From: irnawan silitonga 

Renungan Keluarga: Bilangan ( 6 )

"Hitunglah jumlah segenap umat Israel.catatlah nama semua laki-laki di Israel 
yang berumur dua puluh tahun keatas dan yang sanggup berperang." [ Bilangan 
1:2-3]. 
"Ketika Abram mendengar bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah 
orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus 
delapan belas banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan " [ Kejadian 14:14 ].
".supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis; karena perjuangan 
kita bukanlah melawan darah dan daging." [ Efesus 6:11-12 ]. 

Di dalam kitab Kejadian, benih Israel masih berada di dalam tubuh bapa 
leluhurnya, Abraham. Di dalam kitab Keluaran, mereka ada dibawah perbudakan 
Mesir. Di dalam kitab Imamat, mereka sudah berkumpul dan berada dalam 
perkemahan jemaat. Dalam kitab Bilangan, mereka sudah memasuki disiplin "padang 
gurun". Sejalan dengan hal diatas, dalam kitab Kejadian, kita melihat panggilan 
dan pilihan Tuhan . Dalam kitab Keluaran, kita melihat darah penebusan Anak 
Domba. Dalam kitab Imamat, kita melihat penyembahan dan pelayanan Kemah Suci. 
Kemudian, didalam kitab Bilangan, kita melihat pasukan, yaitu orang-orang yang 
dapat berperang. 

Agar keluarga Yakub dapat menjadi keluarga yang sanggup untuk berperang, 
dibutuhkan beberapa langkah atau tahap yang harus dilaluinya. Keluarga ini 
haruslah keluarga yang dipilih Tuhan. Mereka haruslah ditebus oleh darah Anak 
Domba. Mereka haruslah bertekun dalam pelayanan Kemah Suci. Kemudian, barulah 
mereka menjadi keluarga yang dapat berperang. Walaupun ternyata generasi 
pertama Israel gagal dalam
peperangan, namun generasi keduanya berhasil mewarisi tanah perjanjian. 

Keluarga yang telah dipilih Tuhan, pada akhirnya haruslah menjadi keluarga yang 
dapat berperang. Demikianlah yang terjadi dengan keluarga Abraham, sesuai ayat 
kita diatas. Ketika Lot ditawan, maka Abraham mengerahkan semua orang yang 
lahir di rumahnya
untuk melawan musuh. Dan akhirnya, mereka berhasil.
Keberhasilan keluarga Abraham dalam berperang disebabkan mereka adalah 
orang-orang yang terlatih. Mereka bukan saja melatih kekuatan fisiknya, tetapi 
juga strategi dalam berperang. 

Bagaimana dengan keluarga-keluarga Kristen saat ini ?
Apakah kita berperang juga ? Tentu, hanya perjuangan kita bukanlah melawan 
manusia, tetapi melawan tipu muslihat iblis, melawan roh-roh jahat di udara. 
Kekuatan-kekuatan iblis dan roh-roh jahatnya sangat nyata, tetapi keluarga kita 
harus berperang dengan
mengenakan selengkap senjata Tuhan. Paulus menguraikan perlengkapan senjata 
Tuhan dalam Efesus pasal 6 dengan lengkap. Keluarga kita harus belajar 
mengenakannya. 

Dalam peperangan, kita tidak hanya membutuhkan senjata saja, tetapi juga 
strategi. Dan sebagaimana kita ketahui, strategi disusun dan dibuat oleh sang 
jendral. Dalam pengertian tertentu, bapa adalah "jendral" dalam keluarga 
tersebut. Belum lama ini kita
mendengar ada satu keluarga, dimana sang ibu melakukan bunuh diri dengan minum 
racun, setelah terlebih dahulu membunuh keempat anaknya dengan racun yang sama.
Peristiwa ini sangat memilukan hati kita semua. Sang bapa merasa sangat 
terpukul, dan sama sekali tidak menyangka bahwa istrinya akan berbuat seperti 
itu.
Sebagai "jendral" dalam keluarganya, nampaknya bapa ini telah salah menerapkan 
strategi. Kemungkinan besar juga salah berperang, karena tidak mengenakan 
perlengkapan senjata Tuhan. Semoga "jendral-jendral" dalam keluarga Kristen 
berperang dengan seluruh perlengkapan senjata Tuhan, dan menerapkan strategi 
yang tepat bagi keluarganya. Amin.
====================================================
From: irnawan silitonga 

Renungan Keluarga: Bilangan ( 7 )

"Inilah keturunan Harun dan Musa pada waktu TUHAN berfirman kepada Musa di 
gunung Sinai " [ Bilangan 3:1]. 
"maka berdirilah Musa di pintu gerbang perkemahan itu serta berkata: 'Siapa 
yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku !' Lalu berkumpullah kepadanya
seluruh bani Lewi " [ Keluaran 32:26 ]. 

Istilah 'keturunan' pada Bilangan 3:1 diatas, dapat juga diterjemahkan 'kisah'. 
Karenanya, ayat diatas dapat diterjemahkan, "Inilah kisah (keluarga) Harun dan 
Musa.". Pasal 3 dan 4 kitab ini menceritakan kisah keluarga Harun dan Musa, 
ketika mereka masih berkemah di gunung Sinai. 

Sebagaimana kita ketahui bahwa Keluarga Yakub membuat anak lembu emas, ketika 
mereka baru saja mengikat perjanjian dengan Tuhan Israel di gunung Sinai 
(Kel.32). Sebenarnya, Tuhan mempunyai rencana bahwa seluruh keluarga Yakub 
menjadi kerajaan imam, dalam arti semua anggotanya menjadi imam-imam bagi Tuhan 
(Kel. 19).
Namun, ketika mereka gagal dengan membuat anak lembu emas, seluruh bani Lewi 
datang berkumpul kepada Musa sebagai tanda bahwa mereka memihak kepada Tuhan.
Karena tindakannya ini, maka Tuhan tetap menjadikan suku Lewi sebagai yang 
berhak mendekat kepada Tuhan, dan keluarga Harun menjadi imam-imam bagiNya.
Demikianlah, kisah yang terjadi pada keluarga Harun dan Musa. 

Selanjutnya, pada pasal 3 dan 4 kitab Bilangan, kita lihat bagaimana keluarga 
Harun dan juga suku Lewi hidup dan bekerja diseputar Kemah Suci. Setelah 
dihitung, masing-masing dari mereka mendapat tugas dan tanggung jawab tertentu 
dalam pelayanan Kemah Suci. Mereka berkemah disekeliling Kemah Suci, hidup dan 
bekerja dalam pelayanan Kemah Suci. Mereka tidak perlu kuatir dengan kehidupan 
lahiriah dan jasmani mereka, karena kehidupan mereka dipelihara Tuhan melalui 
persembahan-persembahan dari Umat Israel yang lainnya.
Hak istimewa mereka adalah bahwa mereka dapat mendekat kepada Tuhan. Mereka 
dapat menikmati Tuhan dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh Umat Israel 
lainnya. Semua ini disebabkan mereka memihak kepada Tuhan, dan tetap memegang 
perjanjianNya. 

Tetapi, kisah keluarga Harun tidak sampai disini saja.
Peristiwa Nadab dan Abihu, yang mati dihadapan Tuhan ketika mereka 
mempersembahkan api yang asing, menunjukkan tanggung jawab yang berat bagi 
orang yang melayani Tuhan. Keluarga Harun memiliki hak istimewa dan juga 
tanggung jawab yang berat. 

Melalui kisah keluarga Harun dan Musa ini, kita dapat mengambil beberapa 
pelajaran. Pertama, jika kita mengamati keluarga-keluarga Kristen saat ini, 
nampaknya tidak semua keluarga mengambil keputusan memihak kepada Tuhan dan 
melayaniNya. Bukan berarti keluarga ini murtad atau meninggalkan Tuhan, tetapi, 
sebagaimana Umat Israel lainnya di gunung Sinai, mereka tidak mendekat kepada 
"Kemah Suci", dan
kehidupan mereka tidak berada dan terpusat pada "Kemah Suci". Kedua, 
keluarga-keluarga yang hidupnya terpusat pada "Kemah Suci", mendapat hak 
istimewa untuk tidak perlu kuatir akan kehidupan lahiriah dan jasmani mereka. 
Tuhan memberi iman sedemikian sehingga mereka tidak kuatir dan ragu akan 
pemeliharaanNya. Dan, yang
terutama, mereka dapat menikmati Tuhan dengan cara yang khusus dan intim. 
Semoga keluarga kita hidup dan berada diseputar "Kemah Suci". 
===============================================
From: irnawan silitonga 

Renungan Keluarga: Bilangan ( 8 )

"TUHAN berfirman kepada Musa: 'Perintahkanlah kepada orang Israel, supaya semua 
orang yang sakit kusta.semua orang yang najis.kau suruh pergi, supaya mereka 
jangan menajiskan tempat perkemahan dimana Aku diam di tengah-tengah mereka " 
[Bilangan 5:1,3].
".Apabila seseorang.melakukan sesuatu dosa terhadap sesamanya manusia.maka 
haruslah ia mengakui dosa.dan kemudian membayar tebusan..." [ Bilangan 5:6-7 ].
".apabila roh cemburu menguasai suami, sehingga ia menjadi cemburu terhadap 
isterinya." [ Bilangan 5:14 ]. 

Bilangan pasal 5 berbicara tentang pentingnya suatu kesalahan diselesaikan 
dengan tuntas, sesuai dengan ketentuan yang telah Tuhan berikan. Alasan yang 
Tuhan berikan ialah agar perkemahan dimana Tuhan berdiam di tengah-tengah 
keluarga Yakub jangan dinajiskan. Sebab, kehadiran Tuhan ditengah-tengah 
keluarga merupakan kunci menuju kebahagiaan. 

Prosedur yang Tuhan berikan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di dalam 
keluarga Yakub berbeda-beda. Jika masalahnya mengenai adanya orang yang 
berpenyakit kusta, atau yang najis karena sesuatu hal, maka penyelesaiannya 
adalah menyingkirkan atau mengeluarkan orang-orang tersebut keluar perkemahan.
Jika masalahnya mengenai perbuatan salah oleh seseorang, maka orang tersebut 
haruslah mengakui dosanya dan membayar tebusan salahnya. Jika masalahnya
mengenai hal kecemburuan yang menguasai seorang suami, maka dilakukan suatu 
prosedur sedemikian sehingga sang isteri dapat teruji apakah memang ia bersalah 
atau
tidak. 

Apapun masalah yang ada dalam keluarga Yakub, haruslah diselesaikan dengan 
tuntas sesuai prosedur yang Tuhan tetapkan. Karena jika tidak diselesaikan, 
maka yang
terkena akibatnya tidak hanya orang yang melakukan kesalahan, melainkan seluruh 
Keluarga. Kita teringat peristiwa dimana Akhan berubah setia dengan mangambil
barang-barang yang dikhususkan itu ( Yosua 7 ). Karena perbuatannya, seluruh 
Israel mengalami dampaknya.
Mengapa? Karena Alkitab menganggap perbuatan Akhan adalah juga perbuatan 
Israel, sesuai dengan yang tertulis pada ayat 1, "Tetapi orang Israel berubah 
setia.". Jadi, satu anggota keluarga berbuat salah, maka yang terkena dampaknya 
adalah seluruh keluarga, demikian juga berlaku sebaliknya. 

Dalam kasus keluarga Yakub, Tuhan memerintahkan Musa atau para Imam untuk 
mengambil inisiatif menyelesaikan masalah yang ada. Artinya, para pemimpin atau 
kepala keluargalah yang harus bertindak menyelesaikan masalah. Tanggung jawab 
penyelesaian masalah terletak diatas pundak kepala keluarga. Itu sebabnya, para
kepala keluarga perlu tanggap dan waspada terhadap masalah yang timbul dalam 
keluarganya, serta memahami prosedur penyelesaian yang Tuhan tetapkan dalam
firmanNya, jika ia menghendaki Tuhan tetap berdiam di tengah-tengah keluarganya.

Bagaimana jika masalah itu terjadi karena kesalahan sang suami sebagai kepala 
keluarga? Disinilah perlunya sikap rendah hati dari kepala keluarga. Mengaku 
salah
dan meminta maaf terhadap isteri dan anak-anak, serta minta didoakan, 
seringkali merupakan sesuatu yang Tuhan tuntut dari seorang suami yang 
bersalah. Jika masalah nya dibiarkan berlarut-larut, maka kehadiran Tuhan juga 
akan berangsur-angsur hilang dari keluarga tersebut. Kemuliaan Tuhan semakin 
tidak nampak dalam keluarga itu. 

Semoga keluarga-keluarga Kristen, khususnya seorang suami, tidak mengabaikan 
masalah yang ada, melainkan menyelesaikannya sesuai prosedur yang telah Tuhan
tetapkan dalam firmanNya. Amin.
=====================================================
From: irnawan silitonga 

Renungan Keluarga: Bilangan ( 9 )

".nazar orang nazir, untuk mengkhususkan dirinya bagi TUHAN, maka haruslah ia 
menjauhkan dirinya dari anggur.selama waktu nazarnya sebagai orang nazir
janganlah pisau cukur lalu di kepalanya. selama waktunya ia mengkhususkan 
dirinya bagi TUHAN, janganlah ia dekat kepada mayat orang." [ Bilangan 2-6 ]. 

Bilangan pasal 6 menguraikan peraturan yang harus diikuti bagi orang yang 
mengkhusus kan dirinya bagi Tuhan. Ada tiga hal yang harus diperhatikan bagi 
orang nazir. 
Pertama, ia harus menjauhkan dirinya dari anggur. Disini, anggur mengungkapkan 
kesukaan jasmani dan kesukaan yang ada di muka bumi ini. Tidak salah bagi 
seseorang untuk menikmati anggur dalam hidupnya, tetapi jika ia mengkhususkan 
dirinya bagi Tuhan, maka ia harus menahan diri untuk tidak menikmati kesenangan 
jasmani, selama tanda kenaziran bagi Tuhannya ada diatas kepalanya.

Kedua, orang nazir tidak boleh memotong rambutnya.
Tidak boleh pisau cukur lalu dikepalanya. Jadi, ia harus membiarkan rambutnya 
panjang. Apakah artinya ini ? I Korintus 11:14 menegaskan, "Bukankah alam 
sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia 
berambut panjang ". Jadi, bagi orang nazir, ia harus merelakan dirinya untuk 
terhina dan tidak dihargai orang, dalam perkara-perkara alamiah. Tidaklah salah 
jika seseorang dihargai karena pendidikannya, penampilannya, dan pencapaiannya 
dalam bidang-bidang tertentu, namun bagi orang nazir, ia harus rela kehilangan 
hal-hal tersebut. 

Ketiga, orang nazir tidak boleh dekat dengan mayat, sekalipun itu anggota 
keluarganya yang terdekat.
Artinya, orang nazir tidak boleh dekat dengan maut. Haruslah ia secara khusus 
mendekatkan diri kepada Tuhan, lebih daripada orang-orang yang tidak 
mengkhususkan dirinya bagi Tuhan. 

Demikianlah peraturan bagi keluarga Yakub, yang mengkhususkan dirinya bagi 
Tuhan. Ketiga peraturan diatas haruslah benar-benar ditaati. Jika salah satunya 
dilanggar, maka kenazirannya batal, bahkan ia dianggap berdosa. Sebagai 
keluarga-keluarga Tuhan,
bagaimana kita menerapkan perihal kenaziran ini sekarang ? Memang kita telah 
dikuduskan oleh pengorbanan Kristus. Kita adalah keluarga yang telah kudus, 
artinya, telah dipisahkan semata-mata hanya untuk maksud-maksudNya saja. Kita 
tidak mengkhususkan diri sejangka waktu, sebagaimana yang dilakukan oleh 
sebagian dari keluarga Yakub. 

Karena keluarga kita telah dikuduskan, maka, sejalan dengan peraturan-peraturan 
yang berlaku bagi keluarga Yakub, kita juga harus mengingat firman Tuhan dalam 
I Timotius 6:8-10 yang demikian bunyinya, "Asal ada makanan dan pakaian, 
cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh kedalam pencobaan. Sebab oleh  
memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman.". Tidak salah jika 
Tuhan memberi kekayaan pada keluarga kita. Tidak salah jika Tuhan memberi kita 
hal-hal yang dapat dinikmati di muka bumi ini. Tidak salah juga jika orang lain 
menghargai keluarga kita,
karena hal-hal yang telah dicapai selama di muka bumi ini. Tetapi kita harus 
selalu mengingat bahwa keluarga kita telah kudus, dalam arti terpisah dari gaya 
hidup
dunia ini. Keluarga kita bukan berasal dari dunia ini, dan tidak mengejar 
perkara-perkara dunia ini. Memang keluarga kita harus menjadi garam dan terang 
dunia.
Keluarga kita bukan pertapa, namun jangan dipengaruhi gaya hidup dunia ini. 
Keluarga kita harus sungguh-sungguh mengkhususkan diri bagi Tuhan, dan jangan 
menjadi sama dengan cara hidup dunia ini. 
================================================
From: irnawan silitonga 

Renungan Keluarga: Bilangan ( 10 )

"Tetapi kepada bani Kehat tidak diberikannya apa-apa, karena pekerjaan mereka 
ialah mengurus barang-barang kudus, yang harus diangkat diatas bahunya " [ Bil. 
7:9]. 
".Hitunglah jumlah bani Kehat sebagai suatu golongan tersendiri." [ Bil. 4:2 ]. 
"TUHAN berfirman kepada Musa: 'Satu pemimpin setiap hari haruslah mempersembah 
kan persembahannya untuk mentahbiskan mezbah itu'. Yang mempersembahkan 
persembahannya pada hari pertama ialah Nahason bin Aminadab, dari suku Yehuda. 
Persembahannya ialah." [Bil. 7:11-12]. 
"Tetapi kata Yakub... karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat 
wajah Tuhan." [ Kej.33:10 ]. 

Saat ini kita akan merenungkan Bilangan pasal 7, yang menguraikan persembahan 
dari para pemimpin Israel sehubungan dengan pendirian Kemah Suci dan mezbah. Ada
dua hal yang akan kita lihat disini. 
Pertama, sebagaimana kita ketahui bahwa pekerjaan di Kemah Suci dipercayakan 
hanya kepada suku Lewi saja, maka ketika para pemimpin Israel mempersembahkan 
sesuatu, suku Lewilah yang menerimanya. Tetapi, kita lihat bahwa bani Kehat 
(yang termasuk suku Lewi), tidak menerima persembahan apa-apa, karena pekerjaan 
mereka ialah mengurus barang-barang kudus, yang harus diangkat diatas bahunya. 
Tanggung jawab bani Kehat memang sangat khusus, dan karenanya mereka dihitung 
sebagai
suatu golongan tersendiri. Didalam keluarga Yakub, kita lihat, bahwa ada 
anggota yang memiliki pelayanan yang lebih dalam dari pada anggota lainnya. 

Kedua, Bilangan pasal 7 merupakan pasal yang terpanjang dalam kitab ini. Hal 
ini disebabkan karena persembahan setiap pemimpin yang berjumlah 12 itu 
disebutkan satu demi satu, sekalipun persembahan mereka adalah sama. Jadi, nama 
pemimpin berikut persembahannya disebut satu demi satu. Seandainya pasal 7 
tidak menyebut satu demi satu nama pemimpin, dan juga menggabungkan semua 
uraian persembahan mereka, maka pasal 7 akan sangat pendek. Uraian pasal 7 akan 
kira-kira demikian, ".setiap pemimpin mempersembahkan ini, itu dan 
sebagainya.". Tetapi tidak demikian catatan Alkitab, mengapa ? Karena Tuhan 
sangat menghargai setiap persembahan para pemimpin Israel, dan karenanya, baik 
nama maupun persembahannya dicatat satu demi satu. Setiap anggota keluarga 
Yakub mendapat penghargaan dimata Tuhan karena persembahannya. 

Tetapi, Yakub sendiri tidaklah menghargai saudaranya, Esau, ketika ia belum 
didisiplin Tuhan. Yakub memandang Esau sebagai saingannya, dan dengan tipu daya 
merampas berkat kesulungan yang dimiliki Esau.
Tetapi, setelah puluhan tahun mengalami pembentukan Tuhan dirumah Laban, Yakub 
dapat menghargai Esau sebagaimana mestinya. Ketika Yakub pertama kali melihat 
Esau, setelah ia dibentuk Tuhan, maka Yakub melihat muka Esau seperti melihat 
wajah Tuhan. Sebelum didisiplin Tuhan, tentu Yakub tidak melihat muka Esau 
seperti melihat wajah Tuhan. Apakah wajah Esau yang berubah ? Tentu tidak, 
tetapi penglihatan Yakublah yang berubah oleh disiplin Tuhan atasnya. 
Bagaimana kita menerapkan pelajaran yang sederhana ini kedalam kehidupan rumah 
tangga kita sendiri ? Yang pertama harus kita akui bahwa ada anggota keluarga 
kita yang lebih khusus dan lebih dalam dipakai Tuhan dari pada yang lainnya, 
seperti dalam hal bani Kehat.
Ini adalah hak Tuhan sendiri untuk memakai seseorang lebih dari pada yang 
lainnya. Hal kedua yang harus kita terapkan adalah perihal saling menghargai 
pekerjaan dan pelayanan sesama anggota keluarga, sebagaimana Tuhan menghargai 
setiap anggota keluarga Yakub. Jika kita semakin didisiplin Tuhan, maka kita 
akan dapat melihat anggota keluarga kita seperti melihat "wajah Tuhan", dan 
karenanya, kita mulai dapat menghargai pelayannnya didalam keluarga. Suami, 
maupun isteri, akan dapat menghargai pelayanan masing-masing didalam keluarga. 
Semoga kita terus menerus dibentuk Tuhan, agar dapat menghargai sesama anggota 
keluarga. 
===================================================

Renungan Keluarga: Bilangan ( 11 )

"Pada hari didirikan Kemah Suci, maka awan itu menutupi Kemah Suci, Kemah hukum 
Tuhan. Dan setiap kali awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israelpun 
berangkatlah, dan ditempat awan itu diam, disanalah orang Israel berkemah. Atas 
titah Tuhan orang Israel berangkat dan atas titah Tuhan juga mereka berkemah ." 
[Bilangan 9:15-18]. 

Ketika orang Israel diam di gunung Sinai, Tuhan memerintahkan Musa untuk 
mendirikan Kemah Suci, sesuai contoh yang telah diberikanNya diatas gunung. 
Kemah Suci disebut juga Kemah hukum Tuhan, karena didalamnya terdapat loh-loh 
batu bertuliskan sepuluh perintah Tuhan. Dengan didirikannya Kemah Suci, maka 
bukan saja hukum Tuhan ada ditengah-tengah Israel, namun kehadiranNya juga ada 
ditengah-tengah Israel. KehadiranNya, dan juga pimpinanNya disimbolkan oleh 
adanya awan diatas Kemah Suci. 

Jika awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israel berangkat. Dimanapun, dan 
kapanpun awan itu naik dan berdiam, disitu juga orang Israel berkemah. 
Pergerakan
orang Israel dipimpin secara mutlak oleh awan yang ada diatas Kemah Suci. 
Disini kita melihat ketergantungan mutlak orang Israel terhadap Tuhan. Sejak 
Kemah Suci dan awan Tuhan berdiam diatasnya, maka Israel dipimpin oleh 
kemuliaanNya (Kel. 40:34). Selama Israel berjalan mengikuti pimpinan awan 
Tuhan, maka kemuliaanNya senantiasa beserta Israel. Jika, kemuliaanNya berada 
ditengah-tengah Israel, maka semua kebutuhan Israel terpenuhi dan Israel akan 
berhasil masuk tanah perjanjian. 

Demikianlah kita lihat bagaimana keluarga Yakub disertai kemuliaan Tuhan, dan 
berjalan mengikuti pimpinanNya. Keluarga seperti inilah yang akan mewarisi 
tanah perjanjian. Sekalipun generasi pertama Israel gagal menghadapi ujian 
kepercayaan di Kadesy
Barnea, namun generasi selanjutnya berhasil. Jadi, keluarga Yakub tetap 
berhasil mewarisi tanah perjanjian, karena kemuliaan Tuhan, dan kehadiranNya 
ada ditengah-tengah mereka. 

Tetapi, agar kemuliaanNya dan pimpinanNya menyertai Israel, maka Israel 
haruslah mentaati Tuhan untuk mendirikan Kemah Suci yang sesuai dengan contoh 
yang
diberikan diatas gunung. Demikianlah juga dengan setiap keluarga yang 
merindukan kemuliaanNya dan pimpinanNya, haruslah keluarga ini mendirikan 
"Kemah Suci" yang sesuai dengan contoh yang Tuhan berikan.
Setiap keluarga haruslah mendirikan "Kemah Suci" agar hukum Tuhan, dan 
kemuliaan Tuhan serta pimpinanNya menyertai keluarga tersebut.

Sebagai keluarga Tuhan saat ini, kita harus bertumbuh sedemikian sehingga 
kehadiran dan kemuliaanNya, serta hukum-hukumNya ada didalam keluarga kita. 
Keluarga
kita harus meningkatkan kebersamaan dan kesehatian dalam doa, baca Alkitab, 
puji-pujian, bahkan kejujuran, keterbukaan dan pengakuan dosa satu dengan 
lainnya, sedemikian sehingga kemuliaan Tuhan dan pimpinanNya hadir didalam 
keluarga kita. Keluarga yang dipimpin Tuhan. Keluarga yang memiliki 
ketergantungan kepada Tuhan. Keluarga yang dipenuhi kemuliaanNya.
Demikianlah rencanaNya bagi keluarga kita. Semoga kita, khususnya kepala 
keluarga, mentaati Tuhan untuk mendirikan "Kemah Suci", sebagaimana Musa 
sebagai pimpinan Israel mentaatiNya. 

Gema Sion Ministry. 

Kirim email ke