From: "Wiempy" <[EMAIL PROTECTED]>

      Cyber Space
      Oleh: Slamat P. Sinambela

      Kita saat ini berada dalam sebuah fase cyber di zaman ini. Dimana hampir semua kegiatan di seluruh dunia menggunakan cyber sources dalam mencapai tujuannya. Komputer, jaringan internet, telepon genggam dengan fasilitas transfer data GPRS atau layanan pesan singkat (SMS) menjadi sesuatu yang sangat akrab dalam keseharian kita.

      Beberapa aktifitas yang dulunya dilakukan secara manual maupun dengan alat yang lebih sederhana, sekarang bisa dilakukan hanya dengan memencet tombol di keyboard komputer. Mudah sekali. Dunia menjadi sebuah global village. Saya bisa berkomunikasi dengan seorang freelance writer di Amerika dengan layanan e-mail, atau sebaliknya dengan biaya yang sangat murah, sangat cepat dan sangat mudah.

      Apa yang kita dapatkan dengan semua ini? Dari sisi positif, manusia dapat berhubungan langsung dengan banyak sumber informasi, searching ilmu pengetahuan mutakhir atau data yang urgent sekali. Tapi sisi negatifnya, dengan komputer juga manusia bisa terjebak dalam selera yang sia-sia melalui games, junk e-mail maupun cyber porn.

      Cyberspace menghasilkan manusia yang nyaris tidak perlu berhubungan dalam bentuk tradisional: tatap muka dan bersalaman. Bahkan dapat melakukan hubungan yang sangat akrab tanpa pernah bertemu langsung. Dalam cyberspace, manusia tak perlu lagi menunjukkan identitas diri, wajah, ukuran tubuh, tatapan, nada bicara atau airmata. Dia cukup membubuhkan tanda-tanda itu lewat lambang-lambang yang disepakati dalam dunia maya. Manusia melakukan interaksi semakin lama semakin tidak pribadi sifatnya. Tanggung jawab juga mulai luntur karena interaksi tidak perlu dengan kontak secara langsung. Bahkan dalam sebuah milis kristiani-pun, ada banyak orang yang tidak mau menunjukkan identitasnya sama sekali dengan alasan tidak ingin merusak budaya komunikasi di alam maya itu. Tragis nian, mereka telah menjadi "the other self" dalam cyberspace.

      Dalam pelayanan gerejawi, cyberspace juga telah menggeser beberapa peran pelayanan yang telah menjadi identitasnya sejak berabad-abad lalu. Hamba-hamba Tuhan saat ini bisa dengan mudah memberikan salam lewat e-mail atau pesan singkat dari ponselnya. Mungkin saja, suatu saat nanti kunjungan kasih hanya berlangsung dengan elektronic mail, atau tergantikan dengan data berupa gambar video yang dikirim melalui ponsel hamba Tuhan (teknologi itu sudah ada di sekitar kita).Yayasan parachurch, gereja dan bentuk pelayanan yang lain, juga mulai menggunakan media cyber tanpa touch sama sekali dalam arti riil.

      Untuk mendapatkan kotbah yang baik pun kita dapat searching di internet. Bahkan, yang kita dapatkan bisa lebih baik dari kotbah yang setiap minggu kita dengarkan di tempat kita beribadah. Indentitas tubuh Kristus-pun menjadi abstrak karena identitas manusia yang luntur akibat pengaruh cyberspace. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan menjadi momok yang harus diwaspadai oleh kita bersama.

      Cyberspace-pun menciptakan budaya instan yang adiktif dalam kehidupan manusia. Banyak hal yang bisa kita peroleh dengan sangat mudah dalam cyberspace. Manusia berubah menjadi makhluk yang lembam (malas bergerak, bandingkan dengan Ams.9:20). Semua yang diinginkan serba praktis. Sebagai contoh, kita bisa mendapati bahwa sekolah atau kursus jarak jauh dapat dilakukan dengan fasilitas internet. Bahkan ada juga sekolah teologi jarak jauh yang mendidik calon hamba Tuhan tanpa tatap muka, tanpa pengujian motivasi dan tanpa pergumulan dalam sebuah sekolah alkitab yang riil. Semuanya instan.

      Cyberspace juga telah merendahkan "nilai" manusia sebagai Image of God seperti yang dikatakan Veith dan Stamper:

      "We are entering a post human era in which the limit of the body -- including the physical facts of gender, race, appearance, and sexual orientation - will soon be transcended. No one knows who you are online. Your mind alone matters. Your physical body means nothing. The limits of the material universe will be transcended, so that we will exist in a state of true "spirituality" in a universe that we will have created for our selves" ("Christians in a .Com World" Wheaton Il:Crossbooks. 2000. p.19)

      Padahal, bukankah manusia diciptakan seturut gambar Allah (Kej. 1: 26)? Dalam cyberspace, manusia sudah menjadi "something what" dan bukan "someone who". Dehumanisasi yang terjadi akibat budaya cyber ini sama saja sebuah penghinaan atas ciptaan Allah. Dan itu berarti juga sebuah penghinaan terhadap Allah atas karya-Nya yang sungguh amat baik (Kej. 1:31)

      Kita layaknya bersyukur, sebab Alkitab berulangkali menyaksikan dan mengingatkan kita akan kegagalan-kegagalan umat Tuhan dikecoh dengan tanda-tanda jaman yang tidak kita ketahui (Mat 16:1-4).

      Sekarang, maukah kita bawa setiap jaman dengan melihatnya dalam kaca kebenaran Firman Tuhan? Kiranya Tuhan menolong kita menggunakan anugerah cyberspace demi Kemuliaan Tuhan.

      *) Slamat P. Sinambela dapat dihubungi di
http://www.geocities.com/spsinambela 
=========================================
From: mangucup88
 
Let´s Talk about Music !

Kata "Musik" sebenarnya diserap dari bahasa Yunani "musiké (téchne)" dan dalam bahasa Latin = (ars) musica. Musik bukan saja hanya bisa jadi penghubung antar sesama manusia, tetapi bisa juga di gunakan sebagai penghubung dengan makhluk luar angkasa (alien). Hal ini terbuktikan dengan dikirimnya kepingan CD emas „Sound of Earth" melalui pesawat antariksa Voyager 1 dan Voyager 2. „Sound of Earth" itu adalah kepingan CD emas dengan rekamanan video, data maupun audio, dimana antara lain telah direkam musik Gamelan maupun musik dari Johann Sebastian Bach, Wolfgang Amadeus Mozart, Chuck Berry.
Bisa dilihat di http://voyager.jpl.nasa.gov/spacecraft/goldenrec.html

Musik bisa di definisikan dengan berbagai macam cara antara lain sebagai bunyi-bunyian yang dianggap enak oleh pendengarnya atau juga sebagai segala bentuk bunyi-bunyian yang dihasilkan secara sengaja untuk disajikan sebagai hiburan. Bukan hanya manusia saja yang mampu
menciptakan musik, ternyata hewan pun bisa menciptakan melodi musik yang indah oleh sebab itulah juga ada Zoomusicology yang khusus mempelajari musik bunyi-bunyian dari hewan.

Manusia bisa menikmati musik bukan hanya melalui alat pendengarnya saja, tetapi juga berdasarkan perasaan maupun sentuhan, sebab telinga manusia normal hanya mampu menerima frekuensi bunyi paling tinggi 20 000 Hz dan paling rendah 20 Hz. Suara yang lebih rendah
dari 20 Hz hanya bisa di rasakan melalui perasaan atau sentuhan saja.

Aristoteles berpendapat bahwa musik itu  mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah dan juga mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme.

Berdasarkan Alkitab, manusia sudah mengenal alat musik pada generasi ke-lima setelah manusia pertama (Adam). Yubal anak Lamekh "dialah yang menjadi bapak semua orang yang memainkan kecapi dan suling" (Kejadian 4:21), dialah penemu musik. Di kemudian hari musik
digunakan dalam ibadah Bait Suci, sebelumnya terbatas penggunaannya dalam kehidupan sekular mereka.

Berdasarkan para ahli purbakala, mereka telah menemukan disebuah goa di Blaubeuren–Jerman, alat musik tertua, berupa suling yang dibuat dari tulang angsa, berdasarkan penelitian mereka usia suling ini sudah encapai 350.000 th usianya. Dan telah terbuktikan juga, bahwa 3.000 th sebelum Masehi di Mesopotamien maupun di Mesir mereka telah memainkan berbagai macam alat musik seperti harfa, gendrang maupun suling.

Musik itu kaitannya erat sekali dengan matematika oleh sebab itulah Pythagoras 560 – 480 SM adalah orang yang pertama yang menemukan tangga nada Oktave seperti yang kita kenal sekarang ini. Dan di th 1.026 sM Guideo d'Arezzo yang pertama kalinya memperkenalkan notasi
musik "do re me fa sol la" kepada kita.

Antonio Stradivari kemungkinan dilahirkan pada th 1644 in Cremona – Italy, ia adalah murid dari seorang pembuat biola jenius Maestro Nicola Amati. Dan pada saat ini mungkin hanya biola dari Giuseppe Guarneri saja bisa memiliki suara biola seindah dari biola Stradivari.

Selama masa hidupnya Stradivari hanya membuat sekitar 1.100 biola, dan pada saat ini masih tersisa sekitar 200 yang diakui keasliannya sebagai original dari Stradivari. Rahasia membuat biola Stradivari itu tidak diturunkan kepada siapapun juga, sehingga meski sudah dicari dengan alat yang paling canggih sekalipun pun juga, formula lem untuk melapis kayu yang sudah diproses khusus untuk membuat biola ajaib Antonio Stradivari s/d detik masih juga belum juga
tersingkap.

Piano & kibor
Instrumen kibor ini sudah ada sejak zaman kuno. Tidak jelas awalnya yang tepat. Dalam tangga nada Barat yang disebut diatonis, tonal terbagi dalam 12 nada. Ada nada penuh dan ada nada semi-tone. Pada instrumen kibor kedua kelompok nada ini biasa dibedakan dengan kunci
berwarna terang dan untuk semi-tone. Susunan deret kunci yang chromatic (mencakup 12 nada) muncul di Eropa pada abad ke-14.

Pada abad 15 diciptakan instrumen musik berdawai dengan dibunyikan melalui petikan, munculah harpsichord. Harpsichord ini terus berkembang pada abad ke-17 dan ke-18. Suatu teknik membunyikan dawai kembali dikembangkan dengan alat pukul kecil yang bekerja. Akibatnya
pukulan pada bilah kunci bisa dilakukan pelan dan keras.

Pelan dalam bahasa Italia adalah "Piano" dan keras adalah "Forte".
Instrumen inovasi baru itu sangat populer karena volume nada bisa diatur dengan keras lemahnya memanipulasi papan kunci. Nama alat itu pun menjadi Pianoforte. Lama kelamaan diringkas menjadi "Piano". Piano pertama diciptakan oleh Batolomeo Christofori.

Instrumen kibor ini yang memungkinkan berkembangnya musik barat dengan spektrum harmoni yang bisa dikatakan tidak tertandingi oleh aliran musik lain di bumi ini. Komposisi orkes simponi berasal dari kemampuan piano menghasilkan nada-nada harmonik.

Kibor elektronik baru muncul pada abad ke-20. Dipasarkan pertama kali oleh Laurens Hammond di Amerika Serikat 1935. Sejak itu mulai berkembang instrumen yang sekarang ini menjadi rajanya alat musik.
Suara orkes simponi pun dengan puluhan instrumen bisa dihasilkan oleh satu kibor saja.

Sedangkan rekaman musik pertama dilakukan oleh Thomas Alva Edison di th 1877, lagu pertama yang direkam olehnya adalah "Marry had a little Lamb"

Maranatha
Mang Ucup - The Drunken Priest
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage:
www.mangucup.net
====================================================
 
Alam Maut

Shalom,
Setelah ngubek kesana kemari, akhirnya dapat jg link versi Inggris dari Buku 40 Hari di Alam Maut dr Mary Baxter ini..
Ini linknya ya..semoga bermanfaat
http://www.spiritlessons.com/Documents/ADivineRevelationOfHell_Text.htm

regards,
delano


-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

JNM Mailing list are managed by :
Indonesian Pentecostal Revival Fellowship (IPRF) Denver, USA (or GPdI Denver)
If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED]
or If you want to contact IPRF Denver USA, to : [EMAIL PROTECTED]
Web Site : http://www.iprf.us
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-




SPONSORED LINKS
Arizona regional multiple listing service United regional health care system Anda networks


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke