From: Donny Adi Wiguna 

PEPERANGAN

1 Pet 5:8-11  Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan 
keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat 
ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua 
saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber 
segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada 
kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan,
menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.
Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Aku pahlawan kecil/
Yesus panglimaku/
Tuhan di pihak kita/
Siapakah lawan kita?/
TIDAK ADA!

"Oh, orang Kristen tidak boleh punya musuh!"
"Ya, kita harus mengasihi semua orang, sekalipun mereka itu berbeda."

Dalam banyak hal, demikianlah yang kita lakukan. Kita tidak membenci orang 
lain, karena Tuhan telah mengajarkan kasih. Kita harus mengasihi, walaupun 
pihak yang dikasihi itu bersikap sebagai musuh yang mendatangkan kesusahan. Ada 
saja penderitaan dan kemalangan yang ditimpakan oleh orang-orang yang membenci 
kekristenan, tetapi mereka harus kita sayangi. Jangan dibenci; itu sama 
maknanya dengan membunuh mereka. Jadi orang Kristen tidak punya lawan di atas 
dunia, dalam arti tidak ada yang harus dilawan dalam hidupnya.

Benarkah? Salah.

Orang Kristen PUNYA lawan yang harus dihadapinya, dalam suatu pertarungan yang 
seringkali keras dan sengit. Tetapi lawannya orang Kristen bukan manusia, bukan 
pula lembaga manusia. Lawan orang Kristen adalah si iblis yang berjalan 
berkeliling seperti singa yang mencari orang yang dapat ditelannya. Mahluk ini 
tidak ada puas-puasnya, tidak ada lelahnya, tidak kenal menyerah. Iblis ini 
mempunyai kekuatan supra-natural, dan ia sangat
membenci manusia. Iblis menjadi pembunuh manusia sejak mula-mula. Tuhan meminta 
kita untuk mengasihi sesama manusia, karena itu kita harus melawan iblis. Kita 
harus berperang melawan iblis dan mencegahnya melakukan pembunuhan.

Tetapi, bagaimana caranya untuk berperang melawan iblis? Manusia bisa memerangi 
apa yang dapat dilihat, diraba, dan dipikirkannya, tetapi iblis sama sekali 
tidak kelihatan bentuk rupanya. Karena itu, tidak sedikit orang dalam sejarah 
yang menganggap bahwa iblis telah mewujud dalam diri manusia lain -- dan pada 
akhirnya mereka berperang melawan sesama manusia. Mereka melihat bahwa 
orang-orang yang telah dikuasai iblis tak lain dari iblis sendiri yang harus 
dienyahkan dengan berbagai cara, termasuk dibakar, digantung, atau dipancung. 
Dibunuh.

Saat ini dengan sedih kita mengakui segala kejahatan pembunuhan itu, pilu atas 
fakta bahwa ada orang Kristen yang membunuh sesamanya atas nama Tuhan. Mereka 
sama sekali keliru saat membunuh sesamanya seperti membunuh iblis, karena hati 
mereka justru diisi kebencian oleh iblis. Namun apakah kebencian yang sama 
dalam diri kita sekalian sekarang telah hilang? Hari ini orang Kristen tidak 
lagi membunuh dukun atau pelaku sihir, tetapi rasa
permusuhan dan kebenciannya masih tetap ada dalam hati banyak orang. Tetap saja 
mereka melihat saudaranya sambil mengata-ngatai, "Kafir!" Sikap yang diambil 
bukan sekedar menjauhkan diri dan tidak bergaul dengan orang-orang fasik, 
melainkan membenci setiap bagian dari keberadaan mereka yang pada hakekatnya 
sama: enyahkan dari sini. Suatu sikap yang pantas diganjar tempat di neraka!

Ironisnya, semua itu masih tetap dilakukan dalam nama Tuhan. Orang-orang 
"saleh" saat itu merasa bahwa inilah cara yang benar untuk mengasihi Tuhan, 
yaitu dengan membenci orang-orang pengikut iblis. Dan di saat ini, yang 
dianggap sebagai pengikut iblis sudah lebih banyak, bukan cuma dukun atau 
pelaku sihir saja. Ada yang menganggap orang yang ateis, orang komunis, atau 
orang fasis sebagai pengikut iblis. Ada yang menganggap orang Buddha, Hindu, 
Islam, atau kepercayaan lain apa saja selain Kristen sebagai pengikut iblis. 
Ada yang menganggap semua orang lain yang tidak memiliki kepercayaan yang sama 
dengan dirinya sebagai pengikut iblis. Dan untuk semua yang dianggap pengikut 
iblis, ada kebencian dan kemarahan yang besar dikeluarkan.

Banyak yang tidak sadar, bahwa dengan mengumbar kebencian itu, orang Kristen 
pun menjadi pengikut iblis.

Kenyataannya, iblis menelan siapa saja: ateis, komunis, fasis, Kristen, Buddha, 
Hindu, Buddha, serta semua sebutan lain yang bisa disebut manusia. Dengan 
berbagai tipu daya dan muslihat, iblis mempermainkan manusia yang meninggikan 
diri dan larut dalam kesombongannya. Iblis mempermainkan penatua yang sibuk 
menjadi polisi bagi sesamanya, merasa diri paling tinggi dan benar di antara 
semua. Iblis mempermainkan orang muda yang
merasa hebat dengan kekuatan, kepandaian, dan wajah yang rupawan, sehingga bisa 
melawan setiap orang. Iblis membuat sebagian orang melakukan hal-hal yang 
buruk. Lalu iblis membuat sebagian orang lainnya turut melakukan hal buruk 
ketika mereka membenci orang yang melakukan hal yang buruk itu. Lihatlah contoh 
berikut ini.

Baru-baru ini, seseorang dengan rajinnya mengirimkan pesan berisi kebencian 
kepada orang-orang Cina. Ia menunjukkan bagaimana sebagian orang Cina di 
Indonesia telah melakukan hal-hal yang buruk. Hal ini dijadikan dasar untuk 
membuktikan bahwa etika Cina itu buruk -- entah etika mana persisnya yang 
dimaksudkannya -- yang artinya SEMUA orang Cina buruk,
karena etika tentu tidak dapat terlepas dari budaya suatu bangsa. Yang terbaca 
di sini bukanlah niat untuk memberi solusi atas keburukan yang ditulisnya, 
melainkan kebencian pada satu bangsa, sikap bermusuhan yang tidak bisa menerima 
kehadiran orang Cina. Tidak dapat dipungkiri bahwa ada banyak orang Cina yang 
berbuat buruk, tetapi membenci orang Cina juga merupakan hal yang buruk.

Ketika orang ini ditanggapi, ada pula yang melontarkan nada permusuhan 
terhadapnya, yang mana juga merupakan hal yang buruk. Nampaknya selama orang 
tidak belajar untuk mulai mengasihi dan rendah hati, iblis dengan leluasa 
menelan seorang demi seorang, mengikat pikiran mereka dan menjerumuskannya 
dalam kegelapan. Siapa di antara kita yang cukup sadar dan waspada untuk 
melawan si iblis yang menghasut dengan tipuannya? Bila kita akrab dengan Firman 
Tuhan, menjadikan Firman itu bagian dari diri kita, maka kita akan cukup peka 
untuk mengerti bahwa semua ini hanya hasutan yang merongrong pikiran. Bila kita 
membenci dan bermusuhan, itu bukan jalan yang dikehendaki oleh Tuhan. Hal yang 
buruk harus dinyatakan dengan kasih dan lemah lembut, bukan untuk memisahkan 
melainkan untuk menyatukan.

Sebaliknya dari membenci, iblis juga bisa menyesatkan orang dengan mengasihi 
dan hanya mengasihi. Orang terperdaya ketika menyangka bahwa mengasihi berarti 
menerima apa saja keberadaan orang lain, membuat semua orang senang dan 
bahagia, bebas dari segala kesulitan dan penderitaan, bahkan bebas untuk 
memilih apa saja yang dikehendakinya. Orang berpikir bahwa apa yang baik adalah 
apa yang terasa enak, terasa menyenangkan.
Tidak ada konflik, tidak ada perseteruan, damai sedamai-damainya. Oleh karena 
pikiran itu, mereka melihat bahwa baik saja untuk menyetujui perilaku 
homoseksual. Baik saja untuk menyetujui setiap orang memilih agama yang 
diinginkannya. Baik saja untuk melakukan setiap hal yang diinginkan, selama hal 
itu aman, damai, dan menyenangkan semua orang.

Iblis membuat orang tidak sadar, bahwa mengasihi juga berarti memberi kesusahan 
agar orang bertumbuh menjadi lebih tangguh dan dewasa. Mengasihi juga berarti 
membatasi agar orang tidak tersesat jalan untuk sampai ke tujuan. Mengasihi 
juga berarti memukul, seperti seorang ayah yang memukul anaknya untuk 
mendidiknya. Menyakitkan, tetapi itu lebih baik bagi masa depan. Apa jadinya 
bila seorang anak tidak pernah mengalami kesusahan, tidak pernah dibatasi 
jalannya, tidak pernah dipukul karena kenakalannya?
Di kala mendapatkan semua kenyamanan dan kenikmatan, rasanya senang dan 
gembira. Diri sang anak pun terlena, tidak menjadi dewasa. Ketika tiba masanya 
ia harus menghadapi tantangan hidup, apa yang bisa dilakukannya?
Kenikmatan di masa muda membawa kesengsaraan dan kesusahan sepanjang sisa
umurnya.

Bila kita sungguh-sungguh mengasihi sesama, maka yang kita berikan bukan hanya 
hal yang terasa enak. Kita mengupayakan kedewasaan dan kematangan.
Kita memberikan pencerahan, kesadaran atas kebenaran dan keadilan. Kita 
memberikan kehidupan, keselamatan dalam Kristus Yesus untuk mereka yang belum 
mengenal-Nya. Untuk ini semua, dibutuhkan perjuangan, dan inilah makna kasih 
itu: berjuang demi kebaikan yang dikasihi, kehidupan kekal yang paling bernilai 
di dalam Tuhan. Di sinilah ada perang yang besar melawan iblis, suatu 
peperangan hebat. Ada dua medan perang yang harus
kita hadapi, dan harus kita menangkan:

Yang pertama, adalah medan perang dalam diri kita sendiri. Iblis mengeluarkan 
segala tipu muslihatnya untuk menyesatkan diri kita, dimana kita harus 
melawannya dengan tunduk pada kebenaran Allah. Ada gelora nafsu dalam diri, 
suatu kedagingan yang mendorong kita untuk berbuat dosa yang mencelakakan. Kita 
didorong untuk serakah, membenci, iri hati, untuk memuaskan segala hasrat dan 
keinginan kita tanpa batas, yang kita perangi dengan bersikap tunduk dan 
terbatas dalam prinsip-prinsip Tuhan. Kebenaran Tuhan melampaui segala waktu 
dan tempat, meliputi segala situasi dan kondisi, bahkan di saat segala sesuatu 
nampaknya tidak masuk akal untuk dapat kita pahami. Kita harus melawan iblis 
dengan iman yang teguh, karena mungkin di saat yang sama si iblis sedang 
menunjukkan dunia pada kita untuk menyesatkan pikiran:

"Lihat," kata iblis, "bukankah di seluruh dunia semua orang Kristen sedang 
mengalami penderitaan yang sama? Itulah yang terjadi sebagai akibat kebodohan 
ajaran Kristen. Kamu tidak tahu, kalau agama itu tak lain daripada candu yang 
meninabobokan masyarakat, yang membuat lemah." Tetapi dengan iman kita bisa 
menepisnya. Biar saja seluruh orang Kristen
mengalami penderitaan yang sama, karena semua orang Kristen sedang berada di 
medan perang yang sama. Tak ada yang istimewa dalam perang, selalu ada korban 
yang diakibatkan oleh iblis yang kejam dan tak kenal ampun. Justru, ketika 
melalui penderitaan, orang Kristen belajar untuk sepenuhnya bergantung kepada 
Tuhan dan menjadi semakin kuat dari hari ke hari. Inilah tantangan dalam diri 
kita, yang harus kita jawab dan menangkan. Bukan dengan kekuatan sendiri, tapi 
dengan kekuatan Roh Allah yang menyertai kita dalam setiap tarikan nafas dan 
gerak langkah.

Yang kedua, adalah medan perang pada orang-orang di sekitar kita. Kita harus 
melawan setiap pikiran yang berasal dari si iblis, di mana kita mengasihi 
sesama kita dengan cara memerangi pikirannya yang tidak mengenal Tuhan. Seperti 
kata Paulus, "Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu 
yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. 
Kami menawan segala pikiran dan menaklukkan nya kepada Kristus," yang juga 
berarti menaklukkan setiap kepercayaan manusia yang sia-sia, yang tidak akan 
pernah dapat mencapai Bapa di Surga. Ada orang yang percaya pada uangnya, 
kekuasaannya, kekuatan dan kepandaiannya. Ada orang yang percaya pada 
jimat-jimatnya serta berbagai mantra yang memberinya rejeki. Ada yang percaya 
pada perbuatan
baik dan logika. Ada yang percaya pada tokoh yang menjadi idola. Semua pikiran 
yang terpisah dari Allah, harus ditaklukkan dalam kebenaran ini:
satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup hanyalah Kristus.

Kita harus berdiri dan siap berperang, bukan untuk mengenyahkan kehadiran 
orang, entah dia itu orang Cina atau Jawa atau Rusia atau India atau apa saja, 
melainkan mengenyahkan pikiran-pikiran yang bertentangan dengan kehendak Allah, 
bertentangan dengan Kristus. Seperti dalam perang, siap sedialah ketika 
serangan iblis datang untuk mendiskreditkan segala kebenaran Allah, bentengilah 
diri dengan perisai iman dan ketopong keselamatan yang kokoh. Siap sedialah 
pula ketika tiba gilirannya kita datang untuk menyerang dan menaklukkan 
pikiran, karena pada kita ada pedang Firman yang bermata dua dan amat tajam, 
sanggup menebas masuk sampai jauh dalam  hidup manusia. Wujudnya bukan 
pemaksaan atau penganiayaan, bukan pula hukuman yang menyiksa atau aturan yang 
menekan. Wujudnya adalah kepedulian, kasih, dan uluran tangan yang menyertai
pemberitaan Injil kepada segala bangsa di bumi.

Apakah kita dapat melakukannya dengan kekuatan kita sendiri, dengan pikiran dan 
kemampuan kita sendiri? Tidak. Kita tidak dapat. Kita bergantung pada Allah 
yang menjadi sumber kasih karunia, yang telah memanggil kita dalam Kristus 
kepada kemuliaan-Nya yang kekal. Kita mendapat bagian di dalam-Nya, dan karena 
itu menerima segala yang kita
butuhkan untuk berperang melawan iblis. Bahkan sekalipun peperangan itu membawa 
kesusahan, Allah akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kita, 
sesudah kita melalui suatu masa penderitaan yang singkat. Ya, ada masa yang 
singkat di mana kita harus menghadapi semua penderitaan, agar kita mengerti 
seperti apa kemuliaan Allah dan tidak terus menjadi takabur ketika segala 
kekuatan dan kemampuan itu diberikan
Tuhan.

Kita memiliki kuasa yang besar di dalam Dia. Peperangan melawan iblis nampak 
hebat dan sukar, karena sementara kita mengasihi sesama, kita pun harus 
menaklukkan pikiran mereka. Bagaimana kita dapat melakukannya, selain dengan 
kuasa Allah? Inilah kuasa yang menghidupkan, bukan mematikan. Kuasa yang 
menyelamatkan, bukan membinasakan. Oleh-Nya kita membawa kehidupan dalam dunia. 
Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Ketika perang itu sudah kita 
menangkan, di saat panji-panji Kristus ditinggikan, kita tahu bahwa semuanya 
adalah pekerjaan Allah melalui kita. Dialah yang memberikan kemenangan!
Amin! Terpujilah TUHAN!
Ref. Yoh 8:44; Mat 5:22; 2 Kor 10:5

Untuk didiskusikan:
1. Terhadap apa kita harus sadar dan berjaga-jaga? Menurut Anda, bagaimana
kita bisa mengenali kehadiran iblis dalam kehidupan kita?
2. Apa yang Anda pahami tentang sifat iblis yang seperti binatang buas
yang siap menerkam? Bagaimana kita mampu menghadapinya?
3. Apa artinya kita telah dipanggil kepada kemuliaan Allah yang kekal?
Bagaimana Allah melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kita?
4. Apa artinya, saat dikatakan semua kemampuan diberi Tuhan setelah kita
menderita seketika lamanya? Apa hubungannya dengan pengakuan bahwa Ia yang
mempunyai kuasa sampai selama-lamanya? 

[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke