From: "MANGUCUP" <[EMAIL PROTECTED]> Makam Santo Paulus ditemukan Sumber: BBC Indonesia.com http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2006/12/061208_stpaulgrave.shtml
Para arkeolog yang menggali di Vatikan menemukan sarkofagus berisi jasad yang mereka yakini sebagai sisa-sisa jenasah Santo Paulus, salah satu rasul dalam agama Kristen. Makam itu diperkirakan berasal dari tahun 390 Masehi dan ditemukan di ruangan di bawah basilika di Roma. Sejak dulu di ruangan bawah tanah itu diduga terdapat makam Santo Paulus namun lokasinya tertutup oleh altar. Santo Paulus adalah tokoh penting di awal agama Kristen dan dia berkeliling ke banyak daerah di Laut Tengah pada abad 1 Masehi. Penggalian situs ini dimulai pada tahun 2002 dan diselesaikan bulan lalu. Peziarah kuno Katedral Santo Paulus adalah gereja terbesar nomor dua di Roma setelah Katedral Santo Petrus. Selama tiga tahun terakhir, para arkeolog menggali di bawah altar untuk mengangkat dua batu marmer besar dan sekarang, untuk pertama kalinya dalam hampir 1.700 tahun, sakofagus Santo Paulus bisa disaksikan peziarah. Tulisan yang terukir di atas peti jenasah itu tertulis: Paolo Apostolo Martyr - Paulus Rasul Martir dalam bahasa Latin. Lubang tempat para peziarah kuno memasukkan helaian kain untuk menyentuh sarkofagus Santo Paulus itu terlihat dengan jelas, kata Pastur Edmund Power, kepala Biara Benediktin. Santo Paulus pada abad 1 Masehi banyak mengunjungi daerah-daerah di Timur Dekat, Yunani dan Roma. Surat yang dia tulis di masa-masa awal gereja, yang ditemukan di Kitab Perjanjian Baru, dikatakan sebagai salah satu pemikiran Kristen yang paling berpengaruh. Santo Paulus dikatakan meninggal dipancung oleh Kaisar Romawi Nero pada tahun 65 Masehi. Sarkofagus Santo Paulus akan dapat disaksikan oleh publik di masa depan tetapi pihak gereja masih belum memutuskan apakah bagian dalam sarkofagus itu akan dibuka dan diperlihatkan atau tidak. ============================================= From: Dwi Setyani Sumur Kehidupan Ryan Oleh Susan Hreljac, sebagaimana diceritakan ke Darlene Montgomery Anak laki-laki saya Ryan berumur 6 tahun duduk di kelas satu SD. Gurunya Bu Nancy, di kelas mengajar tentang membangun negara dan bagaimana mereka dapat menolong orang lain, terutama anak-anak di negara Afrika. Dia menjelaskan bahwa selain tidak mempunyai makanan dan mainan, beberapa dari mereka tidak memiliki air bersih. Untuk anak-anak kelas satu yang duduk di kelas yang nyaman di Kemptville, Ontario, gambaran tantang anak-anak yang tidak memiliki makanan, mainan dan air bersih – membawa pengaruh yang besar bagi mereka. Yayasan sudah membagikan daftar yang menunjukkan harga alat-alat tulis di negara-negara berkembang. Satu penny bisa membeli sebuah pensil. Satu dollar untuk makanan hangat, Dua dollar untuk sebuah selimut. Tujuh puluh dollar dapat digunakan untuk membuat sebuah sumur. Saat itu Ryan sangat terpengaruh saat mendengar bahwa diantara mereka ada yang tewas karena tidak punya air bersih. Setelah pulang hari itu, dia berusaha untuk memperoleh uang tujuh puluh dollar untuk diserahkan di sekolah esok paginya. Kami melihat ide Ryan mengenai dia akan melakukan hal penting itu adalah baik sekali, tetapi kita tidak menganggapinya dengan serius. Saya dan suami saya Mark, saat ini adalah pekerja sukarela, tetapi Ryan umurnya baru enam tahun dan tujuh puluh dollar itu jumlah yang cukup besar bagi anak seumurnya , jadi kami mengabaikannya. Hari berikutnya Ryan pulang dengan sangat kecewa karena dia tidak bisa membawa tujuh puluh dollar ke sekolah. Menurutnya, anak-anak di Afrika bisa meninggal karena tidak memiliki air bersih, dan Ryan memaksa kami untuk memberikan uang itu. Mark dan saya berdiskusi, dan menjelaskan kepada Ryan bahwa tujuh puluh dollar itu jumlah uang yang sangat banyak. Tetapi jika dia benar-benar ingin mendapatkannya maka dia harus melakukan sesuatu. Kemudian saya menggambar sebuah termometer kecil di selembar kertas dengan skala sampai angka tujuh puluh dan berkata pada Ryan, “Ini adalah gambar penunjuk yang bisa kamu gunakan untuk mengumpulkan uang, sampai pada jumlah tujuh puluh dollar. Kami akan memberikan tambahan pekerjaan rumah untuk dilakukan dan kamu mendapat imbalan untuk ditabung.” Ryan senang sekali mendengar jalan keluar yang kami berikan, kemudian kami meletakkan sebuah kaleng roti di atas kulas dan mulai memberi pekerjaan rumah untuknya. Ryan bekerja dengan giat, bekerja dan bekerja. Dengan tiap dua dollar yang dia peroleh, dia mulai menandai gambar termometer segaris demi segaris ke atas, kemudian memasukkan uang itu ke kaleng roti di atas kulkas. Dia tidak pernah berhenti bekerja. Ryan mengepel lantai, membersihkan jendela dan melakukan semua perkerjaan rumah yang lain. Dia juga melakukan tugas-tugas yang diberikan tetangga dan neneknya yang bersimpati terhadap kegigihan usahanya. Dia membersihkan semak-semak yang berserakan setelah badai salju – dan semua koin yang diterimanya semakin menambah tumpukan di dalam kaleng roti di atas kulas. Kemudian kami menyadari bahwa dia begitu serius dengan impiannya. Setelah empat bulan, Ryan mulai dekat kepada tujuan akhirnya. Kemudian saya menghubungi teman saya di CUSO (Canadian International Development Agency – Badan Pembangunan International Canada) dan meminta saran darinya. “Sebetulnya di CUSO kami bisa melakukan pekerjaan itu,” jawabnya. “ Tetapi saya akan menghubungi organisasi yang khusus menangani pembuatan sumur di negara-negara berkembang.” Brenda menghubungi WaterCan di Attawa dan mengatur pertemuan dengan kami. WaterCan adalah sebuah organisasi nirlaba yang membantu menyediakan air bersih dan sanitasi untuk penduduk di negara berkembang. Kami melakukan pertemuan di bulan April tahun 1998, dan Ryan membawa serta kaleng rotinya yang sudah penuh dengan uang koin. Nicole, direktur eksekutif, dan Helen, asisten nya, sangat kagum dan berterima kasih atas kemauan dan usaha keras dari Ryan. Mereka katakan bahwa sumbangan Ryan sangat berharga. Selanjutnya mereka katakan bahwa saat itu untuk membuat sebuah sumur, biayanya lebih dari 70 dollar – yaitu 2.000 dollar. Tetapi rupanya Ryan tidak terpengaruh dengan penjelasan itu dan hanya menjawab singkat, “OK – tidak apa-apa. Yang saya perlukan hanya melakukan lebih banyak lagi pekerjaan rumah!” Berita tentang kegigihan Ryan mulai tersebar dan menarik mass media. Saat surat kabar Ottawa Citizen menulis berita tentang Sumur Ryan, kami mulai menerima sumbangan-sumbangan paling sedikit sekali seminggu. Orang-orang tergerak hatinya terhadap impian dan kegigihan Ryan. Sebuah sekolah di Cornwall, Ontario, menjual botol minuman dan menghadiahi WaterCan sebuah check untuk membangun Sumur Ryan sebesar 228 dollar. Pusat Koor Anak-anak dari Ottawa menyumbang 1.000 dollar dari malam pengumpulan dana yang berjudul ‘Sumur Yang Menyayi’. Asosiasi Air Tanah dati Ontario Timur menyumbang 2.700 dollar. Dan untuk setiap dollar yang dikumpulkan oleh Ryan, CIDA (Canadian International Development Agency) menggenapinya menjadi dua kali lipat. Ryan tidak membutuhkan waktu yang lama supaya uangnya cukup untuk membangun sebuah sumur. Ryan diundang dalam pertemuan internasional untuk membahas perincian dari sumurnya. Gizaw, insinyur dari Uganda yang akan medesain dan membangun sumur itu, diundang datang dari Afrika. Ryan bertanya: Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun sumur? Dimana akan dibangun? Dan, apakah saya bisa mendapat gambarnya? Ketika Gizaw bertanya pada Ryan, dimana dia ingin sumur itu dibangun, Ryan memutuskan bahwa sebaiknya sumur itu dibangun di dekat sekolah. Selanjutnya sumur Ryan dibangun disamping SD Angolo di Uganda, Afrika, pada bulan April tahun 1999! Tetapi usaha Ryan itu baru merupakan awal. Sekolah Ryan merangkul impiannya. Pertama, proyek pengumpulan dana berhasil mendapat 1.400 dollar. Kemudian sekolah mengorganisasi sebuah kampanye penulisan sahabat pena antara kelas Ryan dan murid-murid di SD Angolo. Canada TV dan beberapa surat kabar utama menuliskan berita tentang proyek yang dilakukan Ryan dan mewawancarainya. Saya mencoba memahami apa yang dipikirkannya. Waktu saya tanya kepada Bu Lynn, guru Ryan, dia menjawab, “Ryan tidak pernah menyampaikan ide-idenya, kecuali menanyakan beberapa pertanyaan,” Bu Lynn menceritakan saat anak-anak di kelasnya mulai mengumpulkan dana sepanjang tahun, sebuah tempat air diletakkan di mejanya dan menempatkan foto Ryan di depannya. Suatu hari dia masuk ke kelas, dan mendapati Ryan di depan tempat air itu dan mengambil fotonya. “Saya sudah punya cukup uang untuk sumur saya,” kata Ryan, “Dan sumbangan yang di meja ini untuk kelas saya.” Suaru hari Ryan berkata, “Saya ingin terus bekerja sampai semua anak di Afika memperoleh air baersih.” Saya berpikir, luar biasa! Saya pernah membaca bahwa kita harus memberi semangat anak kita untuk memiliki keyakinan dan impian yang tinggi. Saya mengatakan hal itu kepada Ryan saat dia meminta uang tujuh puluh dollar untuk membangun sebuah sumur di Afrika. Dan kenyataannya, dia sekarang sudah mewujudkan impiannya! Suatu hari Ryan berkata berkata bahwa ingin melihat sumurnya yang di samping SD Angolo, Uganda. Saya menjawab, “Ryan, kamu pasti melihat sumurmu. Kami akan mengumpulkan uang – mungkin sampai nanti kamu berumur dua belas tahun, kita akan berangkat ke sana. Ibu berjanji.” Ketika Ryan bermain di rumah tetangga, dia mengumumkan, “Nanti kalau aku berumur dua belas tahun, aku mau pergi ke Uganda melihat sumurku.” Dia menulis surat ke sahabat penanya Jimmy Akana di Uganda, katanya, “Saat saya berumur dua belas tahun, saya akan mengunjungi kamu.” Berita itu segera tersebar bagai sebuah api yang membakar dengan cepat ke seluruh anak-anak sekolah di Uganda, dan semua anak menulis balik ke sekolah Ryan, “Ryan, kamu akan datang?” – “apakah kamu tahu jika Ryan berumur dua belas tahun, dia akan datang kemari?” Jimmy menulis di surat balasannya, katanya,”Ryan, aku selalu minum air dari sumurmu. Terima kasih sudah membuatkan sumur buat kami. Kami senang sekali bisa bertemu di Uganda saat kamu berumur dua belas tahun.” Pada perayaan tahun baru, para tetangga kami, menghadiahi Ryan sebuah kado istimewa tiket sekali perjalanan ke Uganda untuk mengunjungi Jimmy dan sumurnya! Penduduk Ottawa menyumbang tiket untuk perjalanan pulangnya. Dari seluruh sumbangan dan bantuan dari WaterCan, saya dan suami saya bisa bergabung dengan Ryan. Bersama-sama, kami akan melihat sumur yang mengagumkan yang membuat teman-teman Ryan di Uganda bisa memperoleh air bersih yang segar setiap hari. Tanggal 27 Juli tahun 2000, dengan menggunakan truk kami menuju ke Angolo, Uganda. Saat mendekat, sekelompok anak-anak melihat kami dan mulai memanggil, “Ryan! Ryan!” Ryan tercengang mendengar mereka mengetahui namanya. “Semua orang sejauh seratus kilometer dari sini tahu namamu, Ryan,” kata pendamping kami Gizaw Shibru. Berikutnya kami dikelilingi oleh lautan anak-anak yang membuat kami terpukau. Hampir 5.000 anak sekolah dari semua daerah disitu berbaris di sepanjang sisi jalan menantikan kami. Saat truk mulai mendekat, mereka mulai bertepuk tangan dengan penuh semangat dan irama yang sangat meriah untuk menyambut kedatangan kami! Ryan berdiri dari melambai-lambaikan tangan untuk membalas salam mereka. Kemudian penitia penyambut membawa kami ke SD Angolo. Teman pena Ryan, Jimmy, sudah menunggu, dan setelah saling menyapa, Jimmy membawa Ryan ke sumur untuk menggunting pita perayaan warna kuning. Saat mendekati sumur Ryan, kami diliputi oleh perasaan sukacita dan keharuan yang dalam. Sumur itu dihiasi dengan bunga-bunga dan pada dinding sumur tertulis: “Sumur Ryan: Dipersembahkan oleh Ryan H untuk Masyarakat Angolo.” Seorang sesepuh masyarakat Angolo menyampaikan pidato penghargaannya, “ Lihatlah semua anak-anak kami. Anda bisa melihat mereka semuanya sehat-sehat. Ini karena Ryan dan teman-teman kita dari Canada. Bagi kami, air adalah hidup.” Ryan kemudian masih menyumbangkan lagi uang untuk membeli peralatan bor sehingga semua daerah dapat menikmati air bersih yang memberi mereka kehidupan. Ryan sudah menyumbang lebih dari 100.000 dollar dan jika ditambahkan dengan sumbangan CIDA, keseluruhannya berjumlah lebih dari 300.000 dollar! (2.7 milyar rupiah) Ryan sekarang berumur sebelas tahun dan tumbuh lebih kuat lagi. Sekarang sudah berdiri Yayasan Sumur Ryan. Impiannya telah merubah kehidupan banyak orang, kebanyakan dari orang-orang yang belum pernah saling bertemu. Kunjungan kami di Uganda itu adalah hari yang sangat membahagiakan dalam hidup saya, dan akan selalu hidup dalam hati saya selamanya. Ryan mengakhiri hari istimewa itu dengan doa malam yang sama, “Saya berdoa supaya semua orang di Afrika bisa mendapat air bersih.” Ryan telah menunjukkan pada saya mengenai keajaiban yang bisa dilakukan oleh sebuah impian yang kuat. -------- Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. (Filipi 2:1-3) =========================================== From: Dewi Kriswanti ADUH ..., NATAL LAGI! Bacaan : 2 Raja-Raja 4 : 1-6 ..., sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.” Ada banyak orang yang bersukacita menyambut kelahiran Kristus. Tetapi, bukan tidak ada yang gamang menjelang natal. Pasalnya, ia kebingungan untuk melakukan apa demi menyambut natal. Uang tak punya, kondisi tak memungkinkan. Ada yang punya anak mengeluh bagaimana ia menyiapkan pakaian baru untuk anak-anaknya. Ada pula yang gamang karena harus menghadapi sesuatu yang membuat dirinya sulit bertindak. Pokoknya, ada banyak kemungkinan yang dijadikan alasan untuk kegundahan dan kegamangannya. Seperti kisah janda tua dalam bacaan kita hari ini. Seorang ibu yang gamang menghadapi masalahnya> Belum lagi munculnya berbagai tekanan dari berbagai aspek. Tetapi, sekali lagi Tuhan membuktikan bahwa Dia sanggup melakukan apa saja bagi anak-anakNya yang selalu berharap padaNya. Begitu pula kita saat ini, dan itu adalah sebuah kepastian. Bisa jadi persoalan kita adalah masalah ekonomi. Ketika menjelang natal kita gundah karena harus melakukan seseuatu untuk menyenangkan hati banyak orang. Padahal, untuk ongkos hidup sehari-hari saja ngos-ngosan, bagaiaman ini? Boleh jadi pula persoalan kita bertaut dengan hubungan kekeluargaan. Menjelang natal biasanya ada pertemuan keluarga, kita sungkan ikut didalamnya. Persoalannya kita merasa tak seberhasil saudara lainnya, jadi malu rasanya. Mungkin pula ada ketidakcocokan dengan keluarga yang lain, sehingga kagok kalau bertemu dengan dirinya. Dalam konteks natal inilah kita diuji memahami maknanya sebenarnya. Apakah natal berbicara baju baru, makanan enak, atau keberhasilan ekonomi, pangkat dan sebagainya? Jawabnya pasti tidak! Dalam natal satu hal yang pasti adalah, gambaran kasih karunia Tuhan yang begitu besar bagi dunia ini. Natal bukanlah penghamburan uang atau untuk bersenang-senang. Tetapi, kita harus merasakan sukacita yang mendalam karena kelahiranNya. Tiap orang mungkin bisa merayakan natal dengan mengenakan baju baru, makan penganan yang lezat, dan sebagainya. Tetapi, tidak tiap orang bisa mengerti dan memahami Natal, yang menyenangkan hati Tuhan. Belajarlah memahami natal! (tlt) Doa: Tuhan Yesus, beri kami kekuatan untuk menjalani hidup dan kehidupan ini, sehingga segala sesuatunya kembali hanya untuk kemuliaanMu. Amin! SUKACITA DALAM KASIH KARUNIA BAPA JAUH LEBIH BERARTI DARI SUKACITA APAPUN DI DUNIA INI

