|
From: Ign.Sumarya
SJ
Malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar (Yer 18:1-6; Mat 13:47-53) "Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itu pun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti." Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya." Setelah Yesus selesai menceriterakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ (Mat 13:47-53), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Becik ketitik, ala ketora (=Baik atau buruk akan kelihatan atau nampak di kemudian hari), begitulah bunyi sebuah pepatah Jawa. Pepatah ini kiranya mengarah pada sikap untuk memberi kebebasan kepada orang bertindak sesuai dengan kemauan atau kehendaknya sendiri, apakah baik atau buruk akan kelihatan atau nampak dari buah tindakan atau akibat-akibatnya. Pada awalnya setiap orang itu baik, yaitu ketika ia baru saja dilahirkan. Dengan dan melului pembinaan, pendidikan dan pendampingan serta pengaruh dari lingkungan hidupnya berkembanglah kepribadian manusia menjadi tetap baik seperti semula atau lebih jahat/jelek. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan para orangtua dan pendidik, marilah kita mendidik atau mendampingi anak-anak atau peserta didik kita dengan melaksanakan motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani (= keteladanan, pemberdayaan dan dorongan). (1) Kepada anak-anak atau para peserta didik kita beri teladan dalam cara bertindak yaitu berbudi pekerti luhur serta kita ciptakan lingkungan hidup (pemasangan gambar, penataan ruangan, pergaulan dst..) yang kondusif agar anak-anak/peserta didik dapat belajar cara bertindak berbudi pekerti luhur. (2) Dalam hal pemberdayaan marilah kita beri tantangan-tantangan yang memadai bagi anak-anak/peserta didik kita: tantangan yang dapat membuat mereka semakin berbudi pekerti luhur atau mendorong mereka untuk memiliki kepribadian yang dewasa. Selain itu baiklah kepada mereka juga kita beri kebebesan untuk berkreasi atau bereksplorasi sendiri dalam kehidupan sehari-hari. (3) Dengan dorongan kiranya dari orangtua atau pendidik diharapkan memberi dukungan kepada anak-anak atau peserta didik yang dalam kreasi atau eskplorasinya telah menemukan sesuatu yang dapat mengembangkan atau mendewasakan diri mereka. · Pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan. Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya (Yer 18:3-4). Kutipan ini kiranya layak menjadi permenungan atau refleksi kita: meneladan tukang periuk yang membuat bejana yang bagi pada pemandangannya. Kita usahakan seoptimal mungkin lingkugan hidup maupun cara bertindak kita masing-masng dapat menjadi pemandangan yang indah atau baik bagi sesama yang melihat atau menyaksikannya. Apa yang disebut indah atau baik hendaknya yang berlaku umum, bukan hanya menurut kita sendiri atau selera pribadi kita: baik dan indah bagi saya tetapi sekaligus baik dan indah bagi siapapun juga. Apa baik pada masa kini rasanya nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan ini: jujur dan disiplin, mengingat masih maraknya korupsi dalam berbagai bentuk dalam kehidupan bersama, di masyarakat maupun di tempat kerja. Di sekolah misalnya hendaknya para peserta didik dilarang menyontek dalam ulangan atau ujian. Membiarkan para peserta didik untuk menyontek hemat saya berarti melatih atau mendidik untuk berkorupsi. Sebenarnya dalam larangan dilarang menyontek dan jika para peserta didik sungguh melaksanakan atau taat pada aturan tersebut, secara implicit mereka dibina dan dididik dalam hal percaya diri, berusaha seoptimal mungkin, belajar untuk bekerja secara total, jujur, disiplin dll.. Rasanya pendidikan atau pembinaan kejujuran dan kediplinan juga mendesak di dalam hidup berkeluarga, dan untuk itu memang sekali lagi membutuhkan teladan dari para orangtua atau orang dewasa. Memang ada pepatah jujur hancur, tetapi sadarilah bahwa yang hancur adalah aneka macam bentuk kejahatan atau godaan yang dapat merongrong atau melumpuhkan hidup kita. Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Tuhanku selagi aku ada. Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya (Mzm 146:2-4) Jakarta, 3 Agustus 2006 =============================================================
From: Ign.Sumarya SJ
Yesus menampakkan kemuliaanNya: Dan 7:9-10.13-14; 2Ptr 1:16-19; Mrk 9:2-10 "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini Anto dan Ani (nama samaran) dengan penuh keceriaan dan kegembiraan luar-dalam ketika mereka berdua saling berjanji untuk saling mengasihi dalam untung maupun malang di depan altar dan di hadirat Tuhan (saling menerimakan Sakramen Perkawinan) serta disaksikan oleh imam dan sekian banyak sahabat maupnn suadara mereka. Dalam kegembiraan dan keceriaan tersebut mereka saling berbisik alangkah bahagianya hidup sebagai suami isteri, disanjung dan dipuji, maka kita harus saling mengasihi sampai mati. Janji mereka berdua tersebut ternyata tidak berumur lama, karena begitu anak mereka yang pertama lahir, Anto mulai menyeleweng dan bosan dengan Ani, ia merasa kebahagiaan sebagai suami-isteri telah berlalu dan kasih mereka memuncak ketika di depan altar. Setelah hidup bersama, tidur bersama, berusaha untuk sehati, sejiwa, se akal budi dan setubuh ternyata kasih mereka perlahan-lahan mulai luntur. Mengapa terjadi demikian? Karena mereka berdua memandang dan menghayati puncak kasih dan kebahagiaan mereka berada pada saat saking menerimakan Sakramen Perkawinan; mereka menghayati Sakramen Perkawinan bagaikan jimat yang dengan sendirinya mampu menjamin dan memperdalam kasih mereka berdua. Hal yang senada kiranya juga terjadi pada kebanyakan orang yang menerima Sakramen Baptis, Sakramen Imamat maupun berkaul kekal dalam hidup membiara. Hemat saya sakramen bukan akhir atau paling puncak dalam perjalanan hidup kita, melainkan awal perjalanan. Sakramen bagaikan SIM (Surat Izin Mengemudi), dimana orang dengan SIM tersebut dengan leluasa diperbolehkan mengendarai motor/mobil, dan dengan demikian semakin lama semakin mahir dan terampil dalam mengendarai motor/mobil, sehingga selamat dan sejahtera. Sakramen Perkawanin adalah SIM = Surat Izin Mengasihi, Sakramen Baptis adalah Surat Izin Memuji, Memuliakan dan Mengabdi Tuhan melalui dan dalam hidup sehar-hari, Sakramen Imamat adalah Surat Izin Melayani umat, Kaul adalah Surat Izin Menyerahkan diri pada Tuhan melalui sesama dan tugas pekerjaan, dst.. Aneka macam bentuk janji, niat, cita-cita, harapan dst adalah Surat Izin "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." (Mrk 9:5)
Dalam kehidupan beriman atau beragama dikenal adanya pengalaman fascinosum dan tremendum, terharu (Jawa: kesengsem) dan terhentak atau dikejutkan oleh sesuatu yang luar biasa atau dalam istilah Latihan Rohani Ignatius Loyola dikenal sebagai hiburan rohani dan kesepian rohani., suatu pengalaman rohani yang dalam. Dalam pengalaman macam ini memang orang dengan mudah untuk berjanji atau berniat membuat sesuatu yang baru, sebagaimana dialami oleh para rasul di bukit Tabor ketika mengalami kemuliaan Yesus, sehingga mereka berkata :Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia. Menanggapi reaksi para rasul tersebut Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Kemuliaan Yesus terjadi ketika Ia bangkit dari antara orang mati, dan dengan kebangkitanNya Ia menganugerahi para rasul tugas untuk mendirikan kemah bagiNya dalam diri mereka sendiri maupun sesama manusia yang harus dilayani, sehingga masing-masing orang menjadi kemah Tuhan. Mungkin kita juga sering mengalami apa yang dialami oleh para rasul, hiburan rohani yang sangat mendalam, dimana orang sungguh merasa dekat, mesra dengan Tuhan. Baiklah kebahagiaan yang luar biasa ini untuk sementara kita nikmati sendirian dulu sebagai bekal/kekuatan untuk mendunia, turun ke dunia dalam rangka menghayati atau melaksanakan panggilan dan tugas perutusan kita yang sarat dengan tantangan dan hambatan serta butuh pengorbanan dan perjuangan. Biarlah hiburan rohani tersebut bersemayam dalam diri kita serta menjadi rahmat kekuatan dalam hidup dan berkarya, janganlah hanya disampaikan dalam wacana atau omongan atau janji-janji kosong belaka. Marilah meneladan Petrus yang berkata: Kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaranNya. Kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya (2Ptr 1:16) Menjadi saksi mata hemat saya senantiasa harus menyampaikan atau meneruskan kebenaran-kebenaran atau kebesaran Tuhan baik dalam kata maupun tindakan atau perilaku. Kebesaran Tuhan kiranya senantiasa menjadi nyata atau nampak dalam seluruh ciptaanNya, lebih-lebih dalam diri manusia , ciptaan terluhur di dunia ini, yang diciptakan oleh Tuhan sesuai dengan gambarNya. Tuhan senantiasa menjadi Raja atas ciptaanNya, merajai dan menguasainya, sehingga semua ciptaanNya hanya dapat hidup dan berbahagia dalam kuasaNya. Marilah kita saksikan karya Tuhan dalam sesama kita, yang antara lain menjadi nyata dalam diri mereka berupa keutamaan-keutamaan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5:22-23). Jika kita sungguh setia dan taat untuk dikuasai atau dirajai oleh Tuhan, maka keutamaan-keutamaan tersebut semakin kuat dan mendalam dalam diri kita masing-masing, sehingga semakin tua atau tambah usia dan pengalaman semakin mengasihi, bersukacita, berdamai, sabar, murah hati, baik, setia, lemah lembut dan menguasai diri. Tua-tua keladi semakin tua semakin berisi, semakin tua semakin dewasa, semakin suci dan semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya. Dengan demikian ketika telah menjadi tua serta memiliki kecenderungan untuk berceritera kepada anak cucu dan suadara-saudarinya, orang tidak mengikuti dongeng-dongeng jempol manuia, melainkan menyampaikan kesaksian atas kebesaran Tuhan yang berkarya dan berkuasa baik dalam dirinya sendiri maupun sesamanya. Dalam dan melalui cara bertindak demikian akhirnya masing-masing orang berani berkata satu sama lain: Kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu (1Ptr 1:19). Janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul semakin menjadi nyata dalam tindakan dan perilaku kita, semakin diisi dengan aneka macam keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang menyelamatkan dan membahagiakan. Setiap orang saling memuliakan dan memuji Tuhan dalam dan melalui sesamanya. TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi. Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya. (Mzm 97:1-2.5-6) Jakarta, 6 Agustus 2006 ================================================== From: Ign.Sumarya
SJ Bawalah kemari kepadaKu (Yer 28:1-17; Mat 14:13-21) Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa." Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan." Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan." Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku." Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Orang yang tertarik pada seorang tokoh pada umumnya sungguh memasang telinga dan perhatian kepada tokoh yang bersangkutan dan kemanapun sang tokoh pergi senantiasa diikuti dengan segala daya upaya tanpa pikir panjang. Begitulah yang terjadi dengan ribuan orang yang tersentuh oleh apa yang dikerjakan atau disabdakan Yesus: mereka berusaha untuk bertemu denganNya tanpa memilikirkan bekal kebutuhan hidup sehari-hari alias kebutuhan material, sandang dan papan, sehingga mereka pada suatu saat kelaparan. Namun dalam situasi macam itu justru semakin nampak dengan jelas kuasa Tuhan yang berkarya dalam Diri Yesus, dimana mujizat besar terjadi. Pengalaman kisah ini kiranya layak menjadi permenungan atau refleksi kita, yaitu: ajakan bagi kita semua untuk senantiasa dalam hidup sehari-hari, panggilan dan tugas perutusan lebih mengutamakan atau mementingkan keselamatan jiwa alias menekankan spiritual investment daripada material investment. Hal ini tidak berarti kita tidak boleh menjadi kaya, berkedudukan/berpangkat atau memiliki harta benda, tetapi hendaknya memanfaatkan semuanya itu sebagai anugerah Tuhan guna menyucikan diri kita sendiri, sesama maupun dunia ini. Tuhan menghendaki, supaya bumi beserta isinya digunakan oleh semua orang dan sekalian bangsa, sehingga harta benda yang tercipta dengan cara yang wajar harus mencapai semua orang, berpedoman pada keadilan, diiringi dengan cinta kasih Oleh karena itu manusia, sementara menggunakan-nya, harus memandang hal-hal lahiriah yang dimilikinya secara saha bukan hanya sebagai miliknya sendiri, melainkan juga sebagai milik umum, dalam arti bahwa hal-hal itu dapat berguna tidak hanya bagi dirinya sendiri, melainkan juga bagi sesamanya (Vatikan II: GS no 69). Dengan kata lain semakin kaya dan berharta berarti semakin dekat dengan Tuhan dan sesama, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama atau banyak orang. · Sesungguhnya, Aku menyuruh engkau pergi dari muka bumi. Tahun ini juga engkau akan mati, sebab engkau telah mengajak murtad terhadap TUHAN. (Yer 28:17), demikian sabda Tuhan kepada Hanaya melalui nabi Yeremia. Dan Hanaya pun mati juga pada tahun itu, lenyap dari muka bumi. Begitulah nasib orang berkuasa dan berpengaruh serta memanfaatkan kuasa dan pengaruhnya untuk mengajak sebanyak mungkin orang murtad dari Tuhan alias berbuat jahat, bertindak amoral. Pengalaman telah menunjukkan bahwa orang yang bertindak demikian pada suatu saat memang mengalami derita atau kematian yang mengerikan, seperti pada awal masa krismon di negara kita ini ada pejabat/kongklomerat menjadi stroke karena hartanya hilang atau berkurang, demikian juga ketika ada musibah bencana alam seperti banjir bandang atau gempa bumi juga ada orang yang menjadi gila karena hilang semua harta kekayaannya. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak mereka yang berkuasa dan berpengaruh dimana pun , sebesar apapun, misalnya pejabat, penguasa, atasan/ketua, orangtua, guru, senior dst.., saya harapkan memanfaatkan kuasa dan pengaruhnya untuk membuat orang lain semakin beriman, berTuhan, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya. Jauhkan dan hindari untuk menjadi serakah atau sombong karena kuasa dan pengaruh yang dimiliki, melainkan jadilah rendah hati dan imanilah bahaa semuanya adalah anugerah Tuhan (everything is given) dan harus kita manfaatkan atau hayati sesuai dengan kehendak Tuhan atau intentio dantis (maksud pemberi). Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan karuniakanlah aku Taurat-Mu Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu (Mzm 119:29.43) Jakarta, 7 Agustus 2006 -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [email protected] If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED] Bagi Saudara yang berdomisili di Amerika, saudara dapat bergabung dengan mailing list Keluarga Kristen USA (KK-USA) dengan mengirimkan email kosong ke [EMAIL PROTECTED] dan ikuti instruksi yang ada. -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
__,_._,___ |

