Tak Ringan Salibku
Oleh : Mundhi Sabda H. Lesminingtyas

Ini adalah yang ke 5 kalinya saya menyambut Jumat Agung hanya bersama anak-anak. Menjelang Natal  2001 suami saya meninggalkan Tuhan, menelantarkan saya dan ketiga anak kami demi kehidupan baru bersama anak dan istrinya yang baru. Sejak saat itulah, saya berjuang, mencoba merasakan luka-luka dan pengorbanan Tuhan Yesus untuk membalut luka hati saya dan anak-anak.

Tidak mudah bagi saya menjalani kegagalan hidup berumah tangga. Terlebih pada awal-awal kepergian suami dari rumah. Rasa kecewa, marah, malu, terhina, cemburu dan putus asa bercampur aduk jadi satu. Belum lagi saya harus menghadapi Dika (waktu itu masih berumur 9 tahun) yang menyimpan dendam dan kebencian teramat dalam kepada ayahnya. Sementara untuk membesarkan adik-adik Dika yang masih batita (bawah 3 tahun) juga tidak mudah.

Waktu itu masyarakat di sekitar tempat tinggal kami tak henti-hentinya menggunjing dan mentertawakan saya. Rasanya tidak adil, keputusan suami yang meninggalkan Tuhan dan keluarganya justru mereka dukung dengan dalih beribadah "ala mereka". Sementara saya yang bertahan menghidupi ketiga anak dengan tetap memegang norma agama, hukum dan etika moral disudutkan sebagai terdakwa yang tidak becus mengurus rumah tangga.

Ketika masyarakat sekitar tak lagi memberi rasa nyaman, saya bermaksud mendekat kepada Tuhan. Sayapun mulai mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan rohani. Semula saya berpikir, orang-orang rohani yang saya jumpai akan membalut luka hati saya. Namun kenyataannya sangat berbeda. Di sanalah saya justru mendapatkan penghakiman yang menyakitkan. Mereka tidak mau tahu bagaimana perasaan saya dan anak-anak yang mengalami trauma berkepanjangan.
Mereka justru menghujam saya dengan Firman Tuhan. "Kamu berdosa karena firman Tuhan berkata 'Apa yang dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan manusia" itulah kalimat standar yang selalu saya dengar dari mulut mereka.
Mereka dengan enaknya memvonis saya telah melanggar firman Tuhan, tanpa mau bertanya apakah saya juga menginginkan perceraian. Kalau saya boleh memilih, tentu saya akan memilih sebagai istri yang dilindungi suami, dari pada harus menyandang status yang dimarginalkan, yaitu janda.

Sayang sekali, orang-orang rohani itu hanya berbicara di awang-awang sambil terus menghitung dosa saya. Namun ketika saya tanyakan tip-tip praktis bagaimana "membawa pulang" suami yang tidak lagi mengakui Tuhan Yesus, mereka hanya bungkam seribu bahasa. Kalaupun bersuara, mereka hanya memberikan ayat-ayat suci atau berteori muluk-muluk.

Kadang-kadang saya lelah mendengarkan khotbah dan petuah dari orang-orang rohani yang tidak mau melihat saya dalam konteks kehidupan yang utuh. Mereka hanya melihat saya sepotong demi sepotong. Mereka hanya melihat dan menuduh saya sebagai istri yang tidak becus sehingga suami lari meninggalkan Tuhan dan keluarga. Mereka tidak mau melihat perjuangan saya membesarkan ketiga anak saya dalam keadaan yang sangat sulit. Mereka tidak bisa merasakan betapa sulitnya membalut luka hati saya sendiri sekaligus luka hati anak-anak. Semakin banyak orang yang menghakimi saya dengan berkata "Apa yang dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan manusia", saya semakin merasa jauh dengan Tuhan. Saya sama sekali tidak tertarik untuk mendengar ayat yang sebenarnya telah saya hafal di luar kepala dan sering saya gunakan untuk memohon supaya suami tidak meninggalkan kami. Saya benar-benar alergi
dengan ayat tersebut. Saya bahkan merasa muak melihat kitab suci yang namanya Injil.

Jumat Agung tahun 2002 saya benar-benar muak. Saya malas sekali pergi ke gereja. Pasalnya, setiap ke gereja, saya harus berbohong. Biasanya di depan pintu masuk gereja majelis yang tidak tahu masalah saya sering menyalami sambil bertanya "Mana papanya? Kok cuma sama anak-anak?"
Untuk menyelamatkan muka, biasanya saya hanya menjawab "Sedang ke luar kota".
Hati kecil saya memohon pengampunan Tuhan karena telah berbohong.
Namun "hati licik" saya berkata "Kamu tidak bohong-bohong amat! Toh suamimu memang tinggal bersama anak dan istri barunya di luar kotamadya Bogor". Saya memang sering mempermainkan kata untuk menutupi keberadaan suami yang tinggal tak jauh dari rumah namun secara administratif masuk wilayah Kabupaten Bogor.

Merasa lelah berbohong, saya ingin sekali menjauh dari persekutuan, hati kecil saya berkata "Coba sekali lagi datang ke gereja !" Puji Tuhan, waktu itu kebaktian dipimpin oleh pendeta yang setia melayani saya di ruang konseling pastoral sejak badai menerpa rumah tangga kami. Sebenarnya dua orang pendeta di gereja telah mengupayakan mediasi, namun suami merasa tidak perlu berurusan lagi dengan Tuhan Yesus dan gerejaNya, apalagi hanya dengan pendeta yang dipandangnya sebagai manusia biasa. Dengan memahami apa yang terjadi dalam kehidupan keluarga kami, pendeta itu bisa menerima saya apa adanya. Bahkan ketika saya minta untuk digembalakan secara khusus, pendeta itu menolak karena banyak hal yang terjadi bukan karena kesalahan atau kelalaian saya. Menurutnya apa yang saya lakukan tidak melanggar tata gereja. Kalaupun ada penggembalaan khusus, seharusnya suami saya yang harus menjalaninya.

Satu hal yang dilakukan pendeta yang membuat saya merasa berharga. Ketika menyalami ratusan jemaat di akhir kebaktian, pendeta itu menyempatkan diri menatap mata saya dalam-dalam seolah ingin tahu apakah keadaan saya baik-baik saja. Saya yang semula sudah berniat undur diri dari kumpulan orang-orang kudus di gereja, merasa seperti maling yang hampir tertangkap.
Saya hanya menunduk, takut ketahuan bahwa saya tidak nyaman berada di tengah-tengah orang kudus. Sedetik kemudian hati saya tersentuh dengan sapaan hangat pendeta itu "Bagaimana kabarnya Mbak Ning? Apakah anak-anak sehat?".
Kontan hati saya berkata "O..ternyata nama saya masih disebut ! Ternyata saya dan anak-anak masih penting !"

Sapaan pribadi dari pendeta pagi itu telah menyelamaatkan keputusan saya.
Saya menjadi malu dengan niat saya untuk "ngambek" meninggalkan Tuhan,
sedangkan Tuhan sendiri tetap menganggap saya penting. Dengan malu-malu saya kembali membeli kitab Injil di bagian kolportase gereja untuk mengganti kitab yang sudah terlanjur saya buang. Pendek kata, sejak saat itu saya mencoba memilah mana perkataan Tuhan yang membalut luka dan mana perkataan manusia yang semakin mengoyak luka batin saya.

Menjelang paskah tahun 2006 ini, berat sekali beban saya. Dika yang mulai masuk usia remaja memerlukan perhatian ekstra. Keinginan saya untuk memfasilitasi Dika supaya bisa menikmati masa remajanya tanpa terseret arus dunia tentu merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Belum lagi Dika yang sempat kehilangan rasa percaya diri akibat perasaan tertolak dan dicampakkan
oleh ayahnya, memerlukan kesabaran ekstra dan bukti nyata bahwa saya menerima dan mengasihi dia apa adanya.

Anak kedua; Vika, yang masih duduk di TK kecil bukanlah anak yang mudah. Ia terlalu sensitif. Kalau saya sedang memperhatikan kakak dan adiknya, Vika sering ngambek karena merasa tidak diperhatikan. Si bungsu Mika juga memerlukan perhatian khusus. Saya tidak pernah bisa memberikan jawaban yang tepat setiap Mika menanyakan siapa ayahnya. Belum lagi kalau Mika bertanya mengapa begitu banyak orang yang baik kepadanya, tetapi tidak ada satupun yang bisa dipanggil ayah.  Untuk menutup mulut Mika, tak jarang saya membayar dengan kemanjaan. Alhasil, Mika menjadi agak manja dan cengeng.
Kecengengan Vika dan Mika seringkali menggoda Dika untuk mengganggunya.

Dika,Vika dan Mika memang sering terlihat rukun, namun tak jarang juga mereka berantem ataupun berebut perhatian. Kalau saja bisa diatur, saya ingin membagi waktu dan membuat jadwal kapan saya harus melayani anak satu per satu. Namun dalam kenyataannya mereka lebih sering berebut dan minta perhatian dalam waktu yang sama. Anak-anak juga tidak tahu betapa berat saya mencari uang untuk mereka. Ketika saya lelah setelah seharian bekerja, anak-anak tetap menyambut saya dengan persoalaan mereka masing-masing.
Sayapun tidak bisa menanggapinya sambil lalu karena kami terbiasa berkomunikasi dengan menatap mata (eye contact). Sekali saja saya meleng tidak mengarahkan pandangan mata ke mata mereka, anak-anak berusaha merubah posisi kepala saya. Repotnya kalau mereka sedang berebut, kepala saya juga diperebutkan. Tak jarang Dika menggerakkan wajah saya ke kanan, sedangkan adiknya menggerakkan kepala ke kiri.

Masalah biaya pendidikan dan kesehatan anak-anak juga menjadi PR besar bagi saya. Tahun ajaran yang akan datang Mika membutuhkan biaya untuk masuk TK kecil. Tahun depannya Vika harus masu SD. Tahun berikutnya Dika membutuhkan biaya yang besar untuk masuk SMU. Saya sering bertanya dalam hati "Kapan saya bisa istirahat, tidak harus ngoyo mencari uang buat anak-anak?".
Sebagai manusia, saya kadang berharap supaya Dika, Vika dan Mika diingat oleh ayahnya. Namun harapan saya itu terlalu tinggi. Walaupun suami tinggal tak jauh dari rumah, bukan berarti ia peduli dengan kehidupan anak-anaknya.
Jangankan memberi bantuan keuangan, untuk menyapa darah dagingnyapun tidak pernah. Hati kecil saya sering berbisik kepada Tuhan "Tuhan, adilkah ini?
Anak-anak ini hadir di dunia bukan karena kemauan saya saja, tetapi mengapa saya yang harus menanggungnya sendiri?"

Jumat, 14 April 2006 saya membawa anak-anak ke gereja. Karena tidak ada Sekolah Minggu, saya menjadi lebih repot gara-gara harus mengurus anak-anak di ruang kebaktian. Dika tahu bahwa  perjamuan kudus merupakan "acara" saya sehingga ia mau menjagai dan menenangkan adiknya. Walaupun cukup terbantu oleh Dika, namun hati kecil saya kembali "iri" melihat pasangan suami istri yang menjaga anaknya bersama-sama. Rasanya beban suami istri itu dalam mengurus anak tidak terlalu berat karena ditanggung berdua. Konsentrasi sayapun mulai dibuyarkan dengan pertanyaan-pertanyaan "Tuhan, adilkah ini?
Mengapa saya harus menanggung beban sendiri? Mengapa suami bisa seenaknya mencampakkan anak-anak, tetapi saya yang harus menanggung semua akibatnya?
Mengapa suami bisa seenaknya meninggalkan trauma pada anak-anak, tetapi saya yang harus berjuang memulihkan hati mereka? Mengapa suami bisa enak-enakan menikmati dunia, tetapi saya yang harus menerima penghakiman dan divonis berdosa? Mengapa saya sudah melakukan kehendakMu untuk mengampuni dan memberkati suami, tetapi saya malah menanggung banyak kerugian? Tuhan, kalau boleh saya berkata jujur, ini sungguh-sungguh tidak adil !"

Ketika pikiran saya mengembara tidak karuan, dari atas mimbar pendeta berseru "Tuhan Yesus rela menerima siksa dan kematian untuk menangung dosa kita. Ia rela menanggung derita bukan karena perbuatanNya, tetapi akibat dosa kita"
Saya benar-benar tersentak. Nurani saya seolah mendengar suara Tuhan "Semua yang terjadi dalam hidupmu itulah salibmu, maka pikullah!"
"Tuhan, salib saya terlalu berat !" saya mengeluh.
"Salibmu memang tidak ringan, tapi coba lihatlah salib-Ku?" pikiran saya diajak mengingat sengrasa Kristus.

Sebelum mengakhiri kebaktian, pendeta mengajak jemaat menyanyikan NKB No 83: 1-4 "Nun Di Bukit Yang Jauh" sbb :

Nun di bukit yang jauh, tampak kayu salib; lambang kutuk nestapa, cela
Salib itu tempat Tuhan Mahakudus menebus umat manusia
Refrein  :
Salib itu kujunjung penuh,hingga tiba saat ajalku
Salib itu kurangkul teguh dan mahkota kelak milikku

Meski salib itu dicela, dicerca, bagiku tiada taranya
Anak domba kudus masuk dunia gelap disalib kar'na dosa dunia
Refrein  :
Salib itu kujunjung penuh,hingga tiba saat ajalku
Salib itu kurangkul teguh dan mahkota kelak milikku

Indahnya bagiku salib hina keji, berlumuran darahNya kudus
Hilanglah dosaku, sucilah hatiku berkat kurban Yesus Penebus
Refrein  :
Salib itu kujunjung penuh,hingga tiba saat ajalku
Salib itu kurangkul teguh dan mahkota kelak milikku

'Ku setia tetap ikut jalan salib,meski dirku pun dicela
Suatu saat kelak 'ku dibawa pergi ke tempat kemuliaanNya
Refrein  :
Salib itu kujunjung penuh,hingga tiba saat ajalku
Salib itu kurangkul teguh dan mahkota kelak milikku

Setiap menyanyikan bagian refrein, saya tak kuasa menahan air mata seraya berkata "Tuhan, walau salib ini sungguh berat, tapi saya mau merengkuhnya demi mahkota dari-Mu"

Setibanya di rumah, saya menemani anak-anak makan siang di meja makan. Siang itu Dika yang menggoreng lauk untuk kami. Kadang-kadang saya merasa kasihan karena banyak anak seumuran  Dika yang masih dilayani, tetapi karena keadaan saya melatih Dika untuk mengambil tanggung jawab untuk hal-hal yang bisa dia lakukan. Hati kecil saya pun diingatkan "Bukan hanya salibmu yang berat ! Anak-anakmu juga memanggul salib yang tak ringan !"

Begitu selesai makan, Mika langsung lari ke kamar karena ponsel saya berbunyi tanda ada SMS yang masuk. Beberapa detik kemudian Mika sudah kembali "Bu, SMS" katanya sambil menyerahkan ponsel. Ternyata Amangboru Walsinur Silalahi mengirim pesan singkat yang berbunyi "Kuyakin Tuhan memegangmu erat, malaikat-malaikat-Nya menjagamu ketat. Tak hanya membuatmu baik, tetapi supaya kau dapat yang terbaik. Selamat Jumat Agung"
__._,_.___

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

JNM Mailing list are managed by :
Indonesian Pentecostal Revival Fellowship (IPRF) Denver, USA (or GPdI Denver)
If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED]
or If you want to contact IPRF Denver USA, to : [EMAIL PROTECTED]
Web Site : http://www.iprf.us
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-





SPONSORED LINKS
Arizona regional multiple listing service United regional health care system Anda networks


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke