From: irnawan silitonga Renungan Keluarga: Bilangan ( 1 )
"Tuhan berfirman kepada Musa di padang gurun Sinai. Hitunglah jumlah segenap umat Israel." [ Bilangan 1:1-2 ]. "Hitunglah jumlah segenap umat Israel,.semua orang yang sanggup berperang di antara orang Israel.Itulah orang orang yang dicatat oleh Musa dan imam Eleazar, ketika keduanya mencatat orang orang Israel di dataran Moab di tepi sungai Yordan dekat Yerikho. Diantara mereka tidak ada terdapat seorangpun yang dicatat Musa dan imam Harun, ketika keduanya mencatat orang Israel di padang gurun Sinai " [ Bilangan 26:2, 63-64 ]. Kitab ini disebut kitab Bilangan, karena kedua peristiwa dimana Tuhan memerintahkan Musa untuk mencatat jumlah orang Israel yang sanggup untuk berperang. Pencatatan pertama terjadi di Gunung Sinai, sedangkan yang kedua terjadi di dataran Moab. Tulisan-tulisan Yahudi sering menyebut kitab ini dengan sebutan 'di padang gurun'. Istilah di padang gurun lebih sesuai dengan isi kitab ini, karena memang kitab ini menceritakan bagaimana keluarga Yakub sampai tinggal selama 40 tahun di padang gurun. Pelajaran dalam kitab ini adalah jelas. Setiap keluarga memang harus melalui pengalaman "padang gurun", tetapi tidak harus "menetap selama 40 tahun di padang gurun". Menetapnya Israel selama 40 tahun di padang gurun bukanlah rencana Tuhan semula. Peristiwa ini terjadi karena pemberontakan dan ketidakpercayaan Israel terhadap Tuhan. Kitab ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu masa persiapan ( pasal 1 s/d 10:10 ), masa penundaan atau masa di padang gurun ( pasal 10:11 s/d 25 ), dan masa persiapan ulang ( pasal 26 s/d 36 ). Kita dapat menarik banyak pelajaran dari keluarga Yakub, terutama ketika mereka ada di padang gurun selama 40 tahun. Generasi pertama yang dicatat Musa di gunung Sinai, yang tidak percaya dan memberontak kepada Tuhan, semuanya mati di padang gurun. Tuhan membangkitkan generasi kedua, dimana akhirnya mereka masuk ketanah Kanaan. Apa makna "pengalaman padang gurun" keluarga Yakub ini bagi keluarga-keluarga Kristen sekarang ? Sebagaimana kita ketahui bahwa sifat dasar Perjanjian Lama adalah bersifat jasmani dan merupakan perlambang saja, sedangkan Perjanjian Baru merupakan realitanya, maka pengalaman padang gurun ini adalah suatu pengalaman rohani dimana keluarga Kristen mengalami disiplin Tuhan dan belum mencapai kondisi ketenangan jiwa seperti janji Tuhan Yesus dalam Matius 11:29. Keluarga Kristen yang masih di "padang gurun", ditandai dengan sungut-sungut, kekesalan, pertengkaran, kekuatiran, pemberontakan, kurang mengucap syukur, dan ciri-ciri lain yang semuanya merupakan ekspresi dari jiwa yang belum tenang didalam Tuhan. Bisa jadi keluarga ini berkelimpahan secara materi, namun belum berkelimpahan dalam karakter Kristus. Tetapi, kita melihat juga dalam kitab ini, bagaimana Tuhan begitu setia terhadap janjiNya. Ketika keluarga Yakub tidak percaya dan memberontak kepadaNya, dengan sabar Tuhan mempersiapkan generasi selanjutnya untuk mewarisi janji-janjiNya. Kesetiaan Tuhan ini seharusnya mendorong kita untuk mempercayai Dia, bahwa Dia sendiri akan memimpin keluarga kita menuju ketenangan dalam Kristus. Keluarga yang tenang dan bahagia adalah janjiNya bagi kita. Semoga keluarga kita bergerak maju menuju ketenangan jiwa dalam Kristus, sebagaimana janjiNya. =============================================== From: irnawan silitonga Renungan Keluarga: Bilangan ( 2 ) "Jadi semua orang Israel yang dicatat menurut suku-suku mereka, yaitu orang-orang yang berumur dua puluh tahun keatas dan yang sanggup berperang diantara orang Israel, berjumlah enam ratus tiga ribu lima ratus lima puluh orang " [Bilangan 1:45-46]. "Itulah orang-orang yang dicatat dari orang Israel, enam ratus satu ribu tujuh ratus tiga puluh orang banyaknya " [ Bilangan 26:51 ]. Telah kita ketahui bahwa kitab Bilangan ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu masa persiapan-generasi pertama ( pasal 1 s/d 10:10 ), masa penundaan atau masa di padang gurun ( pasal 10:11 s/d 25 ), dan masa persiapan ulang-generasi kedua ( pasal 26 s/d 36 ). Saat ini kita akan merenungkan masa persiapan yang dilakukan Tuhan terhadap kedua generasi Israel dan membandingkan hasil yang dicapai oleh kedua generasi tersebut. Generasi yang dimaksud disini bukanlah jumlah seluruh orang Israel, melainkan hanya laki-laki yang berumur 20 tahun keatas, yaitu orang-orang yang dianggap dapat berperang. Jadi, yang sebenarnya dihitung adalah kekuatan Israel untuk berperang. Secara jumlah, kedua generasi Israel hampir sama. Generasi pertama yang mampu berperang berjumlah 603.550 orang. Generasi kedua berjumlah 601.730. Jadi, jika dibandingkan, kekuatan perang generasi pertama dan kedua memang hampir sama. Tetapi hasil akhir perjuangan mereka sangatlah berbeda. Generasi pertama gagal mewarisi janji Tuhan untuk menduduki tanah Perjanjian, namun generasi kedua berhasil. Mengapa demikian ? Kalau kita perhatikan masa persiapan generasi pertama (pasal 1-10:10), dan masa persiapan generasi kedua (pasal 26-36), tidaklah terlalu jauh berbeda. Pembaca dapat membandingkannya sendiri berdasarkan pasal-pasal diatas. Namun, yang harus dicatat adalah bahwa generasi kedua pada umumnya lahir di padang gurun, dan turut merasa kan disiplin Tuhan. Generasi pertama lahir di Mesir, dan tentunya tidak mengalami disiplin padang gurun yang cukup, karena mereka hanya berjalan selama kurang-lebih 2 tahun saja di padang gurun. Sekalipun generasi pertama telah melihat perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Tuhan ketika Ia melepaskan UmatNya dari cengkraman Firaun, namun tanpa disiplin padang gurun yang memadai, ternyata semua ini belum cukup. Disiplin padang gurun yang memadai sangat diperlukan untuk membuat seseorang belajar mempercayai janji-janji Tuhan, sebagaimana yang juga dialami Musa. Demikianlah perbedaan yang menyolok antara generasi pertama dan generasi kedua. Jadi, sekalipun secara kuantitas, generasi pertama dan kedua tidak jauh berbeda, namun secara kualitas kedua generasi ini sangat berbeda. Disiplin padang gurun yang memadai, memang membuat kualitas seseorang jauh berbeda. Demikian juga dengan keluarga-keluarga Kristen. Sebagai keluarga Kristen, kita memiliki janji-janji Tuhan, karena memang kita terikat dengan Tuhan melalui Yesus Kristus kepada suatu perjanjian, yaitu Perjanjian Baru. Tetapi, jika kita tidak mengalami disiplin "padang gurun" yang memadai, bisa jadi kita gagal mewarisi janji-janji Tuhan, oleh karena ketidakpercayaan. Disiplin "padang gurun" yang memadai tidak dapat digantikan dengan karunia-karunia Roh, atau jawaban-jawaban doa sekalipun ini sangat menyenangkan, atau melihat perbuatan Tuhan yang besar, bahkan doa dan baca Alkitab, tidak dapat menggantikan disiplin Tuhan. Semua hal-hal yang telah disebut diatas memang perlu dan ada tempatnya, namun disiplin "padang gurun" memiliki tempat yang utama dalam kehidupan Kristen. Semoga keluarga kita mengalami disiplin "padang gurun" yang memadai, sehingga keluarga kita dapat mempercayai janji-janji Tuhan dan mewarisi "tanah Kanaan" sebagaimana generasi kedua Israel. ================================================= From: irnawan silitonga Renungan Keluarga: Bilangan ( 3 ) "Di antara mereka (pencatatan kedua di dataran Moab) tidak ada terdapat seorangpun yang dicatat Musa dan imam Harun, ketika keduanya mencatat orang Israel di padang gurun Sinai .selain dari Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun " [ Bilangan 26:64-65 ]. ".Apakah kamu mempersembahkan kepadaKu korban sembelihan dan persembahan selama empat puluh tahun di padang gurun itu, hai kaum Israel ? Tidak pernah, malahan kamu mengusung kemah Molokh dan bintang dewa Refan, patung-patung yang kamu buat itu untuk disembah." [ Kis. 7:42-43 ]. Telah kita ketahui bahwa kitab Bilangan dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu masa persiapan-generasi pertama ( pasal 1 s/d 10:10 ), masa penundaan atau masa di padang gurun ( pasal 10:11 s/d 25 ), dan masa persiapan ulang-generasi kedua ( pasal 26 s/d 36 ). Saat ini kita akan merenungkan masa penundaan atau masa di padang gurun yang dialami generasi pertama Israel. Ketika generasi pertama Israel dinyatakan gagal mempercayai janji Tuhan, maka Tuhan memutuskan bahwa mereka tidak akan memiliki Tanah Perjanjian, dan bahwa mereka akan mati di padang gurun, kecuali Kaleb dan Yosua. Keputusan Tuhan ini kelihatannya begitu keras, namun jika kita melihatnya dari sisi Tuhan, sebenarnya keputusan ini merupakan keputusan yang penuh kasih bagi keluarga Yakub. Generasi pertama Israel sudah memperoleh kasih karunia sehingga dibebaskan dari perbudakan Mesir. Mereka telah melihat banyak perbuatan tangan mujizat Tuhan. Mereka juga telah banyak menerima kebaikan Tuhan. Tetapi memang mereka tidak mendapat kasih karunia, atau mungkin juga tidak meresponi kasih karunia Tuhan dengan benar, sehingga mereka tidak dapat memiliki Tanah Perjanjian. Untuk memiliki Tanah Perjanjian, sebagaimana telah kita lihat sebelumnya, memang memerlukan disiplin yang memadai di padang gurun. Dan inilah kasih karunia yang diperoleh generasi kedua Israel. Jadi, keluarga Yakub, secara keseluruhan, mendapatkan kasih karunia yang berlimpah, baik generasi pertamanya maupun kedua. Tuhan telah berbuat sangat baik kepada keluarga Yakub. Tetapi, yang sekarang akan kita lihat adalah, apa yang diperbuat generasi pertama Israel di padang gurun setelah mereka dinyatakan gagal mempercayai janji Tuhan. Didalam Kisah para rasul pasal 7 diatas, disebutkan bahwa generasi pertama Israel tidak beribadah kepada Tuhan selama 40 tahun di padang gurun. Mereka menyembah patung Molokh dan bintang dewa Refan. Memang Kemah Pertemuan yang didirikan Musa masih ada diantara mereka, dan kemungkinan besar, kegiatan rutin di Kemah Pertemuan masih berlangsung. Tetapi hati generasi pertama Israel telah menjauh dari Tuhan, selama 40 tahun di padang gurun. Hal ini sangat menyedihkan. Di satu sisi, Tuhan telah sangat bermurah hati kepada generasi pertama Israel. Namun, di sisi lain, generasi pertama Israel meninggalkan jalan Tuhan dan tidak beribadah lagi kepadaNya. Pelajaran apa yang dapat kita petik dari perilaku generasi pertama Israel di padang gurun ini bagi keluarga kita sendiri ? Dinyatakan gagal mempercayai janji Tuhan, nampaknya, bukanlah perkara sederhana. Jika seseorang, atau keluarga, telah dinyatakan gagal mempercayai janji Tuhan, maka akibat selanjutnya yang mungkin terjadi adalah penyimpangan dari jalan Tuhan. Tidak beribadah lagi kepada Tuhan, sekalipun mungkin masih melakukan aktifitas agamawi. Memiliki hati yang menjauh dari Tuhan. Semua ini menjadi peringatan bagi kita agar kita, baik individu maupun keluarga, harus belajar terus mempercayai janji-janji Tuhan. Bertumbuh terus dalam firmanNya, dan jangan mengalami stagnasi / kemandekan. Semoga tidak ada keluarga Kristen yang Tuhan nyatakan gagal mempercayai janji-janji Tuhan. =================================================== From: irnawan silitonga Renungan Keluarga: Bilangan ( 4 ) "Tetapi hamba-Ku Kaleb, karena lain jiwa yang ada padanya dan ia mengikut Aku dengan sepenuhnya, akan Kubawa masuk ke negeri yang telah dimasukinya itu, dan keturunannya akan memilikinya " [ Bilangan 14:24 ]. "Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu. " [ Yehezkiel 36:26-27 ]. Setelah keluarga Yakub keluar dari Mesir, mereka dipimpin Tuhan berjalan kearah padang gurun selama 2 bulan, sebelum mereka berkemah di Gunung Sinai untuk menerima Hukum Taurat dengan segala peraturannya serta pembangunan Kemah Suci. Mereka tidak berjalan menuju Tanah Kanaan menurut jalan yang terpendek, karena Tuhan harus mempersiapkan mereka terlebih dahulu (Kel.13:17-18). Kemudian, setelah Tuhan selesai memberikan firmanNya di Gunung Sinai selama kurang lebih satu tahun, dan mengikat perjanjian dengan keluarga Yakub, maka pada tahun kedua, mereka berangkat menuju Kadesy Barnea, suatu daerah dekat perbatasan dengan Tanah Perjanjian. Disini Tuhan memerintahkan agar Israel mengirim 12 pengintai, termasuk Yosua dan Kaleb, untuk melihat Tanah Kanaan yang akan Tuhan berikan. Setelah ke-12 pengintai itu memberikan laporannya, maka hampir semua keluarga Yakub menolak masuk Tanah Perjanjian, kecuali Yosua dan Kaleb yang tetap percaya pada Tuhan. Dan karena peristiwa ini, maka Tuhan memerintahkan Israel untuk berbalik kembali ke padang gurun, dan tidak akan memberikan tanah perjanjian kepada generasi pertama Israel. Kita lihat disini bahwa keluarga Yosua dan keluarga Kaleb masuk tanah perjanjian, karena mereka percaya kepada Tuhan. Sebenarnya, hanya Yosua dan Kaleb sebagai kepala keluarga yang menunjukkan imannya kepada Tuhan, namun seluruh anggota keluarganya turut masuk. Hal ini disebabkan keselamatan itu, unitnya atau satuannya adalah keluarga. Satu orang percaya, maka seisi rumah selamat. Bukan saja seisi rumah ikut diselamatkan, tetapi janji Tuhan kepada Kaleb ialah, "keturunannya akan memilikinya ", sesuai ayat kita diatas. Jika kita memahami apa itu keluarga menurut firman Tuhan, maka kita tidak akan terkejut dengan janji Tuhan kepada Kaleb dan keturunannya. Satu orang percaya, dan seluruh keturunannya diberkati, merupakan hal yang normal bagi kita yang memahami makna keluarga menurut firman Tuhan. Demikianlah Yosua dan Kaleb serta keturunannya, memiliki tanah perjanjian dan diberkati Tuhan. Selanjutnya, kita akan melihat alasan yang Tuhan berikan, sesuai ayat diatas, mengapa Kaleb tetap dapat mempercayai Tuhan dan akhirnya memiliki tanah perjanjian. Tuhan berkata bahwa Kaleb memiliki jiwa yang berbeda dan ia mengikut Tuhan dengan sepenuh hatinya. Menurut terjemahan aslinya, bukan jiwa, tetapi roh Kaleb yang berbeda. Jadi, Kaleb memiliki roh yang berbeda, dan ia mengikut Tuhan dengan sepenuh hatinya. Darimana Kaleb memiliki roh yang berbeda ? Karena semua orang telah jatuh dalam dosa dan memiliki roh yang sama, yaitu roh yang "mati", maka Kaleb memiliki roh yang berbeda karena ia menerimanya dari Tuhan. Ini sesuai dengan Yehezkiel 36 yang telah kita kutip diatas. Kaleb menerima roh yang baru dan bahkan menerima Roh Tuhan sendiri didalam batinnya. Itulah yang menyebabkan ia mengikut Tuhan dengan sepenuh hatinya. Bagaimana dengan kita, khususnya sebagai kepala keluarga ? Sudahkah kita memiliki roh yang berbeda ? Sudahkah kita mengikut Tuhan dengan sepenuh hati kita ? Ingatlah, jika kita memiliki roh yang berbeda dan mengikut Tuhan dengan sepenuh hati, maka bukan saja kita yang diselamatkan, tetapi juga keturunan kita. Semoga kita, khususnya para kepala keluarga, melihat perkara ini dengan jelas. ============================================ From: irnawan silitonga Renungan Keluarga: Bilangan ( 5 ) "TUHAN berfirman kepada Musa: 'Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepadaKu, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka " [ Bilangan 14:11 ]. ".namun telah sepuluh kali mencobai Aku dan tidak mau mendengarkan suaraKu, pastilah tidak akan melihat negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka." [ Bilangan 14:22-23 ]. Generasi pertama Israel telah gagal mewarisi janji-janji Tuhan, yang diikatNya kepada nenek moyang mereka. Penyebab kegagalan generasi pertama ini diuraikan dengan jelas, sesuai ayat kita diatas, yaitu menista Tuhan, tidak mau percaya kepada Tuhan, telah sepuluh kali mencobai Tuhan, dan tidak mau mendengarkan suara Tuhan. Istilah menista disini berarti memperlakukan Tuhan dengan hina / menjijikkan. Walaupun Tuhan telah memperlihatkan KemuliaanNya, baik melalui perbuatanNya maupun dengan mempertunjukkan DiriNya, khususnya di gunung Sinai, namun mereka tidak memperlakukan Tuhan dengan hormat dan rasa kagum. Perlakuan mereka yang tidak hormat dan menjijikkan ini disebabkan mereka tidak mau percaya dan tidak mau mendengarkan suara Tuhan. Ketidak-percayaan mereka membuat mereka memperlakukan Tuhan dengan hina. Inilah dosa generasi pertama Israel. Ekspresi dari ketidak-percayaan mereka kepada Tuhan, juga terlihat dari sungut-sungut yang seringkali mereka tunjukkan, jika mereka menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan mereka. Kekurangan air, tidak ada daging untuk dimakan, kepemimpinan Musa, dan hal lainnya, membuat mereka cepat bersungut-sungut. Semua ini hanyalah gejala. Penyakitnya adalah ketidak-percayaan. Tetapi, menurut penilaian Tuhan, semua sikap mereka ini adalah suatu penistaan kepada Tuhan. Itu sebabnya Tuhan hampir memusnahkan mereka dengan seketika, jika Musa tidak bersyafaat bagi mereka (Bil. 14:13-19). Dosa menista Tuhan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh mereka yang pernah melihat kemuliaan Tuhan, baik melalui perbuatanNya maupun kehadiranNya. Orang yang belum percaya Tuhan, tidak dapat melakukan dosa seperti ini. Inilah dosa yang diuraikan dalam Ibrani 6:4-6 sebagai berikut, "Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Tuhan dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat.". Inilah dosa yang mungkin dilakukan oleh anak-anak Tuhan yang telah lahir baru. Itu sebabnya, Paulus menegaskan agar setiap kita sebagai anak-anak Tuhan, harus senantiasa bersuka-cita, mengucap syukur dalam segala hal, baik waktu senang maupun susah. Sebab, apapun yang terjadi atas kita, semuanya baik dan perlu, entah itu terjadi karena serangan iblis, atau karena kesalahan kita sendiri ataupun karena kesalahan orang lain. Pada akhirnya, semuanya itu dipakai Tuhan untuk menggenapi janji-janjiNya bagi kita. Karena itu, jika keluarga kita saat ini belum mengalami ketenangan dan kebahagiaan sebagaimana yang dijanjikanNya, maka baiklah kita tetap percaya bahwa Ia pasti akan menggenapi janjiNya menurut cara dan waktuNya sendiri. Gema Sion Ministry.

