From: "MANGUCUP" <[EMAIL PROTECTED]>

Dasar Cina Lho = Dasar Niger Lho !


Dasar Cina Lho ! Bagi banyak orang Tionghoa ucapan tersebut dinilai sebagai
suatu penghinaan, walaupun tidak bisa dipungkiri, bahwa RRC itu adalah
singkatannya dari Repubulik Rakyat China, tetapi cobalah tanyakan bagaimana
perasaannya saudara kita yang berkulit hitam apabila mereka disebut “Niger”,
walaupun di Afrika juga sebenarnya ada negara yang bernama Niger. Mereka
lebih senang dipanggil dengan sebutan “black men” atau orang hitam, walaupun
sebenarnya arti harafiahnya dari kata Niger itu adalah “hitam” dalam bahasa
Latin, atau Negro dalam bahasa Spanyol. Jadi hitam atau Black dalam bahasa
Inggris; bagi yang berkulit hitam tidak bisa dinilai sama dengan hitam dalam 
bahasa Latin = Niger, yang satu merupakan ungkapan hormat sedangkan yang lain 
penghinaan.


Begitu juga dengan tulisan China dan Cina. Mungkin hal yang serupa dirasakan
oleh kebanyakan orang Tionghoa, walaupun bedanya hanya dari huruf “H” nya,
bahkan kalau di ucapkan kedengarannya juga sami mawon alias sama azah “ C I N 
A”! 

Apalagi ketika istilah kata Cina ini dipakai untuk memaki dan diembel-embeli
perkataan seperti “Cina Loleng”, “Cina Mindring” dan sebutan-sebutan 
degeneratif lainnya, oleh sebab itulah istilah kata Tionghoa lebih disukai 
ketimbang kata Cina. Dan anehnya pula ada sebutan “Cina Medan”, tetapi tidak 
pernah ada sebutan “Arab Medan”. 

Dan yang lebih lucunya lagi; banyak sekali orang merasa jengah untuk
menggunakan kata “Cina” secara resmi terhadap etnis Tionghoa di Indonesia.
Cobalah perhatikan dengan seksama yang dimaksud dengan “Warga Keturunan” itu
selalu orang Tionghoa, walaupun demikian tidak pernah ditulis entah di media
cetak maupun media elektronik “Warga Keturunan Cina”, begitu juga yang
dimaksud dengan perkataan “non pribumi” selalu mengacu kepada orang
Tionghoa, tidak pernah mengacu kepada keturunan etnis lainnya entah Arab,
India ataupun orang-orang Eropa.

Apakah Anda tahu bahwa Gus Dur (Abdurrahman Wahid) itu keturunan Tionghoa,
secara terbuka ia pernah menyatakan bahwa ia masih keturunan dari Tan Kim
Han (Sumber Wikipedia). Disamping itu apakah Anda tahu nama asli Tionghoanya
dari Rudy Hartono ? 

Mengapa apabila ada seorang olahragawan yang berhasil membawa nama bangsa
menjadi harum tidak pernah tuh dicantumkan bahwa ia itu “non pribumi” apalagi 
nama Tionghoa nya, tetapi kebalikannya begitu ada Cina Maling, langsung 
dicantumkan komplit bahwa ia itu “non pri” lengkap dengan embel-embel nama 
Tionghoanya.

Begitu juga satu hal yang mustahil, apabila segelintir orang-orang Tionghoa
dimana pun juga mereka berada ingin merubah perkataan China jadi Tiongkok,
renungkanlah apakah mungkin kita bisa memaksakan seluruh bangsa di dunia
ini; mulai besok merubah nama RRC menjadi Republik Rakyat Tiongkok. 

Mungkin hanya segelintir orang Jepang saja yang membenci orang China akan
merasa senang apabila istilah Tiongkok dipakai, sebab konon kata ini pertama
kali digunakan oleh bangsa Jepang, terutama oleh kaum militerismenya yang
berambisi ingin mencaplok Tiongkok; sebab lafal ini sama dengan lafal kata
Jepang yang berkonotasi "modyar” sehingga lafal kata “Tiongkok” sebenarnya
merupakan suatu hinaan yang berarti “Mampuslah lho!" untuk mengumpat dan
menghina rakyat Tiongkok. 

Istilah kata Cina sebagai hinaan ditekankan ketika Seminar Angkatan Darat di
Bandung pada 1968 memutuskan dan menganjurkan kepada pemerintah agar kata
Cina dipakai sebagai istilah baku untuk mengacu kepada negeri Cina dan orang
Tionghoa. Alasannya, menurut usul yang ditelurkan oleh seminar tersebut,
adalah untuk menjamin bahwa pribumi tidak merasa rendah diri. 

Memang ada kesan bahwa penggunaan istlilah Cina seperti yang diusulkan dalam
seminar tersebut dan kemudian dianut oleh pemerintah Orde Baru sebenarnya
dimaksudkan sebagai alat untuk menghukum golongan etnis Tionghoa. Keputusan
ini merupakan kelanjutan dari larangan terhadap orang-orang Tionghoa untuk
mempertunjukkan perayaan agama dan tradisinya di depan umum (Inpres No. 14
tahun 1967). Tetapi ketika reformasi bergulir, sejak th 2000 larangan ini
dicabut oleh Gus Dur.

Pada saat tersebut perkataan Tionghoa itu benar-benar haram, sehingga antara
lain harian Indonesia Raya maupun harian Merdeka dibredel, karena berani
menggunakan istilah Tionghoa, bukannya Cina seperti yang telah dibakukan di
Bandung. Rupanya mereka lupa bahwa karangan lagu "Indonesia Raya" dari WR
Supratman pertama kali di publikasikan di Harian Sin Po dan rekamannya
dilakukan di toko musik Tio Pe Kong di Pasar Baru, Jakarta. 

Kata Cina itu sendiri berasal dari nama Ahala Qin (baca Ch'in), dinasti
pertama yang mempersatukan seluruh daratan Tiongkok, di bawah pemerintahan
kaisarnya Qin Shihuang ( 225 s.M sampai 210 s.M), disamping itu kaiser Qin
tersebut yang memerintahkan penyeragaman Huruf Kanji sehingga komunikasi
tertulis dapat berjalan lancar. Tetapi dilain pihak ia adalah seorang Kaiser
yang kejam dan biadab yang telah memerintahkan pembakaran semua buku-buku
ajaran Kong Hu Cu dan memerintahkan hukuman dikubur hidup-hidup terhadap 500
sarjana Konfusianis. Akibat dari tindakan brutal Kaisar Qin itu, sebagian
dari karya-karya Kong Hu Cu yang disakralkan sebagai kitab suci untuk aliran
itu, sampai sekarang belum diketemukan lagi.

Hal inilah yang menyebakan banyak orang Tionghoa lebih senang menamakan
dirinya dengan kata “Tangren”, yang kurang lebih berarti keturunan Ahala
Tang (618 – 907), salah satu dinasti yang meninggalkan zaman keemasan,
terutama dalam kesenian dan kesusastraan, dalam sejarah Cina. Di kalangan
etnis China di Indonesia, terutama yang berasal dari Propinsi Fujian
(Hokkian), sebutan itu menjadi “Tenglang”. 

Lafal "Tiongkok" dan "Tionghoa" ini berasal dari dialek Hokkian yang berasal
dari kata Zhonghua yang digunakan sebagai sinonim dari Zhongguo (Tiongkok
atau Kerajaan Tengah) dan Presiden pertama Cina, Dr. Sun Yat-sen kemudian
menggunakan itu untuk nama negara baru di Tiongkok ; Zhonghua Minguo
(Republik Cina). Mao Zedong meneruskan penggunaannya ketika membentuk
Republik Rakyat China (RRC) : Zhonghua Renmin Gongheguo. 

Kata “Mandarin” diserap dari bahasa Portugis = “mandarim” yang berasal dari
bahasa Sansekerta “mantrin” yang berarti pejabat tinggi bahkan kata menteri
dalam bahasa Indonesia pun sebenarnya diserap dari kata yang sama.

Kata Mandarin ini kemudian dipopulerkan oleh bangsa Barat yang sebenarnya
berarti: "pejabat tinggi dalam pemerintahan Manzu di bawah kekuasaan dinasti
Qing" (1644 - 1911) dan yang dimaksud dengan bahasa Mandarin adalah bahasa
yang dipakai oleh para pejabat tinggi atau golongan intelek pada saat tersebut. 
Maklum di Tiongkok banyak sekali bahasa daerah.

Sehingga dengan mana sebenarnya tidak pernah ada di dunia ini bangsa Mandarin 
ataupun negara Mandarin, jadi ungkapan kata bahasa Mandarin itu sebenarnya 
tidak tepat !

Di Tiongkok mereka menyebut bahasa Mandarin itu adalah bahasa “Putonghoa” =
bahasa umum. Di Taiwan disebut bahasa “Guoyu”, sedangkan orang-orang Tionghoa 
diluar Tiongkok sering menyebut dengan nama Huayu atau Hanyu atau bahasa yang 
dipergunakan secara luas oleh suku bangsa Han yang mencapai 94% lebih dari 
jumlah penduduk Tiongkok. 
 
Wang U Chup
By Race I am Chinese and By Grace I am Christian
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.net 
========================================
From: "MANGUCUP" <[EMAIL PROTECTED]>

Budaya Imlek agar Lho Melek !


Kata “Imlek” berasal dari dialek bahasa Hokkian yang berarti "penanggalan
bulan" atau “yinli” dalam bahasa Mandarin. Tahun Baru Imlek di Tiongkok
lebih dikenal dengan sebutan “Chunjie” (perayaan musim semi). Kegiatan
perayaan itu disebut “Guo nian” (memasuki tahun baru), sedang di Indonesia
lebih dikenal dengan sebutan “konyan”. Di Indonesia mereka merayakan Tahun
Baru Imlek sebagai perayaan hari lahirnya Kong Hu Chu yang lahir di tahun
551 SM, sehingga dengan demikian penanggalan Imlek dan penanggalan masehi
itu berselisih 551 tahun. Jika tahun Masehi saat ini 2007, maka tahun
Imleknya menjadi 2007 + 551 = 2558. 

Hanya sayangnya di kebanyakan negara lainnya diluar Indonesia; mereka
merayakan tahun baru Imlek bukannya tahun 2558 melainkan tahun 4644, sebab
dalam sejarah tercatat, bahwa penanggalan Imlek dimulai sejak tanggal 8
Maret 2637 SM, sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan
siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Jadi tepatnya ialah
4644 tahun yang lampau, maklum bagi mereka tahun baru Imlek hanya berdasarkan 
perayaan budaya saja, jadi tidak ada kaitannya sama sekali dengan Kong Hu Chu.

Apabila orang ingat Imlek otomatis ingat Angpauw (Hokian) atau Hong Bao
(Mandarin) yang artinya amplop merah berisi uang. Angpauw ini bukan hanya
digemari oleh anak-anak saja bahkan para pejabat jaman sekarang ini juga
senang sekali mendapatkan angpauw. 

Konon Angpauw ini bukan hanya sekedar dapat membawa keberuntungan saja,
bahkan dapat melindungi anak-anak dari roh jahat, sebab uang (qian) secara
harfiah berarti dapat "menekan kekuatan jahat" atau “ya sui qian”, masalahnya 
ada roh jahat yang bernama Sui; yang selalu hadir setahun sekali untuk 
mengganggu anak-anak kecil, maka dari itu di usulkan sebagai penangkal roh 
tersebut, sebaiknya ditaruh koin yang dibungkus dengan kertas merah sebagai 
tumbal dibawah bantalnya mereka. Maklum unsur api yang membakar pada warna 
merah dapat melindungi dari pengaruh jahat. Sama seperti kalho Dracula lihat 
salib begitu.

Menurut adat kuno, yang boleh pergi keluar bersilaturahmi di hari pertama
tahun baru Imlek, hanya kaum pria saja, tetapi sekarang adat ini sudah tidak
berlaku lagi. Dan yang kudu dikunjungi secara berturut-turut adalah orang
tua suami, setelah itu baru orang tua isteri. Lalu ke sanak keluarga
lainnya. Perlu diketahui bukan hanya orang Jawa saja yang melakukan adat
sungkem, orang Tiong Hoa juga demikian yang disebut tee-pai.

Cara soja yang benar berdasarkan pedoman “YANG” memeluk “YIN”. Tangan kanan
dikepal kemudian tangan kiri menutupi tangan kanan. Jari jempol berdiri
lurus, dan menempel keduanya. Soja kepada yang lebih tua sejajar mulut; soja
kepada yang seumuran sejajar dada; soja kepada yang lebih muda sejajar
perut; soja kepada para dewa sejajar mata; soja kepada Tuhan di atas kepala.

Tahun ini adalah tahun Babi – Api. Budaya Cap Ji Shio/ Chinese Horoscopes
adalah kebiasaan bangsa Cina yang menetapkan tahun Imlek dengan 12 jenis
binatang. Untuk semua bayi yang dilahirkan pada tanggal 29 Januari 2006
hingga tahun berikutnya akan memiliki shio anjing. Kebiasaan bangsa China
ini sudah bersejarah lebih 2000 tahun. Alkisah Sang Buddha memanggil 
binatang-binatang yang ada di hutan untuk menghadap. Dikisahkan secara 
berurutan ada 12 binatang yang datang menghadap Sang Budha, yakni : Tikus, 
Kerbau, Macan, Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, 
Anjing, dan Babi.

Walaupun itu mungkin hanya sekedar dongengan belaka. Tetapi anehnya banyak
sekali orang yang percaya bahwa nasib seseorang berhubungan erat dengan
tahun kelahirannya. Oleh sebab itulah dalam soal mengambil keputusan untuk
menikah, 'tahun kelahiran' ini mempunyai pengaruh yang berat. Sebagai contoh
sebaiknya lelaki yang lahir pada tahun ayam tidak cocok dengan perempuan
yang lahir pada tahun anjing, begitu juga dengan lelaki yang lahir pada
tahun naga tidak cocok dengan perempuan yang lahir pada tahun harimau.

Sedangkan makanan yang berkaitan erat dengan hari raya tahun baru Imlek
adalah kueh keranjang (nian gao). Kata "kue" atau gao memberikan makna yang
sama dengan kata dan arti "tinggi", sedangkan kata nian berarti "tahun" jadi
secara simbolis diharapkan jabatan maupun kemakmuran semakin tahun dapat
naik semakin tinggi. Oleh sebab itulah juga di Kelenteng banyak kueh
kerajang yang dijadiken sesajen disusun secara bertingkat.

Kue keranjang mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang 
leluhur, enam hari menjelang Tahun Baru Imlek (Jie Sie Siang Ang), dan 
puncaknya pada malam menjelang Tahun Baru Imlek. Kue keranjang yang dijadikan 
sesaji sembahyang ini, biasanya dipertahankan tidak dimakan sampai Cap Go Meh 
(malam ke-15). 

Di malam tahun baru orang-orang biasanya bersantap di rumah atau di restoran. 
Setelah selesai makan malam mereka bergadang semalam suntuk dengan pintu rumah 
dibuka lebar-lebar agar rezeki bisa masuk ke rumah dengan leluasa.

Disamping itu berdasarkan mitos atau dongeng Dewa yang paling bisa mengetahui, 
keadaan kita dirumah adalah Dewa Dapur „Zao Wang Ye“ (Ciao Ong Ya = Hokkian) 
sebab segala macam gosip banyak disebar luaskan pada saat sedang kongkouw di 
dapur, disamping itu dari makanan yang disajikan kita bisa mengetahui keadaan 
keluarga tersebut, apakah mereka keluarga mampu ataukah miskin. 

Setahun sekali sang Dewa Dapur ini pulang mudik cuti untuk sekalian laporan
ke Sorga. Sang Dewa Dapur ini terkesan reseh dan bawel, maka dari itu untuk
menghindar agar ia tidak memberikan laporan yang ngawur, maka sebaiknya
mulutnya disumpal terlebih dahulu dengan „Kueh Keranjang“ agar mulutnya jadi
lengket dan akhirnya tidak bisa banyak bicara dan kalau bisa bicara
sekalipun pasti hanya hal yang manis-manis saja. 

Oleh sebab itulah juga diatas altar dari Dewa Dapur sering diletakan kertas
yang bertulisan: "Dewa yang mulia, ceritakanlah hanya kebaikan kami saja di
langit dan bawalah berkat kembali apabila Anda turun dari langit".

Makanan lainnya yang sering disajikan menjelang Imlek adalah ikan bandeng,
sebab ikan ini melambangkan rezeki. Dalam logat Mandarin, kata "ikan" sama
bunyinya dengan kata "yu" yang berarti “sisa”. Seperti juga kata yu yang
sering tercantum di lukisan gambar sembilan ikan, disitu tercantum "nian
nian you yu" yang berarti “setiap tahun selalu ada (rezeki) sisa”. Tetapi
bagi mang Ucup mungkin lebih cocok apabila ditulis “nian nian you mei mei”
yang berarti “setiap tahun selalu ada gadis yang mendampingi” 

Selain ikan bandeng yang juga kudu disuguhkan adalah jeruk kuning, yang
lazim disebut sebagai "jeruk emas" (jin ju). Kalau bisa dicarikan jeruk yang
ada daunnya sebab itu melambangkan kekayaannya akan bertumbuh terus.

Kata “jeruk” dalam bahasa Tionghoa bunyinya hampir sama dengan “Da Ji”,
sedangkan arti kata dari “Da Ji” itu sendiri berarti besar rejeki. 

Sedangkan untuk buah “Apel” (pin guo ) mempunyai arti "ping ping an an" sama
artinya dengan " Da li" yang berarti besar kesehatannya dan keselamatannya
dan untuk buah pear melambangkan kebahagian yang atinya " Sun Sun li li". 

Oleh sebab itu ketiga macam buah ini selalu menghiasi meja sembahyangan yang
mengartikan " Da Ji Da Li Sun sun li li" = “Besar rejeki, besar kesehatan &
keselamatannya dan besar pula kehabagiaannya”

Begitu juga dalam memberikan entah itu uang ataupun barang maupun buah-buah
sebaiknya dalam kelipatan dua jadi angka genap begitu, sebab terdapat sebuah
pepatah Tionghoa terkenal yang berbunyi "Hao Shi Cheng Shuang", yang secara
harafiah dapat diartikan "Semua yang baik harus datang secara berpasangan".

Dan agar rezekinya tidak tersapu habis keluar, maka diwajibkan
menyembunyikan sapu, karena ada pantangan dimana tidak boleh menyapu dalam
rumah pada hari Imlek dan dua hari sesudahnya.

Dan sudah tentu pada hari raya Imlek sebaiknya pasang petasan, karena ini
bisa mendatangkan keberuntungan dan perdamaian sepanjang tahun. Petasan
sudah ada sejak Dinasti Tang (618-907). Konon menjelang tahun baru Imlek
sering berkeliaran monster jahat yang bernama Guo Nien, hanya sayangnya
monster ini masih kurang sakti, sehingga selalu ngacir ketakutan apabila
mendengar bunyi mercon, apalagi kalau melihat cahaya kilat yang keluar dari
ledakan mercon tersebut.

Pada saat mang Ucup masih kecil di hari raya tahun baru Imlek, kami saling
mengucapkan “Sin Cun Kiong Hie” (Xin Chun Gong Xi) yang berarti selamat
menyambut musim semi atau selamat tahun baru, tetapi ucapan demikian
sekarang udah kuno & tidak trendi lagi, karena telah diganti dengan “Gong Xi
Fa Cai” atau (Kiong Hie Hoat Cay) yang berarti semoga sukses selalu atau
selamat jadi kaya, maklum generasi sekarang lebih ke money oriented begitu,
dan bagi mereka yang ingin mengucapkan selamat tahun baru Imlek dengan
kalimat yang lebih afdol lagi lihat dibawah ini:

“Gong Xi Fa Cai – Wan Shi Ru Yi - Shen Ti Jian Kang” 
Yang berarti semoga sukses selama-lamanya & selalu dalam keadaan sehat

Apabila Anda ingin membaca lebih banyak lagi mengenai China maupun budayanya
silahkan simak di www.budaya-tionghoa.org atau bergabung menjadi member
mailist di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

Wang U Chup – By Race I am Chinese and By Grace I am Christian
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.org 

Kirim email ke