Dear all, Rekan saya, Mbak Lis (Listiana S.) yang pernah bersaksi tentang kesembuhannya dari kanker paru2 oleh karena kuasa & mukzizat Tuhan Yesus, baru saja mengalami musibah hilangnya file2/e-mail2 dari komputernya.
Karena banyak e-mail yang dikirim oleh pembaca kesaksiannya yang belum sempat dibalas, maka Mbak Lis melalui e-mail ini mohon maaf sekaligus minta bantuan rekan2, terutama yang pernah bekirim e-mail kepada Mbak Lis (dan masih menyimpan atau masih ingat isinya), agar sudi kiranya mengirim ulang ke Mbak Lis. Terima kasih atas perhatian & bantuan rekan2 semua. GBU Hilmy "Listiana" <[EMAIL PROTECTED]>@yahoogroups.com on 12/07/2005 02:10:14 PM Hilmy & Andreas, Saya mau minta tolong. April lalu, ketika saya mengirimkan kesaksian saya ke milis ini, kalian berdua mem-forward-nya entah ke mana saja, namun... karena penyelenggaraan Ilahi, e-mail itu menyebar tidak hanya ke pelosok Indonesia, tetapi juga ke negara-negara lain (Belanda, Australia, Amerika, Swedia, Filipina... Luar biasa, ya!) Pasti ini berkat kalian, karena saya tidak mengirim kesaksian itu ke milis lain! Nah, saya baru mengalami musibah e-mail seperti bisa dibaca di bawah. Saya minta tolong agar e-mail saya dikirim ke milis-milis tempat kalian mengirim kesaksian saya dulu. Saya percaya, kalau rencana saya sesuai dengan rencana Tuhan, saya akan mendapatkan kembali e-mail2 yang hilang itu, atau gantinya... Ketika 6000 lebih e-mail saya raib, saya sedang membaca buku bagus berjudul The Game of Life, dan setelah meyakini hal di atas, saya pas sampai halaman 72 yang memuat teks demikian: ... there was no lost in divine mind, therefore she could not lose anything which belonged to her; anything lost, would be returned, or she would receive its equivalent. Setelah mengalami banyak hal luar biasa setelah saya sakit, saya tahu kejadian di atas bukan sekadar kebetulan, melainkan "kedipan Tuhan". Saya bukan mau promosi, tetapi GPU menerbitkan buku bagus berjudul When God Winks---Menangkap Isyarat Tuhan dari Peristiwa-peristiwa Kebetulan. Terilhami oleh buku ini, ketika majalah Utusan juga meminta saya menulis kesaksian, saya menulis keaksian dengan judul Ketika Tuhan Mengedip, dengan contoh banyak kasus yang membuktikan that God has been winking at me! Terima kasih banyak atas bantuannya ya. Salam hangat, Listiana Saudara-saudara terkasih dalam Kristus, Saya Listiana, yang bulan April lalu menuliskan pengalaman saya memperoleh anugerah besar mukjizat kesembuhan dari kanker stadium lanjut. Sampai saat ini saya baik-baik saja, sehat walafiat (tentu, bukankah dokter pribadi saya adalah tabib segala tabib!), namun hari Senin, 5 Desember lalu, e-mail saya mengalami musibah besar. Saya ini sangat gap-tek (gagap teknologi), saya tak tahu bahwa kalau "inbox" saya kepenuhan bisa bahaya. Hari Senin itu, "inbox" saya berisi lebih dari 6000 e-mail yang semuanya saya terima tahun 2005, dan semua e-mail itu mendadak raib! Hilang tak terlacak. Aduuuh, saya sedih banget deh. Soalnya sebagian e-mail itu adalah e-mail tanggapan atas kesaksian saya yang atas penyelenggaraan Ilahi telah beredar ke mana-mana. Semuanya e-mail yang bagus: berisi ucapan selamat, sharing pengalaman, dukungan semangat, permintaan kesaksian... (saya terima dalam rentang waktu April s/d Desember 2005!) Padahal sebagian e-mail itu (di antaranya yang saya terima dari Irian, dari negeri Belanda, dan satu lagi dari rekan yang mendapatkan kesaksian saya dari pendeta di Filipina!) rencananya mau saya mintakan izin kepada pengirimnya untuk saya muat di buku kesaksian saya (ya, saya sedang menuliskan pengalaman saya, dan rencananya ada bab khusus tentang kesaksian saya yang mendunia). Kesibukan dan keterbatasan waktu membuat saya belum sempat membalas sebagian besar e-mail yang masuk. Dalam kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua Saudara yang telah mengirim e-mail kepada saya, dan memohon maaf kepada mereka yang e-mailnya belum sempat saya tanggapi. Saya juga ingin minta tolong untuk menyebarkan e-mail ini seperti Saudara menyebarkan email kesaksian saya dulu. Dan, seandainya Anda salah seorang yang pernah mengirim e-mail kepada saya dan e-mailnya kebetulan masih ada dalam boks "sent items" Anda, mohon e-mail itu dikirimkan kembali kepada saya. Sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian, kepedulian, dan pertolongan Saudara sekalian. Tuhan memberkati. Salam hangat, Listiana [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote on 03/16/2005: Ini pengalaman Ibu Listiana, penerjemah Gramedia yang juga rekan sealumni saya di UKSW. Banyak buku-2 berbahasa Inggris yang telah diterjemahkannya, salah satunya adalah novel seri Harry Potter. Semoga menjadi berkat bagi kita semua. Hilmy "Listiana" <[EMAIL PROTECTED]> on 03/16/2005 01:07:14 PM Dear Juliani, Didiek, Budyanto, DEAR (Dhar-Esther-Adri-Ratna), Tetty, Hartanto, Sioe Lan (Tan & Djoa), Lucy, Celly, Andreas, Ibu Andriani (Cik Kioe), Mas Urip, Mas Djum, dan semua teman Ed-ers lain yang menulis surat bagus-bagus untuk saya tapi namanya ketinggalan belum disebut di sini... Pertama-tama, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena selama ini diam aja, seperti orang yang tak tahu berterimakasih atas perhatian dan kebaikan para sahabat. Selama saya sakit dan hanya ngantor seminggu dalam tiga minggu (itu pun cuma setengah hari), ada buanyaaak sekali e-mail yang belum kebaca. Sekarang setelah ngantor tiap hari, di sela-sela kesibukan rutin kantor, saya nyicil membaca e-mail2 itu. Kemarin saya buka beberapa Jack-Chap Digest 2004. Barusan saya membuka kiriman Digest 528, tgl. 2 Februari, dan kaget sendiri, serta malu banget! Ada berderet e-mail simpatik yang sangat membuat saya terharu dan melambungkan semangat saya. Juga dalam Digest yang saya baca kemarin. Terima kasih banyak. Saya tak bisa membalas kebaikan kalian, tapi saya yakin Tuhan sendiri yang akan membalasnya. Digest sebelum dan sesudah 2 Februari saya sudah baca sebelumnya, tapi kok ya ndilalah yg tgl 2 baru hari ini dibuka! Terima kasih juga atas dorongan untuk menuliskan pengalaman saya. Sejak awal saya sakit, S. Mara Gd (pengarang kami di Surabaya) yang tiap malam mengirim Reiki kepada saya, sudah membujuk saya menulis. Sewaktu saya syukuran dg teman-teman kantor 3 Feb. lalu, setelah mendengar sharing saya, Mira W juga meminta saya menuliskannya. Saya memang sudah memutuskan untuk menuliskannya secara lengkap, tetapi yang membuat saya mantap bukanlah bujukan dari mana-mana, melainkan sesuatu yang tak saya duga sebelumnya: sesudah saya sembuh, ada saja orang yang menghubungi saya (bisa datang, lewat telp, atau e-mail), menanyakan pengalaman saya. Nah, kadang-kadang sehari saya harus cerita dua kali pada dua penanya. Ada yang akhirnya memilih Dr. Ang, ada yang memilih Dr. Eko Wahyuni di Yogya (saya minum kunyit putihnya), ada yang akhirnya ke Pak Darmo Rahardjo (pemilik restoran & toko kue Sindoro di Tanah Abang, yang juga membantu mengobati saya). Dari 2 pasien yg ke Dr. Ang, 1 tak bisa lagi dikemo karena sudah 72 th, satu lagi ibu dari Bandung yang mendadak perdarahan hebat. Ternyata kena CA rahim, untung masih stadium awal, jadi dioperasi di Mount Elisabeth awal Maret lalu, dan sekarang sudah pulang, sudah oke, tak perlu kemo! Yang ke Pak Darmo satu sakit jantung, sudah oke, satunya lagi kena Hepatitis C, kata Pak Darmo juga gak apa-apa, belum cirosis dan belum Ca. Saya ikut senang. Tgl. 14 Februari lalu saya check-up 1 di Sing. Hasilnya bagus. CA 125 turun jadi 8,6, walaupun sudah tidak kemo. Hari Minggu, tgl. 20 Maret ini saya ke Sing lagi utk check up 2. Hasilnya pasti bagus lagi, berkat doa teman-teman semua. Oh ya, saya kebetulan diminta menuliskan pengalaman saya oleh majalah Inspirasi (majalah Kristiani terbitan Semarang). Nah, saya lampirkan di sini tulisan tersebut. Itu kurang lebih ringkasan kisah agak lengkap saya (lengkapnya ya nanti di buku yang sedang saya cicil), siapa tahu ada di antara teman-teman yang berminat membacanya. Nah, teman-teman, sekali lagi mohon maaf dan terima kasih banyak ya. Sungguh beruntung saya punya teman-teman yang luar biasa seperti kalian. Tuhan memberkati. Salam hangat, Listiana Rangkaian Mukjizat "Doa, terutama dalam situasi putus asa dan kedukaan mendalam, menggerakkan hati Tuhan, jika dipanjatkan dengan kerendahan hati." Begitu komentar Bapa Suci untuk Mazmur 116: 3-6 dalam Audiensi 26 Januari lalu: "Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan. Tetapi aku menyerukan nama TUHAN: "Ya TUHAN, luputkankanlah kiranya aku! Tuhan pengasih dan adil, Allah kita penyayang. Tuhan memelihara orang-orang yang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkanNya aku." Persis seperti itulah yang saya alami. Sabtu sore, 7 Agustus 2004, ketika sedang mandi saya merasa dada kanan saya seperti terhantam sesuatu. Malamnya, dan malam-malam selanjutnya, saat berbaring dada saya serasa tertekan. Selewat delapan hari dan ke dokter dua kali, keadaan tidak membaik, bahkan semakin parah, karena kemudian tak hanya saat berbaring, saat berjalan dan duduk pun dada saya seperti tertekan dan saya sulit bernapas. Senin, 16 Agustus saya berkonsultasi dengan sahabat saya Dr. Mira W, yang sekaligus adalah novelis yang telah banyak menerbitkan bukunya di PT Gramedia Pustaka Utama, tempat saya berkarya. Mira menyarankan agar saya segera rontgen Thorax. Setelah mendapat surat pengantar dari Mira, saya langsung ke RS Carolus. Melihat hasilnya, dokter kaget dan langsung menyuruh saya dirawat saat itu juga. Ternyata paru-paru kanan saya sudah hampir tenggelam. Rabu sore dokter menyedot cairan dari paru-paru saya sebanyak satu liter. Esok siangnya saya menjalani CT-scan, dan sorenya USG. Seperti yang telah dicurigai dokter, ada massa berdiameter 2,5 cm di paru-paru kanan saya bagian bawah, dan ada kista berdiameter 4,2 cm di indung telur saya. Jumat sore paru-paru saya disedot lagi, kali ini malah 1,4 liter! Sabtu, 21 Agustus pagi saya dibronkoskopi---paru-paru saya difoto dengan alat foto yang dimasukkan lewat tenggorokan. Sekitar pukul 12.30, saya mendengar vonis maut itu: Saya kena kanker paru-paru, stadium 3B, dan usia saya tinggal 4 - 6 bulan lagi! Saat itu yang terpikir oleh saya hanyalah, bagaimana saya harus memberitahu Dian, anak saya. Dian masih kelas 3 SMU, masih membutuhkan saya. Apalagi dia akan ujian. Bagaimana nanti Dian kalau harus kehilangan ibunya. Setelah berhasil menenangkan diri, saya menelepon Bapak Priyo Utomo, direktur saya, dan Media, sahabat sekaligus sekretaris saya. Sorenya berita tentang saya kena kanker stadium lanjut ini---yang sangat mengejutkan semua yang mendengarnya---sudah tersebar lewat SMS ke hampir semua teman saya, termasuk yang tinggal di luar negeri. Teman-teman saya juga memberitahu para pastor kenalan saya di berbagai kota di Indonesia, juga di Roma. Maka malam itu saya tidak hanya didoakan para sahabat dari Padang sampai Merauke, tetapi juga di berbagai tempat di belahan lain dunia. Hari-hari berikutnya, ketika para relasi bisnis di berbagai negara mendengar saya kena kanker, jejaring doa ini semakin melebar. Sabtu malam itu tepat tengah malam teman-teman kantor saya berdoa serentak di rumah masing-masing. Hari-hari berikutnya mereka berdoa bersama pukul 22.00, dan dari tanggal 6 - 14 September, setiap pukul 11.00 siang di kantor, mereka berkumpul mengadakan Novena kepada Santo Peregrinus. Sementara itu, teman-teman yang non-Gramedia juga mendoakan saya dalam Persekutuan Doa di kantor masing-masing. Doa-doa ini membuat saya tenang. Saya yakin Tuhan pasti menolong saya. Begitu banyak orang memohon, masakan Tuhan tega menolaknya. Setelah berunding dengan keluarga, saya memutuskan untuk mencari pendapat kedua. Minggu, 29 Agustus, saya berangkat ke Singapore ditemani kakak saya, Nindya dan adik saya, Rani. Saya berharap dokter di Indonesia salah diagnosa. Tetapi setelah diperiksa ulang, ternyata memang saya kena kanker, malah kata Dr. Ang Peng Tiam, onkolog paling terkemuka di Asia Tenggara, kanker saya sudah stadium 4. Saya sudah tak bisa diobati lagi! Tak bisa lagi disembuhkan! Dr Ang sudah mempersilakan saya pulang ke Indonesia. Saya terpukul sekali. Saat itu tak ada yang bisa saya lakukan, selain menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Walaupun dokter mengatakan saya tak bisa diobati lagi, tak ada yang mustahil bagi Tuhan. Terus terang, saya mengharapkan mukjizat. Dan mukjizat memang terjadi- tidak seperti yang saya mau---mukjizat instan yang membuat saya sembuh seketika, melainkan sesuai dengan rencana Tuhan! Sebetulnya, setiap hari dalam hidup kita ini pun mukjizat. Tetapi sejak divonis kena kanker, rangkaian mukjizat itu lebih terasa bagi saya. Kedatangan dan perhatian begitu banyak teman juga merupakan mukjizat tersendiri, karena bagi saya mereka adalah perpanjangan kasih Tuhan kepada saya. Sebelum meninggalkan rumah sakit, dokter sudah berpesan kepada suami saya bahwa paru-paru saya seminggu sekali harus disedot. Ketika saya berangkat ke Singapore, semua teman sudah cemas, takut saya mendadak tak bisa bernapas di pesawat. Tetapi sampai tanggal 31 Agustus, ketika saya disedot yang ketiga kalinya, saya baik-baik saja. Padahal sudah lewat 10 hari sejak saya disedot di Carolus, dan ketika itu dalam waktu hanya berselang sehari, sudah ada 1,4 liter cairan. Seorang perawat di Carolus menjelaskan, "Memang begitu kalau kanker, kalau dikutak-kutik dia marah dan memproduksi lebih banyak cairan!" Pastilah Tuhan yang telah menjaga saya dan mengabulkan doa-doa kami semua, sehingga per Sabtu malam itu cairan berhenti diproduksi. Usai bronkoskopi, karena tenggorokan saya luka, seharusnya saya istirahat dan tak boleh banyak bicara. Tetapi, begitu banyak teman telah meluangkan waktu menjenguk saya, mana mungkin saya tak bicara dengan mereka. Kurang istirahat dan stres berat membuat saya akhirnya kena radang tenggorok. Hari saya akan disedot di Singapore, sejak bangun tidur saya sudah batuk-batuk parah. Dalam ruang tindakan, perawat berpesan, "Sebelum, sesudah, dan empat jam setelah disedot Ibu dilarang batuk!" Hah? Saya bingung, soalnya dua kali sedot di Carolus saya batuk-batuk hebat sekali. Menjelang cairan habis, paru-paru saya gatal tak tertahankan. Usai penyedotan kedua, saking hebatnya batuk-batuk, saya sampai diberi bantuan pernapasan dengan masker oksigen. Maka saya bertanya kepada perawat itu, "Kalau saya tak tahan mau batuk bagaimana?" "Tidak boleh! Harus ditahan, sebab kalau Ibu batuk, udara bisa masuk ke paru-paru lewat lubang jarum sedot, dan itu bahaya sekali!" Wah! Di Carolus tidak ada yang memberitahukan hal ini. Saat itu juga saya berdoa, mohon pertolongan Tuhan agar jangan batuk, dan kali ini pertolongan Tuhan instan. Batuk langsung berhenti. Penyedotan dilaksanakan dengan lancar pukul 9.30 pagi, sebanyak 900 ml cairan. Empat jam setelah proses penyedotan, paru-paru saya diperiksa. Tiga jam kemudian saya diperiksa lagi. Setelah dinyatakan aman, tak ada udara di paru-paru saya, saya diizinkan pulang. Setiba di tempat menginap---yang hanya di seberang rumah sakit---sekitar pukul 18.00, saya langsung batuk-batuk hebat lagi! Ketika Dr. Ang memberitahukan bahwa saya sudah tak bisa diobati, saya minta di-PET Scan (Positron Emission Tomography). Kalau memang kanker saya sudah bermetastase ke mana-mana, saya ingin tahu sampai mana saja persisnya. Dr. Ang menjadwalkan saya untuk PET Scan esok harinya. Saya di-PET Scan pukul 11.00. Resminya hasilnya baru akan keluar esok harinya pukul 12.00, maka resepsionis Dr. Ang menjadwalkan pertemuan saya berikutnya dengan Dr. Ang hari Senin siang. Tetapi Jumat sore asisten Dr Ang menelepon, meminta saya datang. Saat saya sedang berbantah dengan resepsionis---dia mungkin kesal sebab saat itu sudah lewat jam praktek dan saya toh sudah diberitahu untuk datang Senin siang---Dr. Ang muncul. "Jangan pergi, saya mau bicara dengan Ibu!" serunya. Rupanya, lewat telepon Dr. Ang sudah mencari tahu hasil PET Scan saya. Ajaib sekali, kanker di paru-paru saya telah lenyap. Saya percaya Tuhan telah memindahkannya ke tempat yang masih bisa diobati, yaitu ke saluran indung telur. Metastase ada di lima tempat, paling jauh di tulang selangka kiri. "Sudah tak bisa dioperasi, karena sudah menyebar," kata Dr. Ang. "Satu-satunya yang mungkin dilakukan adalah kemoterapi." Dokter menjelaskan bahwa dua kemo pertamalah yang menentukan. Jika setelah dua kali kemo tak ada perubahan, tak ada ada harapan lagi bagi saya, karena itu berarti sel kankernya tak bereaksi terhadap obat kemo. Esok harinya, selama sekitar tiga jam, saya menjalani kemoterapi yang pertama. Hari Minggunya kami pulang ke Indonesia. Sungguh luar biasa bahwa semua urusan di Singapore bisa dibereskan dalam waktu satu minggu, karena setelah itu Nindya dan Rani memberitahu saya, sebetulnya mereka sudah memutuskan, kalau dalam seminggu belum beres, kami harus pulang dulu ke Indonesia, setelah itu baru dirundingkan lagi bagaimana selanjutnya. Saya maklum, karena mereka berdua kan bekerja juga, jadi sulit kalau harus berlama-lama cuti. Beberapa tahun lalu, seorang relasi saya yang bekerja di kantor Disney Singapore pernah bercerita kepada saya,""Di Singapore ada gereja yang terkenal sekali. Namanya Novena Church. Katanya, kalau orang percaya berdoa di gereja itu, permohonannya pasti dikabulkan." Ternyata sebetulnya nama gereja ini St. Alphonsus, tetapi karena letaknya di daerah yang bernama Novena, dan setiap hari Sabtu mulai pukul 9.00 pagi setiap jam ada Misa Novena, mungkin gereja ini lalu lebih terkenal sebagai Novena Church. Begitu ada kesempatan, hari Kamis saya ke Novena Church. Saya beruntung bisa ikut Misa Angelus. Hari Sabtu sore usai kemo saya juga ikut misa di sana. Selanjutnya, setiap kali ke Singapore untuk kemo, pos saya hanya dua, rumah sakit dan Novena Church. Sehabis periksa darah saya ikut misa siang, memohon pendampingan, dan hari berikutnya sehabis ketemu dokter saya ke gereja lagi, untuk bersyukur, karena hasil tes darah selalu bagus. Ketika pertama kali ke Novena Church, usai misa saya berkenalan dengan Caroline, yang seperti dikatakannya sendiri, pekerjaannya adalah melayani Tuhan. Begitu tahu saya sakit kanker, saya diajaknya berdoa di depan Tabernakel. Usai berdoa dia berkata, "Yesus berpesan, 'Bergembiralah, anakku." Padahal sore itu Dr. Ang mengatakan saya tak bisa lagi disembuhkan. Malamnya, saya menelepon kakak sahabat saya di Yogya, yang selama ini rajin membantu dan mendoakan saya. Pada akhir pembicaraan, kakak sahabat saya itu berkata, "Yesus berkata, 'Jangan khawatir.' Saya tak tahu apa maksudnya, tetapi begitu pesanNya!" Selain disapa lewat kedua orang itu, Tuhan juga menyapa saya lewat firmanNya. Di Novena Church saya membeli Daily Devotional, semacam renungan harian, oleh Helen Steiner Rice. Untuk setiap hari, Helen membuka dengan semacam puisi pendek, diikuti dengan ayat dari Alkitab, dan diakhiri dengan pesan. Ajaib sekali, hari demi hari, ketika saya sedang terpuruk dalam kecemasan, ayat-ayat dan pesan itu seperti khusus ditulis untuk saya. 31 Augustus, ketika cairan disedot di Singapore dan ternyata memang kanker: Tuhan yang Maha Pengasih telah berjanji Salib yang diberikanNya untuk kita pikul Takkan pernah melebihi kekuatan kita. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu. Lukas 21: 19 Saatnya untuk mengingat Bahwa Tuhan tak pernah menutup pintu Tanpa pernah membuka jendela untukmu. 2 September, ketika Dr. Ang mengatakan saya kena kanker paru-paru dan tak bisa disembuhkan: Ingatlah, bukit-bukit di depan Tak pernah securam kelihatannya Dengan iman di hati, mulailah mendaki sampai kau mencapai impianmu. Yesus menjawab mereka, "Aku berkata kepadamu, jika kamu percaya dan tidak bimbang; kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi." Matius 21: 21 Saatnya untuk memperbesar kegigihanmu. 4 September, ketika saya kemo pertama, dan sudah tahu bahwa bisa diobati: Ada yang selalu menyayangimu Dunia bisa lupa, tetapi Tuhan tetap mengasihimu Ada yang menjaga dan mengasihimu Dan dia adalah Tuhanmu. Biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang tetapi kasih setiaKu tidak akan beranjak darimu. Yesaya 54: 10 Saatnya untuk berterima kasih kepada Tuhan atas pemeliharanNya yang tak pernah putus. Kira-kira sepuluh hari usai kemo pertama, rambut saya mulai rontok. Tanggal 21 September, bangun tidur, ketika memegang rambut saya yang tinggal sepertiganya, rambut saya langsung ambrol, nyaris semuanya, sehingga mulai pagi itu saya nyaris botak-tak! Tinggal beberapa helai rambut saja yang tersisa. Siangnya, ketika membaca Daily Devotional, saya terperangah takjub, sekaligus terharu: Tuhan, sungguh kami tak menyadari Betapa puasnya hati ini Jika tahu bahwa cantiklah kami Jika Tuhan telah menyentuh hati kami! Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati. 1 Samuel 16: 7 Saatnya melihat melampaui ketidaksempurnaan fisik dan berkonsentrasi pada kecantikan di dalam. Sampai sekarang saya tak habis pikir (dan tetap terharu ketika menuliskannya), bagaimana mungkin, tepat ketika rambut saya habis, ayat dan pesan hari itu bisa pas sekali untuk saya! Memang rupanya Tuhan sendiri yang bicara kepada saya. Tentu setelah kemo saya mengalami mual, tubuh sakit semua, tulang-tulang ngilu, sembelit, diare, dan rambut, bahkan alis serta bulu mata rontok - seperti yang dialami orang-orang lain yang dikemo. Kalau biasanya saya bergerak gesit dan berjalan cepat, usai kemo saya terpaksa berjalan tertatih-tatih. Tapi tak apa, saya anggap saja obatnya sangat manjur dan sedang bekerja. Lagi pula selang seminggu biasanya saya sudah pulih, bisa ke kantor lagi. Jadi, tiap kali habis kemo selama seminggu saya ambruk di rumah, kemudian seminggu ke kantor, dan minggu berikutnya, begitu tubuh sudah kuat betul, saya berangkat lagi ke Singapore untuk kemo berikutnya. Tiga minggu setelah kemo pertama, ketika datang lagi untuk kemo kedua, saya cemas. Walaupun dokter memberi batas waktu dua kali kemo, tapi kalau sudah sekali kemo belum ada perubahan kan gawat juga. Ternyata Tuhan Mahamurah. Awalnya CA 125 saya (jumlah sel kanker dalam darah saya per miligram) 991, padahal angka normal 0 - 35. 30 kali normal! Baru sekali kemo, angkanya merosot menjadi 404,5! Usai kemo kedua, ketika hasil tes darah menunjukkan bahwa CA 125 saya sudah turun sampai 100,5, Dr. Ang mengingatkan, "Kanker itu tak bisa diduga, bisa sekarang turun, tapi kali berikutnya naik." Walaupun itu memang terjadi pada banyak pasien lain, saya sendiri yakin, CA 125 saya akan terus turun. Betul saja, usai kemo ketiga, CA 125 merosot jadi 37,2. "Kalau melihat ini, setelah kemo keempat, CA 125 Ibu pasti normal. Sebetulnya, menurut buku, kanker kalau sudah memproduksi cairan, itu berarti sudah stadium 4, dan sudah tak mungkin bisa dioperasi. Tetapi, berkat rahmat Tuhan, progres Ibu baik sekali, sehingga mulai sekarang Ibu boleh memikirkan kemungkinan operasi." Maksud Dr. Ang, kalau hasil pemeriksaan terakhir nanti menunjukkan kanker di saluran indung telur tinggal kecil, saya bisa operasi angkat rahim. Kemungkinan lain adalah melanjutkan kemoterapi, dan yang paling ringan adalah berobat jalan dengan pil. Setelah mempertimbangkannya, saya sudah mantap, apa pun risikonya, saya tak mau operasi. Usai kemo ke-4, angka CA 125 saya berbalik jadi 19,9! Bagi saya ini bukan angka kebetulan. Lewat angka ini, yang jika dibaca dari belakang 991, saya yakin Tuhan mau memberitahu saya bahwa keadaan sudah berbalik, bahwa saya sudah sembuh. Sesuai nasihat dokter, saya melanjutkan kemo sampai tuntas. Kemo ke-6, yang terakhir, tanggal 21 Desember. Menjelang PET Scan kedua, suami saya, Hermaya, memberi masukan, "Sebetulnya kalau rahimnya diangkat, kamu malah seperti tidak pernah kena kanker." Saya sempat bimbang, tapi tetap memutuskan tak mau operasi. Bukan karena saya takut karena mendengar cerita-cerita bahwa setelah operasi biasanya kanker malah jadi menyebar ke mana-mana, tetapi karena perasaan saya mengatakan saya tak perlu operasi. Tanggal 10 Januari saya kembali menjalani PET Scan. Dan hasilnya: TAK ADA LAGI KANKER DI TUBUH SAYA! Tuhan telah menganugerahi saya mukjizat kesembuhan yang sungguh luar biasa! Puji Tuhan. Saya bertanya kepada Dr. Ang, "Terapi berikutnya apa, Dokter?" Saya mengira dan berharap boleh hanya dengan pil. Namun ternyata Dr Ang menjawab, "Karena sekarang kankernya tak ada, Ibu tak perlu operasi, tak perlu kemoterapi, tak perlu pil!" Luar biasa sekali, kalau Tuhan sendiri yang menjadi dokter kita. Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-muridnya bertanya kepadaNya, "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" Jawab Yesus, "Bukan dia dan bukan orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia." (Yohanes 9: 1 - 3) Saya bersyukur sekali Tuhan memilih saya menjadi alat untuk menyatakan kebesaran dan kasihNya, menjadi bukti hidup bahwa Tuhan sungguh menyayangi umatNya dan bahwa tak ada doa yang tak didengar Tuhan. Listiana Srisanti Bekasi [EMAIL PROTECTED] (Tulisan ini diambil dari Majalah Inspirasi edisi April 2005, dan diterbitkan di Obor atas izin khusus Majalah Inspirasi.) --- End of Forwarded Message --- ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/IYOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [email protected] JNM Mailing list are managed by : Indonesian Pentecostal Revival Fellowship (IPRF) Denver, USA (or GPdI Denver) If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED] or If you want to contact IPRF Denver USA, to : [EMAIL PROTECTED] Web Site : http://www.iprf.us -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

