From: suyento 

Transformasi Karakter 

Firman Tuhan mengatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, "Jadi siapa yang ada di 
dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya 
yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17) Pertanyaannya ialah, mengapakah 
"ciptaan yang lama" masih ada pada diri kita? Dengan kata lain, mengapakah 
sukar buat kita berubah?

Ada dua penyebab mengapa kita tidak mudah berubah meski telah menjadi orang 
percaya. 
   
Penyebab I: Kesalahpahaman pengertian akan firman Tuhan. Kita menganggap 
perubahan itu sepenuhnya merupakan tanggung jawab Roh Kudus. Kitalah yang 
bertanggung jawab untuk mengubah diri kita, bukan Roh Kudus. Firman Tuhan 
berkata, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah 
oleh pembaruan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: 
apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2) 
Transformasi karakter bukanlah sesuatu yang didatangkan dari luar melainkan 
sesuatu yang dihasilkan dari dalam. Firman Tuhan berkata, " Karena itu 
saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu supaya kamu 
mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang 
berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1) 
Transformasi karakter merupakan hasil penyerahan hidup: makin berserah atau 
taat, makin berubahlah karakter kita.
   
Penyebab II: Karakter sukar berubah sebab terkait erat dengan diri kita. 
Sebagian besar problem kejiwaan bersumber dari karakter manusia. Misalnya, 
ketergantungan pada narkoba dan gangguan relasi berhubungan dengan karakter. 
Itu sebabnya masalah-masalah ini tidak mudah hilang. 

Kalau begitu, apakah dan seberapa besarnyakah peran Roh Kudus dalam pembentukan 
karakter kita?
   
Pertama, Roh Kudus menunjukkan kepada kita kehendak Allah: apa yang baik dan 
sempurna, apa yang berkenan kepada Allah. (Roma 12:2) 
   
Kedua, Roh Kudus menyediakan kekuatan kepada kita yang menaati-Nya. Firman 
Tuhan berkata, "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya 
nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari 
diri kami." (2 Korintus 4:7) 

Langkah Awal Menuju Pemulihan 
   Mengakui bahwa kita bermasalah. 
   Menerima pertolongan baik dari Tuhan maupun sesama. 
   Menaati kehendak Tuhan sedikit demi sedikit dan sehari lepas sehari. 

Taken from www.telaga.org

Ringkasan perbincangan mengenai "Transformasi Karakter" oleh Gunawan Santoso 
dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan Ibu Wulan, S.Th. dengan Bp. Pdt. Dr. 
Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di 
Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang.  
========================================
From: Leonora Febriany 

Bertemu Dengan Tuhan ?

Beberapa hari yang lampau saya harus bertemu dengan seorang pejabat tinggi di 
salah satu hotel bintang lima di pusat kota Amsterdam, maka dari itu saya harus 
melewati daerah kumuh tempat para gelandangan dan pecandu  disitu.
Tiba-tiba saya mendengar panggilan "Selamat pagi Tuan!", saya menoleh 
kebelakang dan saya melihat seorang pengemis tua dengan wajah yang kotor, dekil 
dan bau alkohol rupanya ia sudah ber-minggu2 tidak mandi. Pakaiannya pun bau 
dan kotornya sudah tak terlukiskan lagi. Pengemis ini sedang memegang cangkir 
besar yang berisikan kopi panas. Ia menawarkan kepada saya "Maukah Bapak minum 
seteguk dari air kopi saya?"

Dalam hati saya jangankan minum dari cangkirnya dekat dengan diapun rasanya 
sudah muak dan jijik, apalagi kalau melihat kumis dan jangutnya yang masih 
penuh dengan sisa2 makanan dari kemarin. Disamping itu kalau saya minum dari 
cangkir bekas dia, jangan2 nanti saya akan ketularan penyakit AIDS?

Logika dan otak saya melarang saya untuk menerima tawaran tsb, tetapi hati 
nurani saya menganjurkannya: "Percuma lu ke gereja tiap minggu, kalau lu masih 
mempunyai pikiran dan praduga buruk terhadap orang lain!" Akhirnya saya datang 
ke pak tua itu dan minum seteguk kopinya, tetapi logika dan pikiran saya 
berjalan terus. "Apa sih maksud si pak tua ini, menawarkan kopinya kepada saya, 
jangan2 ia mau minta duit!"

Tetapi saya sudah siap dan ikhlas untuk memberikan uang kepadanya sebagai 
imbalan dari kopi tsb. Walaupun demikian saya ingin menanyakannya terlebih 
dahulu: -"Kenapa Bapak menawarkan kopi kepada saya?"
 -"Saya ingin Anda bisa turut menikmatinya, bagaimana enaknya kopi di pagi hari 
apalagi pada saat dingin seperti sekarang ini."

Ketika saya mendengar jawaban tsb saya merasa malu dengan praduga saya terhadap 
dia. kenyataannya harus belajar dari seorang pemabuk dari seorang gelandangan 
yang tidak berpendidikan. Walaupun demikian logika saya masih belum mau 
menyerah, saya masih tetap tidak percaya: masa sih si pak tua ini tidak ada 
maunya, masa sih si pak tua ini tidak ingin mendapatkan sesuatu imbal balik 
dari saya, masa sih ia mau memberikan seuatu dengan tanpa pamrih, apalagi pada 
saat ini ia lagi membutuhkannya pasti ia akan minta
uang!

Berdasarkan pemikiran diatas, akhirnya saya menanyakannya sekali lagi kepada 
dia "Adakah sesuatu yang bisa saya bantu untuk anda?" 
Pengemis itu menjawab: "Ada!" wah betapa senangnya saya ketika mendengar 
jawaban tsb, sebab dengan demikian saya bisa membuktikan analisa saya yang 
jitu! "Apakah anda membutuhkan sesuatu?" 
"Tidak!" jawabnya, "saya hanya ingin dipeluk saja oleh Anda, karena saya sudah 
tidak mempunyai kawan maupun sanak keluarga lagi." jawab pengemis tsb.

Saya kaget mendengar jawaban yang tak diduga tsb, pertama karena analisa dan 
praduga saya tidak benar, tetapi lebih daripada itu, bagaimana mungkin saya 
bisa memeluk seorang gelandangan yang sudah ber-bulan2 tidak mandi sehingga 
pakaiannya kotor dan bau sekali, apalagi sebentar lagi saya harus bertemu 
dengan seorang pejabat tinggi, jangan2 pakaian saya akan menjadi bau dan kotor 
juga. Bahkan "Jangan-jangan bisnis saya bisa gagal nanti!", karena pejabat 
tinggi itu mungkin akan merasa diremehkan oleh saya, kalau saya
datang menemuinya dengan pakaian kotor dan bau!

Tetapi entah kenapa, tanpa saya bisa dan mau berfikir lebih lanjut, saya 
langsung memeluk pak tua pengemis tsb dengan erat, seperti saya memeluk putera 
saya sendiri. Tanpa saya sadari kejadian tsb disaksikan oleh banyak orang 
disekitarnya, yang merasa aneh dan janggal melihat seorang yang berpakaian 
lengkap dengan dasi dan jas mau memeluk seorang pengemis tua, yang kotor dan 
bau, seperti pada saat pertemuan dari dua orang kawan akrab
yang telah bertahun-tahun tidak saling berjumpa.

Pada saat saya sedang memeluk pak tua tsb, se-akan2 terdengar suara sayup-sayup 
yang sangat lembut: "Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun 
kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian 
melakukannya kepada-Ku!" Saya merasa se-akan2 saya telah bertemu dan memeluk 
Tuhan Yesus pada saat tsb.

Saya telah diundang minum kopi oleh seorang pengemis, tetapi kebalikannya 
apakah saya bisa dan saya mau mengundang seorang pengemis untuk minum dan makan 
bersama dengan saya dan keluarga saya? Kita lebih mudah dan lebih ikhlas 
memberikan uang kepada seorang pengemis daripada mengundang dia untuk turut 
makan atau minum bersama dengan kita. Apakah Anda pernah mengundang seorang 
pengemis untuk makan atau minum dirumah Anda?

Berdasarkan pengalaman tsb saya baru sadar bahwa kalau kita mau mencari Tuhan 
carilah dengan "Kasih", jangan dengan pikiran logika, karena kekuatan dan kuasa 
kasih ada jauh lebih besar dan lebih kuat dari segala macam logika yang ada di 
dunia ini. Kalau orang minta bantuan kepada kita gantilah pikiran logika dengan 
perasaan kasih, karena Tuhan juga mengasihi kita tanpa menggunakan logika.

Bunuhlah perasaan praduga yang ada di dalam diri kita dan hapuslah perkataan
"Jangan-jangan" yang ada di dalam kamus kehidupan kita! Ibu saya tidak bisa 
menulis dan membaca. Ia membesarkan kami anak2nya hanya dengan penuh rasa kasih 
sayang tanpa segala macam theori physiologi pendidikan, tetapi saya masih bisa 
merasakan hasilnya sampai dengan detik ini, walaupun setengah abad telah lewat. 
Logika bisa mengotori dan meracuni perasaan kasih.

Logika adalah tembok pemisah antara Sang Pencipta dengan manusia! When Jesus
said, "If you love Me, keep My commandments" (Jn. 14:15), He was giving us the 
supreme test of our devotion to Him. Do we pass the test?

For many, love is just a word, A passing phase, a brief emotion; But love that 
honors Christ our Lord Responds to Him with deep devotion.

One proof of your love for God is your love for your neighbor.

[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke