From: Donny A. Wiguna 

GEMBALA TELADAN

1 Pet 5:3-4  Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka 
yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan 
domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota 
kemuliaan yang tidak dapat layu. 

Gembala adalah pemberi teladan. Coba pikirkan itu. Pikirkan juga, bahwa tugas 
seorang gembala adalah menjaga kawanan dombanya; ia harus mengarahkan, 
membimbing, menghardik (baca: menegur), dan membawa domba-domba yang seringkali 
keras kepala itu ke rumput yang hijau dan air yang tenang. Ini bukan pekerjaan 
yang mudah atau menyenangkan; sebaliknya amat melelahkan -- suatu pekerjaan 
yang tidak disukai orang.
Demikianlah gembala-gembala di Israel dahulu menempati urutan terbawah dari 
segala macam pekerjaan, suatu tugas yang tidak disukai orang.
Tetapi malah sekarang tuntutannya lebih besar daripada menggembalakan domba; 
kini yang harus digembalakan adalah manusia dengan segala macam karakter dan 
kepribadian.

Dan caranya dengan memberi teladan. Astaga.

Rasul Petrus membandingkan antara dua macam cara menggembalakan. Yang satu 
adalah memerintah. Yang lain adalah memberi teladan. Secara mudah dan masuk 
akal, untuk menggembalakan tentu harus dengan cara memerintah. Dengan membuat 
peraturan: jangan begini. Harus begitu. Kalau mau menikah, harus ini, ini, ini, 
dan itu, itu, itu. Kalau mau dibaptis, harus melakukan a, b, c, d, e..., sampai 
z. Ada berbagai aturan untuk berbagai kesempatan, dan jemaat diperintahkan 
untuk taat, taat, taat.

Apakah taat itu salah? Tentu tidak! Sudah seharusnya dan sepantasnya orang 
Kristen taat pada kehendak Tuhan, taat pada Firman Tuhan, termasuk taat pada 
peraturan Gereja. Tetapi ketaatan orang Kristen bukanlah jalan untuk 
menggembalakan. Ketaatan adalah perilaku, nampak di luar, tetapi belum tentu 
menggambarkan yang di dalam. Orang bisa diperintah untuk begini dan begitu, 
mengikuti berbagai-bagai macam pelatihan dan seminar dan pembinaan, tetapi 
semuanya bisa jadi hanya menyentuh permukaan saja.
Tidak ada sentuhan ke bagian yang paling dalam.

Maka ketika jemaat digembalakan dengan dasar perintah dan ketaatan, yang 
terjadi adalah ketegangan. Di pihak penatua, ada ketegangan karena harus terus 
menerus memonitor dan meluruskan penyimpangan yang mungkin dilakukan jemaat. Di 
pihak jemaat, ada ketegangan karena harus terus menerus mengikuti perintah, 
sementara mulai merasa bahwa dirinya sendiri kurang diperhatikan, kebutuhannya 
tidak terpenuhi. Kesadarannya adalah harus taat, tetapi tidak bisa mengerti 
atau menikmati perintah itu.
Gereja menjadi sumber otoritas yang otoriter, yang memakai senjata ancaman dosa 
bila ada jemaat yang mau jalan sendiri, berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri.

Perintah dan ketaatan seharusnya berakar pada pemahaman yang semakin hari 
semakin mendalam. Memang benar, pada awalnya seringkali dibutuhkan ketaatan 
terlebih dahulu. Kalau baru mulai, pokoknya jemaat harus taat dan percaya, 
untuk melakukan segala sesuatu yang diperintahkan padanya. Harus taat untuk 
meninggalkan kebiasaan buruknya. Harus taat untuk membuang semua jimat-jimat 
dan jampi-jampi dari dukunnya. Harus taat untuk membaca dan merenungkan Kitab 
Suci, taat untuk berdoa dengan teratur.

Tetapi itu semua adalah tahap-tahap permulaan, masa-masa penyemaian.
Selanjutnya jemaat harus bertumbuh, di mana ketaatan dan percayanya menjadi 
semakin dalam berakar untuk menyerap kebenaran. Orang taat bukan lagi karena 
diperintah, bukan lagi karena disuruh, melainkan karena menginginkannya. Ada 
dorongan, ingin untuk melakukan ketaatan itu. Ada sukacita, ada kegairahan 
untuk mengikuti jalan dan perintah Tuhan. Untuk satu masa awal yang singkat, 
perintah itu perlu, namun selebihnya adalah
ketaatan karena mengerti seperti apa kehendak Tuhan, mengerti seperti apa 
janji-janji Tuhan.

Untuk itu dibutuhkan keteladanan. Inilah penggembalaan yang sesungguhnya, yang 
bukan ajang main perintah, melainkan pertunjukkan kedewasaan iman yang 
membangun setiap orang yang menyaksikannya. Tetapi inilah yang susah, menjadi 
teladan.

Dalam bahasa aslinya, teladan dituliskan 'tupos' -- dalam ayat ini tertulis 
'tupoi'. Artinya menjadi model, contoh, seperti sebuah patung kecil yang 
menjadi contoh untuk membuat patung besar. Orang yang menjadi contoh harus siap 
dibentuk terlebih dahulu, menjadi 'kelinci percobaan' yang tampil di muka agar 
bisa dilihat semua orang. Jika ini sudah maju,
yang lain akan mengamat-amati: bagaimana ya, menjadi orang Kristen?
Apakah menyenangkan? Apakah baik? Apakah karakter dan kepribadiannya 
mengagumkan?

Susah benar. Jadi penatua sepertinya tidak boleh keliru. Salah sedikit, semua 
orang melihat dan menggerutu. Mari kita lihat tantangannya.

Yang pertama, menjadi teladan berarti siap untuk lebih dahulu dibentuk.
Tuhan mungkin akan mempersiapkan berbagai badai kehidupan mengikis kehidupan 
seorang penatua atau hamba Tuhan, agar orang lain bisa melihat seperti apa 
bentuknya seorang Kristen yang mengalami badai hidup yang hebat. Jemaat 
memerlukan hal ini, karena setelah itu Tuhan membiarkan iblis bekerja dengan 
kejam dan tak kenal ampun di atas dunia. Di saat
jemaat telah memandang teladan yang bertahan dalam kesaksian yang baik, mereka 
pun menjadi lebih siap untuk menghadapi badai yang sama.

Tetapi bagaimana pun juga, menjadi yang dibentuk pertama kali itu tidak enak. 
Rasanya sendiri, kesepian. Tak ada orang lain yang mengerti, tidak ada teman 
yang bisa diajak bicara. Satu-satunya harapan adalah Tuhan yang memahami, 
tempat di mana segala curahan hati bisa disampaikan dengan bebas. Tuhan tidak 
saja membentuk, tetapi Ia juga memberi
kekuatan dan hikmat untuk melaluinya.

Yang kedua, menjadi teladan berarti siap untuk menjadi standar kebaikan.
Dengan menjadi standar, seseorang sepertinya kehilangan 'hak' untuk bersikap 
sedikit kurang. Ia tidak lagi bisa bersenang-senang dan menjadi sedikit kacau 
seperti banyak orang lainnya. Ia tidak lagi bisa sedikit nakal dan tidak 
mengikuti aturan. Seorang teladan harus senantiasa terlihat baik, selalu 
memberi dorongan yang positif terhadap semua orang yang mengelilinginya.

Karena tuntutan itu, kadang-kadang hal-hal menjadi tidak adil bagi sang 
teladan. Ia dimarahi lebih hebat daripada orang lain, padahal kesalahan yang 
dilakukan sama atau lebih kecil. Ia dituntut untuk kerja lebih keras, lebih 
lama, lebih cerdas. Ia lebih terikat dan tidak bebas dalam segala tindak 
tanduknya, karena setiap langkahnya adalah standar bagi orang lain. Indahnya, 
di saat yang sama Tuhan memberi kebebasan yang lebih besar untuk menyatakan 
kebenaran. Ada karunia ketika seseorang dipakai oleh Tuhan secara istimewa, 
seperti sebuah bejana tanah diisi emas berlian yang amat tinggi nilainya. 
Ketidak-adilan perlakuan itu
dibayar lunas oleh anugerah besar bisa turut melakukan pekerjaan Tuhan di dunia.

Yang ketiga, menjadi teladan berarti siap untuk dilihat semua orang lain, 
diamati banyak orang. Dengan menjadi standar, nampaknya seseorang kehilangan 
privasinya. Ia tidak bisa melakukan sesuatu hanya bagi dirinya sendiri; semua 
tingkah lakunya terbuka bagi publik. Dan bukan itu saja, seorang teladan 
seringkali harus siap untuk diganggu setiap saat, bahkan di tengah pagi buta, 
ketika rumahnya digedor orang yang meminta pertolongan.

Dengan semua mata ini, mungkin sang teladan merasa bahwa hidupnya bukan 
sepenuhnya miliknya sendiri lagi. Ia kini hidup bagi banyak orang, diantara 
banyak orang. Seorang teladan memiliki makna diri di antara berbagai orang yang 
menaruh hidup meneladaninya; jika ia berhasil dan benar, ia akan membangun 
banyak orang. Jika ia gagal, ia akan meruntuhkan banyak orang. Dan ia tidak 
boleh gagal; ia harus selalu berhasil dalam setiap langkahnya. Puji Tuhan, 
kembali Allah memampukan diri orang-orang pilihan-Nya. Kekuatan untuk menjadi 
tokoh di muka berasal dari Tuhan. Semakin seseorang bergantung dan berlindung 
kepada
Tuhan, semakin kuat pula ia menampilkan dirinya.

Yang keempat, menjadi teladan juga berarti siap untuk berperang melawan iblis 
yang berusaha merusak. Iblis tidak suka melihat ada teladan, ia mau merusakkan 
orang-orang pilihan Allah. Menjadi teladan berarti harus berperang melawan 
iblis, dalam peperangan yang panjang dan tidak ada habis-habisnya. Serangan 
bisa datang dalam bentuk fitnah, cemoohan,
penyesatan, atau dalam berbagai bencana yang sama sekali tidak terduga.
Iblis berusaha mendiskreditkan semua usaha dan kesaksian yang ditunjukkan, 
berusaha agar sebanyak mungkin orang tidak melihat keteladanan yang 
disampaikan. Untuk itu iblis mempunyai banyak cara, misalnya dengan menggunakan 
tipu muslihat, atau memakai ego manusia yang sombong dengan rasionya.

Peperangan membutuhkan kesiapan, di mana seorang teladan harus mengenakan 
segala perlengkapan senjata Allah. Ketopong keselamatan. Sabuk kebenaran. Zirah 
keadilan. Kasut penginjilan. Tameng iman. Pedang Firman. Dan karena 
peperangannya terus menerus, maka sedetikpun juga perlengkapan senjata Allah 
ini tidak boleh ditanggalkan. Sudah begitu,
tidak cukup orang bisa menang perang hanya dengan mengenakan perlengkapan; ia 
juga harus belajar memakai semua perlengkapan itu. Gembala yang menjadi teladan 
harus belajar untuk membela diri, juga belajar untuk menyerang dan meruntuhkan 
kubu-kubu iblis.

Sama seperti kata Paulus, "Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan 
setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan 
akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus," 
demikian pula seorang teladan maju untuk memenangkan perang bagi Tuhan dan 
merebut jiwa-jiwa dari cengkraman
iblis. Tetapi perang manapun melelahkan, termasuk perang melawan penguasa di 
udara. Kadang ada luka-luka jiwa, bahkan nyata dalam bentuk fisik, ketika iblis 
menggerakkan orang-orang untuk menganiaya orang Kristen.

Ketika seorang penatua atau hamba Tuhan menjadi gembala dan melalui semua 
tantangan ini, ia menjadi teladan yang menghidupkan. Jemaat tergerak dari dalam 
untuk mengikuti keteladanan, tidak perlu diperintah untuk berjalan dengan taat 
di jalan yang harus dilalui sampai ke tujuan akhir, yaitu mahkota kemenangan 
dalam Kristus. Jemaat dengan sukacita
menerima segala bimbingan dan arahan; dan hardikan yang paling keras adalah 
saat di mana Sang Gembala mengambil alih konsekuensi kesalahan yang seharusnya 
ditanggung oleh domba-dombanya.

Ketika perjalanan panjang ini tiba pada akhirnya, kita semua bertemu dengan 
Gembala Agung yang sudah lebih dahulu memberikan diri-Nya untuk kita. Saat itu, 
dengan penuh keyakinan kita dapat menghadap Dia untuk menerima mahkota 
kemuliaan yang tidak dapat layu. Tidak seperti rangkaian daun yang dipakai oleh 
kaisar Romawi.

Ajaibnya, saat itu mungkin yang paling penting bagi kita bukan mahkotanya. Saat 
itu yang paling penting adalah penerimaan Allah, saat di mana kita bisa 
menikmati pengakuan yang diberikan oleh Tuhan. Tidak ada yang lebih mulia 
daripada TUHAN, di mana kemuliaan kita adalah bila kita dapat mengambil bagian 
untuk memuliakan-Nya. Itulah sukacita kita,
kemuliaan kita: menjadi hamba TUHAN yang berkenan bagi-Nya.

Terpujilah TUHAN!

Ref. 2 Kor 10:5

Untuk didiskusikan:
1. Menurut Anda, apa maksudnya berbuat seolah-olah mau memerintah?
Seperti apa tindakan itu?
2. Bagaimana seorang gembala dapat menjadi teladan bagi kawanan domba?
Dapatkah manusia menjadi teladan bagi hewan? Dapatkah seorang penatua menjadi 
teladan bagi orang yang awam?
3. Apa keyakinan kita bila telah berhasil menggembalakan jemaat? Apa yang kita 
pasti terima?
4. Apa hal-hal yang menghalangi kita untuk menjalani kehidupan yang menjadi 
teladan untuk menggembalakan orang? 

[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke