From: Grace Maringka
Tears of Joy Saturday, March 3, 2007 Akhir-akhir ini kembali saya memikirkan tentang perbedaan menangis dan tertawa. Kotbah ke berbagai tempat (khususnya persekutuan2 doa), pemimpin pujian/MC, biasanya berusaha membuat jemaat untuk bisa tertawa dan dianggap itu sebagai sukacita. Apa betul tertawa itu identik dengan sukacita? Ada yang bilang bahwa tertawa itu baik untuk kesehatan, tertawa bisa menyembuhkan, bahkan ada terapi tertawa. Tetapi, apakah tertawa itu pasti sukacita? Saya coba memperhatikan orang yang tertawa. Beberapa di antara mereka adalah orang gila. Sebagian lagi, adalah orang-orang yang mengambil keuntungan dari orang lain, berhasil menipu orang lain dan mereka tertawa. Sebagian lagi yang disebut dengan humor dan lucu adalah kejadian2 yang membuat orang lain kelihatan bodoh, melakukan kesalahan, jadi obyek penderitaan. Jadi, tertawa karena orang lain menderita. Itulah humor yang lucu. Jarang sekali, humor yang mempergunakan logika dan membuat orang tertawa. Dan mungkin ada sebagian kecil yang tertawa karena sukacita!? Dan anehnya, dalam kehidupan Tuhan Yesus, tidak pernah disebutkan bahwa Tuhan Yesus tertawa. Bahkan Tuhan Yesus pernah berkata dalam Lukas 6:25, "Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis." Apakah Tuhan Yesus tidak ada sukacita selama hidup di dunia? Sejujurnya, saya suka sekali ketawa. Bahkan karena satu sekolah teologi melarang untuk ketawa berlebihan, maka saya memutuskan untuk tidak masuk sekolah teologi itu. Saya memiliki kemampuan untuk mentertawakan diri sendiri, mentertawakan orang lain dan dunia, serta membuat orang lain tertawa. Tapi, apakah waktu melakukan semuanya itu saya bersukacita, jawabannya: Tidak tentu! Bagaimana dengan menangis? Biasanya menangis identik dengan kesedihan, kehilangan, musibah, dan semua yang berhubungan dengan hal itu. Tetapi, biasanya orang melupakan satu hal tentang menangis. Malam ini, mimpin KKR di salah satu gereja. Waktu altar call, beberapa dari yang maju ke depan menangis terus dan tidak ada satupun yang tertawa. Apakah mereka sedih dan tidak ada sukacita karena menyerahkan hidup kepada Tuhan? Faktanya, semua orang yang betul-betul mengalami sukacita yang dalam justru menangis dan bukan tertawa. Bahkan orang yang tertawa terbahak-bahak justru sering diakhiri dengan air mata.. Sehingga menangis justru menjadi satu elemen yang lebih penting dibandingkan dengan tertawa. Pertanyaannya, hal-hal apa yang membuat seseorang menangis dengan sukacita? Apakah itu karena hal-hal yang sementara ataukah hal-hal yang bernilai kekal? Ada banyak tangisan dan air mata kita seharusnya disimpan untuk hal-hal yang bernilai kekal, dan bukan hanya air mata buaya yang selalu datang begitu saja dalam kesulitan dan penderitaan. Justru kita seharusnya terus memiliki tangisan untuk jiwa-jiwa orang pilihan yang masih hidup dalam dosa, tangisan sukacita waktu melihat mereka kembali kepada Bapa, tangisan untuk kehendak Allah yang belum digenapi dan tangisan untuk sukacita orang-orang percaya yang hidup menurut jalan-jalan Tuhan, dan masih banyak-banyak lagi tangisan-tangisan yang penuh sukacita dalam kehendak Tuhan yang akan dianugerahkan Tuhan. I'm waiting for it? What about you? 2 In my Father's house are many mansions: if it were not so, I would have told you. I go to prepare a place for you. 3 And if I go and prepare a place for you, I will come again, and receive you unto myself; that where I am, there ye may be also. John 14:2,3 posted by Baron Arthur at ___ . ============================================= From: Grace Maringka Keluaran 23:3 Tuesday, February 20, 2007 "Juga janganlah memihak kepada orang miskin dalam perkaranya" (Kel 23:3) Di dalam dunia ini, yang kuat menindas yang lemah kita anggap hal biasa. Tetapi yang lemah menindas yang kuat, nah itu baru kita anggap luar biasa. Tetapi apa benar itu terjadi? Ayat di atas menarik perhatian saya. Biasanya kita mengira Alkitab mengajarkan supaya kita memihak kepada yang lemah: orang miskin, janda, anak yatim, dsb. Tetapi mengapa dalam bagian ini Tuhan justru katakan jangan memihak kepada orang miskin? Sebetulnya kalau kita teliti, Alkitab tidak pernah mengajarkan supaya kita memihak kepada mereka yang lemah. "Jangan menindas mereka", "belalah hak mereka", itulah yang diajarkan Alkitab. Artinya yang Tuhan mau adalah "jangan mentang-mentang mereka lemah, lalu mereka ditindas dan tidak dibela haknya". Tetapi dengan kalimat yang sama, Tuhan juga bisa mengatakan "jangan mentang-mentang mereka lemah, lalu dibela dan dimenangkan". Sebetulnya prinsipnya sederhana: Keadilan! Tuhan benci kalau ada orang menindas yang lemah. Tuhan juga benci kalau ada orang menindas yang kuat. Ada orang yang berjalan kaki menyeberang jalan secara sembarangan dan menyebabkan pengendara motor kehilangan keseimbangan dan menabraknya sampai mati. Siapa yang disalahkan? Biasanya pengendara motor! Ada pengendara sepeda motor yang ngebut, selap-selip kiri kanan semaunya, lalu menabrak mobil yang sedang berjalan perlahan sampai dia sendiri terpelanting dan luka parah. Siapa yang disalahkan? Biasanya pengendara mobil. Minimal dia akan diminta utk membayar semua biaya pengobatan. Ternyata dalam masyarakat kita juga berlaku 'memihak si lemah' ini, walaupun tentunya dengan berbagai latar belakang dan motivasi. Saya jadi berpikir bagaimana yah di gereja? Apakah sama dengan dunia, bahwa ada hal-hal tertentu dimana yang 'kuat' menindas yang 'lemah', dan ada hal-hal tertentu dimana yang 'lemah' dibela secara tidak adil, walaupun kalau di gereja, mungkin in the name of love. Ah, sulitnya untuk adil sekaligus kasih! Labels: Bible Passages posted by Jeffrey Siauw @ 10:39 AM._,_.___ . ====================================== From: Grace Maringka Wednesday, February 28, 2007 Yang Terdorong Hatinya Membawa Persembahan (Kel 35:5) "Ambillah bagi TUHAN persembahan khusus dari barang kepunyaanmu; setiap orang yang terdorong hatinya harus membawanya sebagai persembahan khusus kepada TUHAN. " (Keluaran 35:5) Ayat ini sangat biasa, tetapi menjadi tidak biasa ketika saya membandingkannya dengan praktek-praktek yang banyak dilakukan dalam persekutuan Kristen, lembaga Kristen atau bahkan gereja ketika membutuhkan dana. Suatu praktek yang terlihat tidak salah dan sering dilakukan, sehingga bahkan dianggap sebagai sesuatu yang 'sudah-seharusnya-demikian-kalau-tidak-mau-bagaimana-lagi'. Bisa menebak apa yang saya maksudkan? Praktek pengumpulan dana! Pengumpulan dana yang saya maksud adalah pengumpulan dana melalui cara berjualan. Barang yang dijual bisa bermacam-macam, dari mulai yang kecil seperti menjual notes, minuman, makanan, sampai yang besar seperti menjual lukisan, mobil atau bahkan mungkin apartemen. Mungkin ada yang merasa saya terlalu berlebihan. Saya ingin memperjelas maksud saya, dan menunjukkan bahwa saya tidak berlebihan, dengan beberapa contoh: Ada yang mengadakan pengumpulan dana melalui 'Malam Pengumpulan Dana'. Saya tidak antipati dengan kegiatan seperti ini, walaupun ironisnya acara seperti itu kadang menghabiskan banyak dana. Kalau di dalam acara itu diadakan kebaktian, lalu kemudian mereka yang hadir ditantang untuk memberikan persembahan, saya rasa itu sesuatu yang baik. Atau kalau di dalam acara itu, ada 'bonus' kalau memberikan jumlah berapa diberikan barang tertentu, bagi saya masih sah saja karena semua tahu barang itu tidak senilai dengan jumlah yang dipersembahkan. Anggaplah itu sebagai kenang-kenangan, walaupun saya agak mempertanyakan juga untuk apa hal seperti itu. Ada yang mengadakan pengumpulan dana melalui kesempatan beriklan. Biasanya ini dilakukan ketika ada suatu acara khusus, dan panitia mempersiapkan buku acara, lengkap dengan kolom-kolom iklan yang dijual dengan harga lumayan. Saya juga tidak antipati dengan cara seperti ini, karena sebenarnya banyak yang memasang iklan juga sudah tahu bahwa iklan itu tidak akan efektif. Mereka tetap memasang iklan memang karena ingin memberikan persembahan. Waktu saya melayani di suatu persekutuan, saya dan teman-teman juga melakukan cara yang sama untuk mengumpulkan dana. Kami menjual minuman ringan, makanan kecil, dan sebagainya. Seringkali waktu ingin minum kami terdorong untuk membeli minuman ringan di situ, padahal seharusnya kami bisa minum air mineral saja. Alasannya? Dalam hati ada perasaan "ini kan untuk persembahan". Waktu itu sempat terdengar beberapa teman dengan bercanda mengatakan "wah gara-gara ada penjualan barang begini, bikin kita boros dan konsumtif". Dan saya juga mulai berpikir, berapa sih keuntungan dari menjual minuman ringan? Misalnya harganya Rp.1500, mungkin keuntungannya Rp.300. Dalam kondisi tidak punya uang, saya jadi berpikir bukankah lebih mudah bagi saya untuk memberi Rp.500 sebagai persembahan daripada mengeluarkan Rp.1500 untuk membeli minuman ringan, atas nama persembahan, yang sebetulnya memacu sifat konsumtif saya? Cara-cara seperti itu sah saja! Jemaat sebenarnya tetap 'memberikan persembahan' bukan 'membeli barang'. Tetapi bagi saya yang aneh adalah si pengumpul dana. Buat apa orang harus diiming-imingi dengan barang tertentu supaya memberikan jumlah tertentu? Atau buat apa orang harus ditawarkan bahwa kalau berikan persembahan maka nama perusahaannya akan diiklankan? Seakan-akan orang tidak akan memberikan persembahan kalau tidak ada 'barang' atau 'nilai tambah' untuk mereka. Jujur harus kita katakan ini konsep dagang, bukan konsep persembahan. Bukankah lebih indah kalau kita men-sharing-kan suatu beban pelayanan dari Tuhan dan kita berdoa kepada Tuhan meminta Tuhan sendiri yang mencukupi kebutuhan dana melalui doronganNya di dalam hati anak-anakNya? Bukankah itu adalah pekerjaan Tuhan sendiri dan bukan kita? Dan kalau pekerjaan yang kita perjuangkan itu adalah pekerjaan Tuhan, kita boleh yakin ada orang yang didorong hatinya oleh Tuhan. Lagipula, seperti yang sudah saya ungkapkan di atas, banyak jemaat tetap membeli atau memberikan uangnya sebagai persembahan bukan karena barang yang ditawarkan. Maka saya merasa kalimat "setiap orang yang terdorong hatinya harus membawanya sebagai persembahan khusus kepada TUHAN" adalah sesuatu yang indah. Dan saya merasa tidak tepat kalau kita berusaha 'mendorong' hati mereka melalui cara berdagang. Kalau kita merasa 'sudah-seharusnya-demikian-kalau-tidak-mau-bagaimana-lagi' karena memang dana tidak cukup, maka ada dua kemungkinan: Pertama, pekerjaan yang kita perjuangkan itu memang bukan pekerjaan Tuhan. Kedua, pekerjaan itu memang pekerjaan Tuhan, tetapi kita tidak sabar dan akhirnya kita melakukannya bukan dengan cara Tuhan. Saya tahu masalahnya tentu tidak sesederhana apa yang saya uraikan di atas. Saya hanya ingin mengajak kita memikirkan dahulu prinsip Firman Tuhan sebelum melakukan sesuatu atas nama Tuhan. Labels: Articles, Bible Passages posted by Jeffrey Siauw @ 9:32 AM===========
<<attachment: TOJ.jpg>>
<<attachment: TOJ.jpg>>

