Dear all,

Rekan   saya,   Mbak   Lis  (Listiana  S.)  yang  pernah  bersaksi  tentang
kesembuhannya  dari  kanker paru2 oleh karena kuasa & mukzizat Tuhan Yesus,
baru saja mengalami musibah hilangnya file2/e-mail2 dari komputernya.

Karena  banyak  e-mail  yang  dikirim  oleh pembaca kesaksiannya yang belum
sempat dibalas, maka Mbak Lis melalui e-mail ini mohon maaf sekaligus minta
bantuan  rekan2,  terutama  yang pernah bekirim e-mail kepada Mbak Lis (dan
masih  menyimpan atau masih ingat isinya), agar sudi kiranya mengirim ulang
ke Mbak Lis.

Terima kasih atas perhatian & bantuan rekan2 semua.

GBU
Hilmy




"Listiana" <[EMAIL PROTECTED]>@yahoogroups.com on 12/07/2005 02:10:14 PM


Hilmy & Andreas,

Saya  mau  minta tolong. April lalu, ketika saya mengirimkan kesaksian saya
ke  milis  ini,  kalian berdua mem-forward-nya entah ke mana saja, namun...
karena  penyelenggaraan  Ilahi,  e-mail itu menyebar tidak hanya ke pelosok
Indonesia,  tetapi juga ke negara-negara lain (Belanda, Australia, Amerika,
Swedia,  Filipina...  Luar biasa, ya!) Pasti ini berkat kalian, karena saya
tidak  mengirim  kesaksian  itu  ke  milis  lain!  Nah, saya baru mengalami
musibah  e-mail seperti bisa dibaca di bawah. Saya minta tolong agar e-mail
saya  dikirim  ke  milis-milis  tempat kalian mengirim kesaksian saya dulu.
Saya  percaya,  kalau  rencana  saya sesuai dengan rencana Tuhan, saya akan
mendapatkan  kembali  e-mail2 yang hilang itu, atau gantinya... Ketika 6000
lebih e-mail saya raib, saya sedang membaca buku bagus berjudul The Game of
Life,  dan  setelah  meyakini  hal di atas, saya pas sampai halaman 72 yang
memuat  teks  demikian: ... there was no lost in divine mind, therefore she
could  not  lose  anything  which  belonged to her; anything lost, would be
returned, or she would receive its equivalent.

Setelah  mengalami  banyak  hal  luar  biasa  setelah saya sakit, saya tahu
kejadian  di  atas bukan sekadar kebetulan, melainkan "kedipan Tuhan". Saya
bukan  mau  promosi,  tetapi  GPU  menerbitkan buku bagus berjudul When God
Winks---Menangkap   Isyarat   Tuhan   dari  Peristiwa-peristiwa  Kebetulan.
Terilhami  oleh  buku  ini, ketika majalah Utusan juga meminta saya menulis
kesaksian, saya menulis keaksian dengan judul Ketika Tuhan Mengedip, dengan
contoh banyak kasus yang membuktikan that God has been winking at me!

Terima kasih banyak atas bantuannya ya.

Salam hangat,
Listiana


Saudara-saudara terkasih dalam Kristus,

Saya  Listiana, yang bulan April lalu menuliskan pengalaman saya memperoleh
anugerah  besar mukjizat kesembuhan dari kanker stadium lanjut. Sampai saat
ini  saya  baik-baik  saja,  sehat walafiat (tentu, bukankah dokter pribadi
saya adalah tabib segala tabib!), namun hari Senin, 5 Desember lalu, e-mail
saya  mengalami  musibah  besar. Saya ini sangat gap-tek (gagap teknologi),
saya  tak  tahu  bahwa kalau "inbox" saya kepenuhan bisa bahaya. Hari Senin
itu,  "inbox"  saya berisi lebih dari 6000 e-mail yang semuanya saya terima
tahun  2005,  dan  semua  e-mail  itu  mendadak  raib! Hilang tak terlacak.
Aduuuh,  saya  sedih  banget deh. Soalnya sebagian e-mail itu adalah e-mail
tanggapan atas kesaksian saya yang atas penyelenggaraan Ilahi telah beredar
ke mana-mana.

Semuanya  e-mail  yang  bagus:  berisi  ucapan selamat, sharing pengalaman,
dukungan semangat, permintaan kesaksian... (saya terima dalam rentang waktu
April  s/d  Desember  2005!) Padahal sebagian e-mail itu (di antaranya yang
saya  terima dari Irian, dari negeri Belanda, dan satu lagi dari rekan yang
mendapatkan  kesaksian  saya dari pendeta di Filipina!) rencananya mau saya
mintakan  izin  kepada  pengirimnya  untuk saya muat di buku kesaksian saya
(ya,  saya sedang menuliskan pengalaman saya, dan rencananya ada bab khusus
tentang kesaksian saya yang mendunia).

Kesibukan  dan  keterbatasan  waktu  membuat  saya  belum  sempat  membalas
sebagian  besar  e-mail  yang  masuk.  Dalam  kesempatan  ini,  saya  ingin
mengucapkan  terima  kasih  kepada semua Saudara yang telah mengirim e-mail
kepada  saya,  dan  memohon  maaf kepada mereka yang e-mailnya belum sempat
saya  tanggapi.  Saya  juga ingin minta tolong untuk menyebarkan e-mail ini
seperti Saudara menyebarkan email kesaksian saya dulu. Dan, seandainya Anda
salah  seorang  yang  pernah  mengirim  e-mail  kepada  saya  dan e-mailnya
kebetulan  masih  ada  dalam  boks  "sent  items"  Anda,  mohon  e-mail itu
dikirimkan kembali kepada saya.

Sekali   lagi   saya   mengucapkan  banyak  terima  kasih  atas  perhatian,
kepedulian, dan pertolongan Saudara sekalian. Tuhan memberkati.

Salam hangat,
Listiana
[EMAIL PROTECTED]



<[EMAIL PROTECTED]> wrote on 03/16/2005:

Ini  pengalaman  Ibu Listiana, penerjemah Gramedia yang juga rekan sealumni
saya  di UKSW. Banyak buku-2 berbahasa Inggris yang telah diterjemahkannya,
salah  satunya  adalah  novel seri Harry Potter. Semoga menjadi berkat bagi
kita semua.

Hilmy


"Listiana" <[EMAIL PROTECTED]> on 03/16/2005 01:07:14 PM

Dear  Juliani,  Didiek,  Budyanto,  DEAR  (Dhar-Esther-Adri-Ratna),  Tetty,
Hartanto,  Sioe  Lan  (Tan & Djoa), Lucy, Celly, Andreas, Ibu Andriani (Cik
Kioe),  Mas  Urip, Mas Djum, dan semua teman Ed-ers lain yang menulis surat
bagus-bagus untuk saya tapi namanya ketinggalan belum disebut di sini...

Pertama-tama,  saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena selama ini diam
aja, seperti orang yang tak tahu berterimakasih atas perhatian dan kebaikan
para  sahabat.  Selama  saya  sakit  dan  hanya ngantor seminggu dalam tiga
minggu (itu pun cuma setengah hari), ada buanyaaak sekali e-mail yang belum
kebaca.  Sekarang  setelah  ngantor tiap hari, di sela-sela kesibukan rutin
kantor,  saya  nyicil  membaca  e-mail2  itu.  Kemarin  saya  buka beberapa
Jack-Chap Digest 2004.

Barusan  saya  membuka  kiriman  Digest  528,  tgl.  2  Februari, dan kaget
sendiri,  serta  malu  banget!  Ada  berderet  e-mail  simpatik yang sangat
membuat saya terharu dan melambungkan semangat saya. Juga dalam Digest yang
saya  baca  kemarin.  Terima  kasih banyak. Saya tak bisa membalas kebaikan
kalian, tapi saya yakin Tuhan sendiri yang akan membalasnya. Digest sebelum
dan  sesudah 2 Februari saya sudah baca sebelumnya, tapi kok ya ndilalah yg
tgl 2 baru hari ini dibuka!

Terima  kasih  juga  atas  dorongan untuk menuliskan pengalaman saya. Sejak
awal  saya  sakit,  S. Mara Gd (pengarang kami di Surabaya) yang tiap malam
mengirim  Reiki  kepada  saya,  sudah  membujuk  saya menulis. Sewaktu saya
syukuran dg teman-teman kantor 3 Feb. lalu, setelah mendengar sharing saya,
Mira  W juga meminta saya menuliskannya. Saya memang sudah memutuskan untuk
menuliskannya  secara  lengkap,  tetapi  yang  membuat saya mantap bukanlah
bujukan  dari  mana-mana,  melainkan sesuatu yang tak saya duga sebelumnya:
sesudah  saya  sembuh,  ada  saja orang yang menghubungi saya (bisa datang,
lewat  telp,  atau  e-mail), menanyakan pengalaman saya. Nah, kadang-kadang
sehari  saya  harus  cerita  dua  kali  pada dua penanya. Ada yang akhirnya
memilih  Dr.  Ang,  ada  yang  memilih Dr. Eko Wahyuni di Yogya (saya minum
kunyit putihnya), ada yang akhirnya ke Pak Darmo Rahardjo (pemilik restoran
& toko kue Sindoro di Tanah Abang, yang juga membantu mengobati saya). Dari
2  pasien  yg  ke  Dr. Ang, 1 tak bisa lagi dikemo karena sudah 72 th, satu
lagi  ibu  dari  Bandung  yang  mendadak perdarahan hebat. Ternyata kena CA
rahim,  untung  masih  stadium awal, jadi dioperasi di Mount Elisabeth awal
Maret  lalu,  dan sekarang sudah pulang, sudah oke, tak perlu kemo! Yang ke
Pak  Darmo  satu  sakit  jantung, sudah oke, satunya lagi kena Hepatitis C,
kata  Pak  Darmo  juga  gak  apa-apa, belum cirosis dan belum Ca. Saya ikut
senang.

Tgl. 14 Februari lalu saya check-up 1 di Sing. Hasilnya bagus. CA 125 turun
jadi 8,6, walaupun sudah tidak kemo. Hari Minggu, tgl. 20 Maret ini saya ke
Sing lagi utk check up 2. Hasilnya pasti bagus lagi, berkat doa teman-teman
semua.

Oh  ya,  saya  kebetulan  diminta  menuliskan  pengalaman saya oleh majalah
Inspirasi  (majalah  Kristiani  terbitan  Semarang). Nah, saya lampirkan di
sini  tulisan  tersebut. Itu kurang lebih ringkasan kisah agak lengkap saya
(lengkapnya  ya  nanti  di  buku yang sedang saya cicil), siapa tahu ada di
antara teman-teman yang berminat membacanya.

Nah,  teman-teman,  sekali  lagi  mohon  maaf  dan  terima kasih banyak ya.
Sungguh  beruntung  saya  punya teman-teman yang luar biasa seperti kalian.
Tuhan memberkati.

Salam hangat,
Listiana


Rangkaian Mukjizat

"Doa,  terutama dalam situasi putus asa dan kedukaan mendalam, menggerakkan
hati  Tuhan, jika dipanjatkan dengan kerendahan hati." Begitu komentar Bapa
Suci  untuk Mazmur 116: 3-6 dalam Audiensi 26 Januari lalu: "Tali-tali maut
telah  meliliti  aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku,
aku mengalami kesesakan dan kedukaan. Tetapi aku menyerukan nama TUHAN: "Ya
TUHAN,  luputkankanlah  kiranya  aku!  Tuhan  pengasih dan adil, Allah kita
penyayang.  Tuhan  memelihara  orang-orang yang sederhana; aku sudah lemah,
tetapi diselamatkanNya aku."

Persis  seperti  itulah yang saya alami. Sabtu sore, 7 Agustus 2004, ketika
sedang  mandi  saya  merasa  dada  kanan  saya  seperti  terhantam sesuatu.
Malamnya,  dan  malam-malam  selanjutnya,  saat  berbaring dada saya serasa
tertekan.  Selewat  delapan  hari  dan  ke  dokter  dua kali, keadaan tidak
membaik,  bahkan  semakin  parah, karena kemudian tak hanya saat berbaring,
saat  berjalan  dan  duduk  pun  dada  saya seperti tertekan dan saya sulit
bernapas. Senin, 16 Agustus saya berkonsultasi dengan sahabat saya Dr. Mira
W,  yang  sekaligus adalah novelis yang telah banyak menerbitkan bukunya di
PT Gramedia Pustaka Utama, tempat saya berkarya. Mira menyarankan agar saya
segera  rontgen  Thorax.  Setelah  mendapat surat pengantar dari Mira, saya
langsung  ke  RS  Carolus.  Melihat  hasilnya,  dokter  kaget  dan langsung
menyuruh  saya  dirawat  saat itu juga. Ternyata paru-paru kanan saya sudah
hampir tenggelam.

Rabu  sore  dokter menyedot cairan dari paru-paru saya sebanyak satu liter.
Esok  siangnya  saya menjalani CT-scan, dan sorenya USG. Seperti yang telah
dicurigai  dokter,  ada  massa  berdiameter  2,5 cm di paru-paru kanan saya
bagian  bawah, dan ada kista berdiameter 4,2 cm di indung telur saya. Jumat
sore  paru-paru  saya  disedot  lagi,  kali  ini malah 1,4 liter! Sabtu, 21
Agustus  pagi  saya  dibronkoskopi---paru-paru saya difoto dengan alat foto
yang  dimasukkan  lewat  tenggorokan.  Sekitar  pukul 12.30, saya mendengar
vonis  maut  itu:  Saya  kena  kanker  paru-paru, stadium 3B, dan usia saya
tinggal 4 - 6 bulan lagi!

Saat itu yang terpikir oleh saya hanyalah, bagaimana saya harus memberitahu
Dian,  anak  saya.  Dian masih kelas 3 SMU, masih membutuhkan saya. Apalagi
dia akan ujian. Bagaimana nanti Dian kalau harus kehilangan ibunya.

Setelah  berhasil  menenangkan  diri,  saya  menelepon  Bapak  Priyo Utomo,
direktur saya, dan Media, sahabat sekaligus sekretaris saya. Sorenya berita
tentang saya kena kanker stadium lanjut ini---yang sangat mengejutkan semua
yang  mendengarnya---sudah  tersebar  lewat SMS ke hampir semua teman saya,
termasuk  yang  tinggal  di  luar negeri. Teman-teman saya juga memberitahu
para  pastor kenalan saya di berbagai kota di Indonesia, juga di Roma. Maka
malam  itu  saya  tidak  hanya  didoakan  para  sahabat  dari Padang sampai
Merauke,  tetapi  juga  di berbagai tempat di belahan lain dunia. Hari-hari
berikutnya,  ketika  para  relasi  bisnis di berbagai negara mendengar saya
kena kanker, jejaring doa ini semakin melebar. Sabtu malam itu tepat tengah
malam  teman-teman  kantor  saya  berdoa  serentak  di rumah masing-masing.
Hari-hari  berikutnya mereka berdoa bersama pukul 22.00, dan dari tanggal 6
-  14  September,  setiap  pukul  11.00  siang  di kantor, mereka berkumpul
mengadakan  Novena kepada Santo Peregrinus. Sementara itu, teman-teman yang
non-Gramedia   juga   mendoakan   saya  dalam  Persekutuan  Doa  di  kantor
masing-masing.  Doa-doa  ini  membuat  saya  tenang. Saya yakin Tuhan pasti
menolong saya. Begitu banyak orang memohon, masakan Tuhan tega menolaknya.

Setelah  berunding  dengan keluarga, saya memutuskan untuk mencari pendapat
kedua. Minggu, 29 Agustus, saya berangkat ke Singapore ditemani kakak saya,
Nindya  dan  adik  saya,  Rani.  Saya  berharap  dokter  di Indonesia salah
diagnosa. Tetapi setelah diperiksa ulang, ternyata memang saya kena kanker,
malah  kata  Dr.  Ang Peng Tiam, onkolog paling terkemuka di Asia Tenggara,
kanker  saya  sudah  stadium  4. Saya sudah tak bisa diobati lagi! Tak bisa
lagi disembuhkan! Dr Ang sudah mempersilakan saya pulang ke Indonesia. Saya
terpukul   sekali.  Saat  itu  tak  ada  yang  bisa  saya  lakukan,  selain
menyerahkan  segalanya  kepada  Tuhan.  Walaupun dokter mengatakan saya tak
bisa  diobati  lagi,  tak  ada yang mustahil bagi Tuhan. Terus terang, saya
mengharapkan mukjizat. Dan mukjizat memang terjadi- tidak seperti yang saya
mau---mukjizat  instan  yang membuat saya sembuh seketika, melainkan sesuai
dengan rencana Tuhan!

Sebetulnya,  setiap  hari  dalam  hidup kita ini pun mukjizat. Tetapi sejak
divonis  kena  kanker,  rangkaian  mukjizat  itu  lebih  terasa  bagi saya.
Kedatangan  dan  perhatian  begitu  banyak  teman  juga  merupakan mukjizat
tersendiri,  karena bagi saya mereka adalah perpanjangan kasih Tuhan kepada
saya.  Sebelum meninggalkan rumah sakit, dokter sudah berpesan kepada suami
saya  bahwa  paru-paru  saya  seminggu  sekali  harus  disedot. Ketika saya
berangkat  ke  Singapore,  semua teman sudah cemas, takut saya mendadak tak
bisa  bernapas  di  pesawat.  Tetapi sampai tanggal 31 Agustus, ketika saya
disedot  yang  ketiga  kalinya, saya baik-baik saja. Padahal sudah lewat 10
hari  sejak  saya  disedot  di  Carolus,  dan  ketika itu dalam waktu hanya
berselang  sehari,  sudah  ada 1,4 liter cairan. Seorang perawat di Carolus
menjelaskan, "Memang begitu kalau kanker, kalau dikutak-kutik dia marah dan
memproduksi  lebih  banyak  cairan!" Pastilah Tuhan yang telah menjaga saya
dan  mengabulkan  doa-doa  kami  semua, sehingga per Sabtu malam itu cairan
berhenti  diproduksi.  Usai  bronkoskopi,  karena  tenggorokan  saya  luka,
seharusnya  saya  istirahat  dan  tak  boleh  banyak bicara. Tetapi, begitu
banyak  teman  telah meluangkan waktu menjenguk saya, mana mungkin saya tak
bicara  dengan  mereka.  Kurang  istirahat  dan  stres  berat  membuat saya
akhirnya  kena radang tenggorok. Hari saya akan disedot di Singapore, sejak
bangun  tidur  saya  sudah batuk-batuk parah. Dalam ruang tindakan, perawat
berpesan,  "Sebelum,  sesudah,  dan  empat jam setelah disedot Ibu dilarang
batuk!"  Hah?  Saya  bingung,  soalnya  dua  kali  sedot  di  Carolus  saya
batuk-batuk  hebat sekali. Menjelang cairan habis, paru-paru saya gatal tak
tertahankan.  Usai  penyedotan  kedua,  saking  hebatnya  batuk-batuk, saya
sampai  diberi bantuan pernapasan dengan masker oksigen. Maka saya bertanya
kepada  perawat  itu,  "Kalau  saya  tak tahan mau batuk bagaimana?" "Tidak
boleh!  Harus ditahan, sebab kalau Ibu batuk, udara bisa masuk ke paru-paru
lewat lubang jarum sedot, dan itu bahaya sekali!" Wah! Di Carolus tidak ada
yang  memberitahukan  hal ini. Saat itu juga saya berdoa, mohon pertolongan
Tuhan  agar  jangan  batuk,  dan  kali  ini pertolongan Tuhan instan. Batuk
langsung  berhenti.  Penyedotan dilaksanakan dengan lancar pukul 9.30 pagi,
sebanyak 900 ml cairan. Empat jam setelah proses penyedotan, paru-paru saya
diperiksa.  Tiga jam kemudian saya diperiksa lagi. Setelah dinyatakan aman,
tak  ada  udara  di paru-paru saya, saya diizinkan pulang. Setiba di tempat
menginap---yang  hanya  di seberang rumah sakit---sekitar pukul 18.00, saya
langsung batuk-batuk hebat lagi!

Ketika Dr. Ang memberitahukan bahwa saya sudah tak bisa diobati, saya minta
di-PET  Scan (Positron Emission Tomography). Kalau memang kanker saya sudah
bermetastase  ke mana-mana, saya ingin tahu sampai mana saja persisnya. Dr.
Ang  menjadwalkan  saya untuk PET Scan esok harinya. Saya di-PET Scan pukul
11.00.  Resminya  hasilnya  baru akan keluar esok harinya pukul 12.00, maka
resepsionis  Dr.  Ang menjadwalkan pertemuan saya berikutnya dengan Dr. Ang
hari  Senin siang. Tetapi Jumat sore asisten Dr Ang menelepon, meminta saya
datang.  Saat  saya sedang berbantah dengan resepsionis---dia mungkin kesal
sebab  saat itu sudah lewat jam praktek dan saya toh sudah diberitahu untuk
datang  Senin siang---Dr. Ang muncul. "Jangan pergi, saya mau bicara dengan
Ibu!" serunya.

Rupanya,  lewat  telepon  Dr.  Ang  sudah mencari tahu hasil PET Scan saya.
Ajaib  sekali,  kanker  di  paru-paru saya telah lenyap. Saya percaya Tuhan
telah  memindahkannya  ke  tempat yang masih bisa diobati, yaitu ke saluran
indung  telur. Metastase ada di lima tempat, paling jauh di tulang selangka
kiri.  "Sudah  tak  bisa  dioperasi,  karena sudah menyebar," kata Dr. Ang.
"Satu-satunya yang mungkin dilakukan adalah kemoterapi." Dokter menjelaskan
bahwa  dua  kemo pertamalah yang menentukan. Jika setelah dua kali kemo tak
ada  perubahan,  tak ada ada harapan lagi bagi saya, karena itu berarti sel
kankernya tak bereaksi terhadap obat kemo.

Esok  harinya,  selama  sekitar  tiga  jam,  saya menjalani kemoterapi yang
pertama.  Hari Minggunya kami pulang ke Indonesia. Sungguh luar biasa bahwa
semua  urusan  di Singapore bisa dibereskan dalam waktu satu minggu, karena
setelah  itu  Nindya  dan  Rani  memberitahu  saya, sebetulnya mereka sudah
memutuskan,  kalau  dalam  seminggu  belum beres, kami harus pulang dulu ke
Indonesia,  setelah  itu baru dirundingkan lagi bagaimana selanjutnya. Saya
maklum,  karena  mereka  berdua  kan  bekerja  juga, jadi sulit kalau harus
berlama-lama cuti.

Beberapa  tahun  lalu,  seorang  relasi  saya yang bekerja di kantor Disney
Singapore  pernah  bercerita  kepada  saya,""Di  Singapore  ada gereja yang
terkenal sekali. Namanya Novena Church. Katanya, kalau orang percaya berdoa
di  gereja  itu,  permohonannya pasti dikabulkan." Ternyata sebetulnya nama
gereja  ini  St.  Alphonsus,  tetapi karena letaknya di daerah yang bernama
Novena,  dan  setiap  hari  Sabtu mulai pukul 9.00 pagi setiap jam ada Misa
Novena,  mungkin  gereja  ini  lalu  lebih  terkenal sebagai Novena Church.
Begitu  ada  kesempatan,  hari  Kamis saya ke Novena Church. Saya beruntung
bisa  ikut  Misa  Angelus. Hari Sabtu sore usai kemo saya juga ikut misa di
sana. Selanjutnya, setiap kali ke Singapore untuk kemo, pos saya hanya dua,
rumah  sakit dan Novena Church. Sehabis periksa darah saya ikut misa siang,
memohon pendampingan, dan hari berikutnya sehabis ketemu dokter saya ke
gereja lagi, untuk bersyukur, karena hasil tes darah selalu bagus.

Ketika  pertama  kali  ke  Novena  Church, usai misa saya berkenalan dengan
Caroline,  yang  seperti dikatakannya sendiri, pekerjaannya adalah melayani
Tuhan.  Begitu  tahu  saya  sakit  kanker,  saya  diajaknya berdoa di depan
Tabernakel.  Usai  berdoa  dia  berkata,  "Yesus  berpesan, 'Bergembiralah,
anakku."   Padahal   sore  itu  Dr.  Ang  mengatakan  saya  tak  bisa  lagi
disembuhkan.  Malamnya,  saya  menelepon  kakak sahabat saya di Yogya, yang
selama ini rajin membantu dan mendoakan saya. Pada akhir pembicaraan, kakak
sahabat  saya itu berkata, "Yesus berkata, 'Jangan khawatir.' Saya tak tahu
apa maksudnya, tetapi begitu pesanNya!"

Selain  disapa  lewat  kedua  orang  itu,  Tuhan  juga  menyapa  saya lewat
firmanNya. Di Novena Church saya membeli Daily Devotional, semacam renungan
harian,  oleh  Helen  Steiner Rice. Untuk setiap hari, Helen membuka dengan
semacam puisi pendek, diikuti dengan ayat dari Alkitab, dan diakhiri dengan
pesan.  Ajaib  sekali,  hari  demi  hari, ketika saya sedang terpuruk dalam
kecemasan, ayat-ayat dan pesan itu seperti khusus ditulis untuk saya.

31 Augustus, ketika cairan disedot di Singapore dan ternyata memang kanker:

Tuhan yang Maha Pengasih telah berjanji
Salib yang diberikanNya untuk kita pikul
Takkan pernah melebihi kekuatan kita.

Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.
Lukas 21: 19

Saatnya untuk mengingat
Bahwa Tuhan tak pernah menutup pintu
Tanpa pernah membuka jendela untukmu.

2 September, ketika Dr. Ang mengatakan saya kena kanker paru-paru dan tak
bisa disembuhkan:

Ingatlah, bukit-bukit di depan
Tak pernah securam kelihatannya
Dengan iman di hati, mulailah mendaki
sampai kau mencapai impianmu.

Yesus menjawab mereka, "Aku berkata kepadamu,
jika kamu percaya dan tidak bimbang;
kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu,
tetapi  juga  jikalau  kamu  berkata  kepada  gunung  ini:  Beranjaklah dan
tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi."
Matius 21: 21

Saatnya untuk memperbesar kegigihanmu.

4 September, ketika saya kemo pertama, dan sudah tahu bahwa bisa diobati:

Ada yang selalu menyayangimu
Dunia bisa lupa, tetapi Tuhan tetap mengasihimu
Ada yang menjaga dan mengasihimu
Dan dia adalah Tuhanmu.

Biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang
tetapi kasih setiaKu tidak akan beranjak darimu.
Yesaya 54: 10

Saatnya untuk berterima kasih kepada Tuhan atas pemeliharanNya
yang tak pernah putus.

Kira-kira sepuluh hari usai kemo pertama, rambut saya mulai rontok. Tanggal
21  September,  bangun  tidur,  ketika  memegang  rambut  saya yang tinggal
sepertiganya,  rambut saya langsung ambrol, nyaris semuanya, sehingga mulai
pagi  itu  saya  nyaris  botak-tak! Tinggal beberapa helai rambut saja yang
tersisa.  Siangnya,  ketika  membaca  Daily  Devotional,  saya  terperangah
takjub, sekaligus terharu:

Tuhan, sungguh kami tak menyadari
Betapa puasnya hati ini
Jika tahu bahwa cantiklah kami
Jika Tuhan telah menyentuh hati kami!

Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah;
manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.
1 Samuel 16: 7

Saatnya  melihat  melampaui ketidaksempurnaan fisik dan berkonsentrasi pada
kecantikan di dalam.

Sampai   sekarang   saya   tak   habis  pikir  (dan  tetap  terharu  ketika
menuliskannya), bagaimana mungkin, tepat ketika rambut saya habis, ayat dan
pesan  hari  itu  bisa  pas sekali untuk saya! Memang rupanya Tuhan sendiri
yang bicara kepada saya.

Tentu  setelah  kemo  saya mengalami mual, tubuh sakit semua, tulang-tulang
ngilu,  sembelit,  diare,  dan rambut, bahkan alis serta bulu mata rontok -
seperti  yang  dialami  orang-orang  lain  yang dikemo. Kalau biasanya saya
bergerak  gesit  dan  berjalan  cepat,  usai  kemo  saya  terpaksa berjalan
tertatih-tatih.  Tapi  tak  apa, saya anggap saja obatnya sangat manjur dan
sedang  bekerja.  Lagi pula selang seminggu biasanya saya sudah pulih, bisa
ke  kantor  lagi. Jadi, tiap kali habis kemo selama seminggu saya ambruk di
rumah,  kemudian  seminggu  ke  kantor, dan minggu berikutnya, begitu tubuh
sudah kuat betul, saya berangkat lagi ke Singapore untuk kemo berikutnya.

Tiga minggu setelah kemo pertama, ketika datang lagi untuk kemo kedua, saya
cemas. Walaupun dokter memberi batas waktu dua kali kemo, tapi kalau sudah
sekali  kemo  belum ada perubahan kan gawat juga. Ternyata Tuhan Mahamurah.
Awalnya  CA 125 saya (jumlah sel kanker dalam darah saya per miligram) 991,
padahal  angka  normal  0  - 35. 30 kali normal! Baru sekali kemo, angkanya
merosot menjadi 404,5!

Usai kemo kedua, ketika hasil tes darah menunjukkan bahwa CA 125 saya sudah
turun sampai 100,5, Dr. Ang mengingatkan, "Kanker itu tak bisa diduga, bisa
sekarang turun, tapi kali berikutnya naik." Walaupun itu memang terjadi
pada  banyak pasien lain, saya sendiri yakin, CA 125 saya akan terus turun.
Betul saja, usai kemo ketiga, CA 125 merosot jadi 37,2. "Kalau melihat ini,
setelah  kemo  keempat,  CA 125 Ibu pasti normal. Sebetulnya, menurut buku,
kanker  kalau  sudah  memproduksi  cairan, itu berarti sudah stadium 4, dan
sudah  tak mungkin bisa dioperasi. Tetapi, berkat rahmat Tuhan, progres Ibu
baik  sekali,  sehingga  mulai  sekarang  Ibu  boleh memikirkan kemungkinan
operasi."   Maksud   Dr.   Ang,  kalau  hasil  pemeriksaan  terakhir  nanti
menunjukkan kanker di saluran indung telur tinggal kecil, saya bisa operasi
angkat  rahim.  Kemungkinan  lain  adalah  melanjutkan kemoterapi, dan yang
paling ringan adalah berobat jalan dengan pil. Setelah mempertimbangkannya,
saya sudah mantap, apa pun risikonya, saya tak mau operasi.

Usai  kemo  ke-4, angka CA 125 saya berbalik jadi 19,9! Bagi saya ini bukan
angka  kebetulan. Lewat angka ini, yang jika dibaca dari belakang 991, saya
yakin  Tuhan  mau memberitahu saya bahwa keadaan sudah berbalik, bahwa saya
sudah  sembuh.  Sesuai nasihat dokter, saya melanjutkan kemo sampai tuntas.
Kemo  ke-6,  yang  terakhir, tanggal 21 Desember. Menjelang PET Scan kedua,
suami  saya, Hermaya, memberi masukan, "Sebetulnya kalau rahimnya diangkat,
kamu  malah  seperti  tidak  pernah kena kanker." Saya sempat bimbang, tapi
tetap  memutuskan tak mau operasi. Bukan karena saya takut karena mendengar
cerita-cerita  bahwa setelah operasi biasanya kanker malah jadi menyebar ke
mana-mana,  tetapi  karena perasaan saya mengatakan saya tak perlu operasi.
Tanggal  10  Januari saya kembali menjalani PET Scan. Dan hasilnya: TAK ADA
LAGI  KANKER  DI  TUBUH  SAYA!  Tuhan  telah  menganugerahi  saya  mukjizat
kesembuhan yang sungguh luar biasa! Puji Tuhan.

Saya bertanya kepada Dr. Ang, "Terapi berikutnya apa, Dokter?" Saya mengira
dan  berharap  boleh  hanya  dengan  pil.  Namun  ternyata Dr Ang menjawab,
"Karena  sekarang  kankernya  tak  ada,  Ibu  tak  perlu operasi, tak perlu
kemoterapi,  tak  perlu  pil!"  Luar biasa sekali, kalau Tuhan sendiri yang
menjadi dokter kita.

Waktu  Yesus  sedang  lewat,  Ia  melihat seorang yang buta sejak lahirnya.
Murid-muridnya bertanya kepadaNya, "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang
ini  sendiri  atau  orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" Jawab Yesus,
"Bukan  dia  dan bukan orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah
harus dinyatakan di dalam dia." (Yohanes 9: 1 - 3)

Saya  bersyukur  sekali  Tuhan  memilih  saya menjadi alat untuk menyatakan
kebesaran  dan kasihNya, menjadi bukti hidup bahwa Tuhan sungguh menyayangi
umatNya dan bahwa tak ada doa yang tak didengar Tuhan.

Listiana Srisanti
Bekasi
[EMAIL PROTECTED]

(Tulisan   ini  diambil  dari  Majalah  Inspirasi  edisi  April  2005,  dan
diterbitkan di Obor atas izin khusus Majalah Inspirasi.)

--- End of Forwarded Message ---







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/IYOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

JNM Mailing list are managed by :
Indonesian Pentecostal Revival Fellowship (IPRF) Denver, USA (or GPdI Denver)
If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL 
PROTECTED]
or If you want to contact IPRF Denver USA, to : [EMAIL PROTECTED]
Web Site : http://www.iprf.us
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke