From: Suzianty Herawati
BAGAIMANA MENJADI PERSEMBAHAN YANG HIDUP
James Montgomery Boice
Artikel ini diterjemahkan dari bab "How to be a Living Sacrifice" dalam buku
Mind Renewal in a Mindless Age
Belum lama berselang saya membaca ulang novel indah karya Charles Dickens yang
berjudul A Tale of Tim Cities. Kota yang dimaksud tentunya adalah Paris dan
London, dan menceritakan kejadian pada Revolusi Perancis, dimana ribuan orang
yang tidak bersalah dihukum mati dengan pemenggalan kepala oleh pendukung
pendukung revolusi. Sebagaimana biasa dengan cerita Dickens, alur ceritanya
sangat kompleks, tapi mencapai klimaks yang tidak terlupakan dimana Sydney
Carton, satu tokoh yang tidak disukai dalam cerita ini, menggantikan temannya
Charles Darney, yang seharusnya dihukum mati di Bastille. Darney, yang telah
dijatuhi hukuman mati, pergi dengan bebas, den Carton yang menggantikannya di
tiang gantungan, berkata, "Ini adalah hal yang jauh, suatu tindakan yang jauh
lebih baik yang kulakukan dari apapun yang pernah kuakukan; Ini adalah hal yang
jauh, tempat peristirahatan yang jauh lebih baik yang kudatangi, dari apapun
yang pernah kuketahui." Cerita itu ditulis dengan sangat indahnya sehingga
tetap dapat membuatku menangis setiap kali membacanya, walaupun telah dibaca
berulang kali. Ada perasaan terpesona yang dalam timbul sedemikian besarnya
karena mengetahui pengorbanan hidup seseorang untuk orang lain. Itu adalah
bukti paling besar dari cinta yang sejati.
Jika kita mencintai Yesus, kita akan mengorbankan hidup kita bagi-Nya. Yesus
berkata, "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang
memberikan nyawanya untuk sahabat sahabatnya" (Yoh.15:13), dan la melakukannya
bagi kita. la secara harafiah benar-benar melakukannya. Pengorbanan Sydney
Carton bagi temannya hanyalah sebuah kisah belaka, sekalipun sangat menggugah,
tapi Yesus sungguh-sungguh mati di kayu salib bagi penyelamatan kita. Sekarang,
karena la mencintai kita dan menyerahkan diri-Nya bagi kita, demikian juga kita
yang mencintai-Nya memberikan diri kita kepada-Nya sebagai "Persembahan yang
hidup / living sacrifices".
Tapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengorbanan yang Yesus lakukan
dengan pengorbanan yang kita lakukan. Yesus mati menggantikan tempat kita untuk
menanggung penghukuman Allah atas dosadosa kita sehingga kita tak perlu lagi
menanggungnya. Pengarbanan kita, tidak sedikitpun sama seperti itu. Pengorbanan
kita tidak merupakan penebusan atas dosa dalam arti apapun. Melainkan dalam
arti bahwa kita sendirilah yang memutuskan pengorbanan kita yaitu mengorbankan
diri kita sendiri. Itulah yang dikatakan Paulus ketika ia menulis, "karena itu,
saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu
mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang
berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:1). Dalam
pelajaran ini saya hendak mengungkapkan arti lebih dalam, dengan pertanyaan:
Apa sebenarnya yang dimaksudkannya dan bagaimana kita melakukannya
Persembahan yang hidup.
Hal yang pertama sangat jelas. yaitu mempersembahkan yang hidup dan bukan yang
mati. Ini merupakan ide baru di zaman Paulus, dan jelas telah dilupakan di
zaman kini karena telah menjadi istilah yang sangat biasa. Di zaman Paulus,
pengorbanan selalu berarti pembunuhan. Di dalam praktek-praktek agama Yahudi,
korban dibawa kehadapan imam, dosa dari orang yang membawa persembahan tersebut
diakui atas korban dan dengan demikian secara simbolik memindahkan dosa-dosanya
kepada korban yang dipersembahkan tersebut.
Kemudian korban tersebut dibunuh. Ini merupakan gambaran yang hidup yang
mengingatkan kepada setiap orang bahwa "Upah dosa adalah maut" (Roma 6:23) dan
bahwa keselamatan para pendosa digantikan secara substitusi. Di dalam gambaran
pengorbanan tersebut, korban yang dipersembahkan mati menggantikan tempat
manusia yang mempersembahkannya. Korban tersebut harus mati agar orang tersebut
tidak mati mati. Tetapi sekarang, dengan ledakan kreativitas Iliahi yang
diinspirasikan, Paulus mengatakan bahwa persembahan yang kita persembahkan
adalah persembahan yang hidup, dan bukan yang mati. Sehingga sebagai hasilnya
kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah, sehingga kita "tidak lagi hidup
untuk diri sendiri tetapi untuk Dia, yang telah mati untuk kita dan telah
dibangkitkan kembali" (2Kor. 5:15).
Persembahan yang dengan kehidupan yang hidup, ya. Tapi dengan kehidupan lama
yang penuh dengan dosa dimana ketika kita hidup didalamnya, kita telah mati.
Melainkan kita mempersembahkan kehidupan rohani yang baru yang telah diberikan
kepada kita oleh Kristus. Robert Smith Candlish seorang pastor Skotlandia yang
pernah hidup lebih dari 100 tahun yang lulu (1806-1873) telah meninggalkan
beberapa pengajaran Alkitab yang indah. Satu set pengajarannya adalah mengenai
Roma 12, dan didalamnya ada beberapa alinea yang akan kita refleksikan ke dalam
kehidupan yang kita persembahkan kepada Allah. Kehidupan apa? tanya Candlish.
"Bukan sekadar kehidupan binatang belaka yaitu kehidupan yang umum dari seluruh
ciptaan dan termasuk ciptaan yang bergerak; Tidak sekadar, sebagai tambahannya,
kehidupan yang inteligent (cerdas), yang menggambarkan kehidupan seluruh
makhluk yang mampu berpikir dan mampu melakukan pemilihan yang bebas; tapi
kehidupan rohani yaitu kehidupan yang memiliki arti yang tertinggi yang
sebenarnya membutuhkan pertobatan yang dicapai melalui pengorbanan namun
dinyatakan tak cukup, ketika mereka merasakan hal ini, maka mereka membutuhkan
pengorbanan yang bersifat menebus.
Apa artinya ini, diatas segala hal, adalah bahwa kita harus menjadi orang-orang
percaya jika kita ingin memberikan diri kita kepada Allah sebagaimana yang Ia
inginkan. Orang lain mungkin memberikan kepada Allah, uang mereka atau waktu
bahkan mungkin bekerja di lapangan pekerjaan agamawi, tapi hanya orang Kristen
sajalah yang dapat memberikan kembali kepada Allah kehidupan barunya di dalam
Kristus karena ia telah menerima terlebih dahulu. Sesungguhnya, ini hanya dapat
terjadi karena kita telah dihidupkan di dalam Kristus sehingga kita dapat
melakukannya atau bahkan kita dapat menginginkannya.
Mempersembahkan Tubuh
Hal kedua yang perlu kita lihat mengenai hakekat persembahan yang Allah
kehendaki adalah meliputi pemberian tubuh kita kepada Allah. Beberapa buku-buku
tafsiran kuno memberikan penekanan bahwa mempersembahkan tubuh berarti
mempersembahkan seluruh totalitas kehidupan kita, seluruh aspek yang kita
miliki. Calvin menulis, "Tubuh yang dimaksudkan bukan hanya kulit dan
tulang-tulang, tapi seluruh totalitas yang membentuk tubuh kita." Walaupun ini
benar bahwa kita harus mempersembahkan seluruh totalitas yang kita miliki,
banyak buku tafsiran saat ini menolak kata tubuh ini dengan demikian mudahnya,
padahal mereka mengetahui bagaimana Alkitab menekankan pentingnya tubuh kita.
Sebagai contoh. Leon Morris berkata, "Paulus dengan sesungguhnya mengharapkan
orang-orang Kristen mempersembahkan kepada Allah bukan hanya tubuh mereka saja
tapi seluruh keberadaan mereka.Tapi harus selalu diingat bahwa tubuh adalah hal
yang penting dalam pengertian kekristenan mengenai banyak hal Tubuh kita
mungkin merupakan 'senjata-senjata kebenaran' (6:13) dan 'anggota Kristus'
(1Kor. 6:15). Tubuh kita adalah 'bait dari Roh Kudus' (1Kor.6:19); Paulus dapat
berkata untuk menjadi "kudus baik di dalam tubuh maupun di dalam jiwa" (1Kor.
7:34). Ia mengetahui bahwa ada kemungkinan adanya yang jahat di dalam tubuh
(tubuh dosa) tapi di dalam orang-orang percaya "tubuh yang penuh dosa" telah
dibersihkan (6:6).
Di dalam arti yang lama, Robert Haldane berkata, "Yang dibicarakan oleh para
rasul di sini adalah mengenai tubuh, dan tidak perlu menggalinya lebih dalam
dari arti yang sebenarnya.Ini menunjukkan bahwa kepentingan melayani Tuhan
dengan tubuh sama dengan melayani-Nya dengan jiwa". Paulus tidak menguraikan
Roma 12 lebih mendalam kepada pengertian dari mempersembahkan tubuh kepada
Allah "sebagai persembahan yang hidup," tapi kita tidak ditinggalkan di dalam
kegelapan mengenai pengertian ini karena pemikiran ini bukanlah ide yang baru,
bahkan tidak di Roma. Pemikiran ini telah muncul di pasal enam surat Roma. Di
pasal itu Paulus berkata, "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di
dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan
janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada Allah sebagai
orang-orang yang dahulu mati tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah
anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.
Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di
bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia" (vv, l2-14). Ini adalah kala
pertama dimana Paulus berbicara soal persembahan, dan point yang ia buat ini
sama dengan point yang dibuatnya kini yang berjudul, bahwa kita melayani Allah
dengan mempersembahkan tubuh kita kepada-Nya.
Dosa dapat menguasai kita melalui tubuh kita, tapi hal ini tidak perlu terjadi
Sehingga, daripada mempersembahkan anggota-anggota tubuh kita sebagai alat
dosa, kita mempersembahkan tubuh kita kepada Allah sebagai senjata-senjata
untuk melaksanakan kehendakNya. Secara praktikal kita perlu memikirkan hal ini
dengan melibatkan anggota tubuh kita yang spesifik
1. Akal kita. Saya memulainya dengan akal karena, walaupun kita berpikiran
bahwa keberadaan kita sebesar akal kita dan memisahkan akal kita tersebut dari
tubuh kita, sebenarnya akal kita merupakan bagian dari tubuh kita dan
kemenangan yang kita perlukan dimulai disini. Saya mengingatkan saudara bahwa
ini adalah titik permulaan dimana Paulus sendiri memulainya di ayat 2:
"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu" (penekanan pada kata mu).
Apakah saudara pernah mempertimbangkan bahwa apapun yang saudara lakukan dengan
akal saudara akan sangat menentukan pembentukan saudara sebagai seorang
Kristen? Jika saudara hanya mengisi akal saudara dengan produk-produk
kebudayaan sekular, saudara akan tetap bersifat sekular dan berdosa. Jika
saudara mengisi kepala saudara dengan novel-novel "pop" yang tidak bermutu,
saudara akan mulai hidup seperti karakter tak bermutu yang saudara baca. Jika
saudara tidak melakukan apapun dan hanya menonton acara televisi, saudara akan
mulai bertingkah seperti penjahat-penjahat dilayar televisi. Di lain pihak,
jika saudara mengisi pemikiran dengan Alkitab dan buku-buku Kristen, melatihnya
dengan percakapan-percakapan yang bermutu, dan mendisiplinkan diri dengan
pertanyaan-pertanyaan tajam tentang apa yang saudara lihat dan dengan
membandingkannya dengan kebenaran Alkitab di dalam praktekpraktek dunia,
saudara akan bertumbuh dalam kebajikan dan bertambah berguna bagi Allah. Untuk
setiap buku sekular yang saudara baca, buatlah itu menjadi pendorong semangat
saudara. Untuk membaca satu buku kristen yang bermutu, buku yang dapat
membangun pemikiran rohani saudara.
2. Mafia dan telinga kita. Akal bukanlah satu-satunya bagian dari tubuh kita
yang menerima dan menyaring pengaruh-pengaruh dan yang harus dipersembahkan
kepada Allah sebagai senjata-senjata kebenaran. Kita juga menerima
pengaruh-pengaruh dunia melalui mata dan telinga kita, dan ini juga, harus
dipersembahkan kepada Allah. Seorang sosiolog mengatakan kepada kita bahwa pada
abad ke 21 pemuda-pemuda rata-rata telah diserang oleh 300.000 pesan-pesan
sponsor komersil, dimana seluruhnya mengatakan bahwa kesenangan individu adalah
merupakan tujuan hidup. Alat-alat komunikasi moderen kita menampilkan perolehan
"hal-hal tersebut" mendahului kebajikan. Kenyataannya, mereka tidak pernah
menyebutkan tentang kebajikan sama sekali. Bagaimana saudara dapat bertumbuh
dalam kebajikan jika saudara secara tetap menonton televisi atau membaca
iklan-iklan tertulis atau mendengarkan siaran radio yang sekular ?
Saya tidak mengarahkan kepada sistim penginjilan biara dimana saudara mundur
dari segala bentuk kebudayaan, karena berpikir adalah jauh lebih baik
menjaultinya daripada harus mati karenanya. Tapi kadangkadang masukan sekular
harus diseimbangkan dengan masukan rohani. Tujuan lain yang sederhana untuk
saudara adalah untuk menghabiskan waktu dengan mempelajari Alkitab, berdoa, dan
pergi ke gereja sebanyak yang saudara habiskan untuk menonton televisi.
3. Lidah kita. Lidah juga merupakan bagian dari tubuh, dan apa yang kita
lakukan dengannya adalah penting untuk kebaikan atau kejahatan. Yakobus,
saudara Tuhan menulis, "Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan
dan mengambil tempat diantara anggota-anggota tubuh kita sebagai suatu yang
dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia
sendiri dinyalakan oleh api neraka" (Yak.3:6). Jika lidah saudara. tidak
diberikan untuk Allah sebagai senjata kebenaran ditangan-Nya, hal pada konflik
persenjataan untuk melakukan kejahatan dengan menggunakan lidahmu. Cukup
lakukanlah dengan sedikit gosip atau fitnah maka semuanya akan tercipta.
Yang saudara perlu lakukan adalah menggunakan lidah saudara untuk memuji dan
melayani Allah. Untuk satu hal, saudara harus belajar bagaimana menceritakan
Alkitab dengan menggunakannya. Saudara mungkin menghafal banyak
nyanyian-nyanyian populer? Dapatkah saudara juga menggunakan lidah saudara
untuk memberitakan perkataan Allah? Dan bagaimana dengan penyembahan? Saudara
harus menggunakan lidah saudara untuk memuji Allah dalam lagu-lagu pujian dan
lagu-lagu kristiani lainnya. Di atas seluruhnya, saudara harus menggunakan
lidah saudara untuk menyaksikan kepada orang lain mengenai Pribadi dan
Pekerjaan Yesus Kristus. Ini adalah tujuan untuk saudara jika saudara ingin
bertumbuh dalam kebajikan: Gunakanlah lidah saudara sebanyak mungkin untuk
menceritakan tentang Yesus kepada orang lain setiap saat.
4. Tangan dan kaki kita. Ada beberapa ayat-ayat penting dalam Alkitab mengenai
tangan dan kaki. Dalam I Tes.4:11, Paulus mengatakan untuk bekerja dengan
tangan kita sehingga kita dapat mencukupi diri sendiri dan tidak perlu
bergantung pada orang lain: "Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup
tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan,
seperti yang telah karni pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai
orang-orang yang sopan dimata dunia luar dan tidak bergantung pada mereka."
Dalam Ef 4:28, ia juga mengatakan kepada kita untuk bekerja sehingga kita dapat
memberikan sesuatu kepada yang berkekurangan: "Orang yang mencuri, janganlah ia
mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik
dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang
kekurangan."
Sedemikian jauh kaki kita juga diperhatikan. Dalam Roma 10 Paulus menuliskan
tentang pentingnya orang lain mendengar penginjilan, dengan berkata "Tetapi
bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya,jika mereka tidak percaya kepada Dia?
Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang
Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang
memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka
tidak diutus? Seperti ada tertulis "Betapa indahnya kedatangan mereka yang
membawa kabar baik!"' (Rm. 10: l4-15). Apa yang saudara lakukan dengan tangan
saudara? Ke mana kaki saudara membawa saudara? Apakah saudara mengijinkannya
jika mereka membawa saudara ke tempat dimana Knstus ditolak dan dihina? Ke
tempat dimana secara terbuka praktek-praktek dosa dilakukan? Apakah saudara
menghabiskan lebih banyak waktu luang saudara di bar-bar yang panas atau
tempat-tempat tercela lainnya? Di sana saudara tidak akan bertumbuh dalam
kebaikan. Malah sebaliknya, saudara akan jauh dari kelakuan yang benar.
Sebaliknya, biarkanlah kaki saudara memimpin saudara ke perkumpulan orang-orang
yang mencintai dan melayani Tuhan. Atau, bila saudara pergi ke dalam dunia,
biarlah hal tersebut menjadi pelayanan kepada dunia dan menjadi saksi bagi nama
Kristus. Gunakanlah kaki dan tangan saudara bagi Dia. Untuk setiap
pertemuan-pertemuan sekular yang saudara hadiri, jadikanlah menjadi dorongan
untuk menghadiri pertemuan-pertemuan Kristen juga. Dan jika saudara pergi ke
pertemuan sekular, lakukanlah sebagai kesaksian bagi Firman-Nya dan lakukanlah
untuk Tuhan Yesus Kristus.
Kesucian, tanpa yang.
Kata ketiga yang Paulus gunakan untuk menjelaskan arti persembahan pengorbanan
yang kita lakukan untuk Allah adalah "suci". Pengorbanan apapun yang kita
lakukan haruslah kudus. Yaitu, harus tanpa noda atau cacat dan hanya berpusat
pada Allah. Yang kurang dari hal tersebut adalah merupakan penghinaaan kepada
yang Terbesar, Allah yang Kudus kepada siapa setiap orang harus menyembah. Tapi
seberapa jauh kita harus kudus -- kita yang telah ditebus "bukan dari
barang-barang yang fana seperti perak atau emas .... melainkan dengan darah
yang mahal, yaitu darah Kristus, darah anak domba yang tak bernoda dan tak
bercacat" (1Pet l:18- 19). Petrus menjelaskan. "tetapi sebagaimana Ia yang
memanggilmu adalah Kudus, maka kuduslah kamu dalam segala perbuatanmu;
sebagaimana tertulis: "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (VV. 15-16). Pengarang
Ibrani berkata, "Tanpa kekudusan tidak seorangpun melihat Allah" (Ibr 12:14).
Ini adalah pusat dari perbincangan kita ketika kita berbicara tentang
persembahan yang hidup. Atau dengan kata yang lain lagi, kekudusan adalah
tujuan dari seluruh arahan kitab Roma. Kitab Roma berbicara tentang
penyelamatan. Tapi, keselamatan tidak berarti bahwa Yesus mati menyelamatkan
kita di dalam (in) dosa kita tetapi menyelamatkan kita dari (from) dosa.
Handley C.G. Moule melukiskan hal ini lebih baik. "Sebagaimana kita sedang
mendekati peraturanperaturan tentang kekudusan dihadapan kita, biarlah kita
sekali lagi mengumpulkan apa yang telah kita lihat di dalam zaman rasul-rasul,
bahwa kekudusan adalah merupakan tujuan dan persoalan dari seluruh Injil. Hal
ini merupakan "bukti hidup" merupakan pembuktian tentang seberapa jauh
seseorang mengenal Yesus sebagai satusatunya jalan ke Surga. Bahkan lebih lagi;
hal ini adalah ekspresi dari hidup; merupakan dasar dan tindakan dimana hidup
seharusnya dijalankan.Kita yang sudah merupakan "orang-orang pilihan" dan
"ditetapkan" untuk "menghasilkan buah" (Yoh 15:16), buah yang banyak dan tetap.
Apakah ada subjek-subyek lain yang lebih banyak ditinggalkan / dilupakan dalam
penginjilan di Amerika dalam zaman kini ketimbang kekudusan? Saya tidak
berpikir demikian. Memang ada waktu dimana kekudusan merupakan hal serius yang
dikejar oleh siapapun yang menamakan dirinya Kristen, dan bagaimana seseorang
hidup dan apa yang ada di dalam seseorang merupakan hal yang sangat vital.
J.I. Packer menuliskan sebuah buku berjudul "Rediscovering Holliness" dimana ia
meminta perhatian untuk hal ini. "Kaum Puritan mendesak agar seluruh aspek
kehidupan dan hubungan-hubungan didalamnya harus "kudus bagi Allah". John
Wesley mengatakan kepada dunia bahwa Tuhan telah membangkitkan kaum Metodis
"untuk memercikkan kekudusan Alkitab keseluruh dunia". Phoebe Palmer, Handlev
Moule, Andrew Murray, Jessie Penn Lewis, F.B. Meyer, Oswald Chambers, Hotrauus
Bonar, Amy Carmichael dan L B.Maxwell hanyalah sedikit dari figure-figure yang
memimpin kepada "kebangkitan kekudusan" yang menyentuh seluruh penginjilan
kristiani antara abad pertengahan 19 dan pertengahan 20. Tapi sekarang? Didalam
zaman kita, kekudusan adalah hal yang sangat dilupakan sebagai kualitas yang
sangat penting bagi umat Kristen. Sehingga kita tidak mencoba untuk hidup
kudus. Kita dengan pasti tahu apa artinya kudus. Dan kita tidak melihat
kekudusan pada diri orang lain. Pendeta Robert Murray Mc.Cheney berkata,
"keperluan terbesar dari umatku adalah kekudusan pribadiku." Tapi kekudusan
seperti apa yang dilihat jemaat-jemaat pada diri pastor-pastor zaman kini?
Pastinya ada. Mereka melihat kepada kepribadian yang menyenangkan, kepada
kemampuan komumkasi yang baik, kemampuan administrative, dan hal-hal secular
lainnya.
Seperti untuk diri kita sendiri, kita tidak mencari buku atau kaset agar
menjadi kudus atau menghadiri seminar yang dapat membawa kita lebih dekat
kepada Allah. Kita lebih menginginkan informasi mengenai "Bagaimana menjadi
bahagia," "Bagaimana membesarkan anak." "Bagaimana memperoleh kehidupan sexual
yang indah," dan lain-lainnya. Untunglah kekurangan ini telah diperhatikan oleh
pemimpin-pemimpin rohani yang merasa terganggu dan telah memulai membahas pokok
persoalannya. Saya menghargai buku karangan Packer sebagai buku yang sama
baiknya dengan buku yang ditulis beberapa tahun sebelunuiya oleh Jerry Bridges
yang berjudul "The Pursuit of Holiness / Pengejaran dari Hidup Suci". Ada juga
cerita klasik yang sama dari seorang Bishop lnggris John Charles Ryle.
Menyenangkan Allah
Kalimat terakhir yang digunakan Paulus untuk menerangkan arti dari persembahan
yang hidup adalah "menyenangkan Allah". Tapi ini juga merupakan kesimpulan dari
apa yang telah dibicarakan dalam pelajaran ini, karena tujuan utamanya adalah
jika kita melakukan hal yang Paulus usulkan --sebutlah, mempersembahkan tubuh
sebagai persembahan yang hidup, kudus untuk Allah" -- kita juga akan menemui
bahwa apa yang telah kita lakukan adalah menyenangkan hati Allah atau diterima.
Sangatlah mengagumkan saya bahwa Allah menemukan sesuatu yang mungkin dapat
kita lakukan untuk menyenangkan-Nya. Tapi itulah kenyataannya. Perhatikan bahwa
kata menyenangkan muncul dua kali dalam kalimat yang pendek itu. Kali pertama,
yaitu apa yang kita lihat disini, menyatakan bahwa mempersembahkan diri kepada
Allah adalah menyenangkan-Nya. Kali kedua, muncul di akhir ayat kedua,
menyatakan bahwa ketika kita melakukan hal ini kita akan menemukan kehendak
Allah dalam hidup kita yaitu untuk menyenangkan Allah sejauh dan sesempurna
mungkin. Saya sadar bahwa kehendak Allah bagi saya merupakan hal yang
menyenangkan - yaitu menyenangkan saya. Bagaimana mungkin tidak jika Allah
adalah Allah yang Bijaksana dan Sumber kebaikan? Kehendak-Nya pasti adalah hal
yang baik untuk saya. Tapi persembahan tubuh saya kepada-Nya juga menyenangkan
hati-Nya -- ketika saya menyadari diri sebagai yang sangat berdosa, bebal dan
yang tidak tulus hati walaupun didalam usaha yang terbaik sekalipun kenyataan
ini sangat mengejutkan.
Namun inilah kenyataannya! Alkitab berkata bahwa untuk kebaikan kita harus
berpikir sebagai hamba yang tidak berharga (Luk.17:10). Tapi juga dikatakan
bahwa jika aku hidup bagi Yesus, mengembalikan kepada-Nya apa yang telah Ia
berikan dulu kepada saya, maka suatu hari aku akan mendengar-Nya berkata, "Baik
sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia! .... masuklah dan
turutlah dalam kebahagiaan tuanmu!) (Mat.25: 21,23).
Sumber: Majalah MOMENTUM No. 26 - April 1995
[Non-text portions of this message have been removed]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]
Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/