From: Suzianty Herawati 

Dikutip dari buku: Siapa Yang Membuat Alkitab?
Mengenai Penyelesaian dan Kewibawaan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
Oleh: Jakob Van Bruggen
Alih Bahasa oleh: J.P.D. Groen
Diterbitkan Oleh: Momentum Christian Literature atas kerjasama dengan LITINDO
Cetakan pertama, Agustus 2002.
__________________________________________________________________________
Halaman 85-97

5. Wahyu dan Kritik

Bagi banyak orang di abad ke-20, kewibawaan kanon bukan lagi titik tolak dalam 
pendekatan Alkitab mereka. Kitab-kitab Suci diterima hanya sejauh kitab-kitab 
itu dapat bertahan terhadap uji coba kritik kita, atau jika sesuai dengan 
panjang gelombang pengalaman kita sendiri. Pergaulan bebas dengan Alkitab ini 
tampaknya disahkan oleh apa yang disebut ilmu pengetahuan Alkitab modern 
sejati. Karena banyak kritik terhadap Kitabkitab Suci dilontarkan dengan 
kewibawaan ilmu pengetahuan, maka kita seakan-akan menjadi kurang ilmiah kalau 
bersikap kritis terhadap kritik itu. Tetapi justru pada pokok itu diperlukan 
sedikit perenungan. Bolehkah kita sungguh-sungguh menganggap sikap-sikap bebas 
terhadap Kitab-kitab Suci dan kanon yang diterima pada masa kini, sebagai hasil 
wawasan ilmiah yang lebih baik dan membebaskan orang dari kepercayaan kepada 
Alkitab secara lugu dan tanpa pertimbangan masak? Atau adakah perspektif yang 
lain?

Bab ini tidak membahas berbagai pertanyaan konkret yang diajukan oleh para 
penafsir modern, dan yang juga meminta jawaban konkret. Yang menjadi pokok 
bahasan pada halaman-halaman berikut ialah suasana dimana diskusi itu akan 
dilakukan. Kalau sikap bebas dan kritis terhadap Kitab-kitab Suci merupakan 
hasil ilmu pengetahuan yang sejati, berdasarkan fakta-fakta, dan bebas dari 
praanggapan, maka semua orang yang mau berdiskusi dengan mereka yang mendekati 
Alkitab secara kritis itu, sudah lebih dulu dicap sebagai manusia yang tidak 
mengikuti jamannya dan mencoba tetap mempertahankan dengan keras kepala 
pendiriannya yang kuno dan tidak ilmiah. Maka kritik terhadap kritik Alkitab 
tampaknya sesuai bagi orang-orang yang lahir terlambat dan yang lebih sesuai 
dengan periode sebelum abad ke-18 atau ke-19. Dengan cara ini, iklim untuk 
berdiskusi dengan sungguh-sungguh menjadi rusak. Kita perlu mengusut secara 
historis apakah kritik terhadap kanon benar-benar baru muncul oleh ilmu 
pengetahuan modern. Atau apakah kritik ini barangkali jauh lebih tua dan hanya 
penampilannya yang baru di jaman kita? Jika yang terakhir ini benar, maka 
meskipun kita tidak dapat melepaskan diri dari diskusi dan penelitian lanjut, 
tetapi kita bebas dari anggapan membingungkan bahwa kritik Alkitab adalah 
modern dan ilmiah, sedangkan kepercayaan pada Alkitab adalah lugu dan tanpa 
pertimbangan masak. Peninjauan kembali berikut ini terdiri dari tiga bagian. 
Mula-mula kita memperhatikan periode yang mendahului penetapan tertulis wahyu 
dan kononisasinya. Kemudian kita memperhatikan periode dimana wahyu berfungsi 
dalam bentuk tertulis sebagai kanon. Akhirnya, kita memperhatikan potret diri 
dari ilmu pengetahuan Alkitab yang modern dan kritis.             
_____________________________________________________________________

1. ASAL DAN BENTUK KRITIK                                                       
                              Kritik terhadap wahyu Allah tidak baru. Ia sama 
tuanya dengan taman Firdaus, jadi ia berasal dari jaman serangan pertama Iblis 
terhadap umat manusia ciptaan Allah. Pertanyaan pertama ular kepada perempuan 
itu, berbunyi, "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan 
kamu makan buahnya, bukan?"                                                     
      Pertanyaan ini mengandung nada kritik terhadap Allah sendiri. Kritik 
terhadap Allah itu langsung menghasilkan kritik terhadap wahyu-Nya: "Sekali 
-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu 
memakannya matamu akan terbuka dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu 
tentang yang baik dan yang jahat" (Kej. 3:1-5). Permulaan itu menandai 
kelanjutan yang berlangsung selama berabad-abad.

Dalam kebenciannya kepada karya Allah dan kasih Allah kepada manusia, Iblis 
mengerahkan berbagai sarana ke dalam peperangan. Misalnya senjata berupa ajaran 
sesat, atau penduniawian, atau pematahan semangat. Namun senjata-senjata 
tersebut seringkali diasah dengan batu asahan yang sama, yakni kritik terhadap 
wahyu Allah. Dengan kritik itu, segala sesuatu yang lain dirongrong, karena 
siapakah yang berani membangun hidupnya di atas dasar yang goyah dan meragukan? 
Dan bagaimana sebuah Alkitab yang diserang masih bisa menjadi batu penjuru bagi 
etika Kristen?                                                                  
   Dalam perjalanan sejarah, kita melihat bagaimana wahyu Allah selalu diiringi 
oleh kritik yang menggerogotinya. Ketika TUHAN melalui Musa membebaskan sebuah 
bangsa dan memberi hukum-hukum untuk kehidupan, kewibawaan hukum itu dirongrong 
oleh gerutuan, "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? 
Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" (Bil. 12:2). Ketika TUHAN 
memberi nasihat keras melalui Yeremia untuk menyelamatkan bangsa-Nya dari 
kebinasaan, dan menyuruh supaya nubuat-nubuat itu dicatat untuk raja Yoyakim, 
kita melihat bahwa sesudah pembacaan nubuat itu, raja merobek-robek gulungan 
tulisan itu halaman demi halaman dan melemparkannya ke dalam perapian, sebagai 
benda yang tidak berharga (Yer. 36:23). Ketika orang banyak kagum melihat 
keunggulan Yesus atas roh-roh jahat, para ahli Taurat menuduh Yesus telah 
mengadakan perjanjian dengan penghulu setan, Beelzebul (Mrk. 3:22). Yesus 
Kristus dengan jelas menunjukkan asal dari penolakan dan kritik yang tiada 
habisnya itu. Pada waktu orang mengecam wahyu yang Ia terima dari Bapa, dan 
menyebut Dia kerasukan atau bersimpati terhadap bangsa Samaria (Yoh. 8:48). 
Yesus menjawab orang-orang Yahudi yang menghakimi-Nya itu, "Apakah sebabnya 
kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. 
Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melalukan keinginan-keinginan 
bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam 
kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia 
berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala 
dusta" (Yoh. 8:43-44). Teguran yang tajam dan keras itu diucapkan kepada 
orang-orang yang mengira bahwa mereka berdiri dalam tradisi iman.

Firman itu memperingatkan kita juga supaya menyadari bahwa pengakuan terhadap 
wahyu Allah bukan hal yang otomatis bagi siapa pun. Allah memberikan wahyu-Nya 
di dunia yang penuh asap mesiu peperangan. Dan gas beracun dapat memabukkan 
kita sehingga kita tidak mendengar dengan sungguh-sungguh atau tidak mau 
mendengar apa yang Allah katakan. Sejak saat Allah memberikan wahyu-Nya, 
terdapat gerakan menentang yang hebat untuk menutupi wahyu itu dengan cara apa 
pun.                                                                Mengenai 
bentuk-bentuk kritik itu, setidak-tidaknya kita dapat membedakannya dalam 
beberapa bentuk utama.

a. Kritik terhadap asal-usul wahyu. Pada saat TUHAN melakukan 
perbuatan-perbuatan-Nya yang besar di dunia ini, tidak mudah bagi manusia untuk 
mengingkari kenyataan itu. Firaun tak dapat mengabaikan keajaiban yang 
dilakukan Musa. Tetapi raja itu berusaha menganggap tanda-tanda itu bukan 
berasal dari TUHAN, tetapi dari keahlian sihir yang dimiliki Musa. Bukankah 
para tukang sihirnya sendiri mampu melakukan hal yang sama? Akhirnya jalan 
pelarian ini ditutup, karena pada tulah yang ketiga para tukang sihir Firaun 
tidak berdaya. Dan dengan terkejut mereka mengatakan, "Inilah tangan Allah!" 
(Kel. 8:18- 19). Usaha untuk menghindari kuasa wahyu dengan berkata bahwa 
asal-usulnya bukan pada Allah, juga kita lihat ketika mukjizat-mukjizat yang 
dilakukan Yesus dianggap berasal dari Iblis (Beelzebul), padahal alasan seperti 
itu tidak mereka kemukakan ketika ada orang lain yang mengusir roh jahat (Luk. 
11:18-20). Lalu Yesus mengingatkan orang-orang Yahudi bahwa sudah tiba waktunya 
bagi mereka untuk melihat  "tangan Allah" (Luk. 11:20).

b. Kritik terhadap realita wahyu itu. Apabila antara perbuatan Allah dan masa 
dimana kita hidup telah berlalu beberapa waktu, lebih mudah untuk menyatakan 
bahwa mungkin semua mukjizat itu tidak pernah terjadi. Peristiwa besar itu 
menjadi sebuah cerita dan cerita itu tidak dipercaya, sehingga realita sejarah 
di mana Allah menyatakan diri-Nya diragukan. Demikianlah Sanherib dengan 
kata-kata penghinaan yang ditujukan kepada penduduk Yerusalem, sama sekali 
meremehkan fakta bahwa TUHAN benar-benar telah memimpin bangsa-Nya keluar dari 
Mesir (Yes. 36-37). Dan saat gempa bumi pada hari Paskah itu telah berlalu, dan 
para penjaga kuburan yang tadinya lari tunggang langgang tak lagi ketakutan, 
Sanhedrin menyebarkan berita dusta bahwa jenazah Yesus dicuri oleh 
murid-murid-Nya. Dengan demikian, mereka hendak mengingkari kenyataan 
kebangkitan Yesus dan tidak memperhitungkan wahyu mengenai hal itu (Mat. 
28:11-15). Dan sudah dalam suratnya yang kedua, rasul Petrus harus melawan 
orang-orang yang menganggap para rasul mempercayai dongeng-dongeng (2Pet. 1:16).

c. Kritik terhadap kewibawaan wahyu. Meskipun seandainya orang-orang tidak 
mempersoalkan asal dan realita wahyu, tetapi wakyu itu tetap dapat dirongrong. 
Sesuai sifatnya, wahyu Allah menuntut pengakuan, kepercayaan dan ketaatan 
karena ALLAH yang memberikan wahyu kepada manusia ciptaan- Nya. Namun 
kewibawaan itu dapat dilemahkan. Hal itu terjadi ketika nabi-nabi palsu berdiri 
di samping nabi sejati dan meminta perhatian dan penghormatan yang paling 
berbeda untuk pemberitaan yang berbeda. Demikianlah nabi Hananya merongrong 
perkataan Yeremia dan mematahkannya, diiringi katakata,

"Beginilah firman TUHAN: Dalam dua tahun ini begitu jugalah Aku akan mematahkan 
kuk Nebukadnezar, raja Babel itu, dari pada tengkuk segala bangsa" (Yer. 
28:11). Dan Zedikia bin Kenaana, menampar pipi Mikha sesudah nabi itu 
menyampaikan pesannya yang mengandung malapetaka kepada Ahab, dan berkata: 
"Mana boleh Roh TUHAN pindah daripadaku untuk berbicara kepadamu?" 
(1Raj.22:24). Juga rasul Paulus harus melawan orang-orang yang menyamar sebagai 
rasul, sebagai malaikat terang, yang ingin memudarkan wahyu yang diberikan 
Tuhan kepada Paulus dan mengurangi rasa hormat bagi perkataannya (2Kor. 
11:13-15; 12:11-21). Kritik atas wahyu Allah dapat kita lihat juga di sekitar 
wahyu yang dituangkan dalam tulisan, yakni Alkitab. Namun kritik Alkitab 
bukanlah awalnya. Yang lebih tua dari kritik Alkitab ialah kritik terhadap 
wahyu, yang kemudian melahirkan kritik terhadap Alkitab.

2. KRITIK TERHADAP KITAB SUCI                                                   
                         Kritik terhadap Perjanjian Baru dalam abad-abad 
pertama mempunyai prasejarah dalam kritik terhadap Perjanjian Lama dalam 
abad-abad sebelum Masehi. Pertama-tama, kaum kafir yang sanagt membenci bangsa 
Yahudi, mengkritik isi kitab yang dijadikan pedoman hidup bangsa itu. Menurut 
kaum kafir, "Alkitab" Yahudi adalah dokumen yang mencatat usaha mempertahankan 
diri, buah pikiran beberapa orang kusta yang dihina dan diusir dari Mesir 
(demikianlah kata Tacitus, orang kafir pencatat sejarah di awal abad kedua 
Masehi). Orang kafir khususnya mengecam hukum-hukum mengenai makanan orang 
Yahudi, dan cara hidup mereka yang memisahkan diri. Penulis Yahudi Josephus, 
yang lebih tua daripada Tacitus yang hidup sejaman dengannya, berusaha 
membantah kritik itu dalam tulisannya yang menentang Apion, dan juga dalam 
bukunya yang besar mengenai jaman-jaman lampau bangsa Yahudi, yang nadanya 
lebih positif.                                                                  
Tetapi Kitab-kitab Suci Musa dan para nabi tidak hanya diserang oleh pihak 
kafir. Ada juga kesulitan mengenai jumlah Kitab-kitab Suci yang ditimbulkan 
oleh pihak lain. Bangsa Samaria dengan keras kepala menolak mengakui tulisan 
Daud, Salomo dan semua nabi; mereka menganggap memiliki wahyu Allah dalam 
bentuk yang lebih murni karena hanya mengakui kelima Kitab Musa dan karena 
lebih mementingkan Sikhem "dari jaman Musa" daripada Yerusalem "dari jaman 
Daud" (bnd. Yoh. 4:20). Di pihak lain, ada beberapa kalangan apokaliptis yang 
di samping Hukum Taurat dan para nabi, menjunjung tinggi pengungkapan rahasia 
dari Henokh atau Barukh, dan menganggapnya sebagai firman Allah. Jadi, sejak 
sebelum Masehi isi dan cakupan Perjanjian Lama sudah menjadi sasaran tekanan 
dan kritik.

Apa yang terjadi pada awal Masehi dengan Perjanjian Baru, sebetulnya berjalan 
sejajar dengan apa yang terjadi dengan Perjanjian Lama. Di sini juga kita 
temukan kritik terhadap isi dan cakupan. Isi Injil dan surat-surat diserang 
oleh pihak kafir. Sebagaimana Josephus membantah Apion, begitu juga Origen satu 
abad kemudian menentang Celcus, orang kafir yang ahli filsafat. Orang ini 
menyerang Injil dalam tulisannya "Firman yang Benar" (Al�th�s Logos, kira-kira 
tahun 175). Ia berpendapat bahwa tak mungkin kebenaran tunggal yang begitu 
mulia dapat terpecah-pecah menjadi empat Injil yang berbeda-beda. Celcus 
menganggap Yesus lebih sebagai produk jaman-Nya. Menurutnya, penyihiran dari 
Mesir telah memberi sumbangan pada mukjizat Yesus, sedang pemujaan helenistis 
terhadap manusia sebagai dewa menyebabkan Yesus disembah sebagai ilahi oleh 
para pengikut-Nya. Pada abad ketiga dan keempat, Kaum neoplatonisme, dan para 
pengikut Mani mengecam agama Kristen yang menurut mereka merupakan gejala 
penyakit dalam kebudayaan. Seorang pengikut neoplatonisme, Porphyrius (lahir 
tahun 232) sudah menunjukkan berbagai hal dimana menurut pendapatnya, Injil 
saling bertentangan satu sama lain. Ia juga memperhatikan apa yang pada abad 
ke-20 disebut "Parusieverz�gerung" (penundaan kedatangan kembali Yesus 
Kristus). Menurutnya, perkataan Yesus mengenai akhir dunia yang sudah dekat, 
tidak terwujud sebagaimana yang dimaksudkan, dan belum terjadinya 
kedatangan-Nya kembali membuktikan bahwa ucapan-ucapan dalam Injil tidak dapat 
dipercayai. Kaisar Julianus si murtad yang bertahta kemudian, yang sesudah 
mengikuti pendidikan Kristen pindah ke agama kafir Neoplatonisme, menulis 
banyak buku menentang orang Kristen, yang disebutnya kaum "Galilea". Ia 
merekonstruksi semacam sejarah evolusi agama Kristen, karena penyebutan Yesus 
sebagai Allah dipandangnya sebagai perkembangan yang timbul kemudian oleh 
pengaruh Yohanes, padahal sejarah sebenarnya mulai dengan seorang guru yang 
hanya manusia saja, sebagaimana para penulis Injil sering menggambarkan Yesus. 
Pada waktu yang sama, pada paruh kedua abad keempat Masehi, mantan Neoplatonis, 
Augustinus, bukannya tanpa alasan menulis buku yang khusus dibaktikan untuk 
membasmi pemikiran bahwa ada pertentangan dalam Injil. Tulisannya yang tidak 
jadi diselesaikan "Kesesuaian Para Penulis Injil" (De consensu evangelistarum) 
menunjukkan aktualnya kritik terhadap Injil dan perlawanan terhadapnya di 
abadabad pertama gereja. Isi Injil diserang dengan kritik terhadap Kitab-kitab 
Suci di mana Injil itu ditulis.

Di abad-abad yang sama cakupan kanon Perjanjian Baru juga dikritik. Ini 
dilakukan terutama oleh pihak orang murtad yang memiliki penilaian lain tentang 
kebenaran wahyu. Di satu pihak di beberapa kalangan Gnostik, berbagai tulisan 
yang sangat dijunjung tinggi ditempatkan di samping Perjanjian Baru. 
Sebagaimana kalangan apokaliptis Yahudi menghormati wahyu-wahyu rahasia, begitu 
pula kelompok-kelompok Gnostik hidup dari pengetahuan rahasia mengenai aeon, 
manusia, dan kosmos. Pada akhir abad kedua, Irenaeus dalam bukunya "Melawan 
kesesatan" (Adversus Haereses) berusaha keras memerangi kaum Gnostik dan 
kitab-kitab mereka yang berisi wahyu-wahyu rahasia.                             
                            Di sisi lain, di samping ekspansi kanon itu ada 
pula reduksi kanon yang formal, khususnya pada Marcion di pertengahan abad 
kedua. Para pengikut Marcion adalah orang-orang pertama yang melancarkan 
penilaian kritus dan reduksi terhadap kanon dari sudut semacam gambaran Allah 
yang "dicerahi" (lihat juga Bab III 2). 

Bentuk yang mereka pakai bersifat khas. Namun demikian, metode mereka sering 
muncul lagi di abad-abad kemudian. Mereka bertitik tolak dari anggapan bahwa 
Allah yang abadi jauh lebih tinggi daripada segala hal yang duniawi. Dia juga 
lebih tinggi daripada Allah Pencipta (demiurgos), yang menciptakan dunia yang 
dalam Perjanjian Lama disebut sebagai TUHAN (JHVH). Yesus telah mewahyukan 
Allah yang mahatinggi dan mengajarkan bahwa Dia adalah kasih dan karunia. Allah 
tidak mengenal emosi-emosi manusiawi seperti kemarahan dan kesedihan. Iman 
mempersatukan kita dengan Dia dan mengangkat kita di atas dunia yang diciptakan 
oleh Allah Pencipta demiurgos, dimana disana juga terdapat surga dan malaikat. 
Berdasarkan gambaran Allah itu, Marcion menolak Perjanjian Lama. Baginya Kitab 
itu hanya berfungsi sejauh dapat mendukung wahyu Injil yang datang kemudian. Di 
dalam Perjanjian Baru, ia hanya mempertahankan Injil Lukas, dan sepuluh surat 
Paulus. Menurutnya, rasul dan penginjil yang berhubungan erat dengannya itu 
paling jelas membedakan Injil dari Hukum Taurat yang diberikan oleh demiurgos 
(Perjanjian Lama). Para penulis Kristen pada akhir abad kedua, dipelopori oleh 
Tertulianus dengan bukunya "Menentang Marcion" (Adversus Marcionem), telah 
dengan sengit melawan perusakan kanon dan pembuatan patung Allah ini, hingga 
akhirnya para pengikut Marcion tidak dapat bertahan sebagai penentang gereja. 

Kritik Kitab Suci itu memaksa Gereja Kuno untuk semakin teliti dan dengan 
kesepakatan umum mendaftarkan kitab-kitab yang sudah diakui oleh gereja-gereja 
sebagai yang mempunyai kewibawaan dan berasal dari Kristus. Pada akhirnya, 
kanon menjadi data yang begitu mutlak dalam sejarah gereja, sehingga kritik 
atas cakupan kanon itu hampir tidak diterima lagi. Kanon menjadi fakta yang 
tetap. Bahkan mereka yang di abad ke-20 memangkasi bagian-bagian pada semua 
sisi kanon itu dan hanya mau menyisahkan beberapa bagian kecil yang mereka 
anggap penting karena sifat otentik dan religiusnya, biasanya tidak punya 
rencana untuk menerbitkan Alkitab alternatif yang sudah "dimurnikan" sebagai 
pengganti Perjanjian Baru atau seluruh Alkitab. Oleh karena itu, dilihat 
sepintas lalu, Alkitab dalam bentuk dan cakupannya sekarang tampaknya telah 
diakui oleh semua orang sebagai titik tolak. Namun di abad-abad kemudian, 
muncullah bentuk kritik terhadap Kitab Suci yang ketiga, yakni bentuk campuran 
dari kritik terhadap isi dan cakupan kanon. Inilah kritik terhadap kewibawaan 
Kitab-kitab Suci. Kita menyebutnya bentuk campuran. Ia mirip dengan kritik 
terhadap cakupan, karena dilontarkan oleh orang-orang yang menyebut dirinya 
orang Kristen atau ahli teologi. Tetapi, kesamaannya dengan kritik terhadap isi 
ialah bahwa sekarang kritik orang kafir diterapkan, meskipun dengan pretensi 
Kristen. Dengan kritik Kitab Suci ini, hakikat agama Kristen tidak dijadikan 
sasaran dan kanon yang resmi tidak disentuh. Sepintas hal ini tampak lebih baik 
daripada kritik orang kafir atau kaum murtad di Gereja Kuno. Tetapi sebenarnya 
kritik atas kewibawaan kanon (atau bagian-bagian darinya) bisa disamakan dengan 
ngengat, baik dalam agama Kristen maupun dalam kanon.

Apa yang terjadi sekarang? Dari dalam, rasa hormat dan segan pada wahyu Allah 
digerogoti, dan dengan demikian, fondasi agama Kristen menjadi lapuk. Sekarang 
orang mengadakan pembedaan antara "kanon formal" dan "kanon material". Dengan 
kanon formal orang memahami Alkitab sebagaimana yang telah diterima di gereja 
Kristen, sejak jaman dulu. Kanon material ialah bahan tertentu di dalam kanon 
formal, yang dianggap mempunyai kewibawaan religius tertentu. Jadi kanon 
sebenarnya terletak dalam kanon dan harus ditentukan lebih lanjut oleh 
penelitian ilmiah yang kritis. Bagaimanapun populernya ungkapan "kanon di dalam 
kanon" itu kini, tetapi kita berpendapat telah terjadi permainan kata yang 
keliru. Hal itu memang tak mungkin lebih dari permainan kata, yaitu pemakaian 
kata "kanon" dalam arti yang berbeda. Namun itu bukan permainan yang jujur, 
melainkan permainan curang. Meskipun terkadang maksudnya baik, sesungguhnya 
taruhannya disembunyikan. Taruhan dalam kata "kanon" ialah pengakuan terhadap 
kewibawaan ilahi dari wahyu yang ditetapkan dalam tulisan. Tetapi walaupun kata 
itu dipertahankan, taruhannya dengan diam-diam dihilangkan. Sebuah "kanon di 
dalam kanon" yang terbentuk lewat analisa dan penilaian kritis manusia, tak 
pernah dapat menjadi kanon yang berasal dari tempat lain, dan yang diliputi 
kewibawaan ilahi. Siapa yang membuat manusia menjadi cacat dan 
mengiris-irisnya, sambil berkata bahwa yang penting baginya ialah "manusia di 
dalam manusia", telah menggantikan rasa hormat dan segan terhadap orang lain 
itu dengan gambarannya sendiri. Usaha mencari kanon material selalu menemukan 
pembenarannya dalam berbagai ketidakberesan did alam atau di sekitar Alkitab 
yang menimbulkan kritik. Old soldier never die! Maka muncul lagi semua hal yang 
pada abad-abad pertama sebetulnya sudah dilihat oleh para musuh orang Yahudi 
dan penentang orang Kristen.

Pertentangan antara Injil, persamaan dengana agama-agama kontemporer, keragaman 
teologi di dalam Injil, pertentangan dengan ilmu pengetahuan alam atau dengan 
ilmu pengetahuan sejarah, beberapa hal yang tak dapat diterima oleh orang-orang 
yang membaca Injil di abad-abad berikut, dan seterusnya, dan seterusnya. Tetapi 
kalau dulu semua itu diajukan untuk menyelesaikan masalah dengan orang Yahudi 
atau untuk mengesampingkan gereja Kristen, sekarang hal itu dipakai untuk 
mempertahankan kanon dan menghilangkan hakikatnya. Kitab-kitab Suci boleh tetap 
ada, sementara Apa Yang Ditulis dikecam dengan keras. Tetapi dalam abstraksi 
ini, iman tidak akan hidup! Namun demikian, perkataan berikut tetap berlaku, 
tanpa iman tak seorang pun akan selamat. Tetapi siapa yang dapat mempertahankan 
iman, apabila orang harus mengikuti petunjuk dari Kompas di dalam kompas?

Children of Light - Serving with LOVE through FAITH Apapun juga yang kamu 
perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk 
manusia Kol 3:23 Karena bagiku hidup adalah Kristus & mati adalah keuntungan 
Fil 1:21


[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke