From: "MANGUCUP" <[EMAIL PROTECTED]>

Beam Me Up, Father !

 
Pada tanggal 28 April 2007 sisa abu kremasi dari James Doohan pemeran dari
Scotty Start Trek akan di luncurkan keruang angkasa melalui pesawat ruang
angkasa SpaceLoft XL. Hal ini tidak akan bisa  terjadi dengan Tuhan Yesus,
karena Ia telah bangkit dan naik ke sorga lagi. Perlu Anda ketahui, bahwa
kalimat dibawah inilah yang terakhir kalinya diucapkan oleh Tuhan Yesus
sebelumnya Ia naik ke sorga. 

„Beam Me Up, Father ! – There’s no intelligent life down here ! 

Maklum manusia pada saat tersebut Go-Block bin Dungu semua, sehingga mereka
tidak mengerti misi kedatangan-Nya Tuhan Yesus !

Apabila Tuhan Yesus bisa naik ke surga, sambil berdoa: “Beam me Up, Father
!” kenapa mang Ucup tidak bisa melakukan hal yang sama? Kapan yah mang Ucup
juga bisa diangkat naik ke surga, sama seperti Scotty eh maksud saya seperti
Tuhan Yesus? Orang mengharap boleh kan! Terkabul tidak nya sih nanti; itu
urusan nomor 17, yang penting mengharap dahulu.

Mang Ucup mengharap bisa naik kesurga seperti Tuhan Yesus, jadi diangkat begitu 
saja, seperti di film Star Trek. Ini kali di Beam, tetapi bukannya kembali ke 
kapal induk melainkan ke sorga secara bleng wuuuu….ush ngilang pulang mudik ke 
kampuang !

Anda jangan ngawur mang Ucup, mana mungkin kita orang hidup bisa diangkat
naik ke sorga seperti di film Star Trek, masalahnya anda harus mati dahulu,
setelah itu baru mang Ucup bisa naik surga! Apakah benar demikian? Tidak!

Ada satu doktrin penting dari agama Kristen yang menyatakan bahwa nanti pada
akhir zaman semua orang kudus akan di “beam” alias diangkat ke surga “tanpa
harus mati terlebih dahulu”! Bahkan karena doktrin ini merupakan suatu yang
bersifat mujijat sehingga banyak orang Kristen sendiri tidak mengetahuinya
bahkan tidak yakin bahwa hal ini bisa terjadi.

Doktrin ini lebih dikenal dengan perkataan “Rapture” dalam bahasa Inggris,
sedangkan perkataan rapture nya sendiri tidak ada di dalam Alkitab bahasa
Inggris, sebab perkataan rapture ini berasal dari bahasa Latin “rapere” yang
berarti “akan diangkat”. Seorang penterjemah Alkitab yang bernama Jerome
menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Latin ia menggunakan perkataan
“rapere = akan diangkat” yang tercantum di dalam ayat dibawah ini 

1 Tesalonika 4:16-17 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu
penghulu malaikat berseru dan sangkakala Tuhan berbunyi, maka Tuhan sendiri
akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu
bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat
bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.
Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.

Jadi di dalam ayat tsb di atas dengan jelas dicantumkan bahwa “kita yang
hidup” pun “AKAN DIANGKAT” – baca di BEAM; bersama-sama menyongsong Tuhan di
angkasa. Wah betapa hebatnya kalau mang Ucup bisa turut diangkat terbang
melayang untuk menyongsong Tuhan di angkasa, mirip Gatotgaca begitu! 

Anda jangan jual kecap di milis mang Ucup, mana mungkin orang bisa naik
surga dengan tubuh seutuhnya, orang yang naik ke surga itu hanya jiwa nya
bukan badan jasmaniahnya. Apakah benar demikian? Kita lihat buktinya saja
orang yang berpengalaman pernah naik ke surga adalah Tuhan Yesus. Ketika
Tuhan Yesus naik ke surga, yang naik ke surga itu bukan arwah-Nya, melainkan
dengan tubuh jasmaniah-Nya seutuhnya. 

Ini bisa saya buktikan berdasarkan fakta. Kalau arwahnya yang naik ke surga, 
tentu Tuhan Yesus tidak akan bangkit kembali, jasad-Nya masih akan tetap berada 
di dalam gua kuburan. Disamping itu sudah dibuktikan dimana murid2nya bisa 
menjamah tubuh Tuhan Yesus, seperti juga menjamah tubuh anda dan saya (Lukas 
24:38-40), bahkan Ia juga membuktikan bahwa yang bangkit itu bukannya roh 
gentayangan, melainkan benar2 tubuh nyata yang masih bisa menyantap ikan 
goreng! (Lukas 24:41-42)

Jadi akan tiba saatnya dimana semua pengikut-Nya nanti akan diangkat naik
kesurga tanpa harus mati terlebih dahulu. Oleh sebab itulah jangan kaget,
apabila pada suatu saat mang Ucup tidak menposting artikel lagi ke milis
ini, bukannya berarti mang Ucup sudah koit, melainkan karena sudah diangkat
(di-beam) terlebih dahulu naik surga. Ini bukannya menyombongkan diri,
hanya sekedar mengharap boleh kan! 

Walaupun demikian sebelumnya kita di-beam atau diangkat untuk menyongsong
Tuhan Yesus ke surga tubuh kita akan dirubah terlebih dahulu menjadi tubuh
yang “bagus, guaanteng” dan kudus. 

Saya tekankan perkataan bagus disini, sebab tubuh mang Ucup sekarang sudah
jelek, seperti juga angkot bokbrok: gembrot, peot dan botakmaupun
sakit-sakitan.  Oleh sebab itulah sebelumnya saya dibeam (diangkat) akan
dirubah menjadi bagus dan gu..anteng terlebih dahulu seperti George Clooney.
Masalahnya malu atuh ooo...oi; kalau harus bertemu dengan Tuhan dalam tubuh
yang sekarang ini. Ketemu istri aza ingin gua…anteng kelihatannya apalagi
mau bertemu dengan Tuhan, enggak salah kan punya pikiran demikian! 

Tubuh mang Ucup bukannya hanya akan dirubah menjadi ganteng seperti Arjuna,
bahkan akan dirubah menjadi seperti Tuhan Yesus! You jangan ngawur mang Ucup
ini namanya sudah menghujat Tuhan. Tidak!

Filipi 3:20-21 ….kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang 
akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang 
mulia…

Tubuh kita yang kotor dan rusak akan di transform terlebih dahulu menjadi tubuh 
yang kudus dan kekal seperti yang tercantum di 1 Kor 15:51-52 Sesungguhnya aku 
menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita 
semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang 
terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan 
dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.

Jadi tidaklah salah kalau mang Ucup juga mempunyai harapan dan keyakinan
bahwa saya juga nanti akan di beam naik kesurga dengan tubuh seutuhnya
seperti Tuhan Yesus pada 2000 th yang lampau.

1 Yohanes 3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak
Tuhan, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu,
bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti
Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

Oleh sebab itulah mang Ucup nungging berkali-kali sehari sambil berdoa:
Please, Beam me Up Father, There’s no intelligent life down here !

Maranatha
Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED] 
Homepage: www.mangucup.org 
==========================================
From: Donny A. Wiguna 

Renungan Paskah: Tanggung Jawab dan Kemenangan
Penulis: Donny Adi Wiguna

Mat 25:21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai
hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan 
memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah
dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. 

Setiap orang menginginkan hidup yang lebih baik. Kalau ditanya pada saya atau 
pada Anda, kita semua dengan spontan akan mengangguk mantap mengatakan,
"ya, saya mau hidup lebih baik." Kebanyakan dari kita mengartikan bahwa kita
ingin hidup lebih sejahtera, lebih makmur, atau lebih kaya. Sebagian orang lagi 
mengartikannya bahwa kita ingin memiliki hidup yang lebih bermakna, ada artinya.

Karena, mungkin saja selama ini kita bergumul dengan masalah keseharian:
bagaimana mencari makan hari ini? Bagaimana cara membayar uang kontrakan,
atau uang sekolah anak? Bagi sebagian orang lain, hal-hal itu bukan suatu beban 
yang terlalu sulit, tetapi hidupnya pun terasa begitu-begitu saja, seperti 
putaran roda sepeda yang dibalik. Berputar cepat, tetapi tidak melaju 
kemana-mana. Kita melalui masa-masa baik dan masa-masa buruk, mengerjakan 
sesuatu dengan mudah namun kemudian menjadi susah, atau sebaliknya. Kita 
bergumul dengan banyak masalah, tapi setelah semuanya berlalu, kita sampai di 
mana? Untuk sesaat kita menemukan ketenangan, lalu kemudian kembali lagi dalam 
persoalan dan kesulitan lain.

Setelah setahun atau dua tahun atau tiga tahun, semuanya lantas menjadi suatu 
rutinitas. Tak ada yang baru di bawah matahari, kata Pengkotbah. Yang sekarang 
ada dahulu pernah ada, dan nanti akan ada lagi. Kalau begitu, bagaimana kita 
dapat mengatakan bahwa kita benar-benar menginginkan hidup yang lebih baik? 
Jika pada akhirnya kita hanya melakukan sesuatu yang berulang, dengan hasil 
yang kurang lebih tidak banyak berbeda, lantas apa yang berubah?

Maka, kata-kata "saya ingin hidup lebih baik," tak lebih dari slogan belaka.
Itu hanya ide dalam pikiran, suatu ekspresi yang kita ungkapkan bagi diri 
sendiri dan orang lain, tanpa pernah benar-benar kita inginkan, benar-benar 
kita usahakan. Karena pada dasarnya kita tidak ingin melakukan hal-hal yang 
lain atau berbeda, kita tidak berani melangkah keluar dari apa yang sudah biasa 
membatasi kita -- bahkan ketika pagarnya sudah dicabut dan bekasnya tidak ada 
lagi. Kita dibelenggu oleh pikiran kita sendiri, atas nama kebiasaan dan 
tradisi yang mungkin kita tidak tahu lagi apa artinya. Kita hanya melakukan 
hal-hal yang biasanya kita lakukan. Itu saja.

Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang Kerajaan Sorga, seperti seorang
Tuan yang pergi ke luar negeri dan mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya.

Bagaimana jika hamba-hambanya itu adalah kita? Mari renungkan. Jika kita
adalah orang-orang yang biasa melakukan sesuatu sesuai tradisi, seperti
kebiasaan, maka kita akan menjadi hamba yang terbiasa duduk menunggu
perintah dari Tuan. Jika kita tidak diberi perintah, kita tidak bergerak.
Jika kita tidak mendapat penegasan akan tugas dan wewenang, kita memilih
untuk duduk diam. Itu kebiasaan kita. Itu kebiasaan banyak orang, bahkan di
jaman Tuhan Yesus dahulu.

Kita, dari segala orang lain di atas muka bumi ini, mendapat karunia karena
TUHAN berkenan memilih kita, mengaruniakan segala berkat dan kasih karunia.
Kita memperoleh hadiah terbesar dan terbaik dan termahal yang dapat 
dibayangkan: menerima darah Kristus yang menyelamatkan kita. Oh, betapa 
mahalnya! Betapa besarnya! Betapa baiknya! Ini memungkinkan kita keluar dari 
penjara perbudakan dosa, menjadi orang yang benar-benar merdeka karena Anak 
telah memerdekakan kita.

Bukan itu saja, kita juga menerima berbagai karunia yang diperlukan untuk
hidup dengan benar. Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Efesus, "Karena
kita ini buatan Tuhan, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan
pekerjaan baik, yang dipersiapkan Tuhan sebelumnya. Ia mau, supaya kita
hidup di dalamnya." (Ef 2:10). Ya, ini bagian kita. Kemerdekaan yang kita
terima juga membawa beban tanggung jawab untuk melakukan apa yang seharusnya
kita lakukan, bahkan untuk segala hal yang tidak biasa kita lakukan.

Sekarang, Tuhan Yesus telah memberikan darah-Nya, daging-Nya, dan nyawa-Nya
bagi kita. Kita bebas. Kita menerima talenta, karunia yang diberikan-Nya
tanpa kita minta. Apakah kita lantas bersikap diam? Apakah kita mengatakan,
bahwa kita sudah biasa begini dan tidak ada yang memerintah, maka sebaiknya
kita begini-begini saja, diam saja? Lalu, kita menyembunyikan talenta yang
kita terima itu, sambil merasa marah terhadap Tuhan?

Berapa lama kita sudah merayakan Jumat Agung dan Paskah? Berapa banyak kita
sudah membaca dan merenungkan tentang penderitaan Kristus, diikuti oleh
kebangkitan-Nya yang luar biasa? Tidakkah kita setiap tahun diingatkan,
bahwa kita menerima talenta yang LUAR BIASA berharga, secara cuma-cuma?

Namun, kita duduk saja. Kita hanya melakukan hal-hal yang biasanya kita
lakukan. Itu saja.

Belajarlah dari hamba-hamba sang Tuan! Ketika ia menerima talenta itu, ia
tidak menerima visi atau target yang harus ia capai. Ia hanya tahu, bahwa ia
bertanggung jawab atas harta yang dipercayakan kepadanya. Maka, ia melakukan
sesuatu. Ia berusaha. Ia berpikir, merencanakan, mengerjakan, menghidupi. Ia
mendapat 5 talenta, ia berusaha agar sedikitnya ia mendapat 5 talenta juga.
Yang lain mendapat 2 talenta, berusaha agar sedikitnya mendapat 2 talenta
juga. Perhatikan: tidak ada perintah di sana. Sang Tuan ada di luar negeri,
tidak memberi instruksi spesifik tentang apa yang harus dicapai. Ini hanya
masalah tanggung jawab, yang menimbulkan tekad untuk melakukan hal-hal yang
lain, yang memberi hasil.

Kalau kita menerima yang luar biasa dari TUHAN, bukankah kita pun seharusnya
mengerjakan keselamatan yang TUHAN sudah berikan? Atau kita lebih senang
diam dalam kedamaian dan ketenteraman, bebas dari masalah dan hiruk pikuknya
dunia? Tuhan sudah menyelamatkan kita sedemikian rupa, tidakkah kita pun
seharusnya tergerak untuk sungguh-sungguh hidup dalam pekerjaan baik yang
telah Tuhan persiapkan sebelumnya?

Hidup yang lebih baik adalah hidup memenuhi cita-cita, hidup yang bertanggung 
jawab. Tuhan Yesus sudah memberikan KEMENANGAN atas dosa dan maut, dan 
seharusnya hidup kita berpadanan dengan kemenangan itu. Kita lebih besar dari 
dosa, lebih atas dari kuasa maut; siapa yang dapat memisahkan kita dari kasih 
Kristus?

Hidup ini bukan ban sepeda yang ditaruh terbalik, yang berputar cepat di
udara. Bukan! Kita sedang menapaki suatu jalan, dan di sana ada tantangan,
ada resiko, ada kesulitan. Pikirkanlah, bukankah hamba yang mengerjakan 5
dan 2 talenta itu dapat dengan mudah menghasilkan sejumlah yang sama? Tidak.
Perhatikan jawaban hamba yang disebut jahat dan malas, bahwa ternyata
hamba-hamba yang lain harus bersusah payah menabur dan menuai, menanam dan
memungut. Bisakah kita bayangkan bagaimana resiko yang dihadapi hamba-hamba
yang baik dan setia ini? Bisa saja, ladang mereka diserang hama, dimakan
belalang. Bisa saja, ada banjir besar yang merusakkan ladang. Barangkali
juga mereka harus rela menanggung kerugian-kerugian yang terjadi, karena
usaha manusia ada jatuh dan bangunnya.

Pemberian hamba-hamba kepada Tuannya adalah saat-saat kemenangan, bahwa
inilah hasil dari jerih payah kami, kesusahan kami, juga kerja keras kami.
Inilah tanggung jawab yang kami berikan atas harta yang telah dititipkan, di
mana semuanya berkembang 100%. Untuk itu mereka harus berani mengambil
langkah, mengerjakan hal-hal baru, menghadapi tantangan baru. Itulah yang
dihargai oleh Tuan. Itulah sebabnya, kata-kata Tuan itu terdengar penuh rasa
haru, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau
telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab
dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."
Oh ya, betapa bahagianya Sang Tuan! Betapa bahagianya sang hamba!

Seperti para hamba, kita pun pada mulanya hanya orang yang tidak punya
apa-apa, yang berputaran di bawah matahari dunia. Tapi Tuhan sudah memilih
kita, mengangkat kita, memberi kita kepercayaan. Paskah kali ini, apa yang
berbeda yang kita berikan?

Sudah waktunya kita melangkah keluar dengan penuh keberanian. Rakyat di
negeri ini masih banyak yang buta dan tuli akan Tuhan, masihkah kita ragu
mengetuk pintu dan memberitakan Kabar Baik? Rakyat di negeri ini masih banyak 
yang hidupnya kacau dan melarat, bahkan mereka tidak bisa mengelola harta 
mereka sendiri. Masihkah kita mau mendidik orang dan mengajarkan tentang 
kebenaran dan keadilan serta cara-cara yang lebih bijak untuk mengelola 
kehidupan? Masihkah kita peduli bahwa ada banyak anak bangsa yang jatuh dalam 
dosa, yang terbelenggu oleh kuasa-kuasa roh jahat dunia?
Masihkah kita peduli bahwa TUHAN memberikan kita banyak karunia, bukan hanya
untuk bersenang-senang di balik dinding-dinding gereja?

Besok kita merayakan Perjamuan Kudus, di hari Jumat Agung. Lusanya, kita
merayakan Paskah, kebangkitan Kristus. Kemenangan kita. Kita merayakannya
dengan meriah, dengan khidmat, dengan akbar, dengan megah. Kita mencari 
kebaikan bagi kita, kedamaian bagi kita, keselamatan bagi kita. Di luar itu, 
kita mengerjakan segala sesuatu seperti apa adanya. Yang bekerja dengan 
manipulasi, tetap memanipulasi. Yang melayani dengan tinggi hati, tetap tinggi 
hati. Kita mempersiapkan Paskah seperti juga tahun-tahun yang lalu, dengan 
Paduan Suara dan Drama dan kotbah yang menggetarkan, tapi kita masih saja tetap 
sama.

Saatnya, Paskah kali ini kita benar-benar berdiri, bergerak, karena ada banyak 
pekerjaan baik yang harus kita lakukan. Sudah waktunya kita berhenti dari 
kebiasaan kita, seperti kebiasaan meributkan urusan-urusan kecil dan soal 
tersinggung dan harga diri, agar kita bisa mengangkat wajah dan memandang 
ladang yang sudah menguning. Marilah kita bekerja, meninggalkan segala beban 
kita dengan pandangan dan tujuan yang terarah pada Kristus Yesus, Tuhan kita.

Selamat Paskah!

Salam kasih,
Donny

Kirim email ke