From: irnawan silitonga Renungan Keluarga: Bilangan ( 6 )
"Hitunglah jumlah segenap umat Israel.catatlah nama semua laki-laki di Israel yang berumur dua puluh tahun keatas dan yang sanggup berperang." [ Bilangan 1:2-3]. "Ketika Abram mendengar bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan " [ Kejadian 14:14 ]. ".supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging." [ Efesus 6:11-12 ]. Di dalam kitab Kejadian, benih Israel masih berada di dalam tubuh bapa leluhurnya, Abraham. Di dalam kitab Keluaran, mereka ada dibawah perbudakan Mesir. Di dalam kitab Imamat, mereka sudah berkumpul dan berada dalam perkemahan jemaat. Dalam kitab Bilangan, mereka sudah memasuki disiplin "padang gurun". Sejalan dengan hal diatas, dalam kitab Kejadian, kita melihat panggilan dan pilihan Tuhan . Dalam kitab Keluaran, kita melihat darah penebusan Anak Domba. Dalam kitab Imamat, kita melihat penyembahan dan pelayanan Kemah Suci. Kemudian, didalam kitab Bilangan, kita melihat pasukan, yaitu orang-orang yang dapat berperang. Agar keluarga Yakub dapat menjadi keluarga yang sanggup untuk berperang, dibutuhkan beberapa langkah atau tahap yang harus dilaluinya. Keluarga ini haruslah keluarga yang dipilih Tuhan. Mereka haruslah ditebus oleh darah Anak Domba. Mereka haruslah bertekun dalam pelayanan Kemah Suci. Kemudian, barulah mereka menjadi keluarga yang dapat berperang. Walaupun ternyata generasi pertama Israel gagal dalam peperangan, namun generasi keduanya berhasil mewarisi tanah perjanjian. Keluarga yang telah dipilih Tuhan, pada akhirnya haruslah menjadi keluarga yang dapat berperang. Demikianlah yang terjadi dengan keluarga Abraham, sesuai ayat kita diatas. Ketika Lot ditawan, maka Abraham mengerahkan semua orang yang lahir di rumahnya untuk melawan musuh. Dan akhirnya, mereka berhasil. Keberhasilan keluarga Abraham dalam berperang disebabkan mereka adalah orang-orang yang terlatih. Mereka bukan saja melatih kekuatan fisiknya, tetapi juga strategi dalam berperang. Bagaimana dengan keluarga-keluarga Kristen saat ini ? Apakah kita berperang juga ? Tentu, hanya perjuangan kita bukanlah melawan manusia, tetapi melawan tipu muslihat iblis, melawan roh-roh jahat di udara. Kekuatan-kekuatan iblis dan roh-roh jahatnya sangat nyata, tetapi keluarga kita harus berperang dengan mengenakan selengkap senjata Tuhan. Paulus menguraikan perlengkapan senjata Tuhan dalam Efesus pasal 6 dengan lengkap. Keluarga kita harus belajar mengenakannya. Dalam peperangan, kita tidak hanya membutuhkan senjata saja, tetapi juga strategi. Dan sebagaimana kita ketahui, strategi disusun dan dibuat oleh sang jendral. Dalam pengertian tertentu, bapa adalah "jendral" dalam keluarga tersebut. Belum lama ini kita mendengar ada satu keluarga, dimana sang ibu melakukan bunuh diri dengan minum racun, setelah terlebih dahulu membunuh keempat anaknya dengan racun yang sama. Peristiwa ini sangat memilukan hati kita semua. Sang bapa merasa sangat terpukul, dan sama sekali tidak menyangka bahwa istrinya akan berbuat seperti itu. Sebagai "jendral" dalam keluarganya, nampaknya bapa ini telah salah menerapkan strategi. Kemungkinan besar juga salah berperang, karena tidak mengenakan perlengkapan senjata Tuhan. Semoga "jendral-jendral" dalam keluarga Kristen berperang dengan seluruh perlengkapan senjata Tuhan, dan menerapkan strategi yang tepat bagi keluarganya. Amin. ==================================================== From: irnawan silitonga Renungan Keluarga: Bilangan ( 7 ) "Inilah keturunan Harun dan Musa pada waktu TUHAN berfirman kepada Musa di gunung Sinai " [ Bilangan 3:1]. "maka berdirilah Musa di pintu gerbang perkemahan itu serta berkata: 'Siapa yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku !' Lalu berkumpullah kepadanya seluruh bani Lewi " [ Keluaran 32:26 ]. Istilah 'keturunan' pada Bilangan 3:1 diatas, dapat juga diterjemahkan 'kisah'. Karenanya, ayat diatas dapat diterjemahkan, "Inilah kisah (keluarga) Harun dan Musa.". Pasal 3 dan 4 kitab ini menceritakan kisah keluarga Harun dan Musa, ketika mereka masih berkemah di gunung Sinai. Sebagaimana kita ketahui bahwa Keluarga Yakub membuat anak lembu emas, ketika mereka baru saja mengikat perjanjian dengan Tuhan Israel di gunung Sinai (Kel.32). Sebenarnya, Tuhan mempunyai rencana bahwa seluruh keluarga Yakub menjadi kerajaan imam, dalam arti semua anggotanya menjadi imam-imam bagi Tuhan (Kel. 19). Namun, ketika mereka gagal dengan membuat anak lembu emas, seluruh bani Lewi datang berkumpul kepada Musa sebagai tanda bahwa mereka memihak kepada Tuhan. Karena tindakannya ini, maka Tuhan tetap menjadikan suku Lewi sebagai yang berhak mendekat kepada Tuhan, dan keluarga Harun menjadi imam-imam bagiNya. Demikianlah, kisah yang terjadi pada keluarga Harun dan Musa. Selanjutnya, pada pasal 3 dan 4 kitab Bilangan, kita lihat bagaimana keluarga Harun dan juga suku Lewi hidup dan bekerja diseputar Kemah Suci. Setelah dihitung, masing-masing dari mereka mendapat tugas dan tanggung jawab tertentu dalam pelayanan Kemah Suci. Mereka berkemah disekeliling Kemah Suci, hidup dan bekerja dalam pelayanan Kemah Suci. Mereka tidak perlu kuatir dengan kehidupan lahiriah dan jasmani mereka, karena kehidupan mereka dipelihara Tuhan melalui persembahan-persembahan dari Umat Israel yang lainnya. Hak istimewa mereka adalah bahwa mereka dapat mendekat kepada Tuhan. Mereka dapat menikmati Tuhan dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh Umat Israel lainnya. Semua ini disebabkan mereka memihak kepada Tuhan, dan tetap memegang perjanjianNya. Tetapi, kisah keluarga Harun tidak sampai disini saja. Peristiwa Nadab dan Abihu, yang mati dihadapan Tuhan ketika mereka mempersembahkan api yang asing, menunjukkan tanggung jawab yang berat bagi orang yang melayani Tuhan. Keluarga Harun memiliki hak istimewa dan juga tanggung jawab yang berat. Melalui kisah keluarga Harun dan Musa ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran. Pertama, jika kita mengamati keluarga-keluarga Kristen saat ini, nampaknya tidak semua keluarga mengambil keputusan memihak kepada Tuhan dan melayaniNya. Bukan berarti keluarga ini murtad atau meninggalkan Tuhan, tetapi, sebagaimana Umat Israel lainnya di gunung Sinai, mereka tidak mendekat kepada "Kemah Suci", dan kehidupan mereka tidak berada dan terpusat pada "Kemah Suci". Kedua, keluarga-keluarga yang hidupnya terpusat pada "Kemah Suci", mendapat hak istimewa untuk tidak perlu kuatir akan kehidupan lahiriah dan jasmani mereka. Tuhan memberi iman sedemikian sehingga mereka tidak kuatir dan ragu akan pemeliharaanNya. Dan, yang terutama, mereka dapat menikmati Tuhan dengan cara yang khusus dan intim. Semoga keluarga kita hidup dan berada diseputar "Kemah Suci". =============================================== From: irnawan silitonga Renungan Keluarga: Bilangan ( 8 ) "TUHAN berfirman kepada Musa: 'Perintahkanlah kepada orang Israel, supaya semua orang yang sakit kusta.semua orang yang najis.kau suruh pergi, supaya mereka jangan menajiskan tempat perkemahan dimana Aku diam di tengah-tengah mereka " [Bilangan 5:1,3]. ".Apabila seseorang.melakukan sesuatu dosa terhadap sesamanya manusia.maka haruslah ia mengakui dosa.dan kemudian membayar tebusan..." [ Bilangan 5:6-7 ]. ".apabila roh cemburu menguasai suami, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya." [ Bilangan 5:14 ]. Bilangan pasal 5 berbicara tentang pentingnya suatu kesalahan diselesaikan dengan tuntas, sesuai dengan ketentuan yang telah Tuhan berikan. Alasan yang Tuhan berikan ialah agar perkemahan dimana Tuhan berdiam di tengah-tengah keluarga Yakub jangan dinajiskan. Sebab, kehadiran Tuhan ditengah-tengah keluarga merupakan kunci menuju kebahagiaan. Prosedur yang Tuhan berikan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di dalam keluarga Yakub berbeda-beda. Jika masalahnya mengenai adanya orang yang berpenyakit kusta, atau yang najis karena sesuatu hal, maka penyelesaiannya adalah menyingkirkan atau mengeluarkan orang-orang tersebut keluar perkemahan. Jika masalahnya mengenai perbuatan salah oleh seseorang, maka orang tersebut haruslah mengakui dosanya dan membayar tebusan salahnya. Jika masalahnya mengenai hal kecemburuan yang menguasai seorang suami, maka dilakukan suatu prosedur sedemikian sehingga sang isteri dapat teruji apakah memang ia bersalah atau tidak. Apapun masalah yang ada dalam keluarga Yakub, haruslah diselesaikan dengan tuntas sesuai prosedur yang Tuhan tetapkan. Karena jika tidak diselesaikan, maka yang terkena akibatnya tidak hanya orang yang melakukan kesalahan, melainkan seluruh Keluarga. Kita teringat peristiwa dimana Akhan berubah setia dengan mangambil barang-barang yang dikhususkan itu ( Yosua 7 ). Karena perbuatannya, seluruh Israel mengalami dampaknya. Mengapa? Karena Alkitab menganggap perbuatan Akhan adalah juga perbuatan Israel, sesuai dengan yang tertulis pada ayat 1, "Tetapi orang Israel berubah setia.". Jadi, satu anggota keluarga berbuat salah, maka yang terkena dampaknya adalah seluruh keluarga, demikian juga berlaku sebaliknya. Dalam kasus keluarga Yakub, Tuhan memerintahkan Musa atau para Imam untuk mengambil inisiatif menyelesaikan masalah yang ada. Artinya, para pemimpin atau kepala keluargalah yang harus bertindak menyelesaikan masalah. Tanggung jawab penyelesaian masalah terletak diatas pundak kepala keluarga. Itu sebabnya, para kepala keluarga perlu tanggap dan waspada terhadap masalah yang timbul dalam keluarganya, serta memahami prosedur penyelesaian yang Tuhan tetapkan dalam firmanNya, jika ia menghendaki Tuhan tetap berdiam di tengah-tengah keluarganya. Bagaimana jika masalah itu terjadi karena kesalahan sang suami sebagai kepala keluarga? Disinilah perlunya sikap rendah hati dari kepala keluarga. Mengaku salah dan meminta maaf terhadap isteri dan anak-anak, serta minta didoakan, seringkali merupakan sesuatu yang Tuhan tuntut dari seorang suami yang bersalah. Jika masalah nya dibiarkan berlarut-larut, maka kehadiran Tuhan juga akan berangsur-angsur hilang dari keluarga tersebut. Kemuliaan Tuhan semakin tidak nampak dalam keluarga itu. Semoga keluarga-keluarga Kristen, khususnya seorang suami, tidak mengabaikan masalah yang ada, melainkan menyelesaikannya sesuai prosedur yang telah Tuhan tetapkan dalam firmanNya. Amin. ===================================================== From: irnawan silitonga Renungan Keluarga: Bilangan ( 9 ) ".nazar orang nazir, untuk mengkhususkan dirinya bagi TUHAN, maka haruslah ia menjauhkan dirinya dari anggur.selama waktu nazarnya sebagai orang nazir janganlah pisau cukur lalu di kepalanya. selama waktunya ia mengkhususkan dirinya bagi TUHAN, janganlah ia dekat kepada mayat orang." [ Bilangan 2-6 ]. Bilangan pasal 6 menguraikan peraturan yang harus diikuti bagi orang yang mengkhusus kan dirinya bagi Tuhan. Ada tiga hal yang harus diperhatikan bagi orang nazir. Pertama, ia harus menjauhkan dirinya dari anggur. Disini, anggur mengungkapkan kesukaan jasmani dan kesukaan yang ada di muka bumi ini. Tidak salah bagi seseorang untuk menikmati anggur dalam hidupnya, tetapi jika ia mengkhususkan dirinya bagi Tuhan, maka ia harus menahan diri untuk tidak menikmati kesenangan jasmani, selama tanda kenaziran bagi Tuhannya ada diatas kepalanya. Kedua, orang nazir tidak boleh memotong rambutnya. Tidak boleh pisau cukur lalu dikepalanya. Jadi, ia harus membiarkan rambutnya panjang. Apakah artinya ini ? I Korintus 11:14 menegaskan, "Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang ". Jadi, bagi orang nazir, ia harus merelakan dirinya untuk terhina dan tidak dihargai orang, dalam perkara-perkara alamiah. Tidaklah salah jika seseorang dihargai karena pendidikannya, penampilannya, dan pencapaiannya dalam bidang-bidang tertentu, namun bagi orang nazir, ia harus rela kehilangan hal-hal tersebut. Ketiga, orang nazir tidak boleh dekat dengan mayat, sekalipun itu anggota keluarganya yang terdekat. Artinya, orang nazir tidak boleh dekat dengan maut. Haruslah ia secara khusus mendekatkan diri kepada Tuhan, lebih daripada orang-orang yang tidak mengkhususkan dirinya bagi Tuhan. Demikianlah peraturan bagi keluarga Yakub, yang mengkhususkan dirinya bagi Tuhan. Ketiga peraturan diatas haruslah benar-benar ditaati. Jika salah satunya dilanggar, maka kenazirannya batal, bahkan ia dianggap berdosa. Sebagai keluarga-keluarga Tuhan, bagaimana kita menerapkan perihal kenaziran ini sekarang ? Memang kita telah dikuduskan oleh pengorbanan Kristus. Kita adalah keluarga yang telah kudus, artinya, telah dipisahkan semata-mata hanya untuk maksud-maksudNya saja. Kita tidak mengkhususkan diri sejangka waktu, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian dari keluarga Yakub. Karena keluarga kita telah dikuduskan, maka, sejalan dengan peraturan-peraturan yang berlaku bagi keluarga Yakub, kita juga harus mengingat firman Tuhan dalam I Timotius 6:8-10 yang demikian bunyinya, "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh kedalam pencobaan. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman.". Tidak salah jika Tuhan memberi kekayaan pada keluarga kita. Tidak salah jika Tuhan memberi kita hal-hal yang dapat dinikmati di muka bumi ini. Tidak salah juga jika orang lain menghargai keluarga kita, karena hal-hal yang telah dicapai selama di muka bumi ini. Tetapi kita harus selalu mengingat bahwa keluarga kita telah kudus, dalam arti terpisah dari gaya hidup dunia ini. Keluarga kita bukan berasal dari dunia ini, dan tidak mengejar perkara-perkara dunia ini. Memang keluarga kita harus menjadi garam dan terang dunia. Keluarga kita bukan pertapa, namun jangan dipengaruhi gaya hidup dunia ini. Keluarga kita harus sungguh-sungguh mengkhususkan diri bagi Tuhan, dan jangan menjadi sama dengan cara hidup dunia ini. ================================================ From: irnawan silitonga Renungan Keluarga: Bilangan ( 10 ) "Tetapi kepada bani Kehat tidak diberikannya apa-apa, karena pekerjaan mereka ialah mengurus barang-barang kudus, yang harus diangkat diatas bahunya " [ Bil. 7:9]. ".Hitunglah jumlah bani Kehat sebagai suatu golongan tersendiri." [ Bil. 4:2 ]. "TUHAN berfirman kepada Musa: 'Satu pemimpin setiap hari haruslah mempersembah kan persembahannya untuk mentahbiskan mezbah itu'. Yang mempersembahkan persembahannya pada hari pertama ialah Nahason bin Aminadab, dari suku Yehuda. Persembahannya ialah." [Bil. 7:11-12]. "Tetapi kata Yakub... karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Tuhan." [ Kej.33:10 ]. Saat ini kita akan merenungkan Bilangan pasal 7, yang menguraikan persembahan dari para pemimpin Israel sehubungan dengan pendirian Kemah Suci dan mezbah. Ada dua hal yang akan kita lihat disini. Pertama, sebagaimana kita ketahui bahwa pekerjaan di Kemah Suci dipercayakan hanya kepada suku Lewi saja, maka ketika para pemimpin Israel mempersembahkan sesuatu, suku Lewilah yang menerimanya. Tetapi, kita lihat bahwa bani Kehat (yang termasuk suku Lewi), tidak menerima persembahan apa-apa, karena pekerjaan mereka ialah mengurus barang-barang kudus, yang harus diangkat diatas bahunya. Tanggung jawab bani Kehat memang sangat khusus, dan karenanya mereka dihitung sebagai suatu golongan tersendiri. Didalam keluarga Yakub, kita lihat, bahwa ada anggota yang memiliki pelayanan yang lebih dalam dari pada anggota lainnya. Kedua, Bilangan pasal 7 merupakan pasal yang terpanjang dalam kitab ini. Hal ini disebabkan karena persembahan setiap pemimpin yang berjumlah 12 itu disebutkan satu demi satu, sekalipun persembahan mereka adalah sama. Jadi, nama pemimpin berikut persembahannya disebut satu demi satu. Seandainya pasal 7 tidak menyebut satu demi satu nama pemimpin, dan juga menggabungkan semua uraian persembahan mereka, maka pasal 7 akan sangat pendek. Uraian pasal 7 akan kira-kira demikian, ".setiap pemimpin mempersembahkan ini, itu dan sebagainya.". Tetapi tidak demikian catatan Alkitab, mengapa ? Karena Tuhan sangat menghargai setiap persembahan para pemimpin Israel, dan karenanya, baik nama maupun persembahannya dicatat satu demi satu. Setiap anggota keluarga Yakub mendapat penghargaan dimata Tuhan karena persembahannya. Tetapi, Yakub sendiri tidaklah menghargai saudaranya, Esau, ketika ia belum didisiplin Tuhan. Yakub memandang Esau sebagai saingannya, dan dengan tipu daya merampas berkat kesulungan yang dimiliki Esau. Tetapi, setelah puluhan tahun mengalami pembentukan Tuhan dirumah Laban, Yakub dapat menghargai Esau sebagaimana mestinya. Ketika Yakub pertama kali melihat Esau, setelah ia dibentuk Tuhan, maka Yakub melihat muka Esau seperti melihat wajah Tuhan. Sebelum didisiplin Tuhan, tentu Yakub tidak melihat muka Esau seperti melihat wajah Tuhan. Apakah wajah Esau yang berubah ? Tentu tidak, tetapi penglihatan Yakublah yang berubah oleh disiplin Tuhan atasnya. Bagaimana kita menerapkan pelajaran yang sederhana ini kedalam kehidupan rumah tangga kita sendiri ? Yang pertama harus kita akui bahwa ada anggota keluarga kita yang lebih khusus dan lebih dalam dipakai Tuhan dari pada yang lainnya, seperti dalam hal bani Kehat. Ini adalah hak Tuhan sendiri untuk memakai seseorang lebih dari pada yang lainnya. Hal kedua yang harus kita terapkan adalah perihal saling menghargai pekerjaan dan pelayanan sesama anggota keluarga, sebagaimana Tuhan menghargai setiap anggota keluarga Yakub. Jika kita semakin didisiplin Tuhan, maka kita akan dapat melihat anggota keluarga kita seperti melihat "wajah Tuhan", dan karenanya, kita mulai dapat menghargai pelayannnya didalam keluarga. Suami, maupun isteri, akan dapat menghargai pelayanan masing-masing didalam keluarga. Semoga kita terus menerus dibentuk Tuhan, agar dapat menghargai sesama anggota keluarga. =================================================== Renungan Keluarga: Bilangan ( 11 ) "Pada hari didirikan Kemah Suci, maka awan itu menutupi Kemah Suci, Kemah hukum Tuhan. Dan setiap kali awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israelpun berangkatlah, dan ditempat awan itu diam, disanalah orang Israel berkemah. Atas titah Tuhan orang Israel berangkat dan atas titah Tuhan juga mereka berkemah ." [Bilangan 9:15-18]. Ketika orang Israel diam di gunung Sinai, Tuhan memerintahkan Musa untuk mendirikan Kemah Suci, sesuai contoh yang telah diberikanNya diatas gunung. Kemah Suci disebut juga Kemah hukum Tuhan, karena didalamnya terdapat loh-loh batu bertuliskan sepuluh perintah Tuhan. Dengan didirikannya Kemah Suci, maka bukan saja hukum Tuhan ada ditengah-tengah Israel, namun kehadiranNya juga ada ditengah-tengah Israel. KehadiranNya, dan juga pimpinanNya disimbolkan oleh adanya awan diatas Kemah Suci. Jika awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israel berangkat. Dimanapun, dan kapanpun awan itu naik dan berdiam, disitu juga orang Israel berkemah. Pergerakan orang Israel dipimpin secara mutlak oleh awan yang ada diatas Kemah Suci. Disini kita melihat ketergantungan mutlak orang Israel terhadap Tuhan. Sejak Kemah Suci dan awan Tuhan berdiam diatasnya, maka Israel dipimpin oleh kemuliaanNya (Kel. 40:34). Selama Israel berjalan mengikuti pimpinan awan Tuhan, maka kemuliaanNya senantiasa beserta Israel. Jika, kemuliaanNya berada ditengah-tengah Israel, maka semua kebutuhan Israel terpenuhi dan Israel akan berhasil masuk tanah perjanjian. Demikianlah kita lihat bagaimana keluarga Yakub disertai kemuliaan Tuhan, dan berjalan mengikuti pimpinanNya. Keluarga seperti inilah yang akan mewarisi tanah perjanjian. Sekalipun generasi pertama Israel gagal menghadapi ujian kepercayaan di Kadesy Barnea, namun generasi selanjutnya berhasil. Jadi, keluarga Yakub tetap berhasil mewarisi tanah perjanjian, karena kemuliaan Tuhan, dan kehadiranNya ada ditengah-tengah mereka. Tetapi, agar kemuliaanNya dan pimpinanNya menyertai Israel, maka Israel haruslah mentaati Tuhan untuk mendirikan Kemah Suci yang sesuai dengan contoh yang diberikan diatas gunung. Demikianlah juga dengan setiap keluarga yang merindukan kemuliaanNya dan pimpinanNya, haruslah keluarga ini mendirikan "Kemah Suci" yang sesuai dengan contoh yang Tuhan berikan. Setiap keluarga haruslah mendirikan "Kemah Suci" agar hukum Tuhan, dan kemuliaan Tuhan serta pimpinanNya menyertai keluarga tersebut. Sebagai keluarga Tuhan saat ini, kita harus bertumbuh sedemikian sehingga kehadiran dan kemuliaanNya, serta hukum-hukumNya ada didalam keluarga kita. Keluarga kita harus meningkatkan kebersamaan dan kesehatian dalam doa, baca Alkitab, puji-pujian, bahkan kejujuran, keterbukaan dan pengakuan dosa satu dengan lainnya, sedemikian sehingga kemuliaan Tuhan dan pimpinanNya hadir didalam keluarga kita. Keluarga yang dipimpin Tuhan. Keluarga yang memiliki ketergantungan kepada Tuhan. Keluarga yang dipenuhi kemuliaanNya. Demikianlah rencanaNya bagi keluarga kita. Semoga kita, khususnya kepala keluarga, mentaati Tuhan untuk mendirikan "Kemah Suci", sebagaimana Musa sebagai pimpinan Israel mentaatiNya. Gema Sion Ministry.

