From: Grace Maringka 

How DEEP is your LOVE? 

 Love... love... and love.. What's the important of love? Should we always 
talk, sing, think and dream about love? But, love is God's gift.. So, just 
enjoy it. The question is, do we really know the deep of God's love and how 
deep our love to God and to others? Do we really know the true meaning of love? 
How deep is your love? I must quote one of Bee Gees song, How Deep is your 
love.. 
 
I know your eyes in the morning sun
I feel you touch me in the pouring rain
And the moment that you wander far from me
I wanna feel you in my arms again

And you come to me on a summer breeze
Keep me warm in your love and then softly leave
And it's me you need to show ....

How deep is your love 
I really mean to learn
'Cause we're living in a world of fools
Breaking us down
When they all should let us be
We belong to you and me

I believe in you
You know the door to my very soul
You're the light in my deepest darkest hour
You're my savior when I fall
And you may not think
I care for you
When you know down inside
That I really do
And it's me you need to show ....
How deep is your love


Sebagian lagu ini harusnya adalah pemujaan bagi Tuhan, pernyataan betapa 
dalamnya dan berharganya cinta Tuhan kepada kita. Sebagian kalimatnya memang 
tidak tepat, kalau ditujukan kepada Tuhan. Yang menjadi pertanyaan, jika Tuhan 
menyatakan cintaNya yang begitu lebar, panjang dan dalam, mampukah kita 
memahaminya?

Menurut saya, siapapun tidak akan mampu memahami kasih Tuhan, kalau hanya 
mengandalkan segala pengalaman dan cerita dalam sejarah dunia ini. Banyak orang 
sudah membaca buku2 yang berbicara tentang cinta kasih yang begitu mengharukan, 
menguras air mata, membuat kita terkagum-kagum dan mengubah hidup banyak orang 
yang membacanya, tapi itu belum menggambarkan keseluruhan kasih Tuhan. Kita 
juga mungkin sudah melihat kisah-kisah cinta yang begitu hebat dan mengharukan 
dari orang-orang Kristen, akibat perubahan yang Tuhan lakukan dalam hidup 
orang-orang Kristen. Tapi itupun, tidak sanggup menyatakan betapa dalamnya 
kasih Tuhan. Anehnya, orang-orang lebih tertarik melihat dan membaca 
kisah-kisah itu dibandingkan dengan kasih Tuhan yang begitu dalam, ajaib dan 
dahsyat yang diceritakan dalam Alkitab.

Alkitab berbicara dengan cara yang berbeda. Cinta Tuhan kepada manusia adalah 
cinta yang menyediakan segala sesuatu sampai ke pada masa depan yang sejati, 
yaitu kekekalan. Cinta yang kekal, cinta yang tidak dapat dipisahkan oleh 
apapun. Cinta ini dimulai dari pemilihan dalam kekekalan. Sesudah itu dalam 
penciptaan dengan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk 
kenikmatan dan kebaikan. Tetapi juga cinta yang menguji manusia untuk 
mengajarkan kesetiaan. Cinta yang terus-menerus menerima manusia yang jatuh 
dalam dosa dan berzinah meninggalkan Tuhannya dan terus-menerus berlari 
menjauhi Tuhan, kecuali waktu membutuhkan sesuatu dan tidak berdaya, maka 
manusia berteriak dan meminta pertolongan Tuhan. Anehnya, Tuhan tetap 
memberikan pertolongan, meskipun Tuhanpun menyatakan murkanya kepada umat 
pilihanNya, dengan memberikan kutuk dan penghakiman yang dibalik semuanya 
adalah cinta yang ingin mendidik dan mengubah umat pilihanNya. Dan puncaknya, 
Bapa mengirimkan AnakNya yang Tunggal, Tuhan kita, Yesus Kristus untuk 
mengajarkan cinta yang berkorban untuk umat pilihanNya yang selayaknya 
dimurkai. Dan cinta yang diajarkan di atas kayu salib, adalah cinta yang tidak 
bisa dilepaskan dari murka dan keadilan Tuhan. 

Ketidak mengertian akan kasih dan murka Tuhan, membuat banyak permasalahan yang 
terjadi dalam hubungan manusia dengan Tuhan dan dengan sesama. Kalau Tuhan 
benar-benar mencintai umatNya, mengapa harus ada penderitaan, masalah, bencana 
dan segala macam penyakit? Apakah kalau Tuhan mencintai kita, maka Ia tidak 
boleh menghukum akan dosa-dosa kita, yang sudah tidak bergantung lagi kepada 
Dia, meskipun kelihatan kita beragama dan beribadah? Apakah bencana dan segala 
kesulitan membuat kita tidak bisa merasakan kasih Tuhan dan tidak bisa 
mengasihiNya? Kalau begitu, kita lebih mengasihi Tuhan ataukah kita lebih 
mengasihi pemberianNya? Waktu kita dapat segala kelimpahan pemberianNya, kita 
melupakan Pemberinya. Kalaupun tetap mengingatNya, kita tetap menghargai 
pemberianNya lebih besar dari pemberiNya. Itu sebabnya kita lebih menghargai 
orang kaya daripada orang miskin yang betul2 mengasihi Tuhan; orang pintar 
dibandingkan orang sederhana yang mengashi Tuhan. Padahal akibat kekayaan, 
kesomobongan, jabatan dan kepintaran mereka yang membuat Tuhan harus menghukum 
dunia ini, dan kita yang berada di sekitar mereka ikut merasakan dan bahkan 
yang menjadi korban.

Begitu juga dengan relasi dengan sesama manusia. Kita sangat menghargai 
orang-orang yang baik, mau memamahi dan menerima kita apa adanya. Kalau ada 
orang yang mengkritik kita dengan tajam, menyatakan kesalahan, dan bahkan 
menjelek-jelekan kita, maka kita sulit untuk menerima orang seperti itu. Kita 
merasa orang itu tanpa cinta kasih. Begitu juga kalau orang yang kita kasihi 
dan mengasihi kita menjadi berubah, suka mengkritik karena semakin bisa melihat 
kelemahan2 kita, maka kita akan menganggapnya berubah menjadi orang yang tidak 
mengasihi kita lagi, dan menjadi orang yang membenci kita. Meskipun sebagian 
memang betul-betul membenci. 'Benci' yang benar adalah bagian dari cinta yang 
sejati. Tetapi, kita sulit untuk menerima benci, karena lebih banyak benci 
dicemari oleh dosa. Padahal benci harusnya benar-benar cinta.

Cinta di antara sesama manusia, biasanya hanya berada di ujung dari paradoks 
kasih yang berkorban ataupun kasih dengan didikan. Sebagian melihat kasih 
sebagai pengorbanan yang terus-menerus tanpa batas, selama masih bisa 
mengasihi. Sebagian lagi melihatnya sebagai kasih yang terus-menerus mendidik. 
Kasih yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita adalah kasih yang penuh didikan dan 
murka, tetapi juga kasih yang berkorban. 

Tapi yang lebih aneh lagi, sekalipun Tuhan Yesus sudah sudah berkorban bagi 
kita, Dia tidak pernah memaksa kita untuk melayaniNya.. Kasihnya bukan yang 
menuntut dan memaksa kita untuk membalasnya, karena memang kita tidak bisa 
membalas semuanya. Tetapi, Ia membawa kita untuk melihat segala kelimpahan 
cinta kasihNya yang kekal dan begitu mulia. Dan membawa kita bisa menikmati 
semuanya. 

Apakah kasih seperti ini yang kita berikan kepada banyak orang? Kita tidak akan 
sanggup, kecuali anugerah dan kasih Tuhan yang bekerja di dalam kita. 
Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, 
betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan 
dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.  Efesus 
3:18-19a

posted by Baron Arthur at 8:12 AM  
Taken from Ronald Oroh's blog_,_.___ __ 

<<attachment: love-hate.jpg>>

<<attachment: love-hate.jpg>>

Kirim email ke