From: Suzianty Herawati
INISIATOR KESELAMATAN
Pdt. Dr. Stephen Tong
Renungan ini ditranskrip dan diedit kembali dari seri khotbah Pdt. Dr. Stephen
Tong di Mimbar Gereja Reformed Injili Indonesia di Jakarta
Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak
percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka
tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak
ada yang memberitakannya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakannya, jika
mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis, "Betapa indahnya kedatangan mereka
yang membawa kabar baik!" (Rm. 10:14-15). Terjemahan lain untuk ayat 15,
"Bagaimanakah mereka bisa memberitakan Injil itu, jikalau mereka tidak diutus?
Seperti yang ditulis dalam Kitab Suci, alangkah indahnya jejak mereka yang
membawa kabar baik ke mana-mana." Dalam bagian ini, Paulus langsung mengajukan
pertanyaan yang mengaitkan lima hal berikut ini. Saya sangat tertarik, karena
teologia Reformed dipaparkan dengan luar biasa jelas di sini. Paulus
mengatakan, orang yang menyeru nama Tuhan, akan diselamatkan, itu benar. Tetapi
bagaimana seseorang bisa menyeru nama Tuhan kalau dia tidak beriman? Tidak
mungkin! Di sini Paulus mengaitkan hal berseru dengan iman. Pengakuan mulut
yang tidak didasari iman di dalam hati dianggap kosong adanya. Kaitan ini tidak
boleh dipisahkan. Orang yang berdoa kepada Tuhan, orang yang berseru dalam nama
Tuhan, adalah orang yang beriman dalam hatinya kepada Tuhan. Kalau demikian
apakah
berarti sudah selesai? Paulus tidak berhenti sampai di sini saja. Dia
mengaitkan iman dengan pendengaran, pendengaran dengan pemberitaan, dan
pemberitaan dengan pengutusan. Jika di dalam kelima hal ini, yang saling
terkait dalam ayat 14 dan 15, kita melihat dua cara untuk mengerti peristiwa
pengalaman pribadi (personal religious experience) merupakan hal yang berbeda
dengan disiplin akademis yang mungkin diterima di universitas.
Pengalaman agamawi secara pribadi kadang datangnya lambat sekali, pada
kairos yang ditetapkan Allah, pada momen di mana Tuhan memberikan pencerahan
anugerah surgawi, barulah kita mengalami satu pengalaman agamawi secara
pribadi.
Ada orang sampai berumur 80 tahun, baru mendadak beriman kepada Yesus Kristus.
Ada yang sampai umur 60 tahun, baru ia sadar bahwa dirinya memerlukan Tuhan.
Paulus sendiri mendapat pengalaman agamawinya yang begitu drastis pada saat dia
membawa surat mandat untuk memenjarakan orang-orang Kristen, untuk membelenggu
hamba-hamba Tuhan, untuk menganiaya gereja Tuhan. Di tengah perjalanan menuju
Damaskus, di situlah pengalaman agamawi pribadi itu ia alami (Kis. 9:1-19).
Itulah yang membuatnya lebih mengerti akan teori anugerah dibandingkan dengan
rasul-rasul lainnya. Dia tahu dirinya adalah seorang penghujat, penganiaya,
seorang yang memberikan kesengsaraan kepada orang-orang Kristen. Orang seperti
Paulus masih bisa diampunikah? Kalau bisa, ini berarti bukan berdasarkan
jasanya, kebolehan, kualifikasi dan syarat-syarat yang ada pada dirinya,
sehingga ia boleh diterima oleh Tuhan untuk dipakai khusus memberitakan doktrin
pilihan: bukan aku yang memilih Tuhan, tetapi Tuhanlah yang memilih aku.
Saya tidak tahu apakah Anda sudah mempunyai pengalaman seperti ini,
sehingga kamu mengalami perubahan yang begitu besar? Pertemuan pribadi dengan
Tuhan terjadi pada momen-momen yang krusial seperti ini, sehingga mengubah
orang secara total. Sehingga orang itu mempunyai arah yang baru, merendahkan
diri, dan berseru, "Oh, Tuhan, aku membutuhkan Engkau! Kaulah pemilik hidupku,
aku berjanji pada-Mu." Pembentukan karakter sebenarnya sangat tergantung pada
momen-momen seperti ini, di mana dalam perjalanan hidup, manusia sebagai
musafir akan kembali kepada Tuhan. Mungkin pada waktu kita patah hati, mungkin
pada waktu kita rugi dalam dagang, mungkin pada waktu kita dikhianati oleh
orang-orang yang paling kau kasihi, mungkin pada waktu kau mendapatkan penyakit
kanker, atau pada saat mengalami kecelakaan yang sangat besar, hampir mati.
Saat-saat seperti itu menyebabkan kau menengadah ke atas dan mendapatkan satu
fase yang baru dalam hidupmu.
Kalau saya boleh membagi, hanya ada dua macam agama: agama yang
Theosentris dan agama yang Antroposentris. Hanya ada dua macam Injil: Injil
yang Antroposentris dan Injil yang Theosentris. Hanya ada dua macam teologi:
teologi yang Theosentris dan teologi yang Antroposentris. Dan hanya dua macam
gereja: gereja Theosentris dan gereja Antroposentris.
Apakah perbedaan antara istilah Theosentris dan Antroposentris? Antropo
dalam bahasa Yunani berarti manusia. Dan Theos dalam bahasa Yunani berarti
Tuhan. Jika di dalam satu gereja, manusia yang menjadi utama, manusia yang
diutamakan, yang dijunjung tinggi, itulah yang disebut gereja Antroposentris.
Tetapi kalau gereja itu adalah gereja di mana Tuhanlah yang memimpin,
mengontrol, Tuhan melalui Roh Kudus-Nya yang memberikan cahaya, Tuhanlah dengan
kedaulatan-Nya bertahta di atas tahta-Nya, dan yang memberikan kekuatan, supaya
semuanya takluk kepada-Nya, gereja itu adalah gereja Theosentris. Demikianlah
teologi Reformed terus-menerus menekankan kedaulatan Tuhan (the sovereignty of
God). Allah tidak perlu minta-minta kita senang kepada-Nya, Allah memerintah
dan bertahta, Dialah Raja di atas segala raja. Sudah seharusnya kita takluk
kepada-Nya dengan segala kerendahan hati, dan mengaku kita tidak layak menerima
anugerah-Nya.
Sekarang kita kembali kepada masalah, di dalam hal pertobatan, mengenal
Tuhan, dan menjadi orang Kristen, kaukah yang mencari Tuhan ataukah Tuhan yang
mencari kamu? Theosentris ataukan Antroposentris? Dalam hal manusia mau
beriman, apakah karena mau, sehingga Dia diimani oleh kita, ataukah Dia yang
mau, maka Dia mengaruniakan iman kepada kita? Di sinilah perbedaan teologi
Antroposentris dengan teologi Theosentris. Kita selalu mendengar perkataan,
"Orang ini cinta Tuhan, orang ini begitu melayani Tuhan, orang ini mempunyai
iman yang besar, puji Tuhan!" Dalam kalimat ini ada mengandung kekacauan: orang
itu beriman kepada Tuhan, orang ini mengasihi Tuhan, dialah yang menjadi pusat.
Tetapi karena merasa kurang beres, maka ditambah kalimat: puji Tuhan. Maksudnya
ada
anugerah yang membuat dia bisa mencintai Tuhan, jadi perlulah kita memuji
Tuhan.
Itulah sebabnya banyak orang Armenian, yang hidup dalam konsep teologi yang
kacau. Pada saat mereka berdoa dengan sungguh-sungguh, maka muncullah
kalimat-kalimat yang membuat mereka mau tidak mau membuat mereka mengerti akan
anugerah Allah. Demikian juga dengan orang yang salah mengerti teologi
Reformed, pada waktu betul-betul didorong untuk mengabarkan Injil, mereka mulai
mempunyai api seperti orang Armenian. Teologi Reformed mengatakan, cinta Allah,
anugerah Allah, keselamatan Allah dan kedaulatan Allah-lah yang memanggil dan
menunggu orang pulang. Teologi Armenian mengatakan, saya mau pulang, saya mau
bertobat, saya beriman, sayalah yang berinisiatif, saya yang menyeru nama Tuhan.
Di sini, Paulus mau memutar seluruh konsep umum yang salah, supaya
manusia kembali ke tahta Tuhan, mengerti akan kedaulatan Tuhan Allah, dengan
cara mengaitkan kelima hal ini dengan menyeru nama Tuhan, maka kamu
diselamatkan. Bagaimana kamu bisa menyeru nama Tuhan? Karena kamu beriman, maka
menyeru nama Tuhan. Kamu menyeru, karena kamu mempunyai iman, tetap
antroposentis, bukan? Saya menyeru nama Tuhan, karena saya beriman kepada Tuhan.
Seorang teolog berdebat dengan saya, dia menyebut 270 kali istilah
pistos, yaitu: istilah iman yang dipakai di dalam Alkitab PB, hampir semuanya
adalah inisiatif manusia. Saya langsung memberikan ayat yang berkata iman pun
adalah anugerah Tuhan. Di dalam Ef. 2:8-9 ("Sebab karena kasih karunia kamu
diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu
bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri."), kita membaca
bahwa iman dari manusia adalah anugerah dari Tuhan. Orang menganggap bahwa iman
adalah satu kooperasi atau kongsi antara manusia sebagai pemegang saham
anugerah, maka kita diselamatkan. Ayat itu langsung disusul dengan kalimat,
bahwa iman bukan berasal dari kita, itu adalah anugerah Allah.
Dalam Ibr. 12:1-2 ("Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan
yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang
begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang
diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada
Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada
kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti
sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta
Allah."), yang dalam terjemahan lain banyak mengatakan, "yang mengadakan, yang
memulai, yang memimpin atau yang menciptakan iman dan yang menyempurnakan,
menyelesaikan perjalanan iman (the Creator and Accomplisher of our faith is
Jesus Christ). Jadi iman diberikan diberikan oleh Tuhan, dan iman itu
diciptakan
oleh Yesus Kristus.
Dari titik permulaan sampai titik penyempurnaan iman adalah pekerjaan
Kristus Yesus. Bersandar dan menengadahlah kepada-Nya, yang mengadakan dan yang
menggenapkan iman. Jadi tidak ada usaha manusia. Yang ada hanyalah sola gratia,
total sepenuhnya hanya oleh anugerah. Hanya bersandar akan anugerah Tuhan,
sehingga saya bisa datang kepada-Nya. Agustinus berkata, "Tuhan, karena aku
berdoa, Kau memberikan anugerah kepadaku. Tetapi Tuhan, bagaimana aku bisa
berdoa, kalau bukan anugerah-Mu yang mengarahkan, pasti doaku akan salah. Kalau
bukan Kau yang memberikan anugerah kepadaku, menggerakkanku, akupun tidak
mungkin bisa berdoa. Hingga aku beroleh anugerah, atau anugerah diberikan
terlebih dahulu, dan anugerah itulah yang menggerakkanku berdoa. Aku berdoa
untuk meminta anugerahkah, atau anugerah yang membuatku bisa meminta kepada
Tuhan? Doakah yang mengakibatkan anugerah atau anugerah yang mengakibatkan
doa?"
Akhirnya Agustinus mengatakan, "Siapakah aku? Jikalau Tuhan tidak memberikan
anugerah, akupun tidak mungkin mengenal-Nya, memilih-Nya." Demikian juga dengan
Charles Spurgeon, berkata, "Jikalah aku bisa memilih Kristus, itu sudah
merupakan bukti bahwa Dialah yang terlebih dahulu memilihku, dan memberikan
benih yang benar di dalam hatiku, sehingga aku bisa memilih dengan tidak salah:
Dia adalah Tuhanku." Jangankan memilih Tuhan, untuk memilih semangka pun tidak
gampang, memilih durian pun sering salah pilih, memilih jodoh banyak yang salah
pilih. Mana mungkin benar dalam memilih Tuhan? Tuhan itu tidak nampak, dan kau
bisa memilih Tuhan yang sejati? Jadi jelas ini adalah karena Tuhan memilihmu.
Inilah teologi Reformed, teologi kedaulatan Allah, teologi Theosentris. Itulah
sebabnya Kristus berkata, "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang
memilih kamu, dan mengutus kamu untuk menghasilkan buah yang tetap" (Yoh.
15:16).
Setelah Paulus berkata, "Yang menyeru nama Tuhan, akan diselamatkan."
Paulus melanjutkan, "Bagaimana kau bisa beriman, kalau kau tidak mendengar?"
Orang yang beriman bukan karena dia sendiri yang keluar dan berkata, "Saya mau
percaya ini, atau percaya itu." Tidak, melainkan karena firman Allah yang ada
di dalam hatinya, memungkinkan dia mempunyai arah yang benar, benih yang
beriman kepada Tuhan. Itulah sebabnya, pada ayat 17, prinsip untuk segala zaman
muncul di dalam kalimat "karena iman datang dari pendengaran." Tanpa mendengar
firman, tidak ada bekal bagi seseorang untuk beriman. Kalau firman sudah
ditanamkan dalam hatinya, firman itu akan bertumbuh menjadi iman, yaitu iman
kepada firman, iman yang berdasarkan firman, iman yang bertanggung jawab
berdiri pada pangkalan dan inti firman itu. Siapa bisa menyeru nama Tuhan?
Kecuali dia beriman. Siapa bisa beriman? Mereka yang mendengar. Siapa yang bisa
mendengar kalau tidak ada yang memberitakannya? Di sinilah posisi manusia
bergeser sedikit demi sedikit.
Sekarang saya akan mengajukan pertanyaan penting: sewaktu engkau mendengar
khotbah yang amat penting, hari itu, yang memilih mengkhotbahkan khotbah itu
adalah kamu atau Tuhan? Kamu tidak bisa memilih. Mengapa hari itu kau
"kebetulan" datang dan mendengarkan khotbah itu, lalu dalam khotbah itu
terdapat kalimat yang menggerakkan hatimu, sehingga dalam kesempatan itu kau
menjadi orang Kristen? Pikirkan lagi, ini bukan kebetulan. Jadi untuk hal-hal
tertentu, yang membuat kau diselamatkan, ditantang, digugah, dibangunkan
rohanimu, diutus, dan sebagainya, sebenarnya merupakan rencana Allah di dalam
hidupmu.
Tahun 1957, saya tidak mau pergi ke satu retreat, tetapi mama saya
berkata, "Pergilah, ini kebaktian yang baik. Pengkhotbahnya mama kenal, kamu
harus pergi mendengar." Saya pergi dengan perasaan jengkel, tidak senang
sekali.
Tiga saudara membawa satu kopor, pergi ke kota Malang, ikut retreat di sana.
Sudah terlambat 1 hari. Waktu kami sampai di situ, ditanya, "Mengapa terlambat
sati hari?" Hati saya berkata, "Syukur, sudah bagus kalau saya mau datang.
Karena saya memang tidak ingin datang." Justru di dalam kebaktian yang saya
tidak inginkan hadir, di situlah Tuhan bekerja. Bukan rencanaku. Mengapa saya
bisa diselamatkan? Karena anugerah Allah. Mengapa kau menjadi orang Kristen?
Karena anugerah Allah. Mengapa kita bisa bertumbuh rohani? Karena kedaulatan
Allah. Mengapa iman kita bisa dipulihkan? Karena anugerah Allah. Maka
selanjutnya, jikalau tidak ada yang mengabarkan, siapa bisa mendengar firman
Tuhan? Kalau demikian, Theosentrisnya belum tuntas. Hamba-hamba Tuhan bisa
sombong: "kalau bukan saya saya mengabarkan Injil, kamu mana bisa mendengarkan
Injil dan bisa diselamatkan?" Berarti posisi pendeta penting sekali, bukan?
Sekarang Paulus menggeser posisi pendeta, katanya, "Siapa bisa
mengabarkan, jikalau Tuhan tidak mengutusnya?" Maksudnya, gereja yang sejati,
yang sungguh-sungguh Theosentris, menyadari akhirnya pendeta pun tidak ada
kedudukannya. Siapa yang mempunyai kedudukan? Tuhan yang mengutus. Jikalau
Tuhan tidak mengutus, tidak ada seorang pun berhak menjadi hamba Tuhan. Jikalau
Tuhan memanggil dan mengutus, tidak ada satu orang pun yang bisa menahan
panggilan dan utusan Tuhan. Itulah sebabnya setiap manusia yang studi teologi,
dan mereka yang sudah menyerahkan diri karena panggilan Tuhan untuk menjadi
hamba Tuhan, biarlah kita kembali kepada tahta Tuhan, tidak lagi melihat orang
lain, pendeta, dosen, manusia, melainkan melihat kepada Tuhan yang memanggil
dan mengutus. Jikalau yang memanggilmu adalah organisasi, kau hanya setia pada
organisasi, itu sudah cukup. Jikalau yang memanggilmu adalah uang, kau setia
pada uang, itu sudah cukup. Jikalau yang memanggilmu adalah manusia, kau setia
kepada manusia, itu sudah cukup. Tetapi jika yang memanggilmu adalah Tuhan,
selain kamu bertanggung jawab kepada atasanmu, dosenmu, hamba-hamba Tuhan
lainnya, dan bosmu di dunia, jangan lupa kau baru setia kepada Tuhan yang
memanggilmu. Jikalau tidak ada yang
diutus, siapakah yang bisa mengabarkan Injil? Di sini kita melihat, seluruhnya
diputar kembali kepada Tuhan sebagai pusatnya. Dari tahta-Nya, dari
kedudukan-Nya, dari tempat maha tinggi, Dia mengutus, memanggil, dan memilih
orang menjadi hamba-Nya. Paulus mengerti dengan jelas bahwa dirinya bisa
menjadi hamba Tuhan bukan karena tekadnya, rencananya, tetapi karena panggilan
Tuhan tiba atasnya, sehingga ia tidak punya jalan untuk menghindarinya. Tuhan
memanggil orang seperti Petrus yang fasih lidah, Tuhan juga memanggil seorang
seperti Thomas yang penuh dengan keraguan, skeptik, takut ke sana sini. Tuhan
juga memanggil orang seperti Yohanes, yang seperti guntur, yang lekas marah. Ia
juga memanggil orang seperti Paulus, yang kalau tidak cocok dengan orang, ia
langsung hantam. Tuhan juga panggil orang seperti Timotius, Bartolomeus, dan
lain-lain. Dalam Alkitab, terdapat begitu banyak orang yang dipanggil oleh
Tuhan, dengan karakter yang berbeda-beda, semuanya ini menunjukkan kedaulatan
Tuhan Allah yang maha besar.
Di dalam satu kongres misionari, setelah semua orang mendengar khotbah,
banyak orang menyerahkan diri. Hari itu panggilan tiba kepada seorang anak
kecil yang baru berusia 10 tahun. Pada saat waktu persembahan dijalankan oleh
para majelis, dengan air mata berlinang-linang, anak kecil itu meminta kepada
majelis yang membawa persembahan, "Tolong letakkan piring persembahan ini di
lantai."
Majelis itu tidak mengerti maksud anak kecil ini, tetapi melihat mimik muka
anak ini yang serius, dia merasa ada gerakan Tuhan, maka ia meletakkan piring
persembahan di lantai. Anak kecil itu kemudian berjalan dan naik ke atas piring
itu, dan berkata, "Tuhan Yesus, saya anak kecil, saya tidak punya uang untuk
mendukung misi, saya tidak punya harta untuk dikirim ke luar negeri, saya mau
menyerahkan diriku. Kirimlah saya, kalau saya besar nanti." Anak itu menjadi
catatan dalam sejarah dunia, dialah Robert Moffat, yang Tuhan kirim ke Afrika
untuk mengabarkan Injil kepada ribuan orang di sana. Inilah jiwa seorang yang
mau diutus Tuhan. Tuhan memanggil dan Tuhan mengirim. Kadang-kadang kepada
seorang dewasa, kadang juga pada saat seorang masih kecil dan remaja.
Waktu saya berumur 12 tahun, utusan Tuhan ini datang kepadaku, lima
tahun berikut nya, saya semakin melupakan hal itu, saya menjadi seorang ateis,
revolusionis, komunis, dan seorang yang menerima pemikiran dialektika
Materialisme dari Karl Marx. Sampai waktu saya berumur 17 tahun, panggilan itu
datang lagi pada diriku, dan saya menyerahkan diri kepada-Nya. Peristiwa kedua
yang ingin saya ceritakan adalah seorang yang bernama David Livingstone sewaktu
ia berkhotbah di London. Orang melihat tangannya sudah rusak, barulah mereka
mengetahui, itu karena dia pergi melayani di Afrika. Suatu waktu, ketika di
tengah perjalanan pelayanan, ia diterkam oleh singa. Waktu dia akan meninggal
dunia, ia berkata, "Aku tidak mau dikuburkan di Inggris, aku mau dikuburkan di
Afrika." Mereka menolaknya, karena dia seorang yang agung, yang begitu dihargai
seluruh kerajaan. Meskipun dia seorang misionari, hamba Tuhan, tetapi dia
dikagumi oleh orang-orang penting di istana Buckingham, mana mungkin dikuburkan
di sana? Maka dia berkata, "Baiklah, kalau aku mati, bawalah tubuhku ke London,
tetapi jantungku akan kutinggalkan di Afrika. Karena aku menjalankan kehendak
Tuhan, aku mengabarkan Injil di sini, aku ingin jantungku dikuburkan di Afrika."
Maka mereka melangsungkan dua kali penguburan, menguburkan jantungnya
di Afrika dan menguburkan tubuhnya di London. Waktu jasadnya ditaruh di satu
tempat, begitu banyak orang yang datang melayat untuk mengenang dia. Pada
upacara penguburannya, terjadi satu hal yang luar biasa, sewaktu peti jenazah
Livingstone diarak di jalan-jalan besar di London, ada seorang melihat seorang
tua yang usianya lebih 90 tahun, berjalan sambil memegang peti jenazah.
Kepalanya tertunduk, dan ia terus menangis. Mereka tidak tahu, siapakah orang
tua ini. Apa hubungan dia dengan David Livingstone? Mereka lalu menghampiri
dia, dan bertanya, "Sebenarnya, siapakah bapak tua? Mengapa engkau begitu sedih
sekali? Mengapa kau terus menangis?" Kalimat yang keluar dari mulut orang tua
itu sangat mengejutkan semua orang. "Saya bukan familinya, bukan siapa-siapa,
tetapi saya adalah seseorang yang bersama dengan Livingstone pada hari yang
sama dipanggil oleh Tuhan menjadi hamba-Nya. Hari itu dia menyerahkan diri,
tetapi saya melarikan diri. Setelah puluhan tahun, saya lari dari panggilan
Tuhan, saya tidak setia kepada-Nya, saya tidak mengerjakan apa yang Tuhan mau
saya kerjakan.
Sedangkan Livingstone dengan setia mengerjakannya. Dia menjadi hamba Tuhan
sampai mati. Waktu saya boleh memegang peti jenazahnya, saya terharu, saya baru
sadar, saya telah menjalani hidup saya dengan sia-sia, saya menangisi diri
saya.
Sekarang saya sudah terlalu tua. Saya menyesal, dan terus akan menyesal
selama-lamanya."
Adakah engkau juga orang yang telah dipanggil Tuhan untuk melayani-Nya?
Saya mengharapkan dari Indonesia, paling sedikit ada 500.000 orang
pemuda-pemudi yang terbaik, siap untuk dipakai oleh Tuhan menjadi hamba-Nya.
Saya tidak tahu di mana orang-orang itu? Saya hanya minta semua pemuda-pemudi
untuk serius berdoa di hadapan Tuhan. Biarlah kita takluk di bawah
kedaulatan-Nya. Melalui dua kesaksian hamba Tuhan ini: Moffat dan Livingstone
dan kawannya yang tidak setia, bisa menggugah dan membawa engkau kembali taat
kepada-Nya. Dan berkata, "Tuhan, apa yang Engkau mau, aku mau taat kepada-Mu."
Kiranya Tuhan memimpin kita dan memberkati kita semua. Amin.
Sumber: Majalah MOMENTUM No. 27 - Agustus 1995
[Non-text portions of this message have been removed]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]
Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/