From: Jimmy Okberto 

MAMAKKU BERDOA DALAM BAHASA IBUNYA

Pagi ini aku mengambil waktu untuk mengenal Sang Khalik melalui 2 tulisan yang 
terilhami oleh kuasaNya yang tak berbatas, Our Daily Bread dan Alkitab. Hari 
ini aku belajar tentang doa. Dalam perenungan pagiku, aku menginterpretasikan 
bahwa Yesus tidak mengajak serta murid-muridNya berdoa bersamanya saat itu. 
Karena doa itu adalah sesuatu yang sangat
pribadi antara seorang manusia dengan PenciptaNya. Yesus baru selesai berdoa 
ketika murid-muridnya melihatnya. Murid-muridNya memperhatikan betapa Yesus 
menikmati waktu doanya. Mereka tertarik, karena itu mereka minta diajari 
berdoa. Yesus tidak banyak memberikan teori-teori, pantangan-pantangan atau 
aturan-aturan yang baku. Ia memberikan contoh doa yang sederhana, dengan bahasa 
yang sederhana. Doa itu yang diajarkanNya. Mungkin doa itu pula yang sering 
diucapkanNya dalam waktu-waktu doaNya. Seluruh orang kristen menyebutnya kelak 
dengan Doa Bapa Kami.

Lalu aku teringat kepada mamakku yang sederhana. Mamak hanya mengenal dua 
bahasa dengan fasih, bahasa Indonesia dan bahasa ibunya. Maklum saja, hidup 
hanya memberikan kesempatan kepada mamak menikmati sebatas bangku SD, itupun 
tidak tamat. Pahitnya kemiskinan dan kehilangan ibu yang mencintainya 
membuatnya harus kehilangan masa sekolah. Masa kecilnya memang tidak sebahagia 
aku. Walaupun ia jago matematika, mamak
tetap saja tidak bisa berbahasa asing. Mamak juga tidak bisa berbahasa roh. Dia 
seorang protestan tulen. Mamak lahir dan besar di sebuah gereja yang 
mengajarkan jemaatnya untuk berdoa dengan bahasa yang dapat dimengerti saja. 
Kata mamak ia hanya berdoa dalam bahasa ibunya, Simalungun. Padahal mamak sudah 
jarang menggunakan bahasa Simalungun kecuali dalam pertemuan dengan sesama 
orang Simalungun. Akupun baru tahu
saat ia 'dipaksa' memimpin doa makan keluarga kami setelah kami sedikit ribut 
siapa yang giliran memimpin doa makan malam itu. Selama ini memang bapaklah 
yang paling sering memimpin doa makan bersama di rumah kami.
Akhirnya aku mendengar mamakku berdoa dalam bahasa yang paling dia kenal, 
bahasa ibunya. Doanya cukup singkat. Tapi mamakku senang dan menikmati doanya.

Mamak juga punya kebiasaan doa lainnya. Pagi-pagi buta dia selalu menyelinap ke 
kamar kami, dan berdoa disamping kami anak-anaknya yang masih tertidur. Tidak 
ada kata-kata doa yang terdengar dari mulutnya.
Dalam keadaan mengantuk aku suka mengintipnya. Matanya tertutup dan dalam sikap 
hormat, ia berdoa dalam hati. Aku tidak tahu apa saja yang didoakannya, tapi 
aku tahu pasti mamak akan lebih banyak mendoakan kami anak-anaknya dan bapak 
kami, dengan penuh cinta. Setelah puas berdoa baru ia akan membangunkan kami, 
dengan penuh cinta juga. Tapi ia tidak pernah meminta ataupun menyuruh kami 
berdoa setelah itu. Doa tidak pernah dipaksakannya sebagai menu pagi kami. 
Mungkin karena ia berpikir doa itu sesuatu yang sakral dan tidak boleh 
dilakukan dengan paksaan, tapi dengan kesadaran bahwa doa sangat dibutuhkan. 
Doa baginya berarti mengundang dengan hormat Sang Pencipta untuk bersama-sama 
menanggung beban hidup, mengundang kuasaNya untuk melindungi dan menjaga kami
anak-anaknya dan bapak kami, serta membuat pekerjaan kami berhasil. Mamak 
menjadi model bagiku bagaimana indah dan berkuasanya sebuah doa. 

Aku baru merasakan penting dan indahnya doa untuk pertama kali setelah berumur 
19 tahun, saat masuk kuliah. Cukup lama memang untuk menyadarinya. Mamak 
sepertinya kesulitan menjelaskan dan memperkatakan InjilNya kepada kami 
anak-anaknya. Mungkin karena keterbatasan kemampuan berkomunikasi. Dia tidak 
pernah mengikuti kelas bagaimana mengajarkan iman kristen di tengah keluarga. 
Mungkin juga karena mamak menerima
pengajaran Alkitab hanya dari 40 menit kotbah minggu dan pertemuan Penelaahan 
Alkitab kaum ibu. Atau juga karena mamak yang hanya seorang ibu rumah tangga, 
sangat sibuk mengurusi anak, suami dan juga pekerjaannya di sawah dan 
ternak-ternaknya. Mamakku memang super sibuk, tidak bisa diam. Mamak jarang 
membaca Alkitab sendiri. Matanya sudah cukup rabun untuk bisa membaca sedangkan 
saat itu dia belum mempunyai
kacamata baca. Ditambah mungkin karena mamak memang pada dasarnya seorang 
wanita sederhana. Ia tidak banyak bicara untuk menyampaikan imannya dengan 
perkataan. Namun demikian mamak sangat tidak suka bila kami tidak ke gereja 
setiap minggu sejak sekolah minggu. Bahkan hingga kami dewasa saat ini mamak 
selalu ingin memastikan apakah kami sudah beribadah minggu. Mamak percaya kami, 
anak-anaknya, akan menemukan
kebenaran itu sendiri dan dia mengawalnya dengan doa dan cintanya. 

Sekalipun mamak jarang memperkatakan Injil kepada kami dengan mulutnya, namun 
ini tidak menghalangi Roh Kudus akhirnya mengenalkanku kepada Sang Maha 
Kebenaran itu, anugerah terbesar dalam hidupku. Mamakku memang bukan seorang 
yang pertama kali secara langsung mengajar tentang Sang Maha Kebenaran itu. 
Tapi aku percaya mamak telah memberikanku kesempatan untuk melihat imannya dan 
mendorongku mencari tahu akan siapa Dia yang dikenal dan disapanya setiap pagi 
dalam doa. Seseorang yang menguatkan
tangan, kaki, pinggang dan hatinya sepanjang umurnya. Teman yang dikenalnya 
setia dan dapat diandalkan untuk menjaga orang-orang yang dikasihinya dimanapun 
berada. Seseorang yang juga setia hadir menemaninya melewati masa tuanya. Kini 
aku memperbaharui janjiku yang dulu, menjadikan doa menjadi menu pagiku yang 
nikmat, sama seperti mamakku. Terima kasih mak. Kenangan tentangmu membuatku 
ingin bangkit. Aku mencintaimu. (ms180205)

(Untuk semua mamak, ibu, mommy, bunda, inang, mbok, dan semua perempuan yang 
menyayangi anaknya, kandung ataupun tidak kandung) 
===========================================
From: Jacqueline SOUISA 

Masihkan Tuhan Berbicara Pada Manusia Dan Menjawab Doa-doa? 

Seorang pemuda tengah belajar mengikuti pendalaman Alkitab yang diadakan setiap 
hari Rabu malam. Malam itu Pendeta mengajarkan tentang bagaimana cara mendengar 
dan menuruti suara Tuhan.
Pemuda ini heran "apa Tuhan masih berbicara pada manusia di zaman ini"?

Setelah kebaktian, ia dan beberapa teman pergi ke sebuah kafe dan makan serta 
minum sambil terus memperbincangkan tentang pelajaran tadi, karena belum yakin 
apakah Tuhan masih berbicara kepada manusia, di zaman sekarang ini.
Akhirnya mereka mulai pulang kerumah masing-masing.  Saat itu sudah pukul 10 
malam.

Sang pemuda, yang menyetir sendiri, mulai berdoa sambil menyetir: "Tuhan, kalau 
Engkau memang masih berbicara pada manusia pada zaman ini, bicaralah padaku.  
Aku akan mendengar, dan aku akan menuruti apa saja kataMu."

Ketika ia sudah hampir dekat rumahnya, ia merasakan suatu dorongan kuat untuk 
membeli segalon susu.  
Ia menggelengkan kepadal dan berkata dengan keras, "Tuhan, Engkaukah itu?"
Ia tidak mendengar jawaban, jadi ia mulai menyetir lagi menuju kerumahnya.
Tapi sekali lagi, muncul dorongan untuk membeli susu.
Akhirnya pemuda ini merasa bahwa ia sudah mulai seperti Samuel kecil, yang 
tidak mengenal suara Tuhan dan pergi ke nabi Eli.

"Okay, Tuhan, kalau ini memang Engkau, aku akan membeli susu."  Kelihatannya 
bukan suatu ujian penurutan yang terlalu sulit, toh ia bisa menggunakan susu 
itu setiap saat seandainya ia salah mengartikan dorongan hatinya itu.

Setelah membeli susu ia menyetir lagi, dan di suatu persimpangan jalan dekat 
dari situ, ia merasa ada dorongan yang menyuruhnya membelok, ke arah berlawanan 
dengan rumahnya. 

Ia ragu-ragu, karena rumah-rumah disitu sudah tutup semua, dan ia merasa 
orang-orang akan terganggu kalau ia mengetuk pintu rumah itu.  "Tuhan, ini 
semua benar-benar tidak benar.  Mereka sudah tidur semua, dan kalau aku 
membangunkan mereka hanya untuk memberikan susu ini, mereka akan marah padaku 
dan aku akan kelihatan seperti orang bodoh disitu."

Tapi lagi-lagi ada dorongan dihatinya untuk mengetuk pintu dan memberikan susu 
itu.  "Okay Tuhan, aku akan menurut seperti janjiku tadi, tapi, kalau aku 
mengetuk dan mereka tidak menjawab, aku akan langsung pulang."

Ia menyeberang jalan, menuju kerumah itu dan mengetuk pintu.   Seorang pria 
menjawab. "Siapa itu? apa yang kamu mau?" sambil membuka pintu.  
"Ini, aku membelikanmu susu."

Pemilik rumah itu segera menerima susu itu dan berlari ke belakang.  Ketika 
kembali, pemuda itu melihat pemilik rumah itu memeluk bayi, yang diikuti 
istrinya dari belakang.  Ketiga mereka menangis.

"Kami baru saja berdoa, kami mempunyai banyak sekali tagihan yang harus dibayar 
minggu ini dan kami kehabisan uang untuk membeli susu buat bayi kami.  Kami 
baru saja selesai berdoa meminta Tuhan untuk menunjukkan kepada kami bagaimana 
cara memperoleh susu."

Istrinya berkata: "Aku meminta Tuhan untuk mengirimkan malaikat untuk 
membawakan susu pada kami.  Apakah anda seorang malaikat?"
Pemuda ini meraih dompetnya dan memberikan semua uang didalamnya kepada pemilik 
rumah dan segera permisi pulang sambil meneteskan air mata..
Sekarang ia yakin, Tuhan masih berbicara kepada manusia dan masih menjawab
doa-doa mereka.  

Di zaman ini, mungkin, malaikat terlalu sibuk, sehingga Tuhan harus menggunakan 
manusia untuk menjalankan tugas mereka.  Atau terlalu sibukkah kita untuk 
membantu menjalankan tugas malaikat itu?

Jacqueline Souisa

[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke