|
From: "eddyJP" <[EMAIL PROTECTED]>
Prens sekalian,
Mulai hari ini daku akan mengirimkan secara teratur resensi bacaan yang berjudul The Nurture Assumption Buku perkembangan anak karangan Judith Harris ini ditulis resensinya sebanyak 56 seri dengan sangat menarik oleh Jusni Hilwan, prens daku yang tinggal di Toronto, tentu saja daku sudah minta ijin sama doi untuk di postingkan di milis kita ini, so jangan dikau latah mem Fw nya ke lain tempat seperti tulisan mbak Ning yang akhirnya seolah olah nggak ketahuan lagi asal usulnya.. he..he..he.. Tulisan ini mungkin sedikit kontroversial, tapi tidak mengapa karena bisa menjelaskan beberapa argumen, mengapa good parents tidak selalu menghasilkan good children dan bad parents tidak selalu menghasilkan bad children seperti asumsi kita. Justru dari kontroversi kita jadi belajar sesuatu hal yang baru dan membuat otak dan hati kita berpikir dengan lebih jernih pertanyaan besarnya : "Apakah Nature alias Bawaan yang lebih menentukan perkembangan anak ataukan Nurture alias Lingkungan yang lebih berpengaruh." Bahasanya rada okem, kalo dikau belon biasa mungkin masih binun awalnya, tapi kalo dikau udah terbiasa dengan bahasa daku yang amburadul, makanya mestinya nggak akan kesulitan. Mudah mudahan ini akan menjadi bahan diskusi yang menarik buat kita.... eddyJP Personal ID: [EMAIL PROTECTED] *** The Nurture Assumption 1. Kahlil Gibran anak Lebanon berkebudayaan Timur yang dikagumi masyarakat Barat suatu ketika bersyair: Your children are not your children. They are the sons and daughters of Life's longing for itself. They come through you but not from you, And though they are with you yet they belong not to you. You give them your love but not your thoughts, For they have their own thoughts. You may house their bodies but not their souls, For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams. You may strive to be like them, but seek not to make them like you. For life goes not backward nor tarries with yesterday. Itulah tulisan awal di buku berjudul di atas yang akan kutuliskan resensinya bab per bab di dalam tayangan serial mendatang. Pengarang buku Judith Harris adalah seorang 'developmental psychologist' yang sebelum menulis sang buku, menulis beberapa textbook mengenai perkembangan anak. Sampai suatu ketika ia mendapat pencerahan dan mulai menulis buku kontroversil tersebut pada tahun 1998 yang membuat banyak psikolog heboh. Pada prinsipnya ia berteori bahwa orang tua tidak mempunyai peranan di dalam perkembangan maupun kepribadian sang anak. Adalah asumsi para sepikolog dan masyarakat selama ini, bahwa nurture atau perawatan dan pendidikan orang tualah yang berperan penting didalam perkembangan anak. Tentu saja ada muatan genetik atau nature-nya dan ini tidak dibantah oleh Tante Judith. Nurturing yang oke punya akan membantu memperbaiki atau menyempurnakan sang nature, ini yang tadinya juga dipercaya oleh si Judith sebelum ia menulis buku berjudul di atas. Di dalam bukunya ia berjanji untuk pertama, memperlihatkan kepada kita bahwa asumsi pendidikan orang tua berperan terhadap anak hanyalah ya, asumsi. Kedua bahwa asumsi itu tidak ada dasarnya. Ketiga,
apa lalu yang "membesarkan" anak?
Ia akan menjelaskan apa saja yang membuat seorang anak menjadi orang. Ia sadar bahwa apa yang ditulisnya sesuatu yang kontroversil untuk masyarakat yang berpendapat, kacang tak buang lanjaran, anak yang ortunya immoril besarnya jadi biadab, ortu yang mengenyek anaknya akan memperoleh anak yang bego. Sudah ribuan buku yang ditulis mulai dari sepikolog
klinis sampai ke Hillary Clinton yang menjelaskan panjang lebar pengaruh
pendidikan ortu terhadap anak. Semua yang telah kita baca akan dampak baik dan
buruk dari pendidikan dan nurturing orang tua sedemikian meyakinkannya, sehingga
atau sebab itulah saya menjadi tertarik untuk membaca buku ini secara rinci dan
mensyernya.
Sebagai pengarang textbook tentu saja Judith mempunyai dasar-dasar untuk membantah segala asumsi dari nurture selama ini. Ada 3 peristiwa atau kasus yang pada suatu hari membuatnya dari "abortionist" menjadi "pro-life". Pertama adalah pengamatannya akan tetangganya
pasutri imigran Rusia beraksen kental
dan berbahasa Inggris gawat. Namun anak-anak mereka yang berumur dari 5 s/d 9 berbahasa Inggris dengan aksen Boston-Cambridge yang sempurna. Kalau si Judith melihat pasutri Rusia itu sebagai orang asing, anak-anak mereka Amrik banget. Ia mulai berpikir sebab kata orang, konon anak-anak
mempelajari bahasa dari ortunya. Kog? Si bayi 5 tahun pun berbahasa Inggris jauh
lebih OK dari ibunya,
Kasus pencerahan kedua adalah pengamatannya akan anak-anak cowok ningrat Inggris yang dibesarkan secara tidak sesuai dengan 'nurture assumption'. Selama 8 tahun pertama dari hidup mereka, mereka diasuh oleh 'suster' atau suster bos (governess). Sedikit sekali waktu si anak bersama ibunya, apalagi dengan ayahnya yang umumnya bersikap dingin dan menjaga jarak. Pada usia 8 tahun si anak lanang dikirim ke 'boarding school' untuk selama 10 tahun dan hanya pulang di hari-hari libur. En toh, ketika ia keluar dari Eton atau Harrow (sekolah elit di Inggris), ia siap menjadi seorang gentleman Inggris dan bergaya persis kaya si bokap yang tak ada urusan dengan nurturingnya. Satu kasus lagi. Kata para sepikolog, anak-anak belajar dengan meniru ortu terutama yang sejenis kelaminnya. Tetapi tidak demikian kenyataannya. Anak-anak tidak bisa atau boleh meniru ortunya yang suka jorok, nge-bosin orang, nyupir mobil, menyalakan korek-api, pergi datang semaunya, dan banyak lagi yang lainnya yang tidak boleh dilakukan si anak. Kepriye, kata si Judith. Dari kacamata si anak, sosialisasi di tahun-tahun pertama hidupnya adalah melulu belajar agar tidak ikut-ikutan si orang tua. Si Judith ini bermodal juga analisanya sebab ia menyelidiki anak-anak di kepulauan Polynesia yang senasib dengan anak Amrik, engga bisa meniru-niru ortu. Tentu saja ada hal-hal yang diakui Judith diperlukan oleh sang bayi dan anak, mempelajari bahasa pertama, mengalami hubungan sosial dan mengikuti aturan. Namun ia tidak lagi percaya bahwa apa yang selama ini diteorikan psikolog anak, bahwa masa awal menentukan masa depan, apa yang dipelajari ketika kecil akan terbawa sampai dewasa, itu tidaklah demikian. Meskipun apa yang mereka pelajari berguna, isi pelajarannya kemungkinan tidak bersangkut-paut dengan dunianya di luar rumah dan akan mereka campakkan seperti mereka membuang baju yang dipaksa oleh nyokap mereka untuk dipakai. =============================================
The Nurture Assumption II Sejak dari jaman baheula, dunia akademis di bidang psikologi sudah terpisah oleh dua kubu. Di satu sisi mereka yang percayanya kepada nature ataupun hal-hal yang diwariskan secara genetik. Di sisi lain mereka yang mengimani nurture atau hal-hal yang dimiliki manusia karena pengalamannya. Jurang yang paling dalam yang memisahkan kedua kubu itu terlekat di daerah psiko anak. Periset sosial berkonsentrasi di bidang nurture,
peneliti bidang nature disebut behavioral geneticists. Mereka semua pada umumnya
menyangkul di universitas dan berduit karena melakukan riset. Semakin banyak
hasil risetnya yang dipublikasi semakin mereka naik daun. Oleh karena itu mereka
sudah tak sempat lagi untuk boro-boro ngerumpi (karena bakal bengkelai =
berkelahi) membaca karya tulis para "musuhnya". Lain halnya dengan Tante Judith
yang netral dan sebagai penulis textbook psikologi anak, ia mesti membaca semua publikasi yang ditulis warga kedua kubu di atas. Karena bersifat netral seperti itu dan ada di atas permasalahannya, ia dapat menunjukkan apanya yang salah dengan yang telah diketemukan para periset tersebut maupun ngawurnya cara mereka menarik kesimpulan. Mengapa kita perlu peduli akan ketelmian para propesor itu? Karena mereka sering disitir di koran dan majalah "ayah bunda" :-) maupun direferensikan oleh dokter anak. Asumsi nurture, bahwa ortu adalah faktor terpenting di dalam perkembangan seorang anak dan pada garis besarnya menentukan akan jadi apa sang anak, adalah produk akademis para propesor itu dan dianut banyak ortu sedunia. Secara mudah dan jitu seperti kalau Bang Jeha sedang menulis topik psiko :-), si Judith menjelaskan mengapa sering sekali laporan para periset sosial itu salah kaprah. Dampak dari cara mendidik ortu terhadap anak diselidiki oleh para periset sosial itu tidak melalui apa yang namanya eksperimen. Seperti Anda ketahui, terutama bila Anda telah membaca semua tulisan psikoku, eksperimen adalah metodologi studi yang paling oke punya. Mereka tidak bisa mempermainkan atau mengubah variabel-variabel seperti di dalam eksperimen tetapi harus terima jadi. Artinya mereka tidak bisa mengontrol bagaimana si ortu berperilaku dalam mendidik anak tetapi hanya mengamati hasilnya. Dalam bahasa lainnya, mereka melakukan studi korelasi. Anda semua mestinya sudah maklum betapa mudahnya studi seperti itu untuk dimanipulasi maupun mengakibatkan kesalahan analisis. Di dalam bukunya, secara panjang lebar Judith mengetengahkan contoh studi buatannya mengenai dampak makan broccoli terhadap umur panjang. Hasilnya, cewek yang makan broccoli setiap minggu, setiap bulan atau engga pernah, 99% semuanya masih hidup 5 tahun kemudian. Cowok, 99% bila makan tiap minggu, 98% bila tiap bulan, 97% bila engga pernah. Keluar lalu di koran artikel dengan judul sealaihim, Makan Broccoli Menyebabkan Cowok Berumur Panjang, Kata Suatu Penelitian. Kekaprahan sudah terjadi sebab bisa saja sang cowok juga makan yang lainnya seperti wortel, ketimun dan terong :-). Laki-laki di kelompok 99% itu mungkin tidak makan es krim Itali yang uenak, tidak makan daging yang asyik. Mungkin saja mereka terus berkanu dan mengayuh sepeda seperti Bang Jeha yang udah pensiun. Segala macam faktor lainnya yang mungkin berperan terhadap umur tidak ada di dalam variabel studi tersebut. Malahan bisa saja sebetulnya makan broccoli memperpendek umur kaya makan pempek di Palembang yang konon diawetkan dengan formalin. Tapi ada faktor lainnya yang mengalahkan sang negatif, misalnya semua cowok berumur panjang itu beristeri dan cewek umumnya kan senang masak broccoli. Kita semua tahu dari cem-macem survey, cowok yang beristeri umurnya rata-rata lebih panjang daripada yang melajang. Jadi perkawinanlah yang sudah menghasilkan angka 99%. Itulah contoh kemungkinan kebegoan studi korelasi, apalagi kalau si periset dari awal sudah berthesis makan broccoli pastilah bagus punya. Judith menyamakan contoh di atas dengan periset sosial yang dari awalnya sudah mempunyai asumsi-asumsi yang belum tentu benar. Mereka juga mulai beriset dimodali beberapa ide yang diterima secara umum, bahwa ada cara mendidik yang oke dan yang tidak oke, bahwa ortu yang memakai cara yang baik akan menghasilkan anak-anak yang baik dibandingkan ortu yang salah mendidik. "Apa itu cara mendidik yang baik?," kata Anda. Berikan anakmu kasih-sayang, tetapkan batas-batas, berlakulah tegas namun adil, anak jangan ditaboki apalagi dirotan, hindari mengenyek dan mengejek, perlu konsisten, dst, dsb. Kita juga tahu apa yang kita cari di dalam seorang anak, yang baik adalah yang periang dan suka bekerja-sama, umumnya penurut tapi bukan robot, tidak maluan tapi juga tidak semberono saenak-udele, berprestasi oke di sekolah, punya banyak teman dan tidak menghantam orang tanpa alasan. Di dalam studi yang dilakukan periset sosial itu, seperti halnya studi broccoli, mereka mengumpulkan data cara mendidik yang bagus dan hasil anak yang baik untuk lalu dihubung-hubungkan dan diperlihatkan, ini nih kalau ente semua melakukan hal yang oke punya, hasilnya pasti bagus. Sampai tayangan berikutnya. Bai bai lam lekom. ... (bersambung)... Jusni Hilwan -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [email protected] If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED] Bagi Saudara yang berdomisili di Amerika, saudara dapat bergabung dengan mailing list Keluarga Kristen USA (KK-USA) dengan mengirimkan email kosong ke [EMAIL PROTECTED] dan ikuti instruksi yang ada. -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|

