Kerohanian Seorang Pelayan
I Petrus 5:1-4
 
Sekalipun ayat-ayat ini khususnya ditujukan kepada para penatua (pimpinan Gereja), namun prinsip-prinsip yang diajarkan di sini wajar menjadi menjadi bagian karakteristik seorang percaya yang bertumbuh dewasa ke arah Kristus.
 
Petrus „menasihatkan“ para penatua sebagai „teman“. Ia tidak bersikap mengajar (sekalipun ia berhak) ataupun menggurui, dan ia juga tidak menempatkan diri sebagai guru, melainkan sebagai rekan kerja. Pelayan-pelayan Kristus yang sejati tidak mungkin tidak mengerti semangat inkarnasiNya. Namun Petrus juga tidak menjadi ‘sungkan’ untuk menyebut diri sebagai saksi penderitaan Kristus, karena memang ia dipanggil menjadi seorang rasul, ia memiliki kekhususan tempat yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Ia dipilih oleh Tuhan sendiri (bukan oleh pengakuan manusia) untuk menjadi muridNya, ya bahkan dapat dikatakan murid dalam lingkaran yang paling dalam (selain Yohanes dan Yakobus).
Ia adalah saksi penderitaan Kristus. Saksi dalam pengertian teologis selalu dikaitkan dengan pengikutan dan bukan hanya saksi dalam pengertian menonton “I was there, when ...” Dalam gereja terlalu banyak orang yang datang sebagai “saksi” dalam pengertian yang kedua. Ya, Petrus pun sendiri harus mengalami pembentukan ini, hingga ia sungguh-sungguh mengerti apa menjadi saksi penderitaan Kristus. Petrus, yang tadinya menyembunyikan diri ketika Yesus diadili, ‘menyaksikan’ Yesus yang menderita dari jauh, ia tidak ingin terlibat dalam kesengsaraan yang sedang menimpa Yesus. Dalam kasih setia Tuhan, Petrus diubahkan menjadi seorang yang menjadi “saksi” yang sesungguhnya ketika ia sendiri rela menderita mengikuti jejak Sang Juruselamat.
 
Namun ini bukanlah kalimat yang menakut-nakuti, discouragment kepada mereka yang membaca surat Petrus, atau semacam kebanggaan diri eksklusif yang memaksa orang-orang untuk ‘merendahkan diri’ (baca: minder), melainkan karena hidup sebagai saksi penderitaan Kristus inilah yang akan membawa seseorang mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Kekristenan bukan berakhir pada salib dan juga tidak menjadikan salib sebagai tujuan terakhir melainkan sebagai jalan masuk menuju kemuliaan yang tak terkatakan. Hanya mereka yang berani menderita bagi Kristus yang akan menuai kemuliaan yang besar ini. Kitab Wahyu bahkan menulis bahwa para penakut tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Tentu yang dimaksud di sini bukanlah penakut dalam pengertian temperamen bawaan (sebagian orang lahir sebagai orang yang gampang ketakutan, sebagian lagi memiliki keberanian yang di atas rata-rata). Alkitab tidak pernah memuji keberanian natural seperti ini, sama halnya juga dengan kesabaran natural, kerja keras natural etc, karena ini laksana “kain kotor” yang tidak mencapai standard Tuhan. Yang dimaksud di sini adalah penakut dalam pengertian tidak berani beriman kepada Tuhan, tidak berani mempersembahkan diri, tidak berani menderita karena Kristus, tidak berani menerima celaan, fitnah dan umpatan manusia karena kebenaran. Orang-orang penakut adalah mereka yang tidak memiliki pandangan yang jauh (short-sighted) karena mereka tidak melihat kemuliaan yang besar di balik salib dan penderitaan.
 
Berikutnya Petrus memaparkan beberapa hal yang dapat menjadi halangan/hambatan dalam pelayanan yang berkenan kepada Allah kepada para pembaca suratnya: menggembalakan kawanan domba dengan paksa, mau mencari keuntungan, berbuat seolah-olah mau memerintah. Yang pertama, melayani dengan paksa. Ini berbeda dengan penyangkalan diri karena penyangkalan diri memang mengandung unsur memaksa diri (atau mengutip Pdt. S. Tong “memaksa diri untuk rela”). Yang dimaksud di sini adalah memaksa diri tapi sebenarnya tidak pernah rela. Orang yang melayani dengan terpaksa sesungguhnya masih berada di bawah spirit kuk hukum Taurat dan bukan di bawah kasih karunia, ia belum mengerti apa itu kebebasan kristiani yang sesungguhnya. Yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang yang melayani (atau mengerjakan sesuatu, entah study, entah pekerjaan di kantor, entah tanggungjawab keluarga, atau juga pelayanan gerejawi) dengan suatu keterpaksaan tertentu, sehingga ia tidak bisa mengerti mengapa Tuhan Yesus mengatakan “kuk yang Kupasang enak, dan bebanKu pun ringan”. Hidupnya selalu berada dalam ketertekanan, tidak ada sukacita, tidak ada kebahagiaan. Orang yang melayani dengan keterpaksaan akan sangat rentan untuk dengan diam-diam mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Mengapa? Karena ini akan merupakan suatu balance yang penting bagi hidupnya, sebab jika tidak demikian dia bisa menjadi gila! Orang yang terus-menerus berada dalam keterpaksaan dalam melakukan banyak hal, pasti akan mencari kompensasinya dengan menyelamatkan, menyenangkan dan menikmati dirinya sendiri pada bagian-bagian yang lain. Dualisme kehidupan tidak bisa lebih jelas lagi digambarkan sebagaimana dalam kehidupan yang seperti itu. Ada waktu untuk memaksa diri dengan terpaksa, menguras dan menghancurkan diri, ada waktu untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Mereka yang hidup seperti ini akan kehilangan integritas hidupnya di hadapan Tuhan. Banyak orang yang tidak berhasil menikmati dengan benar kebebasan kristiani yang sejati dalam keseluruhan aspek hidupnya akhirnya menjadi orang yang sangat egois dan berpusat kepada diri dalam bidang-bidang tertentu. Hambatan yang terakhir, yaitu jika keuntungan diri sendiri gagal untuk diraih, maka yang akan terjadi adalah semangat autoriterian (harus segera ditambahkan bahwa otoritas tidaklah selalu bersifat negatif, sebagaimana digambarkan oleh banyak pemikir postmodern, otoritas memiliki tempatnya yang sah dalam kehidupan kristen yang benar). Yang Petrus maksudkan di sini adalah penggunaan otoritas dengan spirit yang salah, atau mengutip perkataan Yohanes “keangkuhan hidup”, misalnya godaan untuk berkuasa. Betapa menyedihkan melihat para pelayan gereja begitu peka dan sensitif (bukan terhadap dosa!) melainkan terhadap ‘daerah kekuasaannya’. Orang-orang seperti itu membawa spirit duniawi masuk ke dalam kehidupan gerejawi dan menjadikan gereja kacau balau! Ketika diri tidak mendapatkan kebahagiaan dan kenikmatannya maka dosa akan segera akan menawarkan jalan alternatif yaitu kehidupan yang bergelimangan dengan kuasa. Kuasa yang seperti inilah, the so-called “power” yang terus-menerus dibicarakan dalam filsafat kontemporer, begitu dibenci, dicaci-maki, tapi kenyataannya manusia berdosa akhirnya jatuh dalam kesalahan yang lain lagi yaitu spirit humanisme, saling menyenangkan sesama manusia (tidak boleh pakai ‘kuasa’), akhirnya lambat-laun kehilangan dignitas diri yang seharusnya. Pergumulan kita dalam kerinduan untuk melayani Tuhan dengan memperkenan hatiNya bukan tanpa halangan dan tanpa pencobaan, namun Alkitab juga tidak meninggalkan kita dengan kesulitan-kesulitan itu tanpa jawaban.
 
Dalam pertumbuhan kerohanian yang sehat kehidupan yang seperti kita bicarakan kemarin harus semakin ditinggalkan. Kekristenan mengajarkan manusia untuk menghadapi kehidupan ini secara realistis, tidak dengan berpura-pura tidak tahu apa yang menjadi kesulitan saya, kelemahan saya, kekurangan saya, melainkan dengan berani menghadapinya, pertama karena kita percaya pengampunan dalam anugerah Tuhan, kedua, pengampunan dari sesama saudara seiman (yang juga telah mengecap pengampunan dari Tuhan), ketiga, adanya pengharapan bahwa kita tidak akan tetap tinggal dalam kelemahan dan kekurangan kita, melainkan bahwa Tuhan sendiri, dalam kebesaran kuasa, kesabaran dan ketekunanNya akan mengubahkan kita, hingga kita menjadi serupa dengan gambaran AnakNya. Kekristenan pertama realistis (tidak menipu diri dan berilusi), kedua berpengharapan.
 
Pada bagian pertama kita sudah membicarakan kesulitan-kesulitan yang yang menjadi realita kehidupan pelayanan orang percaya, hari ini kita akan membicarakan pengharapan yang menjadi jawaban atau jalan keluar atas kesulitan-kesulitan tersebut. Ketiga hambatan (paksa, mencari keuntungan, bersikap memerintah) harus dihadapkan dengan karakter kristiani yang terus-menerus berkembang dan bertumbuh dalam kehidupan setiap orang percaya. Di situ kita dilatih untuk memiliki ketekunan kristiani, yang akhirnya menghasilkan karakter seperti Kristus.
Yang pertama adalah hati seorang gembala. Sekalipun tidak setiap orang dipanggil dan diperlengkapi dengan karunia menggembalakan (penggembalaan sebagai suatu karunia khusus), namun setiap orang percaya memiliki tugas menggembalakan sesamanya (penggembalaan sebagai tugas/panggilan setiap orang percaya). Kita tidak mungkin menjadi orang percaya dan tidak menggembalakan. Maka karakter seorang gembala, mendahului tugas dan jabatan. Seorang percaya melakukan tugas pelayanannya dengan sukarela (bukan dengan paksa). Kerelaan hati menjadikan segala sesuatu yang kita kerjakan menjadi lebih ringan (sekalipun pekerjaan yang dikerjakan mungkin merupakan pekerjaan yang sangat berat). Tidak ada ekspresi penghayatan yang lebih jelas akan seorang yang sungguh mengerti kasih karunia Tuhan seperti seorang yang melakukan segala sesuatu dengan rela. Kita tergerak sebagai satu dorongan yang wajar untuk melayani dan menjadi berkat bagi orang lain, bukan karena tugas atau kewajiban.
Namun untuk membedakan kerelaan yang sejati dengan kerelaan manusiawi yang seringkali bersifat bias dan rancu dengan kesenangan diri atau hobby pribadi, di sini Petrus menambahkan “sesuai dengan kehendak Allah”. Standard kerelaan kita adalah karena kehendak Allah, dengan demikian kerelaan itu akan dibersihkan dari sifat in a good/bad mood, termasuk kerelaan dengan maksud atau agenda yang tersembunyi, yang pada dasarnya berpusat kepada diri sendiri. Kerelaan yang sesuai dengan kehendak Allah menjadikan pelayanan kita selalu tulus, karena tidak dilakukan di hadapan manusia, melainkan di hadapan Allah. Seorang yang bekerja tidak menaati tuannya hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, melainkan dengan tulus hati, seperti taat kepada Kristus (Ef 6:5-6), mereka yang study memberikan yang terbaik untuk Tuhan, yang melayani keluarga bukan untuk kenikmatan dan kebahagiaan keluarga itu sendiri melainkan untuk Tuhan (dengan demikian mengakibatkan bahagia tertinggi) etc. “Sesuai dengan kehendak Allah” menjadikan kehidupan seseorang berpusat pada Allah.
Berikutnya, bukan untuk mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Mencari keuntungan diri seringkali tidak segan-segan merugikan dan menjatuhkan orang lain demi menyelamatkan dan memperkaya diri. Pengabdian diri adalah sebaliknya. Sama seperti kerelaan, pengabdian diri adalah ekspresi terjelas dari seorang yang mengerti apa itu menyangkal diri. Seorang yang mengabdikan diri menjadikan dirinya hamba bagi sesamanya dalam kehendak Tuhan. Ia bukan hanya tidak mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, melainkan bahkan rela untuk merugikan diri demi memperkaya kehidupan orang lain.
Terhadap Tuhan: dengan semangat kerelaan, terhadap sesama: pengabdian diri, dan terhadap diri sendiri: bukan merebut kuasa melainkan menjadikan diri sebagai teladan bagi orang lain. Pengejaran kuasa yang benar bukan dengan memperebutkan posisi atau jabatan melainkan dengan menjadi teladan. Kita membaca kehidupan hamba-hamba Tuhan yang paling diberkati Tuhan, yang paling berkuasa, adalah mereka yang dalam kehidupan mereka sendiri menjadi teladan. Kerajaan Allah tidak membutuhkan sekedar orang-orang yang super berbakat (karena Allah dapat menggunakan batu yang tidak ada ‘bakat’), orang-orang kaya yang tidak dapat menempatkan diri (karena Allah dapat memperkenan pemberian janda miskin), orang-orang yang selalu kelihatan aktif dan sibuk (karena ada saatnya Tuhan ingin berbicara kepada kita seperti kepada Maria), kerajaan Allah membentuk bayi-bayi rohani bertumbuh menjadi dewasa, menjadi teladan bagi mereka yang bersama-sama menjadi rekan kerja, rekan mengikut Kristus, rekan bertumbuh. Kiranya Tuhan sumber segala berkat, mengaruniakan kepada kita kehidupan yang sedemikian.

Rev. Billy Kristanto
 
Reformed Evangelical Church of Indonesia
= http://www.grii.de =         

For me to live is Christ, and to die is gain. If I am to live in the flesh, that means fruitful labor for me (Phil 1:21-22)


-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

JNM Mailing list are managed by :
Indonesian Pentecostal Revival Fellowship (IPRF) Denver, USA (or GPdI Denver)
If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED]
or If you want to contact IPRF Denver USA, to : [EMAIL PROTECTED]
Web Site : http://www.iprf.us
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-




SPONSORED LINKS
Arizona regional multiple listing service United regional health care system Anda networks


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke