-olah ada 
sesuatu yang luar biasa telah terjadi.

"Ah, itu kan jaman dulu!"

Saat ini memang tidak ada lagi manusia yang diumpankan ke binatang buas, dengan 
iringan sorak sorai ketika darah segar tersembur keluar. Tidak lagi seperti 
itu. Yang ada adalah sorak sorai ketika kehidupan manusia dicabik-cabik oleh 
sifat kebinatangan, kebuasan dari sesamanya. Lihatlah bagaimana orang suka 
mendengar dan menyaksikan tragedi. Di televisi,
tayangan kriminal dan kekerasan selalu hadir setiap hari oleh hampir semua 
saluran TV.  Lihat juga dalam dunia usaha, perilaku saling memakan dan saling 
mematikan sudah biasa. Tak jarang pengusaha besar menjadi binatang buas yang 
mencabik-cabik kehidupan pengusaha kecil, merebut setiap kesempatan dan lahan 
bisnis yang ada untuk memperkaya dirinya. Dan dalam dunia birokrasi, perilaku 
saling sikut, gosip (baca: fitnah), dan perebutan jabatan -- apalagi 
posisi-posisi yang basah -- merupakan hal yang lazim. Orang yang hendak naik 
pangkat dan kedudukan harus tahu bagaimana menempatkan diri dalam menyerang dan 
bertahan, mengatur strategi yang tepat. Perilaku-perilaku serupa ini bisa 
ditambahkan, menjadi daftar panjang perjuangan hidup manusia. Suatu peperangan 
terselubung telah terjadi, yang meminta korban tidak sedikit.

Pada saat kemalangan itu terjadi, korbannya tak bisa lepas dari rasa susah yang 
menekan, yang terasa luar biasa. Rasanya dunia runtuh dan orang yang paling 
malang di dunia adalah dirinya sendiri saja. Tak ada yang susah sesusah ini, 
malang semalang ini. Tak ada yang tahu. Tak ada yang bisa memahami. Dunia 
terasa kosong dan sepi, tiada kawan sepenanggungan, sunyi sendiri menanggung 
kesusahan. Jika batin tidak cukup kuat, trauma yang ditimbulkan bisa menetap di 
sepanjang sisa hidupnya. Tak jarang, korban-korban musibah mengalami perubahan 
besar dalam cara berpikirnya, bergeser paradigmanya. Dan apa yang terjadi 
dengan iman orang Kristen? Masihkah dapat bertahan?

Dalam keadaan itu, nasehat yang disampaikan Rasul Petrus terasa mengganjal, 
"janganlah kamu heran." Secara wajar, tentu kita merasa heran bila ada 
kemalangan yang kita alami. Ketika api siksaan itu membakar sebagian kehidupan 
kita, rasanya luar biasa menyakitkan. Pikiran kita -- tanpa dapat dicegah -- 
mencari-cari penjelasan untuk memuaskan rasa heran
yang menyergap. Tiba-tiba saja bibir dipenuhi oleh pertanyaan "kenapa?" yang 
berulang-ulang dilontarkan, menuntut jawaban. Namun Firman Tuhan ini menyatakan 
untuk jangan menjadi heran. Apa artinya?

Orang tidak perlu merasa heran bilamana orang itu telah mengerti.
Pahamilah, bahwa inilah dunia. Inilah kehidupan dalam masa-masa akhir, saat 
kesudahan segala sesuatu telah dekat. Sementara kita diajarkan untuk senantiasa 
berusaha membagikan kasih karunia Allah kepada  semua sesama manusia, yang kita 
terima dari dunia adalah nyala api siksaan. Tak perlu merasa mengalami hal yang 
luar biasa, karena inilah dunia yang biasa. Ada bencana alam, ada penyakit 
berbahaya, ada kejahatan dan penderitaan yang tiada habis-habisnya. Tak perlu 
merasa heran kalau terjadi bencana di
Aceh; bukankah tsunami itu sudah dapat diperkirakan setahun sebelumnya?
Tak perlu merasa heran dengan berbagai penyakit yang mewabah; bukankah sejarah 
manusia diisi oleh berbagai kengerian kematian karena penyakit?
Tak perlu merasa heran dengan api peperangan yang berkobar; bukankah sejak 
manusia dapat menuliskan sejarahnya, sudah ada perang yang penuh darah?
Inilah dunia yang ditinggali semua orang, termasuk juga orang-orang Kristen, 
anak-anak Allah.

Jika ada satu hal yang benar-benar luar biasa dan mengherankan, hal itu adalah 
kenyataan bahwa Allah tetap mengasihi dunia yang rusak seperti ini, hingga Ia 
memberikan jalan kepada manusia untuk percaya dan menerima keselamatan. Allah 
tetap memberi matahari dan hujan untuk orang baik dan orang jahat, Allah tetap 
memelihara sehingga manusia boleh berkembang biak hingga jumlahnya sekarang 
sudah lebih dari enam milyar jiwa di atas muka
bumi yang kecil ini. Jika Allah tidak memelihara, tentu ada banyak sekali 
bencana dan kematian yang terjadi, yang mungkin sudah membuat manusia punah 
sejak berabad-abad lalu.
Lantas, bagaimana sikap kita? Bagaimana kita menyikapi nyala api siksaan yang 
mendera?

Ini adalah ujian. Pros peirasmon -- bahasa Yunani dari peirasmos yang juga 
berarti tantangan pembuktian. Di mana pun juga, yang perlu diuji dan dibuktikan 
adalah hal yang berharga. Pengujian dilakukan untuk membuktikan nilai -- suatu 
ujian tidak akan dilakukan pada hal-hal yang tidak penting atau tidak bernilai. 
Semakin hebat dan berat ujiannya, semakin tinggi pula
nilainya. Ayub, misalnya, mengalami ujian yang amat hebat karena ia amat 
bernilai di mata Allah. Allah sendiri mengakui bahwa tiada seorangpun di bumi 
seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi 
kejahatan. Iblis mendatangkan ujian yang luar biasa hebat untuk menguji Ayub, 
dan ternyata Ayub berhasil menunjukkan nilainya.

Bila kita mengalami ujian, suatu nyala api siksaan yang mendera, itu tandanya 
bahwa kita memiliki nilai. Semakin besar dan hebat ujiannya, semakin tinggi 
pula nilai yang kita miliki. Bukankah deraan yang paling hebat telah dialami 
oleh Tuhan kita Yesus Kristus? Ia memiliki kemuliaan Allah dalam diri-Nya, 
sehingga Ia mengalami ujian yang hanya bisa dilalui
oleh Allah saja. Tetapi ketika kita boleh menerima sebagian dari ujian yang 
diderita oleh Kristus, itu berarti kita pun memiliki bagian dari nilai-Nya. 
Tidakkah itu cukup untuk membuat kita bersukacita besar? Betapa hebat kemuliaan 
yang kita terima di dalam Dia! Pada waktu Kristus menyatakan kemuliaan-Nya, 
kita dapat turut dimuliakan bersama Dia di hadapan Allah. Luar biasa.

Renungkanlah, apa artinya ini bagi kita ketika berhadapan dengan Allah. Dimuka 
Dia yang mengetahui segala sesuatu, apakah yang dapat kita perlihatkan? Tetapi 
saat Roh Allah ada pada kita, yaitu Roh kemuliaan, kita dapat menghadap-Nya 
dengan penuh keberanian. Dunia mungkin telah menista kita, memberikan nyala api 
siksaan karena nama Kristus yang kita
nyatakan. Dunia memfitnah kita dalam berbagai-bagi tuduhan, menganggap orang 
Kristen sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat atau pengacau.
Tidak jarang, orang Kristen terbunuh karena tuduhan ini; sebagian orang didunia 
ini merasa baik dan benar saat mereka berhasil melenyapkan orang Kristen. 
Tetapi Tuhan tahu kebenaran yang sesungguhnya, Ia tahu Roh apa yang ada pada 
kita.

Karena itu, nyatakanlah Roh kemuliaan itu. Memang di antara orang yang mengaku 
Kristen, ada saja yang menjadi pembunuh, atau pencuri, atau penjahat, atau 
pengacau. Namun mereka tak lain dari penyesat-penyesat, orang-orang yang justru 
menyangkal Kristus dengan cara hidupnya yang buruk serta mengajarkan jalan 
mereka sendiri kepada orang lain. Di samping itu ada pula sesama orang Kristen 
yang menjadi penuduh-penuduh, yang tak segan
untuk menista saudaranya sendiri ketika mereka berani menyatakan nama Kristus 
secara terbuka. Para penyesat dan penuduh ini tidak mengerti bahwa Roh Allah 
berkuasa lebih besar daripada segala roh dunia, yang kemuliaan-Nya harus kita 
nyatakan sekarang, dan bagi semua orang akan nyata pada akhir jaman.

Tidak ada yang memalukan dalam penderitaan karena menjadi orang Kristen.
Kadang dunia membuat predikat 'orang Kristen' sebagai bahan olokan, dan 
keyakinan iman pada Kristus sebagai hal yang konyol. Di banyak negara barat 
hari ini, menjadi seorang Kristen yang lahir baru berarti harus siap untuk 
dikucilkan dari pergaulan. Di negara-negara timur, menjadi orang Kristen 
berarti siap untuk ditangkap, dimasukkan penjara tanpa pengadilan yang sah, 
bahkan tanpa sedikitpun kesempatan membela diri. Kadang
kejahatan dan ketidakadilan yang dialami orang Kristen begitu hebat, sehingga 
rasanya membuat seluruh tubuh menjadi lumpuh saat mendengarnya.
Mereka menuduh bahwa orang Kristen sama dengan orang yang sedang sakit, yang 
tidak lagi mau hidup seperti cara-cara dunia, tidak mau hidup dalam kubangan 
ketidaksenonohan yang sama. Jangan malu karena semua ketidak-adilan ini; karena 
penyakit yang sebenarnya ada pada dunia yang membenci Kristus, penyakit dosa 
yang sudah kronis. Tetapi pada waktu akhir nanti, akan nampak kebenaran yang 
sesungguhnya; saat itu kemuliaan Allah nyata bagi semua orang. Saat itu semua 
borok kehidupan akan terbuka, menampilkan dunia yang rusak sampai ke 
akar-akarnya. Tak ada yang mulia dari dunia yang rusak ini.

Dan apa nilai kita pada saat itu? Sepadankah dengan segala nyala api siksaan 
yang mendera ini? Berbahagialah mereka yang bertahan dalam hidup yang 
memuliakan Allah dalam nama Kristus. Ketika semua ujian sudah dilewati, kita 
boleh bersukacita sesuai dengan bagian yang kita dapat dalam penderitaan 
Kristus pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. Inilah
harapan kita, suatu kepastian yang menguatkan kita.
Terpujilah TUHAN!
Ref. Ayb 1:8

Untuk didiskusikan:
1. Apa yang kita pahami sebagai "nyala api siksaan yang datang sebagai ujian"? 
Bagaimana hal ini dapat terjadi dalam kehidupan kita?
2. Menurut Anda, bagaimana orang dapat bersukacita sesuai dengan bagian yang 
diperolehnya dalam penderitaan Kristus?
3. Apa artinya dinista karena nama Kristus? Apa sebabnya? Bagaimana kita dapat 
meresponinya?
4. Apa maksudnya menderita sebagai pembunuh ataupencuri atau penjahat atau 
pengacau? Bagaimana seseorang dapat bertahan agar tetap memuliakan Allah dalam 
nama Kristus? 
=============================================
From: Denmas Marto ]

Terbang Berkelompok

Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum 
Kristus. - Galatia 6:2

Begitu musim dingin berlalu, angsa liar (Olor columbianus) secara berkelompok 
bermigrasi ke daerah Kanada dan Alaska utara untuk bertelur. Satu kelompok 
migrasi bisa mencapai jumlah lima ratus ekor angsa. Penerbangan angsa ini 
didukung dua keistimewaan. Pertama, mereka dapat terbang sampai di ketinggian 
1.800 m lebih, melampaui pegunungan dan terhindar dari terpaan badai.

Kedua, mereka terbang dalam formasi V dan sanggup mencapai kecepatan hingga 160 
km/jam. Menurut perhitungan, 25 angsa yang terbang bersama-sama dalam formasi 
tersebut akan sanggup menempuh jarak 70% lebih jauh daripada bila unggas ini 
terbang sendiri.
Penambahan kecepatan yang sangat besar ini dimungkinkan karena angsa yang 
terbang memimpin akan "merintis jalan" bagi angsa-angsa lain yang mengikutinya. 
Tiap-tiap angsa yang mengikuti mendapat keuntungan dari angsa yang ada di 
depannya, yang mengalirkan tekanan udara ke atas dengan kepakannya. Cara ini 
mengurangi keseluruhan daya angkat yang diperlukan. Angsa-angsa itu bergantian 
memimpin di depan.

Kita sebagai orang Kristen juga dipanggil untuk "terbang berkelompok."
Dalam Perjanjian Baru bertebaran perintah yang bersifat timbal-balik, seperti 
"saling mengasihi," "saling melayani," "saling mengampuni," "saling 
menghormati." Kita memerlukan paling tidak satu orang lain untuk menaati 
perintah-perintah tersebut. Dan, yang lebih penting, bila kita menaatinya, tak 
ayal kehidupan kita akan lebih ringan - karena kita tidak "terbang" seorang 
diri.

(Dimuat di Renungan Malam, Februari 2005)
Catatan Denmas Marto | Puisi, Fiksi, Renungan, Film, Buku, Artikel
http://www.geocities.com/denmasmarto

[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke