From: Donny Adi Wiguna
NASIHAT GEMBALA
1 Pet 5:1-2 Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman
penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam
kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Gembalakanlah kawanan domba Allah yang
ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak
Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.
Siapa Petrus? Mari kita lihat. Basilika St. Petrus (St. Peter) di Vatikan
adalah penghormatan yang didirikan oleh Kaisar Konstantin Agung di abad ke
empat (circa 337 M) dan menjadi pusat Katolik Roma hingga hari ini, tempat
resmi Sri Paus. Secara tradisional, orang Katolik lima kali mengadakan perayaan
untuk Petrus dan Paulus, dimulai pada hari "Cathedra Petri" di Roma pada
tanggal 18 Januari, lalu di Antiokhia pada tanggal 22 Januari.
Setelah itu ada festival Petrus dan Paulus pada tanggal 29 Juni, diikuti
perayaan lepasnya Petrus dari penjara dirayakan pada tanggal 1 Agustus.
Terakhir, penyerahan basilika St. Petrus oleh Kaisar Konstantin dirayakan dalam
festival setiap tanggal 18 November.
Secara tradisional, Petrus adalah Bapa Gereja mula-mula yang dianggap paling
penting, dan bersama-sama dengan Paulus dijadikan sebagai soko guru jemaat
Kristen dan Katolik di seluruh dunia. Jika dibandingkan dengan posisi salah
seorang pemimpin agama masa kini, Petrus dapat disebut sebagai tokoh nomor
satu. Sri Paus yang pertama. Orang menunduk dengan hormat, takjub dan percaya,
bahkan beberapa orang sakit sengaja dibaringkan di atas tilam di tepi jalan
agar bisa terkena bayangan tubuhnya dan menjadi sembuh. Bukan main penghormatan
yang diberikan itu; tidak semua orang mampu menanggungnya. Jika bukan Petrus
yang mengalaminya, mungkin orang itu menjadi amat besar kepalanya; apalagi jika
kita mengingat bahwa latar belakang Petrus adalah nelayan sederhana yang
meluap-luap, penuh emosi.
Apa yang terjadi dengan nelayan sederhana dan miskin yang tiba-tiba -- dalam
waktu beberapa bulan saja -- menjadi tokoh yang paling berpengaruh dan disegani
jemaat, bahkan di antara rasul-rasul? Barangkali sikapnya menjadi tukang
perintah yang tidak boleh dibantah. Barangkali sikapnya menuntut supaya semua
orang melayaninya, memenuhi kebutuhannya. Barangkali ia dengan tegas menyatakan
bahwa semua orang harus mendengarkannya
baik-baik, menaruh perhatian sepenuhnya untuk melakukan segala sesuatu yang
dikatakannya dengan tepat sampai ke titik dan komanya. Bukankah dia orang
penting? Bukankah dia kepala Gereja? Bukankah setelah Petrus, ada banyak Paus
yang memakai kedudukannya untuk merebut kekuasaan melalui perang?
Tetapi Petrus tidak menuntut demikian. Ia hanya memberi nasihat. Itu pun bukan
diberikan dalam kapasitas sebagai "Pemimpin Besar Umat", melainkan sebagai
teman penatua, sesama saksi penderitaan Kristus. Dia tidak menganggap dirinya
tinggi atau lebih dari penatua lainnya, maka tidak memberi arahan seperti
seorang atasan kepada bawahan. Nampaknya Petrus tidak menganggap dirinya pantas
untuk mendapat basilika khusus di atas
kuburannya, atau dirayakan dalam berbagai festival sampai lima kali setahun,
atau menjadi orang suci yang bisa meneruskan doa umat kepada Tuhan. Petrus
hanya seorang penatua, seorang murid yang berkesempatan menyertai perjalanan
Tuhan selama kurang lebih tiga tahun. Seorang yang juga perlu diselamatkan dari
dosa, yang perlu diubah karakternya
berdasarkan kasih karunia.
Seberapa jauh kita melihat kerendah-hatian itu juga ada dalam diri kita?
Jika kita telah menerima karunia rohani dari Tuhan, sudah berkesempatan untuk
melakukan banyak pelayanan atau berkesempatan untuk memperoleh pendidikan yang
lebih tinggi, apakah kita juga bisa seperti Petrus dalam bersikap rendah hati?
Sayangnya, banyak orang -- termasuk hamba Tuhan -- yang tidak dapat
mengendalikan dirinya ketika keberhasilan dan kesuksesan dan pujian
berdatangan. Ketika semua ungkapan kekaguman dan pujian datang,
ia merasa dirinya lebih. Ia merasa dirinya berjaya, berhasil. Sedikit demi
sedikit, kebanggaan mempengaruhi jalan pikiran, bertransformasi menjadi
kesombongan. Adakah kita di dalam keadaan itu?
Tahu-tahu, kita tidak lagi memberi nasihat melainkan perintah. Kita tidak lagi
mau dibantah, tidak lagi bisa dikoreksi. Apa yang kita nyatakan adalah hal yang
final dan benar, apalagi saat banyak orang memberi anggukan dan ucapan selamat
yang menyanjung-nyanjung. Kita tidak lagi merasa diri setara dengan sesama
hamba, karena kita sudah menjadi senior.
Kita menjadi yang terdepan, pemimpin yang harus diikuti oleh pemimpin-pemimpin
lain. Dan sedikit demi sedikit, kita pun merasa layak untuk mendapatkan lebih
dari yang lain. Sebagai senior, harusnya mendapat jatah kendaraan lebih baik.
Harusnya mendapatkan tiket perjalanan yang lebih mewah. Harusnya mendapat
sekretaris pribadi untuk menangani
berbagai-bagai korespondensi, arsip, dan jadwal yang super-padat. Harus
mendapatkan upah lebih tinggi. Bukankah jaman sekarang ini sebuah nasihat mahal
harganya? Tetapi kita harus belajar rendah hati seperti Petrus, yang dimulai
dengan mengakui diri sama rendah dengan orang lain.
Sementara Petrus bersikap rendah hati, ia juga bersikap bijaksana. Ia tahu
bagaimana harus memposisikan diri, sekaligus tahu kapan harus berbicara.
Kerendah-hatiannya tidak membuat Petrus menjadi penatua yang tidak peka dan
tidak suka berbicara. Dengan penuh keyakinan ia memberi nasihat, menyampaikan
pengertian yang muncul dari Roh Kudus yang menyertainya dalam setiap kata dan
kalimat yang dituliskan. Kata-katanya berharga: Ia tahu seperti apa bagian yang
telah tersedia untuknya dan semua penatua, telah yakin akan kemuliaan yang akan
dinyatakan kelak. Di saat ia menyampaikan
pesan yang juga diterima sesama penatua lain, Petrus tahu bahwa nasihatnya
adalah bagi sesama penerima kemuliaan yang telah disediakan Tuhan. Ini bukan
nasihat yang sembarangan, bukan sekedar rangkaian kata-kata yang menghibur
pembacanya.
Seberapa banyak kita sendiri memiliki kepekaan yang serupa dalam berkata-kata?
Kadang kita merasa bahwa diri kita tidak cukup dalam membaca Firman Tuhan, dan
kita menjadi aktivis oleh karena kecakapan kita, bukan kearifan dan hikmat
kita. Kita hanya berani untuk mengungkapkan pendapat, bukan memberi nasihat.
Untuk memberi pendapat, tidak dibutuhkan banyak persiapan; toh kalau pendapat
kita salah, tak ada yang bisa
mempermasalahkan. Sewajarnya saja, ada pendapat yang salah dan tidak bisa
diterima. Tetapi jika nasihat keliru, mungkin akan ada yang menjadi korban. Ada
tanggung jawab dalam setiap kata-kata, dibutuhkan keyakinan untuk mengucapkan
atau menuliskannya.
Karena tanggung jawab itu, banyak pula penatua dan hamba Tuhan yang tidak
banyak memberi nasihat. Mereka memilih diam dalam berbagai isu, memilih bungkam
daripada dianggap salah dalam menasihati. Sementara iblis dan para pengikutnya
berteriak-teriak untuk menyesatkan dunia, para penatua dan hamba Tuhan masih
bimbang untuk bersuara. Ketika ada umat yang menyukai dosa, tak ada teguran
yang terdengar. Ketika ada konflik yang membutuhkan bimbingan dan nasihat, tak
ada saran yang terlontar. Banyak yang memilih untuk melayani saja, beraktivitas
saja dalam berbagai bidang. Beberapa mengatakan, pelayanan yang nyata bukanlah
dengan kata-kata, melainkan tindakan nyata. Tak perlu memberi nasihat, tetapi
berilah uang, makanan, pakaian, pendidikan, kesehatan, bahkan juga hiburan.
Tanpa kata-kata, tanpa nasihat, tanpa bimbingan, dan tanpa arahan, yang
diperoleh adalah masyarakat yang semakin makmur sekaligus semakin jauh dalam
dosa. Orang dibantu untuk semakin sejahtera, tetapi mereka tidak pernah
diberitahu tentang Tuhan -- jadilah mereka menjadi orang sejahtera yang tidak
mengenal Allah yang benar dan hidup. Teknologi semakin tinggi, ekonomi semakin
maju, tetapi orang pun semakin jauh dari sikap taat kepada Tuhan. Di berbagai
negara yang semula berdiri dalam iman Kristen, kini Tuhan tidak lebih dari
simbol moral tertinggi, yang hanya menarik bagi para teolog dan filsuf yang
suka berdebat. Masyarakat modern dan maju menyukai hubungan yang bebas dalam
segala hal, tidak mau lagi diajar dan dibatasi oleh nasihat-nasihat kuno.
Berpendapat sih boleh saja, tetapi
janganlah memberi nasihat. Jangan pula mengharap orang untuk taat!
Petrus tidak takut untuk memberi nasihat. Dan sebaliknya dari 'hubungan yang
bebas dalam segala hal', Petrus justru menasihatkan agar penatua menggembalakan
kawanan domba Allah yang ada. Petrus menasihatkan agar penatua bersikap aktif
dalam membatasi dan mengarahkan. Seorang gembala bukan saja memberi segala
sesuatu yang dibutuhkan oleh kawanan dombanya, melainkan juga menuntut
domba-domba itu mendengarkan suaranya. Gembala tidak boleh membiarkan
domba-domba itu berjalan dengan bebas; ia harus menghardik kawanan itu agar
tetap teratur, tetap berada di jalan yang harus dilalui. Ia harus berkata-kata,
memberi nasihat, bimbingan, dan arahan.
Dalam kehidupan sekarang, gembala jemaat diharapkan memberi tuntunan yang benar
dalam berbagai isu. Dalam hal hubungan lelaki dan perempuan serta kudusnya
pernikahan. Dalam hal pekerjaan. Dalam hal politik. Dalam ekonomi, sosial, dan
budaya. Dalam segala sesuatu, seorang gembala tidak boleh takut untuk menjaga
kawanan dombanya. Seorang penatua atau hamba Tuhan tidak boleh takut untuk
menjaga jemaatnya. Seorang yang telah menerima begitu banyak karunia dari Tuhan
untuk mengenal-Nya, mendapat begitu banyak kesempatan untuk bekerja
bersama-Nya, tidak dapat mengecilkan diri sendiri dengan mengatakan bahwa ia
tidak tahu banyak tentang Firman atau pengharapan yang ada padanya atau
bagaimana seharusnya orang harus hidup dalam Tuhan. Seorang gembala harus tahu.
Jadi, demikianlah beratnya. Lalu apakah orang yang telah mendapat karunia ini
-- karunia yang mungkin tidak pernah diminta -- jadi terpaksa harus melakukan
segala pekerjaan yang berat itu? Apakah Petrus terpaksa harus menjadi gembala
yang memberi nasihat kepada jemaat? Tidak. Jangan dengan paksa, tetapi dengan
sukarela, kata Petrus. Orang yang dipaksa tidak akan memberikan yang terbaik.
Siapa yang dapat bertahan dalam paksaan untuk memasang badan di hadapan
berbagai-bagai konflik? Ketika ada umat yang berpengaruh, banyak kawan, serta
banyak uang, kemudian jatuh dalam dosa, betapa sukar untuk menasihatinya.
Bisakah orang dipaksa untuk memberikan nasihat yang tepat?
Jika penatua menerima tugasnya dengan sukarela, melaksanakan jabatannya sebagai
suatu kemuliaan karena boleh mengambil bagian dalam memenuhi kehendak Tuhan,
tak ada yang sukar. Tuhan lebih mulia, lebih penting dari segala posisi
manusia. Yang salah perlu ditegur, digembalakan -- itulah hal yang benar untuk
dilakukan. Mungkin saja ada banyak masalah yang ditimbulkan oleh seorang yang
tersinggung karena dosanya digosok-gosok -- seperti seorang pria yang marah
karena ditegur akibat kebiasaannya yang buruk -- bagai domba yang mengigit
gembalanya karena disuruh kembali ke jalan. Mungkin saja. Tetapi keyakinan
dalam Tuhan melampaui semua masalah itu; betapa pun domba itu melawan, Tuhan
tetap mengasihinya. Selama itu memang benar-benar domba dan bukan serigala yang
menyamar, Gembala yang Agung akan membawanya pulang. Tetapi kalau itu serigala,
Tuhan akan
mengusirnya pergi.
Adakah bagian yang bisa diharapkan oleh seorang penatua? Petrus adalah penatua;
apakah ia mengharapkan keuntungan? Apakah ia menginginkan bagian yang terbaik
diperolehnya? Tidak. Ia melihat bahwa semuanya adalah pengabdian -- sikap
seorang hamba yang mengabdi kepada tuannya. Seorang hamba tidak menuntut upah;
ia mengabdi dengan segala kesadarannya, segala kehendak dan kepentingannya.
Menjadi gembala tidak boleh dilandasi mencari keuntungan, melainkan karena
mengerti kemuliaan yang telah disediakan.
Kita lihat semua ini menjadi satu rangkaian utuh dan tak terpisah -- suatu
sikap seorang gembala dari Petrus. Ia tidak menganggap dirinya lebih tinggi
dari para penatua lain, melainkan sama-sama menjadi penerima kemuliaan Allah
yang akan dinyatakan kelak; padanya ada kepastian dan keyakinan yang kokoh. Ia
mengerti posisinya sebagai gembala dan berani untuk menasihati, karena ia
memiliki keyakinan yang penuh pada Roh Kudus
yang bekerja bersamanya. Ia menasihati penatua untuk menggembalakan, mengambil
sikap aktif dalam memelihara dan membimbing, sebagai hal yang dilakukan dengan
sukarela, serta suatu pengabdian kepada Tuhan.
Ikutilah nasihat yang baik ini.
Terpujilah TUHAN!
Ref. Kis 5:15-16
Untuk didiskusikan:
1. Ketika Petrus menasihatkan para penatua di antara jemaat, seperti apakah
Petrus memposisikan dirinya?
2. Apa yang menjadi keyakinan Petrus dalam posisinya itu?
3. Apa nasihat yang diberikan oleh Petrus? Menurut Anda, bagaimana realisasi
dari nasihat ini?
4. Bagaimana kehidupan sekarang ini berhubungan dengan penggembalaan, seperti
yang dinasihatkan Petrus? Apa yang menjadi hambatannya?
[Non-text portions of this message have been removed]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]
Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/