|
From: "dianabrsihotang" <[EMAIL PROTECTED]>
MANA YG LEBIH
BERHARGA?
Seorang ibu datang padaku. Dengan jengkel dia menceritakan bahwa tasnya hilang di dalam gereja. Setelah misa dia berdoa di depan patung Maria. Ketika kembali ternyata tasnya yang diletakkan di bangku dekat dengannya telah hilang. Ibu ini mengatakan kalau tasnya itu dicopet atau dirampas di jalanan dia tidak sebegitu kecewa dibanding kehilanganya saat ini. Mengapa orang ke gereja mencuri? Bagaimana keamanan gereja? Masih banyak lagi yang dikatakan ibu ini. Aku hanya diam dan mengelus dada. malu dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak bisa menyalahkan petugas keamanan, sebab tenaga mereka pun terbatas. Tidak mungkin mereka mengawasi orang yang sedang berdoa dalam gereja setelah misa. Tidak mungkin mereka mengawasi satu-satu orang, sebab mereka yakin bahwa orang yang ke gereja adalah untuk berdoa. Apalagi aku. Tidak mungkin setelah atau sebelum misa aku berdiri mengawasi semua orang. Setelah ibu ini pergi beberapa orang memberikan masukan dan mulai mengkritik si pencuri yang keterlaluan. Akhirnya satu demi satu pergi tinggal aku sendiri berdiri di bawah pohon depan sekretariat. Aku bisa memahami betapa kecewanya hati ibu itu yang kehilangan. Dia mengatakan bahwa dalam tas tidak ada benda yang berharga bagi si pencuri selain beberapa lembar uang ribuan. Namun KTP, ATM dan SIM ini sangat penting bagi dirinya. Aku juga bisa memahami kekecewaan hati ibu ini sebab gereja adalah tempat orang berdoa bukan daerah merah yang rawan. Dalam gereja orang berhadapan dengan Tuhan. Bagaimana orang tega mencuri di tempat yang mereka yakini sebagai rumah Tuhan? Halaman gereja semakin panas dibakar terik matahari. Tidak ada satupun orang yang masih tersisa di sana, kecuali satpam yang duduk dalam pos jaga. Aku berdiri menikmati semilir angin. Kupertimbangkan kembali beberapa saran dari orang yang mengelilingi ku tadi. Seorang petugas keamanan mengajak untuk mengadakan rapat petugas keamanan secepatnya. Mereka semua gelisah, sebab ini hal penting yang harus diselesaikan. Apa yang harus aku lakukan sebagai langkah praktis? Semua saran baik dan masuk akal. Beberapa saran merupakan tindakan jaga-jaga sedang yang lain adalah usaha menangkap pencuri. Mereka semua dengan sangat bersemangat menuntut agar aku segera melakukan tindakan praktis. Beberapa orang siap membantuku. Aku hanya tersenyum melihat semua itu. Aku bisa merasakan keprihatinan mereka. Ku lihat seorang bapak naik sepeda motor masuk ke halaman gereja. Setelah dekat denganku dia tersenyum ramah. Dia mengatakan ingin menemui ku. Aku tanya mau mengobrol di pasturan atau disini saja. Dia mengatakan teserah aku. Mulailah dia menceritakan bahwa sudah hampir dua tahun ini anaknya tidak pernah mau ke gereja lagi. Dia lebih suka berhura-hura dan begadang dari pada berdoa dan misa. Menurut bapak ini dia sudah hampir setiap saat memberikan nasehat, namun semakin dinasehati anaknya semakin membuat jengkel. Kuliahnya kacau. Di rumah dia tidak mau membantu mamanya melakukan pekerjaan rumah. Gaya hidupnya menjadi aneh, sebab dia bangun siang lalu pergi sampai tengah malam bahkan sampai dini hari baru pulang. Dia hanya bicara dengan mamanya kalau sedang minta uang. Itupun dengan membentak-bentak. Padahal dia adalah anak pertama yang diharapkan bisa membantu orang tua dan menjadi teladan bagi adik-adiknya. Setelah beberapa saat bercerita bapak ini memohonku untuk berdoa bagi anaknya. Aku mengiyakan semua permintaannya. Bapak ini pun pergi meninggalkan aku berdiri sendiri di bawah pohon depan sekretariat. Bapak itu kehilangan anaknya. Secara fisik memang anaknya masih ada, namun secara batin anaknya sudah tidak ada. Kehidupan anak itu memang sudah pernah aku dengar dari kasak kusuk beberapa orang. Mereka hanya kasak kusuk tapi tidak memberikan jalan keluar. Aku tersenyum, teringat akan tulisan seorang teman beberapa hari yang lalu. Orang lebih bingung ketika hewannya hilang daripada kalau dirinya hilang. Orang lebih bingung ketika ada tas hilang di dalam gereja daripada ada orang yang hilang dari gereja. Hal ini memang tampaknya sudah umum. Orang lebih banyak digelisahkan oleh hal-hal duniawi daripada pribadi manusia. Sering orang tua mengeluh bahwa anaknya mendapatkan nilai pelajaran yang jelek. Pusat keluhan mereka adalah bahwa anaknya sudah diikutkan dalam bimbingan belajar yang mahal, namun nilai pelajarannya tetap jelek. Dari situ bisa ditangkap bahwa persoalannya bukan soal diri anaknya yang kurang mampu namun biaya yang telah dikeluarkan untuk bimbingan belajar. Diri anak dikalahkan oleh biaya. Jika anak yang dapat nilai jelek lalu dimarahi dan diungkit bahwa dia telah menghabiskan sekian banyak biaya, apakah tidak melukai hati anak? Apakah luka hati ini akan mudah dilupakan atau disembuhkan oleh si anak? Yesus pun mengkritik orang Farisi yang mengecam Yesus ketika menyembuhkan orang pada hari sabat. Memang pada hari Sabat orang Yahudi tidak melakukan aktifitas, namun jika ternaknya masuk ke sumur, mereka pun akan mengeluarkannya (Luk 14:1-5). Mengapa penyembuhan manusia dilarang sedangkan menyelamatkan ternak diperbolehkan? Apakah nilai manusia lebih rendah daripada ternak? Namun inilah yang sering terulang sampai saat ini. Aku tidak tahu apakah memang sudah tertanam dalam hati dan pikiran manusia bahwa manusia bisa dinomorduakan? Posisinya dibawah harta atau ternak? Aku yakin bila aku mengatakan ini akan ada banyak orang tidak sependapat. Aku mungkin dikira gila, sebab semua agama mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang paling mulia, bahkan dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa manusia adalah gambaran diri Allah. Citra Allah. Jika manusia adalah citra Allah mengapa dia dikalahkan oleh ternak dan uang? Mengapa orang ribut ketika ada tas yang hilang dan tidak peduli jika ada orang yang hilang? Dalam pendampingan anak jalanan juga tidak jarang orang mengkritikku mengapa aku membuang uang sedemikian besar untuk mendampingi anak-anak itu? Disini yang diprihatinkan bukan kegagalanku mengajak anak memulai hidup baru sebagaimana manusia pada umumnya, namun besarnya biaya yang telah aku keluarkan untuk menyekolahkan, memberi modal kerja dan sebagainya. Mereka prihatin akan barang yang hilang di rumah singgah. Namun mereka tidak prihatin ketika anak-anak, yang adalah gambaran diri Allah, mengalami penyiksaan, pelecehan dan kekerasan yang lain. Mereka tidak peduli dengan masa depan anak-anak itu. Bagi mereka itu urusan anak-anak sendiri, bukan urusan mereka. Matahari semakin terik. Mataku silau melihat pantulan cahaya halaman gereja. Benda memang menyilaukan, sehingga mataku tidak bisa melihat jelas. Akibatnya aku sulit membedakan mana yang harus aku pilih, manusia atau benda. Mana yang lebih penting antara manusia atau benda dan hewan. Aku jadi teringat akan anak-anak yang sebentar lagi mau sekolah lagi setelah sekian tahun menggelandang. ==============================================
From: "dianabrsihotang" <[EMAIL PROTECTED]>
David dan Lynn mulai merasa kecil hati. Restoran yang mereka miliki tidak laku, bahkan meskipun mereka telah memperpanjang jam buka mereka dan menawarkan makan malam istimewa, berharap dapat menarik lebih banyak pelanggan. Namun tak seorangpun datang. Setelah beberapa minggu tanpa terlihat perubahan apapun, Lynn berkata, " Mungkin kita lebih baik tutup dan pulang saja". Saat itu hampir jam sebelas malam. "Kita buka beberapa jam lagi deh," David menyarankan. "Mengapa ?" Lynn mengerutkan dahi. "Apa gunanya sih ?" "Karena malam ini mungkin adalah malam kita mendapatkan lebih banyak pelanggan". David nyengir, dan istrinya melihat harapan bersinar di mata coklatnya yg besar. Bahkan meskipun Lynn tidak menyukai gagasan itu, ia sependapat bahwa mereka seharusnya tetap membuka restoran itu. Sekitar 30 menit kemudian, suatu mukjizat nampaknya terjadi. Sebuah bus larut malam masuk kedalam komunitas kecil itu dan segera merasakan dinginnya udara musim dingin. Mereka cepat-cepat masuk kedalam kafe yg hangat, karena itu merupakan satu-satunya restoran yg masih buka. Keuntungan yg diperoleh David dan Lynn malam itu membantu mengkompensasi sebagian kerugian mereka sebelumnya, namun itu baru awalnya. Segera tersebar berita bahwa restoran kecil itu tetap buka larut malam. Pelanggan datang dari semua kalangan, orang-orang yang mengemudi mobil melewati kota itu larut malam, bus-bus yg lewat, karyawan rel kereta api larut malam. Pasangan itu bahkan harus mempekerjakan pelayan tambahan untuk putaran larut malam. Kadangkala ketika bekerja larut malam dan siap menyerah, bila kita menunggu dengan sabar, kita akan mencapai sasaran kita. Apa yg kita dambakan mungkin tiba dalam beberapa menit. Tenanglah dalam kenyataan bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Mungkin esok merupakan sebuah siang, atau malam yang istimewa bagi kita ( through the night with God ) Simon menjawab : "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga". Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak ( Lukas 5:5-6 ) -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [email protected] JNM Mailing list are managed by : Indonesian Pentecostal Revival Fellowship (IPRF) Denver, USA (or GPdI Denver) If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED] or If you want to contact IPRF Denver USA, to : [EMAIL PROTECTED] Web Site : http://www.iprf.us -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- YAHOO! GROUPS LINKS
|

