From: <[EMAIL PROTECTED]>

UMAI
Written by, Sari Tarigan

 "Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan
                              bersorak-sorai"
   "Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti
  pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya" [Psalm 126]

Aku dilahirkan dan dibesarkan tanpa tau siapa  Ayahku sesungguhnya, Umai Red: 
Ibu,  dalam bahasa Dayak] tetap  tutup mulut, bahkan setelah aku menikahpun 
Umai tetap memilih diam.

Ketika aku masih duduk disekolah dasar, tak hanya satu atau dua kali aku 
menangis sepulang  dari sekolah, karena mendengar cemo'ohan teman-teman, 
mengataiku anak Haram, anak yang lahir tanpa bapak.

Melihatku menangis, Umai hanya bisa diam, tak satu katapun yang keluar dari
mulutnya, yang dia lakukan hanya membelai rambutku dan memelukku, sentuhannya   
membuatku  sedikit tenang. Sambil mengelus pipiku yang penuh dengan air mata, 
dan aku sudah mulai tenang Umai berkata, "nak, apakah selama ini kasih sayang 
yang Umai berikan masih belum cukup ? kalau kamu sayang sama Umai jangan pernah 
menangis karena  olokan teman-teman sekolamu.

Walau Umai miskin, pendidikan yang sangat minim tapi Umai sangat bijaksana ! 
bahkan lebih bijaksana dari Pak Rahman, kepala desa di kampungku, buatku Umai  
adalah orang yang terbaik yang aku miliki dan aku tidak ingin melukai hati Umai,
 melukainya dengan merengek-rengek mencari penjelasan siapa ayahku.

Aku  tidak  ingin  melihat  Umai  menangis,  karenanya  aku  hanya memendam
keinginan   tahuku   siap  bapakku  sesungguhnya,  aku  tidak  pernah  lagi
mempertanyakan  siapa  ayah  biologisku  pada Umai, sekalipun  suara-suara
yang aku dengar diluar sana begitu  menyakitkan  untuk  didengar.

Aku   jadi  malas pergi sekolah minggu, dari rumah aku pamit pergi kegereja
tapi   aku  tidak  pergi kegereja, sambil menunggu waktu aku duduk-duduk di
pinggiran sungai di ujung kampung, dan saatnya orang pulang sekolah minggu,
akupun pulang kerumah.

Agar  Umai tidak curiga , aku selalu menceritakan padanya  cerita yang  ada
di  Alkitab,  dengan  serius  Umai  mendengarkan  ceritaku ; sebenarnya aku
tersiksa  dengan  kebohongan ini  tapi  tidak ada jalan lain, satu sisi aku
tidak ingin berbohong dan ini pasti melukai hati Umai  tapi  aku juga tidak
ingin mendengar  olokan teman-teman di sekolah minggu.

Suatu  malam,  Umai  memintakaku  untuk  mengurut kakinya yang sakit karena
terkena  rematik.  Umai  membuka pembicaraan,"nak, tadi pagi  Umai  bertemu
dengan  guru sekolah minggu, katanya sudah  dua bulan ini kamu tidak pernah
datang  ke  gereja  ?  Umai  tau kamu takut mendengar  olokan teman-temanmu
yang  mengatakan  kalau kamu anak HARAM, tidak punya  bapak ! tapi apa kamu
tidak takut kalau  Tuhan Yesus marah karena kamu berbohong  ? Aku tak mampu
menatap Umai, ada air mata yang mengalir di pipinya yang mulai  ada kerutan
karena  harus bekerja keras untuk memenuhi  kebutuhan hidup kami.

Banyak  orang  mengatakan  kalau  aku cantik dan aku tau kecantikan itu aku
dapatkan  dari  Umai,   banyak  teman-teman  lelaki disekolah  yang mencoba
mendekatiku   tapi   aku  sama  sekali tidak tertarik  dengan  yang namanya
berpacaran.  Keenggananku  untuk mempunyai pacar, membuat  ada suara miring
yang sungguh melukai hatiku.

Teman-teman  mengatakan,  "awas  lho,  katanya  tidak  mau berpacaran  tapi
buntut-buntutnya  hamil  ! ! buah jatuhnya tidak akan jauh dari pohon kan ?
kalau Ibunya pelacur, maka anaknya juga  ngak  bakalan lebih baik kan ! .

Aku  hanya  bisa  menangis  mendengar   perkataan pedas dari teman-temanku,
"benarkah   Umai  dulunya seorang pelacur ? artinya aku memang anak  haram,
anak yang tidak jelas siapa  bapakknya ! !".

Aku  marah  ! aku   ingin memberontak ! aku ingin mencari  siapa  laki-laki
yang  telah  menyebabkan aku terlahir kedunia. Tapi rasanya tidak adil jika
aku  menyiksa  Umai dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu untuk dia
jawab, selama ini Umai sudah memberikan seluruh hidupnya untukku.

Selama  ini Umai tidak pernah bersungut-sungut, dia selalu  tersenyum walau
aku  tau  betapa  berat  hidup yang dia jalani. Ketika orang masih terlelap
dibalik  selimut,   Umai  sudah  pergi ke pasar menjual sayur-sayuran  yang
dipetik dari hasil kebun kami. Umai juga menerima  cucian dan nyetrika baju
dari beberapa tetangga  kami. Uang yang di perolah hanya cukup untuk makan,
kontrakan kamar dan membayar uang sekolahku.

Beberapa kali aku melihat laki-laki  hidung belang mencoba memanfaatkan
kemiskinan kami untuk membeli tubuh Umai tapi rupiah  tidak mampu membeli
harga dirinya.

Aku ingin cepat-cepat bisa meringankan beban Umai, makanya setamat dari Sekolah 
Menengah Pertama aku mendapaftar di sekolah perawat. Kata orang kalau masuk 
sekolah perawat bayarannya selangit tapi aku tau bahwa semua ini karena Kasih 
Karunia Tuhan, dan tanpa membayar satu rupiahpun aku diterima di sekolah 
perawat negeri.

Karena prestasi yang aku peroleh, aku berhak mendapatkan beasiswa, bebas
membayar uang sekolah dan bisa tinggal di Asrama sekolah tampa harus
membayar uang pondokan. Tapi karena  sekolah berada di kota, aku harus
berpisah dengan Umai, walau sesekali Umai datang mengunjungiku di Asrama.

Di tempatku yang baru, aku merasa lebih leluasa karena tidak ada orang yang tau 
 kalau aku anak Haram, aku jadi konsentrasi untuk sekolah tanpa harus ketakutan 
dengan cemoohan orang-orang.

Setelah lulus dari sekolah  perawat,  pemerintah menawarkanku beasiswa untuk  
melanjut ke sekolah  Bidan tapi dengan perjanjian aku mengabdi selama dua tahun 
 di daerah yang terpencil yang sudah ditetapkan oleh departement kesehatan.

Dengan restu Umai, aku menerima tawaran itu dan aku semakin jelas melihat
ada masa depan yang cerah yang menantiku didepan sana.

Satu tahun kemudian, setelah lulus dari sekolah ke bidanan, aku ditugaskan
ke daerah transmigrasi, daerah yang tingkat kematian saat melahirkan sangat  
tinggi, disana belum ada dokter tetap jadi kalau  berobat harus ke kecamatan.

Karena pemerintah menyediakan tempat tinggal, aku memboyong Umai, sudah
cukup pengorbanan Umai selama ini ! sudah cukup banyak air mata yang Umai 
keluarkan untuk membayar segala perbuatannya dimasa lalu.

Waktu yang Tuhan siapkan diluar dari apa yang aku pikirkan, saat ini Tuhan 
tidak 
hanya memberikan aku  pekerjaan, tempat tinggal, kerinduanku untuk 
membahagiakan 
Umai sudah terwujud, Umai tidak perlu lagi menjual sayur pagi-pagi subuh, 
mencuci dan menyetrika baju  tentangga.

Selain menjalankan tugas sebagai bidan, aku juga mengambil alih pos Pelayanan
 yang ada disana, karena sudah enam bulan ini Hamba Tuhan yang dulunya ditempat 
kan didesa ini kembali ke kota. Aku berdoa semoga Tuhan mengirimkan Hamba Tuhan 
untuk menggembalakan domba-domba yang haus akan Firman Tuhan di desa ini.

Tuhan tidak pernah tanggung-tanggung menggenapi  janjinya, empat bulan kemudian 
Tuhan mengirimkan seorang Pendeta muda untuk menjadi gembala didesa kami dan 
satu tahun kemudian kami di persatukan dalam pernikahan Kudus.

Semua sudah berlalu, ratapan kini  burubah menjadi Pujian dan sorak sorai !

Mazmur :
126:1  Nyanyian ziarah. Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita
seperti orang-orang yang bermimpi.
126:2 Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan
sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah  orang  di antara bangsa-bangsa:
"TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!"
126:3  TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
126:4  Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air
kering di Tanah Negeb!
126:5  Orang-orang  yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai
dengan bersorak-sorai.
126:6  Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti
pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Gbu,
SariHati   Indah  Tarigan
Ph : +62 - 549 - 21152   Ext. :  158
================================================
From: <[EMAIL PROTECTED]>

Aku jual "segalanya" demi sepotong cinta
by, Sari Tarigan


Aku teramat mencintainya, dia laki-laki pertama yang mengisi  relung hatiku. 
Apapun aku lakukan untuk mempertahankan hubungan kami, walau kenyataan yang aku 
 hadapi, setelah menjadi kekasihnya aku kehilangan banyak sahabat, itu  karena 
mereka tidak menyetujui hubungan kami.

"Dia itu play boy cap Gayung ! ", kata Vivi  dengan geram, saat tau aku 
menerima  Melvine sebagai kekasihku.

"Dia tidak hanya kurang ajar,  tapi laki-laki yang tidak punya perasaan", Cindy 
pun  tak kalah emosi dan ikutan memberikan komentar.

Aku sama sekali tidak menggubris omongan sahabat-sahabatku, itu karena aku 
begitu mencintainya. Waktu aku menyampaikan apa komentar teman-temanku, dengan 
tenang dia menjawab, "sayang, kamu harus percaya  aku, mereka itu cemburu 
karena saya  memilih kamu, bukan memilih mereka !! karena buat aku kamu tidak 
hanya cantik tapi juga gadis yang sangat  baik.".

Hidungku kembang-kempis mendengar kata-katanya, dan aku larut dengan rayuannya. 
Pikirku apa yang Melvine katakan ada benarnya, kekasihku tidak hanya ganteng  
tapi  juga anak orang kaya ! aku yakin  75% wanita di campus bermimpi bisa 
menjadi kekasihnya.

Bukan hanya Vivi dan Cindy  yang memperingatkanku, tapi Bernard  lelaki yang 
sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri meminta aku untuk berpikir lagi 
sebelum menerima Melvin sebagai kekasihku, karena menurutnya Melvine bukan 
laki-laki yang baik untukku.

Tahi gigi terasa Silver Queen ! itulah yang  aku rasakan saat ini, walau 
awalnya berat tapi aku rela kehilangan sahabat-sahabatku, dibanding harus 
kehilangan Melvineku. Dia   begitu manis, begitu lembut, romantis dan yang 
paling penting dia memanjakanku dengan barang-barang yang mahal, yang tidak 
mungkin bisa aku beli dengan uangku sendiri.

Aku si Putri Abu, ketiban  berkat yang luar biasa, selama ini kalau ada mata 
kuliah pagi dan sore, sering kali aku terpaksa berpuasa dan hanya makan kalau 
ditraktir oleh  teman-teman.Kehidupan kami selama ini, hanya mengandalkan 
bengkel kecil  milik ayahku, untuk membayar uang kuliah  aku memberikan kursus 
matematika untuk anak SD dan SMP di malam hari, tapi tadi pagi Melvine 
memintaku untuk berhenti mengajar, supaya kami punya banyak waktu untuk 
bersama, dan dia berjanji akan memenuhi semua kebutuhanku

Satu bulan pertama,  hubunganku seperti di dunia dongeng, aku begitu bahagia ! 
bayangkan .. setiap ada baju model yang terbaru aku  pasti dibelikan, plus  
sepatu baru  dan tas baru, aku tidak perlu rendah diri dengan teman-teman yang 
ada dikampus. Dan setiap minggu aku  pergi ke salon untuk  facial, spa, 
creambath, kata  Melvin semua itu bagus untuk kecantikan dan kesehatan kulitku.

Aku si Puri Abu seperti kacang lupa kulitnya, kuliahku mulai berantakan, aku  
lebih memilih  jalan-jalan dengan kekasihku dibanding  kuliah, pikirku tidak 
ada gunanya  sekolah tinggi-tinggi, karena tanpa bekerjapun harta mertuaku 
tidak habis sampai dua belas turunan.

Suatu hari, Melvine mengajakku ke vila orang tuanya di  puncak, dan inilah awal 
kehancuran si Putri  Abu. Malam itu kami harus  menginap, dengan alasan Melvine 
terlalu letih mengendarai mobil dari  puncak ke Jakarta, dan aku si Putri Abu 
terbuai dengan rayuannya, dia berhasil  merayuku dan meyakinkanku bahwa dia 
begitu mencintaiku, dan akhirnya  kami melakukan hal yang tidak sepantasnya 
kami lakukan, aku menyerahkan kehormatanku padanya.

Awalnya  aku menangis dengan kejadian dipuncak itu, tapi lambat laun aku tidak 
lagi  menyesali atas kehilangan kegadisanku, pikirku  nanti juga kami akan 
menjadi suami istri,  dan aku berhayal suatu saat  akan tinggal dirumah  mewah, 
punya mobil sendiri,  dan kalau liburan  pergi keluar negri, hayalanku 
melambung tinggi.

Aku yang bodoh  terlilit oleh hayalanku sendiri, dan mimpi itu BUYAR saat tau 
aku HAMIL 2 bulan !! pikirku Melvine akan bahagia dengan khabar ini tapi 
ternyata dia  memaki-makiku mengatakan aku bodoh karena teledor, dan menuduhku 
sengaja tidak meminum pil anti hamil agar dia menikahiku, dia memaksaku untuk 
menggugurkan bayi itu.

Hatiku hancur saat mengetahui kekasihku seorang MONSTER yang berwajah
manis, begitu teganya dia memintaku membunuh anaknya sendiri.

Aku tidak tau harus cerita kemana, ke orang tuaku ? tidak mungkin, itu sama 
saja membunuh ibu yang  punya sakit  jantung. Aku kalut, aku bingung dan yang 
terlintas dibenakku adalah BUNUH DIRI !!! tapi itu artinya aku melakukan 
kesalahan yang lebih besar lagi, dengan hamil diluar nikah saja  sudah dosa 
besar apalagi kalau ditambah dengan bunuh diri, artinya aku tidak hanya 
membunuh diriku sendiri tapi juga bayi yang ada di kandunganku.

Aku tidak akan menggugurkan bayi yang ada di kandunganku, apapun yang
terjadi dia harus lahir kedunia. Bayi ini tidak salah, yang  salah adalah
papa dan mamanya yang tidak bertanggung jawab.

Aku tidak tau harus  mengadu dengan siapa ?

Berhari-hari aku mencari Melvin tapi dia hilang begitu saja, aku bertanya
kepada temannya dan dengan sinis  dia berkata, "kamu tidak tau, kalau
Melvine dua hari yang lalu sudah pindah ke Amerika ! udah deh. . .  ikutin saja 
permintaan dia  untuk menggugurin kandungan kamu !dan masalah akan selesai . .. 
 ".

"duh, Tuhan .. . . maafkan aku  yang telah melangkah jauh dariMu", aku
manangis  sepanjang jalan koridor kampus.

Sebenarnya aku  ragu  mendatangi orang tua Melvine,  aku takut  kedua orang
tuanya  akan menghinak, tapi aku juga tidak bisa diam, karena  bayi yang
dikandungannku  semakin hari akan semakin besar.

Aku berharap  mereka senang saat  mengetahui  kalau  diperutku ada cucu
mereka, tapi ternyata mereka  justru menuduhku  menipu  untuk mendapatkan
uang. Saat aku  hendak meninggalkan rumah mereka, Mama  Melvine menyodorkan
sebuah amplop, dengan  syarat  lupakan anaknya, karena mereka tidak sudi
punya menantu orang miskin.

Aku berharap ada mujijat dalam hidupku, Melvin menyesali  perbuatannya dan 
meminta maaf  padaku !! tapi aku tau itu hanya mimpi, dan tidak akan mungkin 
terjadi.

Aku tidak punya semangat hidup lagi,  aku sudah mengecewakan   keluargaku !
hamil diluar nikah dan  aku gagal dalam menjadi  Sarjana !, nilai mata kuliahku 
 pada hancur  dan kalau aku tidak bangkit  aku pasi  Drop out.

"Oh Tuhan .. . . apa yang harus aku lakukan ?",  batinku menjerit.  Apapun yang 
terjadi aku tidak akan menggugurkan anak yang aku kandung, aku harus 
bertanggung jawab atas kesalahan yang telah aku perbuat, dengan hamil diluar 
saja aku sudah mendukakan Tuhan Yesus, apalagi kalau aku sampai membunuh ! ! .

Saat  kandunganku sudah jalan 3 bulan, aku putuskan  mengaku  pada  Ayah
dan Ibu kalau aku sudah salah jalan. Aku sudah siap kalau  Ayah akan 
menamparku, atau bahkan mengusir, tapi  semua diluar dugaanku, sesaat mereka 
diam seribu bahasa, dan dengan lembut  Ayah memelukku bersamaan dengan Ibu, dan 
aku menangis pedih meminta ampun  karena telah mengecewakan mereka.

Malam itu, aku sampaikan bahwa  aku akan bertanggung jawab atas semua
perbuatanku, anak ini tidak akan aku gugurkan, aku akan melahirkan dan
membesarkannya.

Bagaimanapun  perjalanan hidupku masih panjang, jadi saran Ayah aku harus
melanjutkan kuliahku tapi sambil menunggu bayi ini lahir aku akan
mengambil cuti akademis satu tahun.

Aku diungsikan ke kampung nenek, sampai bayi yang dikandunganku lahir dan 
setelah itu aku akan melanjutkan kuliahku, aku tau  tidak mudah menjalani 
semuanya tapi aku  yakin Tuhan tidak pernah menolak permintaan maaf dari 
perbuatan tangannya.

Selama menanti kelahiran anakku, aku  banyak merenung, tidak ada lagi yang 
perlu untuk disesali, karena semua sudah terjadi, setidaknya apa yang aku alami 
saat ini  suatu saat  bisa menjadi kesaksian dan peringatan bagi anak-anak muda 
untuk  berhati-hati  menjalani masa mudanya ! Jangan silau dengan harta, dan 
akhirnya larut  dan kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup mereka.

Aku juga belajar untuk tidak mempunyai akar kepahitan pada orang yang
melukaiku  . . . . karena ku tau pasti masih ada masa depan yang  indah
yang Tuhan sediakan bagiku, jika aku berbalik padaNya.

Yesaya
42:3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar 
nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
42:4 Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai 
ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya

Gbu,
SariHati   Indah  Tarigan
Ph : +62 - 549 - 21152   Ext. :  158

Kirim email ke