From: Yadi S. Lima 

Abraham



Ev. Yadi S. Lima 

Kejadian 15: 1 - 16: 2

 

Firman Tuhan kepada Abram dalam Kejadian 15:1-16:2. Kata pertama Tuhan dalam 
pasal 15 adalah, "Jangan takut". Apa yang Abram takuti? Dia begitu besar, 
begitu kaya, begitu berkuasa dan begitu diberkati Tuhan. Bahkan dia barusan 
saja merayakan kemenangannya dari perang. Takut matikah Abram? Tidak! Dia sudah 
begitu tua, sudah diberkati Tuhan sepanjang umurnya, mati pun tidak apa-apa. 
Takut miskinkah Abram? Tidak! Abram mungkin adalah orang yang paling kaya di 
daerah itu. Lalu Abram takut apa? Coba kita melihat jawaban Abram kepada Tuhan. 
Abram menjawab "Ya, Tuhan apakah yang akan Engkau berikan kepadaku.? 
Seolah-olah Abram mau bilang, "Tuhan mau beri apalagi kepada saya?" Dalam 
kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah mengalami perasaan seperti ini. 
Misalnya, saya pernah bertemu dengan seorang oma ketika saya pergi ke sebuah 
kota. Ketika saya mau pulang dia berikan begitu banyak oleh-oleh. Oma ini 
begitu baik, tapi menerima begitu banyak oleh-oleh tentunya membuat saya 
kewalahan, barang bawaan mungkin overweight, belum lagi repot harus membawa 
semuanya sendiri. Dalam situasi seperti ini di dalam hati kita mungkin akan 
bilang "aduh, sudah deh...sudah cukup..cukup." Nah, Abram pun ingin berkata 
seperti ini, sudah cukup Tuhan. Apalagi yang Engkau akan berikan? Harta 
kekayaan, kedudukan, umur panjang, keluarga, istri yang baik saya sudah punya. 
Kalau Tuhan mau memberi yang seperti itu lagi, tidak usah deh, Tuhan. Yang 
justru aku butuhkan malah tidak Engkau berikan. Yang aku butuhkan sekarang ini 
adalah anak bukan yang lain-lain. Ketika berkata seperti ini sebenarnya Abram 
mau mengingatkan Tuhan akan janjiNya di Kejadian 13:14-16. Tuhan pernah 
menjanjikan Abram, anak dan keturunan yang seperti debu tanah banyaknya. Tapi 
waktu berlalu terus dan realitasnya sampai sekarang Abram belum juga punya 
anak. Abram mau mengingatkan Tuhan akan janjiNya yang dulu untuk memberikan dia 
anak. "Mana Tuhan, anak yang Engkau janjikan. Sekarang aku sudah tua, sudah 
hampir mati dan hambaku Eliezer yang dari Damsyik itu yang akan mewarisi 
seluruh kekayaanku karena Engkau tidak memberi aku anak. Bukankah seluruh 
keluargaku sudah kutinggalkan ketika Engkau memerintahkan aku untuk pergi 
meninggalkan bapakku dan pergi merantau ke negeri yg Engkau janjikan. Bahkan 
Lot, yang kubawa bersama-sama pun sudah pergi tinggal di daerah Sodom." Lalu 
Tuhan membawa Abram keluar,  Tuhan kemudian mengajak Abram melihat ke langit, 
dan Ia berkata kepada Abram, "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang 
jika engkau dapat menghitungnya. Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." 
Bagaimana kalau kita jadi Abram? Kita mungkin akan berkata, "Yang seperti debu 
saja belum Tuhan tepati, sekarang seperti bintang-bintang di langit lagi." 
Tuhan membaca hati Abram dan Tuhan menambahkan, "Akulah Tuhan yang membawa 
engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu." Ur-kasdim 
ketika itu adalah sebuah kota yang besar. Kalau mau dibandingkan mungkin 
seperti New York sekarang ini. Biasanya orang pindah dari sebuah kota yang 
tidak terlalu berkembang atau maju ke kota lain yang jauh lebih maju dan 
berkembang. Tapi justru Tuhan membawa Abram keluar dari "New York" pada masa 
itu dan berjanji untuk menjadikannya "presiden" di negeri baru. Di dalam hati 
Abram mungkin berkata, "Tuhan, janganlah bicara yang jauh-jauh. Janji yang dulu 
saja belum Tuhan tepati." Maka Abram bertanya, "Tuhan, dari manakah aku tahu, 
bahwa aku akan memilikinya?" Abram mulai meragukan Tuhan. 

 

Ini adalah masalah kepercayaan (trust). Ketika seseorang menjanjikan kita 
sesuatu, kita seringkali bertanya bagaimana kita yakin orang tersebut akan 
menepati janjinya. Di dalam masyarakat modern, manusia kemudian membuat sebuah 
perangkat (cara) untuk memastikan bahwa orang yang menjanjikan sesuatu akan 
menepati janjinya. Ada dua macam sistem untuk memastikan kepercayaan. Sistem 
yang pertama adalah legal agreement, berupa kontrak yang memiliki landasan 
hukum tetap (dengan segala konsekuensi hukum yang harus ditanggung jika 
perjanjian tersebut dilanggar oleh pihak yang bersepakat) yang dilakukan di 
depan notaris. Dalam relasi yang terdiri dari pihak yang asing satu sama lain, 
sistem ini dipakai, seperti dalam kontrak bisnis dan sebagainya. Kalau tidak, 
akan susah sekali untuk memastikan bahwa satu pihak akan menepati perjanjiannya 
terhadap pihak yang lain. Sistem yang kedua adalah sistem perjanjian yang 
dilandaskan atas dasar kepercayaan pribadi semata (gentlement agreement). 
Seperti kalau kita makan di warteg. Setelah makan, kita yang memberitahu apa 
saja yang telah kita makan dan si pelayan akan percaya saja. Kalau kita makan 
sesuatu tapi tidak mengakuinya, si pelayan juga tidak akan tahu dan menuntut. 
Di sini Abram memilih sistem yang pertama. Abram seperti ingin bilang, "Teken 
kontrak yuk Tuhan." Tuhan melihat keraguan Abram, lalu Tuhan berkata, "Ambillah 
bagiKu seekor lembu betina..." (ayat 9). Dalam sebuah hubungan yang diwarnai 
personalitas, keintiman, keakraban, di mana kepercayaan dilandaskan pada 
kepercayaan semata (gentlement agreement) atau dilandaskan pada kasih misalnya 
hubungan antara suami-istri, orang tua-anak, antara kekasih, tuntutan jaminan 
dari janji berupa legal agreement bisa menyakitkan. Misalnya ada seorang ayah 
yang bilang kepada anak-anaknya, "Kalau bapak mati, nanti kamu akan dapat ini, 
dan nanti kakakmu akan dapat itu." Tetapi anaknya belum puas, khawatir nanti 
sang ayah ingkar janji, maka sang ayah diajak untuk bikin kontrak di depan 
notaris. Bagaimana perasaan sang ayah tersebut? Seperti itulah perasaan Tuhan 
terhadap Abram. Tuhan sudah memberkati Abram begitu banyak, Ia sudah menyertai 
hidup Abram sedemikian rupa, Ia begitu dekat dengan Abram, sampai-sampai 
dibilang bahwa Abram adalah sahabat Tuhan. Tetapi di sini Tuhan memberi ruang 
kepada kelemahan Abram. Tuhan sebenarnya tidak butuh perjanjian dengan Abram. 
Siapa yang butuh seorang Abram untuk memiliki negeri itu? Bukankah Abram 
sendiri dan bukan Tuhan? Tetapi Tuhan dengan sangat herannya merendahkan 
diriNya menuruti kemauan Abram. Maka Tuhan setuju untuk memakai kontrak 
perjanjian yang paling ketat dan tinggi nilainya di masa itu, yaitu kontrak 
darah. Mulai dari lembu sampai burung, yang melambangkan perjanjian dari yang 
paling kaya sampai yang paling miskin. Abram lalu menurut, dia persiapkan 
semuanya. Pada masa itu, prosesinya adalah, semua binatang itu dipotong dua dan 
diletakkan di dua sisi, dengan darah dan isi perut yang kececeran di antaranya. 
Kemudian kedua belah pihak yang bersepakat akan berjalan di tengahnya sambil 
berkata, "Sekiranya saya melanggar janji ini biarlah Tuhan memberlakukan pada 
saya seperti binatang-binatang yang tercabik-cabik ini." Abram siapkan semuanya 
tetapi Abram tidak berani berjalan ke tengahnya, ia tidak berani teken kontrak 
itu. Sampai burung-burung buas datang yang menandakan bau anyir darah yang 
mulai menyebar. Abram terus menunggu sampai ia tertidur. Ketika itulah gelap 
gulita yang amat mengerikan mencengkeram dia. Itulah saat Tuhan membuka hatiNya 
kepada Abram. Allah yang begitu luar biasa mau membuka hatiNya kepada seorang 
manusia. Tidak ada seorang manusia pun pada jaman itu yang menerima kesempatan 
seperti ini. Betapa besar berkat yang diterima oleh Abram. Orang Mesir tidak 
bisa sharing dengan Dewa Matahari mereka. Tetapi Tuhan mau membagi visinya 
dengan seorang manusia. Tuhan mau menyatakan kerinduanNya kepada Abram. Tuhan 
sharing kepada Abram, rencana Tuhan bagi keturunan Abram (ayat 14). Dan secara 
khusus mengenai kehidupan Abram sendiri Tuhan berjanji bahwa Abram akan 
meninggal dengan sejahtera ketika ia sudah putih rambutnya. Abram akan mati 
bukan karena sakit penyakit, dia akan mati dalam segala kecukupan dan 
kejayaannya. Tuhan menjanjikan hidup yang begitu sempurna dan memuaskan bagi 
Abram, kehidupan yang didamba setiap orang pada masa itu. Sama seperti kita 
sekarang mendambakan, kecil dimanja, muda terkenal, tua kaya raya, mati masuk 
sorga. Seperti itulah yang dijanjikan Tuhan bagi Abram. Tetapi Tuhan memiliki 
rencana yang lebih besar dari itu, maka Tuhan memakai ayat yang lebih panjang 
tentang keturunan keempat yang akan kembali untuk dipakai Tuhan menghakimi 
orang Amori. Tuhan masih akan tunggu sampai kejahatan orang Amori itu genap, 
Tuhan masih akan menunggu sampai mungkin beberapa orang di sana bertobat, baru 
Tuhan hukum (ayat 16). Dan akhirnya, Allah sendirilah yang kemudian berjalan di 
antara potongan binatang itu (ayat 17). Allah secara sepihak meneken kontrak 
darah itu sedang Abram, yang meminta perjanjian itu, tidak sanggup meneken 
kontrak dengan Allah. Abram tahu bahwa dia tidak sanggup, dia gentar. Allah 
mengerti, maka Allah sendiri yang kemudian mengukuhkan perjanjian itu. Betapa 
besar kepercayaan yang Tuhan beri bagi Abram!

Lantas bagaimanakah respon Abram kepada semua janji Allah itu? Abram lupa akan 
janji Tuhan. Kita melihat kemudian bahwa Abram menghampiri Hagar dan mempunyai 
anak dari dia. Kalau kita lihat, Kej 16:1, kita melihat suatu struktur yang 
secara implisit sama dengan Kej 3:6. Sarai yang memiliki budak perempuan 
memberikannya kepada Abram suaminya dan Abram menerima budak itu. Hawa, 
perempuan pertama itu, mengambil buah dan memberikannya kepada Adam dan Adam 
menerimanya. Buah yang ditawarkan Hawa kepada Adam tentunya bukan buah yang 
asam atau tidak enak, bukan. Begitu pula Hagar dipandang Sarai baik. Abram pun 
kemudian berpikir bahwa mungkin saja ini jalan Tuhan untuk mempunyai seorang 
anak. Di sini penulis Kitab Kejadian ingin menyatakan bagaimana Abram dan Sarai 
sebagaimana Adam dan Hawa telah jatuh ke dalam dosa. Abram dan Sarai di sini 
tidak memperkenan hati Tuhan. Di sini Abram tidak percaya kepada Allah,  dia 
mewujudkan ketidakpercayaannya ke dalam daging. Dia mencoba mengkalkulasi 
sendiri. Sarai sudah tua dan mandul, sebentar lagi dia impoten dan mumpung 
masih bisa menghamili, terima saja Hagar, yang dengan rela hati diberikan oleh 
Sarai bagi dia, masyarakat pun toh memperbolehkan hal ini dan ini tidak 
melanggar hukum Tuhan, karena Tuhan belum memberikan hukum mengenai hal seperti 
itu. Jaman sekarang, kalau seorang istri memberikan pembantunya kepada 
suaminya, pastilah akan jadi bahan gunjingan banyak orang. Tidak lumrah. Tapi 
pada masa itu, lumrah kalau seorang istri yang mandul memberikan budak 
perempuannya kepada suaminya supaya sang suami mempunyai keturunan. Tetapi 
kelumrahan itu tidak berkenan di hati Tuhan karena ketidak-percayaan Abram 
kepada Tuhan. Jadi reaksi Abram ketika Tuhan mencurahkan isi hati-Nya kepada 
dia adalah Abram tidak peduli, tidak ambil pusing! Karena visi Tuhan tidak 
berkaitan langsung dengan masalah dirinya. Ia hanya terpaku pada realita bahwa 
ia masih belum punya anak sementara sebentar lagi mungkin meninggal. Jadi tidak 
apa-apa, mungkin Tuhan akan berkenan.. Nanti akan kita lihat pada Kej 17:18, 
bagaimana Abram (yang ketika itu sudah berubah namanya menjadi Abraham) masih 
berharap sekiranya Tuhan berkenan kepada Ismael untuk menjadi ahli warisnya. 
Abram masih saja tidak peduli terhadap visi Tuhan. Padahal Tuhan sudah begitu 
sungguh-sungguh membuka hati-Nya dan memberikan visi-Nya kepada Abram. Raja 
yang begitu besar mau mengikat janji dengan hamba yang begitu rendah tetapi 
dianggap sepi oleh hamba-Nya. Masalah Abram adalah belum punya anak, tetapi 
Tuhan berbicara tentang keturunannya akan diperbudak sampai 400 tahun dan 
tentang orang Amori. 

Kita lihat di sini, kecenderungan Abram sama dengan kecenderungan kita. Kita 
begitu egosentris, tidak bisa melihat melampaui kondisi pribadi, melampaui 
jaman, melampaui interest kita. Allah punya kepedulian dan visi yang begitu 
global, begitu besar melampaui sejarah, begitu luas melampaui batas-batas 
ketertarikan (interest) kita. Kita mungkin tidak tertarik ke sana, tapi visi 
Tuhan mencakup juga daerah itu. Visi Tuhan, Dia hendak memakai kita seperti 
apa, itu besar sekali, jauh lebih besar dari masalah kita. Masalah-masalah yang 
begitu nyata di hadapan kita mungkin adalah masalah-masalah yang tidak terlalu 
penting dibandingkan dengan visi Tuhan di dalam hidup kita. Sama seperti 
perumpamaan yang Pak Yusak pernah cerita bagaimana pesawat terbang dari kertas 
bisa lebih besar daripada pesawat boeing 747. Caranya? Taruh saja pesawat dari 
kertas itu di depan mata sampai menutupi pandangan, maka pesawat boeing 747 
yang jauh di belakang itu tidak akan kelihatan. Masalah kita adalah bos yang 
sering marah, belum punya anak, anak nakal sekali, dan lain sebagainya. Masalah 
itu sering kita taruh di depan mata, jadi besar sekali. Dan kita juga sering 
lupa bahwa Tuhan adalah Tuhan yang melihat, Tuhan yang mahakuasa. Dia sudah 
merancang hidup kita yang di sini dan sekarang ini untuk kita belajar sesuatu 
dariNya, untuk kita melatih diri dariNya. Tapi mungkin yang kita katakan 
adalah, yang penting Tuhan selesaikan dulu masalah saya. Tapi Tuhan mengatakan 
Tuhan mau memakai hidup kita untuk satu visi Tuhan. Mungkin kita katakan, 
okelah (mau bilang apa lagi, Dia yang jadi Bos anyway), tapi kok melangit 
sekali, tidak membumi, tidak realistis.

Begitulah tanggapan kita, tanggapan Abram ketika Tuhan mencurahkan isi hatiNya 
yang paling dalam, yang paling intim. Kita adalah orang-orang yang tidak bisa 
melihat nilai itu. Kita tidak bisa melihat betapa besar kepercayaan yang Tuhan 
berikan bagi kita. Sudah seberapa jauh kita memahami firman Tuhan? Tuhan 
mempercayakan saudara-saudara di sekeliling kita. Sudah seberapa jauh kita 
menjadi berkat bagi mereka dan sudah seberapa jauh kita membiarkan mereka 
menjadi berkat dalam hidup kita? Tuhan mempercayakan musuh-musuh di sekeliling 
kita, orang-orang yang  menjengkelkan yang menjadi duri dalam daging. Seberapa 
jauh kita memandang mereka sebagai penghakiman Tuhan atas dosa-dosa kita, 
supaya kita ditegur dan kita sadar. Seberapa jauh kita melihat mereka sebagai 
alat Tuhan untuk mengasah karakter kita agar menjadi seperti Kristus. Kristus 
yang sabar terhadap Pilatus, Kristus yang sabar terhadap kebodohan Petrus dan 
Yohanes. Kristus yang sabar kepada orang-orang berdosa seperti kita. Berapa 
jauh kita hanya tinggal diam dalam situasi yang Tuhan ijinkan untuk kita 
belajar di dalamnya. Coba lihat Hagar. Hagar ini seperti perempuan yang ketiban 
pulung. Dari budak menjadi istri penguasa. Hagar ini kisahnya mirip dengan 
Penina, madu dari Hana, ibu Samuel. Sebagaimana Penina menghina Hana karena ia 
bisa mengandung sedang Hana tidak, demikian pula Hagar menghina Sarai karena 
tidak dapat mengandung anak bagi Abram. Karena dihina terus oleh Hagar, maka 
Sarai yang sudah tidak tahan lagi mengadukan hal ini kepada Abram dan Abram 
mempersilahkan Sarai melakukan apapun yang dikehendakinya terhadap Hagar. 
Karena tidak tahan ditindas oleh Sarai, akhirnya Hagar kabur. Dari pelarian 
Hagar ini kita bisa belajar satu hal. Ketika Hagar lari dari Sarai, malaikat 
Tuhan menjumpai dia di sebuah mata air. Hal pertama yang diucapkan oleh 
malaikat adalah salam, "Hai Hagar, hamba Sarai." Ini membuat Hagar sakit hati. 
Dia sudah lari tapi masih saja diingatkan tentang statusnya sebagai hamba dan 
lebih menyebalkan lagi dia diingatkan bahwa Sarai itu adalah majikannya. 
Padahal, Sarai itu sudah begitu menyakiti dia, belum lagi Hagar merasa bahwa 
sebagai sesama istri Abram, ia lebih tinggi kedudukannya dibanding Sarai karena 
ia bisa mengandung sedang Sarai tidak. Lalu pertanyaan berikutnya adalah 
pertanyaan yang sama yang digunakan Allah ketika bertanya kepada Adam dan Hawa 
setelah mereka memakan buah yang dilarang oleh Tuhan. Malaikat Tuhan bertanya 
kepada Hagar, "Darimana asalmu dan ke mana pergimu?" Hagar diingatkan tentang 
asal usulnya dan kalau mau pergi, ia harus berpikir dulu, mau pergi ke mana. 
Sebagaimana wajarnya orang yang mau kabur dari masalah, kita hanya mau kabur 
saja. Maunya masalah cepat berlalu. Pokoknya lepas saja, hilang saja tetapi 
tidak tahu setelah itu bagaimana. Pokoknya asal nggak sendirian lagi, Tuhan. 
Asal nggak miskin lagi. Asal tidak berhadapan dengan bos yang menyebalkan itu 
lagi. Asal masalah saya selesai. Tapi setelah itu mau kemana? Apa kata malaikat 
Tuhan kepada Hagar? "Kembalilah kepada nyonyamu. Biarkan dirimu ditindas....." 
Wah, Hagar semakin benci membayangkan harus mengalami lagi perlakuan dari 
Sarai. Kalau kita jadi Hagar, kita mungkin akan meninggalkan Tuhan. Tuhan 
seperti tidak mengerti masalah Hagar. Tapi Tuhan mau supaya Hagar kembali 
kepada setting awal yang Tuhan sudah rencanakan untuk dia jalani. Lalu malaikat 
Tuhan mengatakan, "Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu." Jadi janji 
kepada Abram itu lebih dulu digenapkan kepada Hagar bukan Sarai. Malaikat Tuhan 
lalu berkata kepada Hagar, "Namailah anakmu, Ismael, artinya Tuhan mendengar 
tentang penindasan atasmu." Ini untuk mengingatkan Hagar, bahwa Tuhan mendengar 
ketertindasan dia. Hagar menurut dan dia kembali kepada Sarai. Abram, Sarai dan 
Hagar masing-masing terpaku pada masalah mereka sendiri, padahal Tuhan mau 
pakai masing-masing mereka menjadi bapak dan ibu bangsa-bangsa yang besar. Tapi 
di antara mereka bertiga, Hagar lah yang terlebih dahulu menunjukkan langkah 
imannya dengan cara: Kembali kepada Sarai! Kembali dengan rela ke bawah 
penindasan istri tua itu. Betapa besar iman Hagar!

Kita sering memperlakukan Tuhan sebagai sinterklas rohani, sinterklas sorgawi 
yang harus siap menolong kita kapan saja. Setelah itu kita lupa, paling 
berterimakasih sedikit. Ketika kita punya masalah, kita datang pada Tuhan, 
hanya untuk lepas dari masalah itu. Tapi Tuhan tidak mau diperlakukan seperti 
itu. Dia mau jadi TUHAN atas kita. Tuhan mungkin tidak cepat-cepat lepaskan 
kita dari masalah. Bukankah justru sebelum kita dapat masalah, Tuhan mampu 
mencegah supaya kita tidak dapat masalah. Kalau Tuhan mahakuasa dan Dia mampu 
menyelesaikan masalah kita, bukankah Dia juga mampu mencegah supaya kita tidak 
dapat masalah. Orang karismatik bukankah hanya berhenti di setengah bagian 
pertama saja, bahwa Tuhan mampu menyelesaikan masalah kita. Mereka lupa bahwa 
Tuhan pun mampu cegah masalah itu terjadi dalam hidup kita. Tapi kenapa Tuhan 
tidak cegah? Maka, kalau kita mau beriman bahwa Tuhan mahakuasa dan segala 
sesuatu ada di bawah kontrolNya maka kita harus terima, segala hal yang terjadi 
dalam hidup kita melalui pertimbanganNya yang maha bijaksana adalah untuk 
kebaikan kita, demi satu hidup yang berarti bagi kita dan demi kemuliaan 
namaNya. Karena Dia begitu bijak melampaui kebijaksanaan kita, Dia begitu 
mengasihi kita melebihi keserakahan kita, keinginan kita untuk dimanja. Kita 
mau hidup enak, bebas dari masalah. Tapi Tuhan mau pakai kita lebih mulia dari 
itu. Kita puas kalau kita cukup makan enak dalam pesta ini, tapi Tuhan mau kita 
mendapat manfaat yang lebih lagi dari pesta yang namanya kehidupan ini Maka 
kita akan melihat bahwa segala masalah, semua duri dalam daging itu adalah 
belaian sayang dari Tuhan dan merupakan pelatihan yang Tuhan berikan bagi diri 
kita. Jadi hal-hal yang kita benci sekali dalam hidup kita itu adalah ekspresi 
rasa sayang Tuhan kepada kita sama halnya dengan hal-hal yang kita sukai dalam 
hidup kita. Beberapa orang mungkin mengatakan, "O doanya kurang kencang."  
Padahal Tuhan adalah Tuhan yang mendengar. Dia mendengar doa kita bahkan 
sebelum kita mengucapkannya.. Tuhan adalah Tuhan yang melampaui kemanusiaan 
kita. Tuhan menunjukkan diriNya sebagai Tuhan yang mahakuasa, yang berdaulat 
untuk memakai kita sesuai dengan keinginanNya. Kita seumpama sekrup kecil dari 
sebuah mesin yang besar. Kita mengeluh kenapa kita hanya sebuah sekrup kecil 
yang tidak kelihatan dan selalu kepanasan karena adanya di dalam mesin. Kenapa 
kita tidak jadi layar/display yang bisa dilihat orang banyak? Padahal tanpa 
kita, sekrup kecil ini, mesin yang besar itu tidak dapat berjalan dengan 
semestinya. Kita mungkin adalah sekrup kecil itu, yang orang tidak lihat atau 
perhatikan. Tapi Tuhan mau memakai kita sebagai sekrup kecil, sebagai bagian 
kecil dari rancangan Tuhan yang maha besar yang namanya kehidupan. Tapi kita 
seringkali mengeluh, kita mau bikin agenda sendiri. Dan kita menjadi 
orang-orang yang kehilangan makna hidup kita. Pertanyaan malaikat Tuhan berlaku 
buat kita, dari mana datangmu dan ke mana pergimu? Hari ini ketika Tuhan 
menetapkan sesuatu untuk kita jalani, apakah itu menantikan janji Tuhan seperti 
Abram ataukah menanggung penindasan seperti Hagar. Bagaimana respon kita kepada 
Tuhan? Apakah kita mengatakan, "Tuhan pakai hidup saya, Tuhan tolong bukakan 
Tuhan mau pakai saya di mana, Tuhan mau saya ubah sifat saya yang bagaimana?" 
Ataukah kita bertanya, "Tuhan kapan ya masalah ini selesai, Tuhan kapan ya 
hidup saya berubah." 

Ada seekor lebah pekerja yang menetas dan bertambah besar dalam asuhan 
tante-tante lebah yang lain. Setelah besar, dia pun mulai bekerja, lama 
kelamaan dia merasa amat bosan dengan pekerjaan yang begitu-begitu saja, pergi 
mencari nektar lalu mengumpulkannya dalam sarang untuk kemudian menjadi madu. 
Lalu dia mulai bertanya untuk apa semua kerja keras itu, apa artinya kalau toh 
pada akhirnya dia pun akan mati sebagaimana tante-tantenya. Ingin rasanya dia 
pergi dari kumpulan lebah itu, dari si ratu lebah yang tidak pernah bekerja 
keras seperti dia. Ingin rasanya dia berdiri dan berusaha sendiri. Lalu pada 
suatu hari, seorang tante yang bijaksana mengajaknya berjalan-jalan. Dan 
tantenya ini mulai menerangkan betapa pekerjaan yang si lebah ini lakukan, 
walaupun kelihatannya begitu-begitu saja tetapi memiliki dampak yang besar 
terhadap lingkungan yang lebih luas ketimbang habibat lebah sendiri. Betapa 
ketika si lebah mencari nektar dengan cara mengacak-ngacak sari bunga yang dia 
hinggapi, sesungguhnya dia telah membantu bunga tadi melakukan proses 
penyerbukan dan kemudian menjadi buah. Kalau semua lebah tidak melakukan 
pekerjaannya, bunga tadi tidak akan menjadi buah. Dan kemudian jenis pohon 
tersebut mungkin akan punah. Kalau pohon tersebut punah maka mulai dari manusia 
yang memakan buah pohon itu sampai binatang-binatang yang diam atau memakan 
daun atau buah pohon itu pun akan berangsur punah. Pada akhirnya seluruh rantai 
makanan dari ekosistem di situ akan berantakan. Pekerjaan yang kelihatannya 
kecil tapi ternyata memiliki dampak yang luas. Maka si lebah ini penting tapi 
sekaligus juga tidak penting. Mengapa? Karena kalau dia mati pun masih banyak 
yang akan menggantikan. Kita ini kecil sekali. Bukankah kalau kita mati, masih 
banyak orang lain yang akan menggantikan posisi kita. Di dunia ini tidak ada 
satu pun manusia, walau sehebat atau sepenting apapun, yang kalau mati dunia 
runtuh. Siapa pun dia, entah Bill Gates atau presiden Amerika sekalipun. Tapi 
sekaligus juga manusia, seperti seorang nenek yang setiap hari berdagang 
singkong rebus di depan sekolah, juga melakukan sebuah pekerjaan yang penting. 
Satu bagian kecil dalam rencana Tuhan yang besar. Bayangkan kalau lebah itu 
tidak mau jadi lebah lagi, maka ia akan kehilangan makna hidupnya. Karena 
seekor lebah dirancang untuk menjalankan tugas seekor lebah. Di luar itu tak 
ada makna bagi keberadaannya. Demikian kita, ketika hanya terpaku pada masalah 
kita, kita tidak ambil bagian dalam rencana agung Tuhan, kita mau buang 
anugerah Tuhan yang begitu besar, kesempatan dan kehormatan yang begitu tinggi 
yang sudah Tuhan berikan buat kita orang yang tidak layak dipercaya seperti 
kita. Alkitab mencatat bahwa Tuhan memperhitungkan kepercayaan Abram sebagai 
kebenaran. Tuhan memberi secara status bahwa Abram adalah orang benar, Abram 
adalah sahabat Tuhan. Sebuah pengakuan de jure, tapi apakah secara de facto 
Abram menyatakan kepercayaannya? Kalau kita melihat perlakuannya kepada Hagar, 
persekongkolan dengan Sarai untuk membuat rencana sendiri, Abram tidak percaya 
kepada Tuhan. Tetapi kepercayaan yang begitu besar sudah Tuhan beri kepada 
Abram yang tidak percaya. Bagaimana dengan kita? Apakah kepercayaan yang begitu 
besar yang Tuhan sudah berikan kepada kita akan kita sia-siakan? Tuhan Yesus 
ketika akan naik ke surga mempercayakan penyebaran firmanNya kepada kita. Dia 
mempercayakan bagaimana contoh mengasihi di dalam daging, firman menjadi 
daging, yaitu dalam hal mengasihi satu sama lain. Di dalam kita dan kepada 
kita, manusia yang rentan ini. Akankah kita anggap sepi pembukaan hati Tuhan 
yang amat intim demi kebebalan kita yang hanya ngotot agar masalah kita 
selesai. Ataukah kita dengan rela hati mau dipakai Tuhan? Dan kita akan melihat 
hidup ini sebagai sebuah pemberian yang luar biasa indahnya. Kita akan melihat 
setiap kepercayaan, setiap kesempatan, setiap musuh, setiap kondisi yang sulit 
sebagai pemberian Tuhan yang begitu agung. Dan kita gemetar ketika kita 
mengambilnya karena kita tahu betapa kecilnya kita. Kita tidak akan mampu 
menjalankan semuanya tanpa anugerah Tuhan yang memampukan kita. Akankah kita 
menjadi orang-orang yang sungguh-sungguh percaya yang berjalan dalam dunia?  

 

Bapa inilah kami, orang-orang yang mungkin Tuhan sudah sebut sebagai sahabat, 
orang yang sudah ditebus oleh Tuhan bahkan sebagai anak-anak Tuhan. Tapi dalam 
hidup kami, kami kurang percaya kepada Tuhan. Dalam hidup kami Tuhan, kami 
masih saja tertarik kepada interest kami yang kecil, bagaimana masalah kami 
selesai, bagaimana tujuan-tujuan kami tercapai. Bagaimana hidup kami jadi 
seperti yang kami mau. Ini sebabnya ya Tuhan, ketika Engkau membuka isi hatimu 
kepada kami, kami mungkin tidak menganggapnya penting dan kami tidak terlalu 
peduli itu, ya Tuhan. Kami menganggap itu terlalu jauh, terlalu mengangkasa, 
tidak membumi. Ya Tuhan, kiranya Engkau mengampuni kami. Kiranya Engkau tidak 
meninggalkan kami. Kiranya Tuhan, Engkau boleh meneguhkan kami, untuk kami 
kembali pulang dalam tempat kami. Pulang kepada posisi kami yang Tuhan ingin 
kami kerjakan seumur hidup kami. Pulang kepada posisi yang mungkin sulit, yang 
tidak kami suka, dan kami benci. Tapi Tuhan, kami sadar bahwa Tuhan menempatkan 
kami di sana untuk kami mengerjakan bagian kami sampai tuntas. Kiranya Tuhan, 
Engkau memberi kekuatan kepada kami, hikmat kepada kami melampaui keberdosaan 
kami, melampaui kemalasan kami, melampaui kebodohan kami, melampaui keegoisan 
kami, melampaui keserakahan kami. Kiranya Tuhan, Engkau memakai hidup kami yang 
kecil ini. Dalam Yesus kami berdoa, amin



[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke