|
PENGAMPUNAN Thesis
35 Pengampunan
itu cuma-cuma, tetapi tidak murah. Pengampunan harus dibayar dengan hidup Anak
Allah. Kami sedang mendiskusikan tentang
masalah nilai pada suatu hari di sebuah kelas di mana saya
mengajar. Saya bertanya kepada para siswa,
Apakah kalian akan merasa lebih baik bila semua orang di kelas ini mendapat
nilai A tidak peduli apakah dia berusaha atau tidak? Atau apakah kalian akan merasa lebih baik bila kalian mendapat nilai
A hanya apa bila kalian telah berusaha keras untuk
mendapatkannya? Mereka menjawab dengan alimnya,
Oh, kami lebih senang berusaha keras untuk mendapatkan nilai
kami. Saya
tidak mempercayai mereka! Saya telah mendengar sejumlah keluhan setiap kali saya
mengumumkan sebuah quiz atau ujian. Saya telah menampung
begitu banyak alasan mereka karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) tepat
pada waktunya. Saya telah menghadapi sejumlah siswa
yang siap berdebat sepanjang hari demi mendapatkan nilai tambahan. Saya berkata, Ayolah! Kalian hanya berusaha cari muka di depan guru! Jujur sajalah. Saya
tidak akan memberikan nilai untuk jawaban kalian atas
pertanyaan ini! Tidakkah kalian menginginkan nilai akhir yang
tinggi? Mengapa bagi kalian itu bukan kabar baik jika
setiap orang di kelas ini dijamin mendapatkan nilai
tertinggi? Mereka menjawab, Kami tidak akan
belajar keras lagi. Kami tidak akan berusaha
menghafal pelajaran lagi. Kami tidak akan menghargai sebuah
nilai kecuali kami berusaha keras
mendapatkannya. Dan saya
tidak dapat berkata apa-apa lagi! Apakah engkau setuju dengan para
siswa itu? Apa yang membuat sesuatu
berharga bagimumenerima sesuatu sebagai pemberian, atau karena harus berusaha
mendapatkannya? Jika
tuan tanahmu membayar rekening air, apakah itu berarti
engkau memakai air lebih berhati-hati, atau lebih semberono? Apakah engkau lebih cermat memakai amplop dari persediaan di
perusahaan dari pada yang engkau pakai di rumah? Jika
engkau menyewa sebuah mobil tanpa batasan jarak, apakah engkau lebih sering
memakai mobil itu atau lebih jarang? Ketika engkau dibiayai melakukan
perjalanan, apakah engkau akan menginap di hotel yang
sama dengan pada saat engkau mengadakan liburan bersama
keluargamu? Jika benar bahwa manusia cenderung
lebih menghargai hal-hal yang mereka dapatkan dari hasil usaha mereka, lalu
mengapa TUHAN tidak menetapkan suatu sistem keselamatan oleh
usaha? Bagaimana kita dapat benar-benar
menghargai pengampunan atau pertobatan atau surga pada akhirnya, jika hal itu
datang hanya sebagai pemberian (karunia)? Roma
Untuk menemukan jawaban atas
dilema ini, kita perlu mengerti sifat dasar pengampunan
itu.
Thoughts From The Mount of Blessing, hal 114,
menggambarkannya begini: Pengampunan Allah bukanlah sekedar tindakan hukum yang
mana olehnya Dia membebaskan kita dari kutukan. Hal itu bukan
hanya pengampunan bagi dosa,
tetapi mengangkat dari
dosa. Itu adalah aliran kasih penebusan yang
mengubahkan hati. Maka pengampunan bukan sekedar
tindakan hukum. Hal itu lebih dari sekedar
membersihkan catatan di buku surga. Itu lebih dari
sekedar persetujuan dari surga. Hal itu memulihkan
hubungan dengan seseorang. Itu adalah transaksi
kasih. Kasih membuat sebuah perbedaan,
bahkan pada tingkatan manusia dalam menerima dan memberi
karunia. Seorang anak dapat dilahirkan dalam bentuk yang
mengerikan yang diselubungi lendir lengket dan kelihatan seperti es krim
bertangkai, dan orang tuanya akan menghargainya karena
kasihdari pada menilainya dari penampilannya. Kita akan lebih menghargai sebuah pemberian jika pemberian dan
sang pemberi sama pentingnya bagi kita. Misalkan engkau dirawat di rumah
sakit karena gagal ginjal, dan saudaramu datang dan menawarkan salah satu
ginjalnya untuk menyelamatkan hidupmu. Apakah engkau akan berkata
kepadanya, Sekarang aku ingin agar benar-benar dapat menghargai ginjal ini,
maka bagaimana kalau aku membayarmu Rp 4.000.000 untuk ginjal itu? Dia akan merasa terhina! Kenyataan bahwa
pemberian yang sangat berharga itu diberikan oleh seseorang yang sangat
mengasihi kita menjadikannya tidak ternilai. Kasih membuat
perbedaan. Kebutuhan
membuat perbedaan. Jika engkau tenggelam, dan seseorang melemparkan
pelampung kepadamu, apakah engkau akan berkata, Hey,
tunggu dulu. Apa yang dapat kulakukan untuk
membayarnya? Aku tidak dapat menghargai pelampung ini kecuali
aku berusaha untuk itu? Tidak, perasaan butuhmu akan menghalangimu berpikir
demikian. Apa yang membuat pengampunan itu
bukan sesuatu yang murah, walaupun diberi secara cuma-cuma? Hal itu dikarenakan kebutuhan kita yang begitu besar terhadap
pengampunan. Kita tahu berapa yang harus dibayar surga
agar dapat menawarkan pemberian seperti itu kepada kita. Kita menyadari kasih yang berada di balik pemberian itu, hati Bapa
yang begitu dipenuhi kerinduan untuk berdamai dengan anak-anak-Nya. Dengan kebutuhan yang kita milikidan kasih yang dimiliki-Nyahanya
sebuah karunia yang dapat menjawabnya. 95
Theses on Righteousness by Faith, Morris L. Venden,
Pacific
Press Publishing Translated
by Joriko Melvin Sihombing -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [email protected] JNM Mailing list are managed by : Indonesian Pentecostal Revival Fellowship (IPRF) Denver, USA (or GPdI Denver) If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED] or If you want to contact IPRF Denver USA, to : [EMAIL PROTECTED] Web Site : http://www.iprf.us -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- YAHOO! GROUPS LINKS
|
Title: Thesis 35
- JNM <*> Thesis 35 - PENGAMPUNAN R.D. Palandie
- JNM <*> KKR Natal Akbar 2005 Fransiscus Handaya

