|
From: "eddyJP" <[EMAIL PROTECTED]>
The Nurture Assumption III Judith mengajak kita melakukan suatu studi korelasi dari faktor-faktor lingkungan yang menaikkan intelegensia si anak. Hipotesa kita adalah ortu yang menyediakan lingkungan yang menstimulasi intelektuil si anak akan mempunyai anak-anak yang pintar. Kita mulai mengumpulkan data untuk membuktikan hipotesa itu. Kita perlu mempunya ukuran, seberapa stimulating-nya lingkungan rumah si anak plus kepandaiannya. Untuk ukuran yang sederhana kita pilih jumlah buku di rumah itu dan untuk ukuran kepintaran sederhana, kita pakai angka IQ. Kita mengharapkan adanya korelasi positif dari buku dan anak, anak yang di rumahnya ada segudang buku seperti di perpustakaan, tinggi IQ-nya. Yang tidak ada bukunya rendah IQ-nya dan yang jumlah bukunya biasa- biasa aja, IQ-nya juga biasa-biasa saja. Bila terjadi korelasi yang sempurna, 1.00 kita dapat meramalkan ukuran IQ si anak dari hanya jumlah buku di rumahnya. Sayangnya, faktor korelasi di dalam kenyataannya tidak pernah sempurna. Kita harus puas bila mendapatkan faktor 0.70, 0.50 malah 0.30. Di dalam kenyataannya juga, studi korelasi mempunyai lebih banyak faktor dari hanya buku saja, katakan ada 5 faktor mengenai lingkungan rumah. Juga ada 4 ukuran kepintaran lainnya dari sang anak, bukan hanya IQ-nya doang. Artinya kita akan mempunyai 25 kemungkinan hubungan korelasi. Hanya dari ilmu statistik, satu atau dua akan menjadi signifikan alias memberi korelasi yang tinggi. Bagaimana kalau tidak ada satupun yang menunjang hipotesa kita? Ga masalah. Kita coba pecah sang anak atas cewek dan cowok seperti di studi broccoli itu. Siapa tahu yang cowok memberikan angka signifikan. Masih engga cukup, kita bisa pecah lagi faktor ortu menjadi ibu dan ayah. Mungkin dengan salah satunya dapat data yang signifikan. Anda melihat apa yang dikemukakan Judith bahwa studi yang dilakukan periset sosial itu "bisa diatur". Anda yang berkecimpung dalam dunia akademis tahu bahwa sesekali kita membaca seorang peneliti menipu atau memanipulasi data maupun laporan agar hipotesanya bisa dimuat di publikasi ilmiah dan ia menjadi terkenal sebagai penipu, bila ketahuan :-). Judith tidak mengemukakan kalimat terakhir itu, variasi saya saja. Ia menulis bahwa ada 2 jenis studi korelasi yang meyakinkannya bahwa benar datanya. Korelasinya tidak kuat tetapi konsisten dari studi ke studi. Kesimpulannya. Generalisasi I: Ortu yang sukses di dalam mengatur kehidupan dewek dan yang dapat bergaul secara oke dengan sesamanya manusia, cenderung mempunyai anak yang juga dapat mengatur hidup mereka dan mampu bersosialisasi. Ortu yang kehidupannya bermasalah, rumah tangganya kusut, hubungan dengan sesama kalut, cenderung mempunyai anak yang juga bermasalah. Generalisasi II: Anak yang mendapatkan kasih-sayang dan dihargai cenderung untuk mampu mengatur kehidupannya dan hubungannya dengan sesama secara lebih baik dibandingkan dengan anak yang diperlakukan dengan kasar. Itulah apa yang diyakini oleh para periset sosial bahkan hampir semua
orang.
Judith menyuruh kita duduk baik-baik untuk mendengarkan dongengan selanjutnya apakah memang demikian. Ia mengetengahkan faktor nature atau genetic. Sudah banyak studi perilaku manusia yang dilakukan dengan metode 'behavioral genetic'. Hasilnya nyata dan konsisten. Pada umumnya pengaruh faktor keturunan atau genetik terdapat di sekitar 50 persen sample dan pengaruh lingkungan di yang 50% lainnya. Manusia berbeda-beda, ada yang impulsif, ada yang berhati-hati, ada yang
nurut azha, ada yang senangnya ngedebat. Sekitar setengah dari mereka yang
impulsif karena gen-nya, setengahnya lagi karena pengaruh pren atau
lingkungannya. Demikian pula untuk perilaku nurutan maupun untuk karakteristik
psiko lainnya. Di awal, Judith sudah membagi adanya dua kubu,
behavioral
geneticist dan periset sosial. Yang pertama mau menyelidiki juga apa yang dihasilkan kelompok kedua. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa apa-apa yang tidak bisa diterangkan secara genetik membuat studi sosial menjadi lebih sukar untuk dimengerti. Tante Judith setuju dengan hal itu. Katanya, generalisasi I mengatakan bahwa ortu yang kompeten, ramah, akan menghasilkan anak yang kompeten, ramah juga. Ortu yang pandai mengatur kehidupannya dan bersosialisasi, anaknya akan pandai juga mengatur kehidupan mereka dan bersosialisasi. Apakah hal tersebut karena pendidikan ortu atau diwarisi secara genetik? Tak ada yang tahu. Hasil 50-50 di atas bukan berarti setengah kemiripan anak dan ortu karena genetik dan setengah karena pendidikan/ lingkungan. Angka itu berarti bahwa 50 persen karakteristik dari anak-anak, misal keramahan, disebabkan karena pengaruh genetik. Tidak diketahui berapa persen kesamaan genetiknya antara anak dan ortu yang sama-sama ramah. Kalau penjelasan ini membingungkan Anda, anggaplah anak adalah jagung manis yang berasal dari ortu jagung manis juga. Tetapi faktor genetik manis itu hanyalah 50% sumbangannya kepada kemanisan. Sebab masih ada faktor lain seperti kwalitas tanah, curah hujan dan sinar matahari yang akan memegang peranan (yang bukan 50%). Berapa persen dari genetik ortu jagung manis ada di anak jagung manis, itu tidak diketahui. Kembali ke manusia, perbedaan lingkungan memberikan sumbangan 50% dari variasi kepribadian kita. Periset sosial benar bahwa lingkungan berdampak terhadap anak, mereka salah di dalam menyimpulkan apa saja faktor-faktornya. Mereka tidak memperhitungkan warisan gen dalam studi mereka. Generalisasi I pertama betul bahwa pada umumnya ortu ramah menghasilkan anak ramah, tetapi tidak membuktikan bahwa ortulah yang menentukan akan jadi apa si anak. ================================================ The Nurture Assumption IV Di dalam studi-studi metoda ortu mendidik anaknya, child rearing istilah di Kanada, para periset menggiring anak-anak berusia kira-kira sama dan ortu mereka. Lalu mereka menginterview sang ortu dan sering juga mengamati bagaimana interaksi ortu-anak. Apa yang terjadi pada umumnya, hanya satu anak yang diambil per keluarga, jelas kalau ayah-ibu beranak-pinak, para periset itu akan kedodoran banget. Kalau saja ada keseragaman di dalam ortu mendidik SEMUA anaknya, tentu hasil studi tidak akan terlalu menyimpang. Kata Judith, mana ada child-rearing style yang seragam, seperti juga Bang
Jeha yang pilih kasih :-), ia memperlakukan kedua anaknya berlainan. Tergantung
usia, bodynya keker engga, tingkah-laku atau kesenonohan si anak, sejarah
perilakunya, ketelmiannya, kesehatan jangan lupa, orang tua akan bertindak
berlain-lainan. Ortu menyesuaikan metoda nurturing mereka kepada si anak, atau
lebih tepat, child-rearing adalah kerja-sama ortu dan anak.
Sampai bayipun bekerja-sama dengan ortunya. Perhatikan bayi yang masih imut- imut, baru berusia beberapa bulan. Mereka sering banget tersenyum melihat wajah ortunya yang suka kusut pulang dari menyangkul di comberan. Bagaimana sang ortu tidak akan lupa meski tadi siang mereka diganyang di kantor. Sama kaya si bleki yang terkibas-kibas ekornya melihat majikannya, bayi pun memberikan feedback, "Ogut hepi melihat kalian bokap nyokapku." Jangan kalau amit-amit sang bayi menderita autisma. Sesuatu neurological disorder yang pernah sahaya tulis di dalam tayangan sepikologiku karena faktor nature. Peyandang autisma dan beberapa kelainan manusia tidak dapat memberi masukan seperti itu. Mereka tidak bisa melihat mata ortunya, boro-boro tersenyum, mereka bak tidak bahagia melihat sang ortu. Judith membela ortu anak autisma bahwa kalaupun mereka ada yang dingin, yang oleh sementara psikolog kaprah dituduh menyebabkan anak autis,karena reaksi mereka melihat perilaku si anak. Generalisasi kedua mengatakan, anak yang dipeluk kemungkinannya akan jadi anak manis, anak yang dirotan akan menjadi serabutan. Balik kalimat itu, anak yang manis kemungkinan besar akan lebih dipeluk, anak yang nyebelin lebih sering diomelin. Apakah peluk-memeluk membuat sang anak manis ataukah karena ia manis ia dipeluk atau keduanya benar? Apakah digebuki membuat seorang anak jadi berandal atau ortu suka kehilangan sabar menghadapi anak bandel atau keduanya benar? Di dalam studi yang umum, tidak diketahui atau dapat diperoleh jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut, tidak dimengerti sebab-akibatnya. Jadi Judith mengatakan bahwa generalisasi kedua pun tidak terbukti dari banyak penelitian sosial yang sudah dilakukan orang. Berdasarkan argumen dari kedua generalisasi yang dikemukakannya, Judith berpendapat bahwa para periset sosial belum bisa membuktikan bahwa metoda mendidik anak yang mereka lakukan telah berpengaruh kepada anak-anak mereka. Ya, ortu yang kompeten cenderung mempunyai anak yang kompeten, tetapi
mungkin saja itu faktor genetik. Ya, anak yang diperlakukan manis berperilaku
lebih oke dibandingkan yang dikasari, tetapi bisa saja itu adalah akibat dari
"pendidikan" anak ke si ortu, child-to-parent effect, istilah
psikologinya.
Para periset sosial tidak senang bahwa apa yang mereka laporkan mungkin
karena warisan genetik dari si ortu ke si anak. Jarang sekali mereka menyinggung
hal tersebut dalam publikasi mereka, bahwa si Inem anaknya suka membantu karena
si Inem memang berjiwa membantu. Hanya, bahwa anak juga berdampak kepada ortu,
sedikit demi sedikit sudah mereka terima. Pada saat ini, hampir semua makalah
yang melaporkan korelasi antara perilaku ortu dan perilaku anak mempunyai
disclaimer di akhir laporan yang berbunyi bahwa hubungan sebab-akibat masih
belum nyata, bahwa korelasi bisa terjadi karena child-to-parent effect. Menurut
hemat Judith, hal ini serupa dengan warning di bungkus rokok Amrik, yang menurut
undang-undang mesti dicantumkan, tapi tiada perokok yang mempedulikannya. Para
periset tahu tapi itu adalah di
data orang lain, bukan di laporanku. Mereka menginterpretasikan data mereka sesuai dengan asumsi nurture karena itulah yang sudah diterima rakyat banyak. Riset mereka tidak di-design untuk mentest hipotesa apakah betul cara mendidik ortu berpengaruh terhadap anak mereka sebab itu bukan lagi sesuatu yang perlu ditest tetapi suatu hal yang udah kudu diterima. Adalah tugas mulia si Judith, kata doi, untuk selain mengetengahkan apa yang salah dengan asumsi nurture, untuk lalu membuktikannya demikian. ===========================================
The Nurture Assumption
V Judith memulai sanggahannya dengan mengetengahkan studi-studi bayi kembar identik yang memang banyak bersamaan perilakunya meskipun terkadang dibesarkan di rumah yang berbeda oleh ortu berlainan. Hal itu memang membuktikan hebatnya pengaruh genetik. Namun, sisi lain dari sang mata-uang tidak dikemukakan di studi-studi itu, yakni tetap saja kembar identik yang dibesarkan dalam rumah tangga yang sama, tidak identik perilakunya. Kalau yang dibesarkan di rumah berbeda sudah pada sama, kan yang serumah mestinya mirip banget, kaya surat- surat Natal yang Anda di Amrik Utara ini sering menerimanya. (Red: Judith ngeledek bule-bule yang kalau menjelang Natal suka ngecap ke pren/sedulurnya akan hal-hal hesbats yang sudah terjadi selama setahunan di keluarga mereka.) Meski banyak persamaan, tidak kekurangan yang berbeda. Ada yang tetap azha 'shy', yang lainnya 'friendly'. Yang satu loncat sebelum melihat, yang lain bersikap hati-hati selalu. Anak-anak ini sedemikian miripnya sehingga kalau Anda bertemu dengan mereka, udelnya pun kelihatan sama :-). Namun kalau Anda beri mereka test kepribadian, jawabannya akan berlain-lainan. Di akhir tahun 1970, studi-studi dari para behavioural geneticist mulai memperlihatkan hasil yang tak diduga. Ada sesuatu yang salah dengan premis mereka, bukan yang menyangkut genetik, ini sih oke. Benar bahwa manusia yang sama gen-nya lebih mirip kepribadiannya dibandingkan yang tidak. Yang salah adalah premis mengenai lingkungan yang disyer. Dua anak yang dibesarkan di rumah yang sama tidak lebih mirip dalam berperilaku dibandingkan dengan sepasang anak lain yang dibesarkan di rumah berbeda. Hal itu juga bukan dikarenakan faktor genetik. Ada sesuatu faktor yang bukan gen, bukan berasal dari rumah dimana mereka dibesarkan. Atau kalaupun karena rumah, terjadi sesuatu yang aneh karena bukannya membuat abang-kakak-adik lebih serupa, tetapi malah berbeda. Anda mungkin heran mengapa hal itu aneh. Masalahnya adalah, para periset itu, baik dari kubu
genetik maupun dari sosial, maunya melihat data bahwa tingkah-laku, kepribadian,
metoda mendidik dari sang ortu mempunyai dampak yang dapat diramalkan terhadap
sang anak. Sama seperti para epidemiologist berusaha untuk meramalkan menyantap
makanan tertentu akan berdampak terhadap kesehatan dan umur si tukang makan,
para developmental psychologist berusaha meramalkan dampak metoda mendidik ortu
terhadap si anak.
Judith lalu mensyer satu pengalaman dengan prennya Eleanor. Di rumah Judith, anak-anak diperbolehkan bercanda dan di rumah Eleanor yang lebih elit atau intelektuil, hal itu engga oke. Makan malam di keluarga Judith penuh dengan tawa dan canda dimana semua saling ngomong serentak, mirip kaya di pasar. Makan malam di rumah Eleanor kata doi, boring. Betapa inginnya si Eleanor
untuk diangkat anak oleh ortu Judith :-). Mestinya, anak-anak yang dibesarkan di
rumah si Judith jadi tukang becanda dibandingkan yang di rumah Eleanor.
Kalau Anda berpendapat bahwa bisa ya bisa engga, Anda mau mengatakan bahwa
tidak ada dampak dari ortu terhadap anak yang bisa diramalkan. Kalau Anda setuju
kebanyakan anak akan demikian, tidak semuanya, bahwa rata-rata anak yang
dibesarkan di keluarga tukang becanda akan lebih riang-gembira dibandingkan
dengan yang seriusan, tidak demikian apa yang diketemukan oleh para behavioural
geneticist.
Mereka meneliti studi demi studi dari perilaku dan hasilnya sami mawon sarua keneh. Dibesarkan di rumah yang sama, oleh ortu serupa, tidak ada dampaknya terhadap perilaku setelah sang kakak-adik menjadi dewasa. Mereka hanya serupa di dalam perilaku karena faktor genetik. Untuk beberapa karakteristik psiko seperti IQ, ada bukti yang cukup nyata bahwa lingkungan anak semasa kecil berpengaruh. Tetapi begitu anak-anak itu meningkat remaja semua kesamaan non-genetic menghilang. IQ maupun perilaku di antara anak-anak yang dibesarkan di rumah tangga yang sama, korelasinya mendekati nol. Studi genetik lebih meyakinkan atau konsisten, studi periset di bidang psiko berbeda-beda satu dengan yang lainnya hingga menjadi tidak meyakinkan. Bila di satu keluarga ada 'toxic parents' (Red: ortu yang menyiksa anak misalnya), dampak terhadap semua anak tidak sama. Racunnya tidak serupa terhadap setiap anak, atau reaksi si anak terhadap si racun berlainan, meskipun mereka kembar. ... (bersambung) ... Jusni Hilwan -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [email protected] If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED] Bagi Saudara yang berdomisili di Amerika, saudara dapat bergabung dengan mailing list Keluarga Kristen USA (KK-USA) dengan mengirimkan email kosong ke [EMAIL PROTECTED] dan ikuti instruksi yang ada. -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|

