From: Mundhi Sabda H. Lesminingtyas 

Melongok pasien depresi & skizofrenia
DUA MINGGU DI SUMUT & NAD
(Oleh : Roswitha Ndraha)

Ini perjalanan yang luar biasa menurut saya. Kami berangkat sekeluarga:
Saya, Pak Julianto, Josephus, dan Moze serta Mbak Rumini, pegawai rumahtangga 
kami hari Rabu, 15 Juni. Bersama kami ikut pasangan pendeta Timbul Panggabean 
(pemilik Teen Ranch, Cimacan) dan dua aktifis LK3 (Ibu Susilowati dan Ev. Aaron 
S. Haliman).

Kami tiba di Medan pukul 10.00, dijemput oleh Pdt Nadeak dan sebuah "bis" jalur 
Medan-Pangururan. Sampai sekarang saya tidak tahu nama pendeta ini.
Tetapi secara kebetulan saya bertemu dengan beberapa orang di Banda Aceh dan
Medan, yang mengenal pelayanan Pdt Nadeak dan gereja yang digembalakannya di
Pangururan.

Perjalanan kami cukup menyenangkan. Walaupun tidak ber-AC, "bis" (dalam tanda 
kutip karena hanya muat 12 orang tetap disebut bis) itu enak ditumpangi. Cuaca 
tidak terlalu panas sehingga kami menikmati pemandangan di kanan-kiri jalan. 
Kami lewat Tele. Informasi yang kami dapat mengatakan membutuhkan waktu 5 jam 
untuk mencapai Pangururan. Dua jam sebelum tujuan, jalan ditutup karena 
pekerjaan perbaikan jalan. Kami harus menunggu sekitar satu jam, sampai aspal 
kering, sebelum dapat meneruskan perjalanan.

Menjelang Pangururan kami disambut oleh pemandangan luar biasa indah. Jalan
sempit, berbatu, mengelilingi pegunungan dengan pemandangan langsung ke Danau 
Toba. Cuaca sangat sejuk. Kami membuka jendela lebar-lebar dan menghirup 
dalam-dalam udara yang segar ini.

Akhirnya kami tiba menjelang malam, sekitar pukul 7. Cuaca masih terang.
Keadaan kota ramai. Kami mendapat penginapan cukup baik. Itu kami syukuri
karena semua penginapan di Pangururan sudah penuh, berhubung itu masa-masa
kampanye Pilkada. Malam itu kami sempat kenalan dengan keluarga Pdt Nadeak,
para staf Panti Rehabilitasi Sadar, milik Gereja Betel Indonesia Jemaat  El 
Shaddai.

Panti rehabilitasi ini dibangun persis di tepi danau. Bangunan gereja berjarak 
sekitar 50 meter dari jalan, memuat sekitar 200 orang. Di sebelah belakang, 
terpisah dari gedung gereja, terdapat konsistori, lengkap dengan dapur, ruang 
makan, dan ruang tamu. Di samping konsistori ada carport. Kemudian 
berturut-turut nampak pintu rumah pendeta dan kamar-kamar pasien pria, 
berdampingan seperti rumah petak. Seperti kebanyakan rumah di desa itu, 
bangunan tersebut dibuat dari papan. Siang hari pintu dibuka. Kalau
kita melongokkan kepala ke dalam, nampak tikar kain tipis di lantai dan pakaian 
yang ditaruh sembarangan. Kesan saya, kamar-kamar itu kekurangan udara dan 
tidak bersih.

Bersambungan dengan sisi kanan konsistori terdapat rumah petak dengan tiga 
pintu. Di situlah pasien wanita tinggal. Tidak berbeda dengan tempat tinggal 
pasien pria, ruangan mereka juga terdiri atas tikar kain yang tipis dan pakaian 
yang ditaruh begitu saja. Udara, selain sumpek juga berbau amoniak.
Semua orang di situ memanfaatkan air danau untuk mencuci pakaian dan keperluan 
dapur, juga untuk mandi. Saya tidak mau membayangkan darimana mereka 
mendapatkan air untuk memasak dan minum!

Saya tidak biasa berada di tempat orang-orang depresi dan skozofrenia. Jadi, 
saya merasa asing. Di sekeliling saya anak-anak muda bercelana setinggi lutut 
dan berbaju kaos berjalan seliweran. Ada segerombolan yang memanggil-manggil 
dan mencoba bicara dengan saya. Waktu saya tersenyum atau menyahut, mereka 
terkekeh-kekeh. Ada juga yang hanya berdiri tidak bergerak, atau duduk-duduk di 
dinding gereja sambil menekuk lutut. Beberapa bicara pada diri mereka sendiri. 
Saya menemukan pasien wanita yang tertawa gelak-gelak sambil berguling-guling 
di tanah. Ada yang buang air kecil begitu saja di depan kamar mereka. Di hari 
lain ada yang mengajak saya ngomong, tapi tidak jelas maksudnya. "Ada apa?" 
tanya saya. Si Kakak ini langsung tertawa gelak-gelak, disambut oleh 
teman-teman di sekitarnya.

Jumlah pasien di Panti Sadar ada 30 orang. Mereka datang dari berbagai tempat 
di Sumatera Utara. Mentornya 12 orang, sebagian besar wanita. Pak Julianto 
menyampai kan topic-topik Seni Merayakan Hidup yang Sulit, Mengapa dan 
Bagaimana Mengampuni, Membedakan Gangguan Jiwa dan Roh Jahat, Menjadi Agen 
Penebus (KKR), Mencinta Hingga Terluka (KKR). Saya membawakan training 
Memanfaatkan Cerita Sebagai Terapi. Malam hari jemaat diundang menghadiri KKR. 
Sebagian topic juga diikuti oleh sekitar 30 hamba Tuhan dan pengerja GBI yang 
datang dari desa-desa di sekitar Pangururan.

Training yang disampaikan bermaksud melatih para mentor dalam berbagai 
kesulitan menghadapi pasien. Juga untuk menerima masa lalu mereka (dengan 
beragam kepahitan dan luka batin terhadap orangtua, teman dan pendeta mereka). 
Dari yang saya dengar, sebagian mentor pernah dirawat di panti ini. Mereka 
tetap di situ untuk menolong orang lain dengan pengalaman mereka. Ada juga yang 
karena tidak punya keluarga lagi. Mereka tidak punya ketrampilan dan 
pengetahuan yang cukup mengenai depresi, trauma, dan cara memperlakukan pasien. 
Tetapi mereka punya kemauan melayani yang tinggi. Uang saku yang hanya Rp 
15.000 per bulan tidak mengendorkan semangat mereka. Kami berharap, para hamba 
Tuhan dan mentor ini tidak sekedar menengking setan dan mendoakan orang yang 
depresi dan skizo, tapi mengupayakan perawatan medis dan konseling untuk  upaya 
pemulihan mereka.

Pendeta Nadeak berusia 62 tahun. Dia memperkenalkan diri sebagai "bekas
penjahat", karena pernah beberapa tahun di Nusakambangan. Untunglah, bukan
"bekas orang baik", kata pak Aaron. Istrinya boru Sihotang, jauh lebih muda
dari saya. Mereka sudah menikah 12 tahun tapi Tuhan belum mengaruniai anak
pada keluarga ini. Saya tidak berani bertanya apakah ini yang membuat mereka
sungguh-sungguh memberi perhatian pada pelayanan gereja dan panti.

Idealnya, sebuah panti rehabilitasi mental memiliki psikiater/dokter, social
worker, psikolog, konselor. Pdt Nadeak berani memulai dengan SDM seadanya.
Siapa yang akan memberi perhatian pada pada mereka yang punya pergumulan
demikian? Bukankah untuk mereka juga Tuhan Yesus disalibkan? (Roswitha
Ndraha)

--bersambung--
------------------
Bagi rekan-rekan yang peduli dan terbeban untuk mendukung pekerjaan Tuhan untuk 
melayani saudara-saudara kita yang mengalami depresi dan skizofrenia, silakan 
menghubungi LK 3 melalui telp ke 55654851, 55650281 atau HP Ibu Witha 0817 
0907407 atau HP saya 08151661312.
Anda juga bisa memberikan bantuan dana melalui rekening khusus untuk Stress
& Trauma Healing Ministry di BCA  KCP Cempaka Putih No. Rek 5730158001 a.n.
MSH. Lesminingtyas.

Salam hangat,
Lesminingtyas*

* Volunteer Staf LK3 - Bidang Stress & Trauma Healing. Juga seorang penulis
buku "TANGAN YANG MENENUN" yang mengisahkan perjuangan orang tua
tunggal dalam mengajar anak tentang kasih dan takut akan Tuhan. Informasi
buku ini bisa dilihat di www.mangucup.net atau www.mangapulsagala.com atau
http://bogor.bpkpenabur.or.id/mambo/ atau hubungi [EMAIL PROTECTED]
atau SMS ke 08151661312


[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke