From: "Mundhi Sabda H. Lesminingtyas" <[EMAIL PROTECTED]>

Bersandar Pada Pemeliharaan Tuhan
Oleh : Mundhi Sabda H. Lesminingtyas* 

Kira-kira 7,5 tahun yang lalu, bisa dikatakan bahwa kantor saya lebih diwarnai 
dengan  suasana "like and dislike". Tidak jarang pengambilan keputusan pun 
bernuansa "like dan dislike". Celakanya, orang-orang vocal semacam saya hampir 
selalu dalam posisi yang tidak disukai oleh sebagian pengambil keputusan.  

Saya masih ingat betul, kelugasan saya untuk mengatakan yang "ya" adalah "ya" 
dan berkata "tidak"untuk yang "tidak', yang justru menempatkan saya dalam 
posisi bagai  telor di ujung tanduk. Ketika dengan tegas menegakkan policy 
organisasi tanpa pandang bulu saat melakukan audit terhadap lembaga penerima 
bantuan dana,  seorang anggota team management merasa gerah dengan sikap saya. 
Pasalnya  staf pelaksana lapangan yang merupakan sahabat karibnya terusik 
dengan kelugasan saya.  

Dengan berbagai dalih, anggota team management tersebut secara otoriter 
mengeluarkan memo pemutasian untuk saya. Tanpa persetujuan anggota team 
management yang lain, keluarlah secarik kertas "bertuah" yang ditujukan kepada 
atasan saya. Memo singkat yang  menggoncangkan hidup saya itu bertulisan "Geser 
Ning dari Program Manager Assistant ke  Program Secretary. Ini bukan tawaran. 
Kalau tidak mau, tidak ada tempat lagi untuknya" 

Sebagai Program Assistant yang terbiasa melakukan "people work" di lapangan, 
tentunya saya sangat shock menerima tugas "paper work"di belakang meja. 
Terlebih lagi saat itu, selama 5 tahun saya melihat Program Secretary merupakan 
 posisi panas, dimana hampir tidak ada yang betah bekerja 1 tahun penuh. Bahkan 
dalam waktu 5 tahun, kursi panas tersebut telah "memakan korban" sebanyak 6 
orang. Itupun banyak masa vakum tanpa ada yang mengisi posisi tersebut. Kalau 
sedang tidak melakukan perjalanan dinas  ke luar kota atau ke luar pulau, saya 
memang bersedia merangkap tugas program secretary tanpa kompensasi apapun. 
Namun untuk berada pada posisi tersebut secara penuh rasanya saya tak sanggup. 

Saya sempat menangis ketika menerima memo yang lebih mirip "vonis hukuman" dari 
pada promosi jabatan. Siapapun pasti sepakat, posisi baru tersebut tidak lebih 
dari sekedar upaya untuk mengkondisikan saya supaya mengundurkan diri. Siapapun 
pasti tidak sanggup menerima tugas yang lebih mirip dengan tantangan menata 
hutan belantara yang tak bertuan menjadi pasar swalayan yang sanggup memenuhi 
kebutuhan para pengunjungnya setiap saat. Apalagi waktu itu saya hanya diberi 
waktu 1 bulan untuk membenahi pekerjaan yang terbengkelai selama hampir 2 
tahun.  

Untung sekali manager saya yang notabene mantan pastor sangat peduli dengan 
hidup matinya orang lain, terutama anak buahnya. Hampir setiap malam manager 
saya mengajak beberapa teman asisten untuk mengantar saya pulang karena 
pekerjaan baru saya harus kerjakan kurang lebih 10 -11 jam perhari. Kalaupun 
tidak ada yang bisa mengantar saya pulang malam hari, atasan selalu memberikan 
ongkos taxi dari Jakarta ke Bogor yang jumlahnya cukup besar.

Ketika manager saya berhasil membantu saya mengatasi masa-masa kritis, 
tiba-tiba management memutuskan untuk tidak meperpanjang kontrak manager saya. 
Dengan tidak adanya atasan, posisi saya kembali di ujung tanduk. Hampir dalam 
segala hal, saya diposisikan dalam kelompok marginal yang sewaktu-waktu bisa 
"ditendang". 

Situasi seperti ini cukup lama, hingga saya mendapatkan atasan baru yang juga 
seorang mantan pastor. Setidaknya, bila ada atasan, saya bukan lagi seperti 
anak yatim piatu atau anak tiri.  

Saya merasa cukup aman dengan atasan baru yang juga sangat  bijaksana itu. 
Atasan saya yang brilliant, cekatan dan disiplin itu setiap hari selalu datang 
jauh sebelum jam kerja. Hampir setiap pagi, sebelum saya masuk ke ruangannya, 
beliau  justru yang menghampiri meja saya sembari bertanya "Ada hal mendesak 
yang harus saya kerjakan hari ini?". Biasanya beliau berusaha menyelesaikan 
pekerjaan hari itu juga. Bahkan siang atau sore hari ketika semua pekerjaan 
beliau telah selesai, tak jarang beliau menghampiri meja saya sambil bertanya 
"Ada yang bisa saya Bantu?".  

Memiliki atasan yang sangat baik dan suka membantu, tidak membuat saya 
berleha-leha, tetapi justru sebaliknya. Walaupun atasan saya dengan senang hati 
membantu tugas saya dalam translate atau membuat project profile, namun sebagai 
sekretarisnya saya justru malu. Mau tidak mau saya harus melipatgandakan 
kecepatan kerja saya. 

Memang patut disayangkan kemapanan seperti itu hanya berlangsung selama 6 bulan 
karena management memutuskan tidak memperpanjang kontrak untuk atasan saya.  
Seperti biasanya, tanpa atasan yang melindungi, saya harus jungkir balik 
sendiri supaya tetap survive.  

Setelah vakum cukup lama, saya kembali mendapatkan atasan baru; seorang theolog 
dan aktivis gereja. Saya pun kembali tenang karena bisa berada pada posisi yang 
seharusnya, tanpa takut "ditendang" dengan tak semena. Bukan hanya saya, 
beberapa teman yang sebelumnya dalam posisi marginal pun lambat laun 
diberdayakan sedemikian rupa hingga semua orang tahu bahwa kami layak 
diperlakukan sebagaimana staf yang lain. Kelegaan kami pun semakin lengkap 
setelah atasan saya dipromosikan untuk menduduki posisi puncak untuk kantor 
perwakilan di Indonesia. 

Atasan saya yang terakhir itu benar-benar mampu meciptakan sauasana kerja yang 
kondusif. Beliau tidak hanya memimpin secara demokratis, tetapi mendidik kami 
untuk menggunakan hati nurani dalam bersikap dan bertindak. Tidak ada lagi staf 
yang harus diawasi apalagi dicurigai karena masing-masing staf diberi 
kepercayaan dan diasah nuraninya. Kegiatan "Morning for Sharing" yang dirintis 
beliau dan diadakan setiap Senin pagi setidaknya telah mengkondisikan kami ke 
dalam tim kerja yang kompak dan solid.        

Suasana kerja yang tenang, nyaman serta memberdayakan dan memerdekakan setiap 
staf,  yang dibangun oleh hamba Tuhan itu ternyata hanya bertahan selama 7,5 
tahun. Ada beberapa kebijakan dan sikap oknum  pengambil keputusan di kantor 
pusat Amerika yang cenderung arogan, otoriter dan tidak manusiawi. Tentu saja 
hal tersebut mengusik nurani kristiani atasan saya itu. Walaupun atasan saya 
sudah mencoba bertahan di bawah tekanan, namun beliau harus menyerah dan 
membiarkan para "penguasa dunia" bersikap tak adil pada dirinya. Akhirnya, 
secara mendadak beliau terpaksa mengundurkan diri.

Tangis pilu sontak mewarnai kantor saya. Mungkin saya adalah orang yang paling 
terpukul dengan keputusan beliau. Tangis saya pun selalu meledak setiap bertemu 
beliau. Bahkan saat semua teman mencium dan mendekap erat untuk melepas 
kepergiannya, saya hanya terkulai lemas. Saya memang tidak memeluk dan mencium 
beliau karena saya begitu hormat dan menempatkannya sebagai bapak sekaligus 
pembimbing rohani saya.  Seperti orang Jawa kuno, saya pun menghormati beliau 
layaknya seorang raja. Walaupun tanpa peluk dan cium, saya yakin beliau 
menangkap ketulusan kasih saya. 

Ketika beliau betul-betul melangkahkan kaki keluar kantor, dunia saya seakan 
gelap gulita. Bayangan kelam untuk kembali ke posisi marginal jelas ada di 
depan mata saya. Bagaikan roda, saya sudah membayangkan untuk kembali merasakan 
posisi di bawah yang tertindas. Hal itu tidak bisa saya pungkiri, karena 
beliaulah yang telah "menyelamatkan" dan mengembalikan saya dari posisi 
marginal ke posisi yang sewajarnya.  

Di tengah isak tangis, sayapun mencoba berdoa untuk mendapatkan kekuatan. Namun 
kegalauan hati tak begitu saja lenyap. Segera saya meraih ponsel dan mengetik 
SMS untuk sekedar berbagi dengan beberapa teman beliau yang juga saya tuakan 
sebagai bapak rohani. Salah satu "bapak rohani" saya membalas SMS dengan pesan 
singkat "Jangan pernah berharap kepada manusia, tetapi sandarkanlah semua hanya 
kepada Tuhan" 

Walaupun hati masih belum bisa sepenuhnya melepas kepergian sang atasan, dada 
saya mulai terasa ringan. Lambat laun kekuatiran saya pun lenyap. Walaupun 
kemunngkinan untuk kehilangan pekerjaan atau PHK itu selalu ada, tetapi hal itu 
tak sedikitpun mengurangi suka cita saya. Hati saya benar-benar siap, suatu 
saat kalau PHK itu benar-benar terjadi, saya akan menerimanya dengan lapang 
dada. Dengan mengimani Amsal 10:3, saya yakin, selama saya hidup benar dan 
setia pada FirmanNya, maka Tuhanpun tidak akan membiarkan saya dan anak-anak 
mati kelaparan.   

Walaupun saya yakin bahwa Tuhan akan menolong saya pada waktunya dan Dia 
jugalah yang akan mencukupi kebutuhan saya, namun saya tidak tinggal diam. 
Beberapa alternatif keputusan dan segala konsekuensinya mulai saya pikirkan. 
Dalam situasi yang masih "panas" rasanya saya ingin sekali mengundurkan diri 
secepatnya sebelum "dikondisikan" untuk mundur. Namun untuk mundur begitu saja, 
rasanya saya ini mirip pasukan yang menyerah sebelum berperang.  

Seorang teman sebenarnya beberapa kali telah menawarkan pekerjaan di bidang 
konseling dengan imbalan yang cukup tinggi. Sayang sekali pekerjaan yang 
ditawarkan tersebut murni profit oriented. Begitu juga dengan pekerjaan yang 
harus saya lakukan, hanya mengandalkan ilmu konseling saja, tanpa pendekatan 
kekristenan. Terus terang saya tak punya kemampuan sedikitpun untuk membantu 
orang-orang keluar dari masalahnya tanpa menyentuh keyakinannya. Rasanya 
masalah menjadi sulit dan semakin rumit tanpa penyertaan Tuhan Yesus. Saya pun 
yakin bahwa orang-orang yang saya bantu untuk memperbaiki hubungan pribadinya 
dengan Tuhan Yesus, akan mampu menolong dirinya sendiri setelah hubungannya 
dengan Tuhan Yesus pulih. 

Sebaliknya, jika seseorang tidak memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus, 
maka sehebat apapun saya sebagai konselor, tidak akan mampu menolongnya 
melewati masa-masa sulitnya dengan penuh rasa syukur dan optimisme. Saya merasa 
tidak punya kemampuan sedikitpun untuk menolong orang keluar dari masalahnya 
dan mencapai keadaan damai sejahtera tanpa "membenahi" keyakinannya. Itulah 
sebabnya saya merasa tidak mampu melakukan konseling yang tidak berbasis pada 
iman Kristen. Bagi saya pengharapan, suka cita dan damai sejahtera hanya ada di 
dalam Tuhan Yesus. Dengan keyakinan ini, saya pun tidak mungkin menerima 
pekerjaan di bidang konseling "non Kristen" itu. 

Ada satu lagi tawaran pekerjaan yang untuk ukuran dunia sangat menggiurkan. 
Seorang dokter kaya raya yang memiliki beberapa klinik, usaha property, fitness 
center, art gallery dan out bond training centre di beberapa kota, berkali-kali 
 mengirim SMS yang meminta saya untuk menjadi sekretaris pribadinya. Tawaran 
lewat SMS dan email memang sangat menarik. 

Namun sayang saat saya diundang makan siang di salah satu kiliniknya, dengan 
jelas saya membaca gelagat yang tidak baik. Niat tak baik itu mulai terlihat 
ketika ia mengunci pintu sesaat sebelum makan siang di ruang kerjanya kami 
mulai. Di sela-sela makan ia selalu menanyakan hal-hal pribadi, atau bahkan 
sangat pribadi. Walaupun bibir saya berusaha mengeluarkan bahasa-bahasa formal 
yang berkaitan dengan pekerjaan, namun otak saya penuh dengan "rencana 
kriminal" yang akan saya lakukan jika dokter itu bertindak kurang ajar. 

Posisi sekretaris yang saya bayangkan dengan job description cukup berat itu 
pun ternyata hanya sepele dan ditawarkan dengan bahasa tubuh dan tatapan mata 
nakal seraya berkata "Siapkah kamu menjadi gundikku?". 

Walaupun hati saya sangat marah dan tersinggung, namun saya tetap berusaha 
menahan kata-kata yang saya pikir paling layak untuk dilontarkan "Memangnya 
kamu siapa? Kalau kamu mau ngajak saya meninggalkan Tuhan Yesus,  boleh-boleh 
saja, asalkan kamu bisa membelikan surga seperti yang Tuhan Yesus janjikan"  

Akhirnya dengan sikap santun layaknya putri keraton dan sikap merendah layaknya 
orang gunung, saya hanya menjawab kalem "Saya akan gumulkan tawaran Bapak. 
Kalau pekerjaan ini bisa menjadikan nama Tuhan semakin dipermuliakan, maka saya 
tidak berani menolaknya. Namun kalau Tuhan tidak menghendaki saya berkerja di 
sini, saya juga tidak berani memaksakan diri"    

Di tengah kegalauan saya mengenai pekerjaan, Tuhan justru mengingatkan saya 
akan pentingnya pelayanan. Saat suasana kantor "kering kerontang" tanpa 
kesejukan, saya membaca iklan training untuk trainer/konselor. Saya pun 
tertarik untuk mengikutinya sekedar untuk menyegarkan dan "mengisi kembali" 
otak saya. Karena biaya training cukup tinggi, saya pun berkonsultasi dengan 
Pdt. Julianto Simanjuntak di LK3.  

Bukan hanya memberikan konsultasi, Pdt.Julianto Simanjuntak pun memberikan 
dukungan penuh supaya saya bisa mengikuti training tersebut. Saya yakin inilah 
cara Tuhan memanggil saya untuk melayani sesama tanpa pamrih melalui LK3 dengan 
lebih serius lagi. Sesungguhnya melayani orang-orang yang sedang terluka 
hatinya tanpa imbalan merupakan kepuasan tersendiri. Namun untuk menunjang 
pelayanan LK3, saya tidak mungkin berhenti bekerja karena dalam kenyataannya 
saya harus merogoh kocek sendiri untuk biaya transport Bogor - Jakarta, yang 
lebih sering menggunakan taxi karena kegiatannya hingga malam hari. 

Di tengah suasana kantor yang semakin tidak mengenakkan dan "nafsu henkang" 
yang semakin tinggi-di satu sisi- dan kebutuhan dana untuk mendukung pelayanan 
-di sisi lain, maka saya pun MEMUTUSKAN untuk TIDAK MEUTUSKAN. Artinya 
menyerahkan semua hidup saya pada pemeliharaan Tuhan. Karena Tuhan selama ini 
memelihara saya melalui gaji rutin dari kantor saya, maka saya akan tetap 
mensyukuri berkat pekerjaan yang masih Tuhan berikan lewat kantor saya. Namun 
bila suasana tidak mengenakkan itu harus berakhir dengan PHK, maka saya pun 
akan tetap bersyukur dan menerima keputusan tersebut dengan lapang dada. Kalau 
pun PHK harus terjadi, saya yakin Tuhan akan tetap memelihara saya dengan cara 
lain. Yang penting sekarang adalah : hidup di dalam Tuhan dan mempercayakan 
hidup di dalam pemeliharaanNya.    

 ************************************************************
* Penulis buku "TANGAN YANG MENENUN" yang mengisahkan perjuangan orang tua
tunggal dalam mengajar anak tentang kasih dan takut akan Tuhan. Informasi
buku ini bisa dilihat di www.mangucup.net atau www.mangapulsagala.com atau
http://bogor.bpkpenabur.or.id/mambo/ atau hubungi [EMAIL PROTECTED]
atau SMS ke 08151661312 


[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke