From: Eksposisi Roma Refleksi Jumat Agung 2007
DUKACITA DAN SUKACITA SEJATI oleh : Denny Teguh Sutandio Nats : Yohanes 18:20 "Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira ; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita." Yohanes 18:16-33 merupakan ayat di mana Tuhan Yesus sedang membicarakan saat kematian-Nya yang semakin mendekat setelah Ia mengajar tentang Roh Kudus yang akan diutus. Ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa tinggal sesaat lagi mereka dan Dia akan bertemu, maka para murid menjadi gusar dan bingung tentang makna pernyataan- Nya. Kemudian, Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa mereka yang tidak akan melihat-Nya lagi akan menangis dan meratap, tetapi sebaliknya dunia akan bergembira. Apa arti perkataan-Nya ini ? Pada waktu itu, kalau kita sedang berada di posisi para murid-Nya, kita pun tentu akan bingung. Tetapi puji Tuhan, melalui Alkitab yang sudah sempurna diwahyukan, kita mendapatkan pengertian bahwa ayat ini sedang menunjukkan pada kematian Kristus. Para murid akan menangis dan meratap berarti mereka akan menangisi "kepergian" Yesus untuk disalib. Ketika kita sedang ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi misalnya orangtua atau pasangan kita entah karena kecelakaan dan meninggal atau ditinggal ke luar kota/negeri, kita pun akan menangis. Tetapi apa bedanya dengan para murid yang berdukacita ? Ayat 21 pada bagian ini membandingkan kedukacitaan para murid dengan ilustrasi seorang perempuan yang berdukacita (atau bisa diartikan menderita) pada saat ia melahirkan, tetapi setelah anaknya lahir, ia tidak akan menderita tetapi bergembira. Demikianlah gambaran Kristus bagi para murid-Nya yang sementara berdukacita karena Kristus akan disalib dan "meninggalkan" mereka. Salib Kristus menggambarkan dua hal yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu, bagi umat pilihan Tuhan, itu merupakan suatu anugerah yang harus direnungkan dan diresponi dengan sungguh-sungguh. Artinya, ketika kita berada pada suatu momen menjelang Jumat Agung, tidak seharusnya kita berhura-hura, tetapi diam merenungkan pengorbanan Kristus menuju Via Dolorosa. Kedua, bagi umat yang sudah ditetapkan untuk binasa, salib Kristus merupakan tertawaan/hinaan (lihat kembali Yohanes 18:20a dengan perkataan, "dunia akan bergembira."). John Gill dalam tafsirannya langsung menunjuk "dunia" kepada orang-orang Yahudi dan para ahli Taurat yang tidak percaya. Mengapa mereka yang menolak Kristus menjadi bergembira ? Karena mereka berpikir bahwa Kristus itu merugikan mereka. Bagi orang-orang Yahudi dan para ahli Taurat yang tidak mau percaya, bukankah Kristus selalu "merugikan" mereka karena telah mengobrak-abrik kemunafikan mereka? "Wajar" saja, kalau Kristus dimusuhi. Dan ini juga merupakan refleksi bagi kita. Ketika kita berdosa dan Tuhan membukakan realita keberdosaan kita, apakah kita bersikap sombong seperti orang-orang Yahudi dan para ahli Taurat yang tidak percaya yang akhirnya menyalibkan Kristus ataukah kita memiliki kerendahan hati seperti para murid-Nya ? Selanjutnya, dukacita yang dialami oleh para murid-Nya karena "ditinggalkan" oleh Kristus yang disalib ternyata tidak berlarut-larut, karena dukacita itu sebenarnya sementara dan dukacita itu "akan berubah menjadi sukacita." Pada saat Kristus disalib, para murid menjadi berdukacita, sedangkan dunia bergembira, tetapi ketika mereka mengerti makna pengorbanan-Nya dan realita kebangkitan-Nya serta kenaikan-Nya, maka para murid tidak lagi berdukacita tetapi bersukacita, sedangkan dunia yang tadinya bergembira akan menjadi bersusah hati, mengapa ? Karena dunia menggambar kan umat yang telah ditetapkan untuk binasa) yang dahulu mengolok-olok Kristus, sekarang menjadi hidup yang tidak berpengharapan disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri yang menolak Kristus. Di sini, kita belajar mengenai pengertian dukacita dan sukacita sejati. Dukacita dan sukacita sejati bukan tergantung pada hal-hal fenomenal, tetapi pada esensi. Di dalam refleksi kita ini, kita menjumpai bahwa dukacita dan sukacita sejati berpusat kepada Kristus. Ketika orang percaya di dalam Kristus dan menerima-Nya sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat (karena Roh Kudus telah melahirbarukannya), maka pasti dirinya menemukan sukacita sejati dan mampu menempatkan dukacita dan sukacita secara benar. Mereka menangisi apa yang Tuhan tangisi dan bersukacita akan apa yang Tuhan senangi. Misalnya, ketika melihat dosa, umat pilihan-Nya yang percaya pasti ikut bersedih, sebaliknya ketika ada seorang yang baru diinjili mau bertobat dan percaya kepada Kristus, umat pilihan-Nya ini akan bersukacita karena Tuhan bersukacita. Itu yang disebut oleh Pdt. Dr. Stephen Tong sebagai menyangkal diri, yaitu menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya, umat yang sudah ditetapkan untuk binasa yang sengaja menolak Kristus tidak akan pernah mengerti arti sesungguhnya dukacita dan sukacita. Sehingga tidak heran, untuk hal-hal remeh, mereka dengan mudahnya "bersukacita", sedangkan untuk hal-hal yang bernilai tinggi, mereka menolaknya. Itu adalah gambaran manusia BERDOSA yang terus merasa diri paling hebat, berkuasa, pintar, dll, padahal RUSAK TOTAL. Hari ini, ketika Anda merenungkan bagian ini, sadarkah Anda akan realita keberdosaan Anda sendiri ? Setiap kita itu seperti yang Tuhan Yesus ajarkan adalah kuburan yang dilapisi hal-hal yang baik (wewangian, peti yang indah), tetapi isinya adalah bau busuk. Ketika kita menyadari kebusukan kita, maukah kita (khususnya Anda) meresponi panggilan untuk kembali bertobat dan percaya di dalam Kristus ? Ketika seseorang percaya di dalam Kristus, ia pasti tidak akan binasa (Yohanes 3:16), melainkan beroleh hidup yang kekal, dan tentunya mendapatkan pengharapan hidup yang pasti yang tidak pernah akan dijumpai pada filsafat, agama, kebudayaan manapun di dunia ini. Kristus adalah satu-satunya pengharapan bagi umat manusia. Bertobatlah dan kembali kepada-Nya sekarang ! Soli Deo Gloria. ============================================= From: jameswidodo Ini Aku, Utuslah Aku Oleh: Pdt. Yohan Candawasa, 040207 di GKKK Solo Mat 9: 35-38 Ada beberapa hal yang (mulai) menghilang dalam gereja: 1. Cara pandang/cara berpikir/cara ber-respon seseorang terhadap suatu masalah dapat berbeda sekali dengan cara pandang orang yang lain. Jadi untuk suatu hal yang sama, manusia bisa ber-respon dengan cara yang berbeda. Hal ini terjadi karena manusia melihat suatu hal berdasarkan tujuan tertentu, apakah untuk kepentingan yang melihat atau untuk kepentingan yang dilihat. Misalnya waktu akan menyebrang kita melihat mobil-mobil di kanan-kiri untuk kepentingan kita yang melihat (kita yang mendapat manfaat), bukan untuk kepentingan/kebutuhan yang dilihat. Sering kali cara pandang kita dalam segala hal hanya untuk kepentingan kita pribadi. Hal ini berbeda dengan cara pandang Yesus dalam Mat 9: 35-38 dimana Ia melihat orang banyak dan hati-Nya tergerak untuk berbelas kasih kepada mereka, untuk kepentingan orang banyak yang bagaikan domba tanpa gembala. Kita dapat melihat suatu hal yang sama tetapi dengan respon yang sama sekali berbeda dibandingkan dengan Tuhan Yesus. Yesus selalu melihat dalam konteks kebutuhan orang lain bukan kebutuhan diri-Nya sendiri. Kita harus belajar untuk melihat untuk kepentingan yang dilihat, mengikis egoisme kita. 2. Belas kasih bukan sekedar kasihan menjadi langka di dunia bahkan di gereja karena: . Sibuk sehingga tidak punya waktu buat diri sendiri apalagi untuk orang lain. Jaman ini telah mengikis rasa belas kasihan kita kepada sesama. . Harga belas kasih mahal. Contoh kisah orang Samaria yang menolong orang yang dirampok. Kita lihat dalam Luk 10: 33-35 berapa harga belas kasih orang Samaria. Saat ini rasa belas kasih telah menghilang bahkan di dalam gereja karena kita telah `membunuh' belas kasih itu. . Sejak kecil banyak anak-anak tidak dididik dengan belas kasih atau dikasihi sehingga mereka tumbuh dengan penuh luka jiwa dan kekosongan jiwa. Jaman ini adalah jaman Narcis dimana anak-anak bertumbuh dengan tidak mendapat hal-hal yang seharusnya didapatnya dan mendapat hal-hal yang tidak seharusnya ditanggungnya. Sebuah survey di sebuah sekolah Kristen di Solo mengatakan 80% remaja merasa keluarganya tidak memberi perhatian kepadanya. Orang tumbuh tanpa belas kasih akan sangat sukar untuk mengasihi orang lain. Kita lihat banyak orang datang ke gereja untuk memenuhi kebutuhan narcisnya untuk mendapatkan berkat dan berkat saja bukannya untuk pikul Salib dan berkorban. Berapa banyak kita mendengar kotbah yang menantang untuk berbelas kasih dan berkorban? Hari ini banyak gereja meneriakkan kita akan mendapat dan mendapat segala kebutuhan kita (egosentris), maka mana bisa kita memikirkan kepentingan orang lain. Kita diajar untuk mengejar dunia bukannya mengejar sifat-sifat Tuhan. Ada sebuah kisah nyata tentang seorang hamba Tuhan di Taiwan yang secara berkala datang ke sebuah kuil. Ada kalanya dia cepat pulang tetapi ada kalanya pula dia tidak pulang sampai hari malam. Apakah yang dilakukan sang hamba Tuhan itu? Ternyata dia hanya melihat orang-orang yang berlalu-lalang keluar masuk ke kuil tsb dan menggumulkan hatinya dihadapan Tuhan. Bila hatinya telah tersentuh dengan belas kasih hingga menangisi orang-orang berdosa tsb barulah dia pulang............. 3. Mat 9:35-38 menunjukkan sikap Yesus yaitu: . Melihat orang banyak (melihat dengan mata) . Ber-belas kasih kepada mereka (belas kasih dengan hati) . Mengajak murid-muridnya berdoa untuk meminta penuai-penuai bagi domba-domba yang tak bergembala. Kita baca bahwa murid-murid-Nya setuju dengan-Nya, berarti mereka melihat sama dengan cara Yesus melihat dan berbelas kasih seperti Yesus berbelas kasih. Kita membaca dalam pasal 10 Tuhan menjawab doa murid-murid dengan mengutus mereka sebagai penuai. Jadi yang berdoa adalah sekaligus sebagai jawaban doanya. Siapkah kita diutus oleh Tuhan? Atau kita berdoa dan berharap orang lainlah yang diutus? Hari ini apakah kita berdoa meminta karakter Yesus, meminta mata seperti mata Yesus, hati seperti hati Yesus, merelakan diri untuk melaksanakan jawaban doa atau apakah kita berdoa hanya untuk masalah pribadi kita? Tuhan rindu kita untuk meminta karakter yang serupa dengan karakter Yesus. Brikanku Hati Brikanku hati, sperti hatiMu Yang penuh dengan belas kasihan Brikanku mata, sperti mataMu Memandang tuaian di sekelilingku Brikanku tanganMu `tuk melakukan tugasMu Brikanku kakiMu melangkah dalam rencanaMu Brikanku, brikanku, brikanku hatiMu Kotbah di atas diringkas oleh Hendra dan belum diperiksa oleh pengkotbah ======================================= From: Eksposisi Roma Roma 1:8 : HIDUP YANG BERFOKUS KEPADA KRISTUS oleh : Denny Teguh Sutandio Nats : Roma 1:8 Pada ayat 8, Paulus menyatakan suatu sukacitanya karena dirinya mendengar kesaksian iman para jemaat Roma yang tersiar ke seluruh dunia. Kata "tersiar" di sini diterjemahkan oleh King James Version sebagai is spoken of dari bahasa Yunaninya kataggello yang artinya to proclaim, promulgate, declare, preach, shew, speak of, teach yang dalam bahasa Indonesia secara keseluruhan berarti iman mereka diproklamasikan atau dideklarasikan keluar atau diajarkan ke seluruh dunia (Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari menerjemahkan, "sebab seluruh dunia sudah mendengar bahwa kalian percaya sekali kepada Kristus."). Paulus sadar bahwa iman mereka sampai tersebar luas ke seluruh dunia adalah anugerah Tuhan, sehingga Paulus langsung bersyukur kepada-Nya melalui Kristus karena mendengar berita tersiarnya iman mereka ke seluruh dunia. Matthew Henry dalam tafsirannya Matthew Henry's Commentary on the Whole Bible terhadap ayat ini mengatakan, "In all our thanksgivings, it is good for us to eye God as our God;" Di sini, beliau mengaitkan antara ucapan syukur kepada Tuhan dan melihat Tuhan sebagai Tuhan. Dengan jelas, beliau ingin mengajarkan bahwa ucapan syukur sejati dan beres adalah ditujukan kepada Tuhan sejati. Nah, seringkali di dalam ucapan syukur yang meskipun kita katakan dialamatkan kepada Tuhan, sebenarnya itu hanya klise dan omong kosong belaka, karena ucapan syukur kita tidak pernah melihat Tuhan sebagai Tuhan yang patut disembah dan disyukuri anugerah-Nya. Bukan hanya itu saja, kita baru bisa bersyukur tatkala Tuhan mengabulkan permintaan kita, sedangkan ketika Ia tidak mengabulkan apa yang kita inginkan, kita menjadi marah-marah dan bersungut-sungut. Ini sangat bahaya, karena kita mengaitkan ucapan syukur kita dengan kepuasan diri kita bukan kepuasan diri Tuhan. Ucapan syukur Kristen sejati harus dialamatkan hanya untuk kepuasan dan kemuliaan Tuhan saja dengan melihat Tuhan sebagai Tuhan. Kita kembali kepada ayat 8, di mana Paulus sangat bersyukur ketika mendengar siaran kabar tentang iman jemaat di Roma atau seluruh dunia mendengar bahwa jemaat-jemaat di Roma percaya kepada Kristus. Pertanyaan yang muncul sampai sejauh manakah iman jemaat-jemaat di Roma sehingga Paulus bersukacita karenanya ? Kalau kita memperhatikan konteks, maka kita dapat menemukan dua kondisi yang ada pada jemaat di Roma. Pertama, jemaat-jemaat di Roma berada di dalam kondisi yang makmur dan kaya (Pax Romana). Di Roma, semua kebutuhan tercukupi dan bahkan berlimpah ruah, semua orang di kota ini adalah orang yang rakus dan serakah. Tetapi di tengah kondisi orang-orang di Roma yang begitu jahat, jemaat-jemaat Tuhan di Roma masih dapat mempertahankan kelakuan yang bersih dengan tetap beriman kepada Kristus dan bahkan iman mereka tersiar sampai ke seluruh dunia. Dengan kata lain, cara hidup mereka berbeda dengan cara hidup kebanyakan orang di Roma yang rakus, mabuk-mabukan, pesta pora, dll. Kita berada di suatu negara yang boleh dibilang subur, Indonesia adalah negara yang diberkati Tuhan, meskipun ditambah dengan subur korupsi, kolusi dan nepotisme, tetapi notabene kita hidup di negara yang cukup maju ketimbang negara-negara seperti India atau bahkan Etiopia. Kondisi negara kita yang subur ditambah cuaca yang cukup enak yaitu cuaca tropis yang tidak sampai kepanasan atau kedinginan, orang-orang di dalamnya merasa keenakan dan akhirnya lupa diri serta menjadi malas. Mereka bersantai-santai dan tidak mempergunakan waktu dengan baik dan bijaksana. Apakah kita sebagai orang Kristen juga tidak berbeda dengan mereka yang menghambur-hamburkan waktu mereka sia-sia ? Ataukah kita bahkan lebih buruk dari mereka dengan lebih menghamburkan waktu untuk hal-hal yang sia-sia ? Seringkali kenyamanan kondisi sekeliling kita bisa membuat kita lupa daratan, tetapi melalui ayat ini kita diingatkan untuk berfokus kepada Kristus dengan beriman kepada-Nya, sehingga kita tidak terseret dan terjebak oleh situasi dan kondisi negara kita yang cukup nyaman. Kita tidak boleh lagi mengingat hal-hal yang menyenangkan dan memuaskan diri kita, tetapi kita seharusnya kembali mengerjakan hal-hal yang berguna bagi kemuliaan-Nya. Mengapa ? Karena Tuhan telah menetapkan kita untuk, "melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Tuhan sebelumnya." (Efesus 2:10) Kita bisa melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Tuhan karena kita ini adalah buatan Tuhan melalui Kristus Yesus dan telah diselamatkan di dalam Kristus. Manusia adalah makhluk ciptaan-Nya yang diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya, gambar dan rupa ini adalah gambar dan rupa anak-Nya yang Tunggal (Roma 8:29), sehingga jikalau Tuhan masih bekerja, maka kita sebagai ciptaan-Nya khususnya anak-anak pilihan-Nya pun harus bekerja. Untuk meresponi pergunjingan tentang hari Sabat, Tuhan Yesus berkata, "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga." (Yohanes 5:17) Ini berarti selain Kristus dan Bapa sama-sama adalah Tuhan, ayat ini juga berarti Kristus pun bekerja seperti Bapa-Nya bekerja. Pekerjaan yang Kristus kerjakan adalah mengerjakan apa yang Bapa kehendaki untuk dikerjakan-Nya. Kalau Tuhan Bapa bekerja, maka Kristus pun bekerja, dan otomatis melalui teladan Kakak Sulung kita, kita sebagai anak-anak adopsi-Nya pun harus bekerja. Kedua, kondisi di Roma adalah jemaat-jemaat di Roma mengalami penganiayaan karena mereka menyebut diri mereka Kristen. Orang-orang dunia jika dianiaya, mereka bakalan lari dan menyerahkan apapun juga yang ada pada mereka, yang penting bagi mereka adalah keselamatan dirinya dari amukan massa yang menganiaya. Tetapi jemaat-jemaat di Roma tidak demikian, mereka tetap beriman kepada Kristus dan tidak sedikitpun mereka menyangkal iman mereka, sehingga tidak heran Paulus menghibur mereka bahwa barangsiapa yang menyeru nama Tuhan akan diselamatkan (Roma 10:13). Di tengah ancaman marabahaya dan penganiayaan, kita seringkali hanyut di dalamnya. Bahkan tidak usah terlalu jauh, ketika kita mau menyaksikan iman Kristen kita di dalam lingkungan di mana kita tinggal entah di dalam perkuliahan, tempat kerja, dll, kita seringkali dihina, diejek, difitnah, disalahmengerti, tetapi bagaimana reaksi kita ? Apakah kita tidak lagi mau menyaksikan iman Kristen ? Itu menjadi hal yang perlu kita introspeksi. Di dalam penderitaan dan penganiayaan berat sekalipun, kalau jemaat-jemaat di Roma tetap memfokuskan imannya kepada Kristus dan bukan pada penganiayaan, maka kita juga perlu belajar dari mereka yaitu belajar memfokuskan iman kita kepada Kristus dan bukan pada sesuatu yang menghimpit kita, sehingga kita mampu menerobos keluar dan menang menghadapi setiap penganiayaan. Untuk itulah, di dalam Roma 8:35, Paulus menghibur jemaat di Roma bahwa tidak ada satupun yang mampu memisahkan kita dari kasih Kristus, baik itu penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, pedang, itu tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Bahkan di dalam Roma 8:37, Paulus mengatakan bahwa kita lebih daripada orang-orang yang menang meskipun di dalam Roma 8:36, Paulus mengatakan bahwa kita harus melewati berbagai macam penganiayaan dan penderitaan. Terjemahan ayat 37 di dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari memberikan penjelasan, "Malah di dalam semua nya itu kita mendapat kemenangan yang sempurna oleh Dia yang mengasihi kita!" Terjemahan ini lebih memberikan pengertian kepada kita bahwa justru di dalam penganiayaan sekalipun, kita mendapat kemenangan yang sempurna oleh karena ada yang mengasihi kita yaitu Kristus yang sudah mengalahkan pencobaan demi kita. Sungguh unik pernyataan Paulus ini. Paulus menyingkapkan suatu fakta yang berbeda dari dunia yaitu di dalam penderitaan, kita justru semakin bersukacita, bahkan kita mampu mendapatkan kemenangan yang sempurna melalui Kristus yang telah mati dan bangkit bagi kita. Kasih-Nya memampukan kita bisa menang melawan segala macam penderitaan, karena Ia sendiri pun dicobai dan telah menang mengalahkan pencobaan itu. Demikianlah penulis Ibrani mengungkapkan pengajarannya, "Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai." (Ibrani 2:18). Kalau Kristus sudah menolong kita keluar dari pencobaan, maukah kita juga berusaha dengan bantuan-Nya tidak lagi terjerumus ke dalam pencobaan dan mau mengalahkan pencobaan serta keluar menjadi para pemenang iman ? Kita memang harus menderita aniaya karena nama Kristus (Matius 16:24), tetapi penganiayaan itu tidak seharusnya membuat kita menjadi lesu dan tidak berdaya lalu lemah terhadapnya, melainkan justru membuat kita berani dan tabah menghadapinya karena Kristus di pihak kita, siapa yang dapat melawan kita (Roma 8:31). Maukah kita hari ini memandang Kristus sebagai satu-satunya sumber pengharapan yang sejati di tengah-tengah penderitaan yang mengancam dan godaan materialisme dan hedonisme dunia yang meracuni kehidupan kita ? Amin.

