From: Denny Teguh Sutandio
Usulan Pendekatan Pendidikan Kristen
ditinjau dari Theologia Reformed Injili
oleh :
Denny Teguh Sutandio
B
egitu banyak sekolah-sekolah dan kampus-kampus berdiri dan bahkan menggunakan
istilah/nama “Kristen”, tetapi jika diperhatikan dan di teliti lebih dalam,
tidak ada semangat dan berita Kristen dan Injil sejati yang didengungkan di
dalam banyak lembaga-lembaga pendidikan, bahkan jiwa bisnis, atheisme dan
dualisme yang sedang dikembangkan. Oleh karena itu pentingnya theologia
Reformed Injili menjawab masalah pendidikan Kristen yang berdasarkan Alkitab.
Melalui makalah ini (yang merupakan tugas akhir mata kuliah Contemporary
Approaches to Christian Education di Sekolah Theologia Reformed Injili
Surabaya─STRIS Andhika), saya akan mencoba memberikan usulan terhadap
pendekatan pendidikan Kristen berdasarkan theologia Reformed Injili.
1. Pendekatan Pengajaran yang Seimbang
Pendidikan Kristen yang benar dan bertanggungjawab seharusnya mementingkan
adanya keseimbangan dalam bidang pengajaran maupun pendidikan dan bukan
ketimpangan-ketimpangan bahkan kemerosotan-kemerosotan. Adapun 3 prinsip
keseimbangan dalam pendekatan pengajaran ini yaitu :
a) Integrasi Iman Kristen (Theologia Reformed) dan Ilmu
Iman Kristen dan theologia Reformed yang ketat, bertanggungjawab dan
berdasarkan Alkitab harus bertindak sebagai “hakim” yang harus “menghakimi”
semua ilmu. Tidak berarti ilmu bertentangan total dengan iman Kristen. Artinya,
ketika para murid mempelajari sebuah ilmu, guru-guru Kristen harus mengarahkan
para muridnya untuk bisa mempertimbangkan atau menguji apakah ilmu yang
dipelajari itu sesuai dengan Alkitab. Jika ilmu itu sesuai dengan Alkitab, maka
guru-guru Kristen harus mengajar ilmu tersebut dengan sungguh-sungguh dan
mengintegrasikannya dengan Alkitab, sehingga para murid dapat mengerti
kaitan/implikasi dari iman Kristen sejati yang berdasarkan Alkitab yang tidak
kompromi dengan/terhadap ilmu-ilmu yang dipelajari yang sesuai dengan Alkitab.
Tetapi jika ilmu yang dipelajari bertentangan dengan Alkitab maka ilmu itu
tetap harus dipelajari dan disoroti dengan pandangan Alkitab dan theologia
Reformed yang “menghakimi”, sehingga para murid Kristen bisa
mempertanggungjawabkan iman Kristen yang kokoh dan ilmu pengetahuan yang kuat
yang berdasarkan Alkitab. Oleh karena itu, di dalam setiap kelas di sekolah
atau kampus, seorang dosen/guru harus benar-benar menjelaskan ilmu-ilmu yang
dipelajari dari sudut pandang keKristenan (Reformed) dan berani mengatakan
“salah/sesat/melawan Alkitab” terhadap ilmu-ilmu yang bertentangan dengan
Alkitab. Penjelasan ini tidak membuat para murid menbenci ilmu tetapi membuat
para murid menghargai, mengerti dan menyoroti semua ilmu dari kacamata
theologia Reformed lalu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan
tepat.
b) Keseimbangan Pengajaran Ilmu dan Moral/Etika Kristen
Integrasi iman Kristen (Reformed) dan ilmu seharusnya mengarahkan adanya
pelaksanaan keseimbangan antara pengajaran ilmu pengetahuan dan moral/etika
Kristen. Seorang guru/dosen Kristen bukan hanya mengajarkan ilmu-ilmu kepada
para muridnya tetapi juga mengajarkan etika/moral Kristen yang berdasarkan
Alkitab. Artinya, para dosen/guru menyadarkan para muridnya untuk menyeleksi
setiap ilmu dari sudut pandang etika Kristen (selain dari sudut pandang
theologia Reformed). Misalnya, ketika belajar tentang teknologi (baik kloning,
aborsi, euthanasia, dll), dll, para dosen/pendidik harus berani menyatakan
aspek-aspek mana dalam ilmu-ilmu tersebut yang bertentangan dengan etika
Kristen, seperti contoh, para pendidik harus menjelaskan tentang bahaya
penyalahgunaan teknologi (seperti bom atom, kloning manusia, dan
tindakan-tindakan jahat lainnya). Prinsip-prinsip etika Kristen yang menyoroti
semua ilmu harus mempertimbangkan unsur-unsur :
ÿ Apakah ilmu pengetahuan yang dipelajari itu menyenangkan Tuhan
(sesuai dengan Alkitab) atau tidak ?
Etika Kristen tetap harus bersumber kepada Alkitab, Sumber Kebenaran, jadi ilmu
pengetahuan harus diseleksi dan diuji selain berdasarkan theologia Reformed,
juga berdasarkan prinsip-prinsip etika Kristen. Misalnya, bagaimana etika
Kristen menyoroti boleh tidaknya melakukan aborsi bagi para gadis Kristen dalam
kasus pemerkosaan pada kerusuhan bulan Mei 1998 ? Di sini pentingnya etika
Kristen yang tetap bersumber kepada kedaulatan Tuhan (the Sovereignty of God)
yang merupakan ciri khas theologia Reformed.
ÿ Apakah ilmu pengetahuan yang dipelajari itu berguna/berdampak
positif bagi orang lain (kesejahteraan bersama) ?
Etika Kristen tetap harus memperhatikan aspek lingkungan tanpa kompromi dengan
lingkungan tersebut. Apakah ilmu-ilmu yang dipelajari berdampak
positif/meningkatkan kesejahteraan bagi orang lain ? Misalnya, banyak orang
(ekonom) tahu segala sesuatu tentang ekonomi bahkan tahu kalau korupsi itu
tidak baik dan akan merugikan, tetapi berapa banyak orang sadar akan hal ini
dan tidak berani korupsi ? Ini disebabkan karena terlalu ringannya hukuman
(bahkan cenderung banyak yang tidak dihukum) bagi para pelaku korupsi bahkan
bagi teroris-teroris.
c) Integrasi (Ilmu) Teori dan (Ilmu) Praktek
Selain itu, pendidikan Kristen tidak hanya mementingkan orientasi ilmu teori
dan mengabaikan (ilmu) praktek/realisasinya. Pendidikan Kristen yang
bertanggungjawab harus mengintegrasikan juga ilmu teori yang telah disoroti
dari/dengan kacamata theologia Reformed dengan (ilmu) praktek yang tetap dalam
etika Kristen. Jika tidak ada integrasi yang seimbang antara (ilmu) teori dan
(ilmu) praktek (hanya mengutamakan orientasi teori) akan mengakibatkan banyak
siswa/mahasiswa hanya pandai berteori saja seperti realita di Indonesia yang
cuma bisa berteori (meskipun banyak yang ngawur) tanpa mau diaplikasikan dalam
kehidupan mereka baik dalam pekerjaan dan lingkungan hidup mereka. Sama seperti
iman Kristen akan menjadi mati jika tanpa disertai perbuatan (Yakobus 2:26),
tetapi tidak berarti iman Kristen tidak perlu dan hanya mementingkan perbuatan.
Itu bukan ajaran Alkitab ! Ketika kita berbuat baik sesuai dengan iman kita
yang berdasarkan Alkitab, itu hanya oleh anugerah-Nya bukan oleh karena
kehebatan diri kita. Demikian juga, (ilmu) praktek perlu dilakukan dari
pengertian yang tuntas dari (ilmu) teori, tetapi tetap tidak berarti ilmu teori
tidak perlu. Jika ilmu teori tidak perlu, yang penting prakteknya saja, maka
pendidikan Kristen akan menjadi kacau (chaos) dan
siswa-siswa/mahasiswa-mahasiswa yang belajar akan menjadi liar !
2. Pendekatan Komunikasi
Pendidikan Kristen bukanlah pendidikan Kristen yang egois dan mau menangnya
sendiri, tetapi pendidikan Kristen tetap memperhatikan pendekatan komunikasi
yang kontekstual tetapi tidak kompromi. Adapun 3 macam pendekatan komunikasi
yang diusulkan:
a) Komunikasi Sekolah−Orang Tua
Sekolah harus berkomunikasi dengan pihak orang tua, tetapi tidak berarti
sekolah kompromi dengan permintaan dan kemauan sewenang-wenang dari orangtua
murid. Komunikasi ini dapat berupa hubungan yang baik antar sekolah dan orang
tua. Misalnya, dalam pembukaan pendaftaran di sekolah/kampus, pihak
sekolah/kampus harus mengundang orangtua siswa dan membuka forum penjelasan
hal-hal penting tentang pendidikan Kristen dan sekolah/kampus yang didirikan
(bisa berupa penguraian misi, visi, realisasi, keunikan dan tanya jawab antara
orangtua murid dengan pihak sekolah/kampus). Selain itu, sekolah harus membuka
semua akun/uang yang dipakai baik untuk pendidik, kualitas sekolah,
fasilitas-fasilitas dan kebutuhan-kebutuhan sekolah (open financial system).
Selain itu, setiap orangtua harus dijelaskan perincian-perincian pemakaian uang
sekolah/kuliah anak-anak mereka sehingga mereka tahu dengan benar mengenai
pemakaian uang sekolah/kuliah yang bertanggungjawab.
b) Komunikasi Sekolah−Masyarakat
Sekolah perlu berkomunikasi dengan pihak masyarakat tetapi tetap tidak boleh
kompromi dengan masyarakat. Artinya,
Ø Sekolah (di daerah) harus ada hubungan networking dan affiliasi ke
sekolah-skeolah pusat agar sekolah tidak dianggap rendah (diatur semaunya) oleh
masyarakat tertentu dengan alasan tertentu. Tetapi hal ini juga tidak berarti
masyarakat boleh sewenang-wenang mengatur sekolah dan sekolah harus (mau tidak
mau/dengan terpaksa) menaati permintaan “gila” dari masyarakat, misalnya :
sekolah Kristen harus diganti menjadi status sekolah umum. Hubungan networking
dengan sekolah-sekolah pusat hanya untuk mempermudah pelaksaan pendirian
sekolah-sekolah Kristen di tengah-tengah masyarakat daerah/desa, tetapi tetap
memperjuangkan nilai-nilai kejujuran dan kemurnian dalam proses-proses
pendirian dan pelaksanaan sekolah-sekolah Kristen. Misalnya, dalam mengurus
proses IMB, sekolah Kristen tetap harus memperjuangkan izin IMB atas nama
sekolah Kristen bukan sekolah swasta atau yang lain.
Ø Guru-guru/dosen-dosen harus mengarahkan para murid untuk tetap
bersosialisasi dengan masyarakat sekitar di tempat sekolah itu berada.
Misalnya, dalam hal perbaikan jalan pada hari peringatan kemerdekaan RI dan
dalam momen-momen khusus lainnya. Di samping itu, para pendidik Kristen
mendorong para muridnya untuk memberitakan Injil dengan motivasi, tujuan dan
cara yang benar selain pelayanan sosial.
c) Komunikasi Sekolah−Negara
Sekolah perlu berkomunikasi dengan pihak negara, tetapi tidak boleh kompromi
dengan negara. Artinya,
? Sekolah harus tetap mematuhi peraturan-peraturan negara seperti
kalau sekolah-sekolah (baik Kristen maupun umum) di Indonesia harus mematuhi
UUD 1945 tetapi sekolah-sekolah Kristen di Indonesia tidak boleh sampai
mengorbankan iman, misi visi dan panggilan Kristen, misalnya ketika
sekolah-sekolah Kristen dipaksa oleh negara/pemerintah untuk membangun
tempat-tempat ibadah non-Kristen (misalnya langgar, dll) atau mengajar mata
kuliah/pelajaran di luar agama Kristen, lalu sekolah-sekolah “Kristen”
menaatinya dengan alasan takut kalau tidak diakui di dalam Depdiknas. Dalam hal
ini, sekolah-sekolah Kristen harus bisa membedakan dengan kritis sampai sebatas
mana mereka boleh menaati peraturan negara dan batas mana mereka tidak perlu
menaati peraturan negara.
? Sekolah-sekolah Kristen melalui kebijakan-kebijakan,
pendidik-pendidik harus mengarahkan para murid untuk menjadi warga negara yang
baik yang pertama-tama mencintai Tuhan, memegang teguh iman Kristen yang ketat
dan bertanggungjawab, lalu setelah itu baru dapat berguna bagi bangsa dan
negara. Tetapi orientasi sekolah-sekolah Kristen bukan untuk membentuk
siswa/murid menjadi pemimpin bangsa, karena jika demikian, kita bukan mendidik
para murid untuk rendah hati, tetapi menjadi egois. Kalau semua murid dididik
untuk nantinya menjadi pemimpin bangsa, siapa yang mau jadi rakyatnya ?
3. Pendekatan Hubungan Sekolah−Gereja
Seperti yang diungkapkan oleh Cornelius Van Til bahwa sekolah harus berada di
bawah gereja, maka sekolah Kristen seharusnya memiliki hubungan yang paling
dekat bahkan terutama dengan pihak gereja lokal (bukan merupakan gabungan
gereja-gereja yang berbeda doktrin). Adapun 3 pola hubungan sekolah dengan
gereja yaitu :
a) Sarana Pembinaan Iman
Hubungan pertama yang harus dibangun antara gereja dan sekolah adalah hubungan
sarana pembinaan iman Kristen. Gereja dengan theologia yang sehat dan benar
(Reformed) harus meletakkan/mengajarkan prinsip-prinsip iman Kristen yang
berdasarkan Alkitab kepada sekolah yang didirikannya melalui visi, misi dan
realisasi yang nyata. Sekolah Kristen yang tidak di bawah gereja yang sehat
akan mengakibatkan iman Kristen diajarkan secara sembarangan tanpa memandang
latar belakang denominasi gereja. Ini menghasilkan
mahasiswa-mahasiswa/siswa-siswa yang belajar tidak memiliki pertanggungjawaban
iman yang solid. Akibatnya, para murid menjadi pribadi-pribadi yang menekankan
universalisme theologia di dalam keKristenan (yang penting semua gereja rukun),
bahkan menekankan universalisme iman (pluralisme iman) di dalam sebuah sekolah
yang berplang “Kristen”. Sebagai contoh konkrit, salah satu universitas
“Kristen” swasta terkenal di Surabaya mengaku bahwa kampus ini didukung oleh 7
gereja-gereja yang jelas-jelas berbeda doktrin (Protestan, Pentakosta dan
Karismatik/Bethel Injil) yang mengakibatkan tidak sampai 5% mahasiswanya yang
benar-benar memahami iman Kristen dengan benar dan bertanggungjawab meskipun
misi dan visi yang dibeberkan sangat “muluk-muluk” (“bombastis”, yang tidak
pernah direalisasikan), yaitu : “mengakui bahwa keselamatan hanya ada dan
melalui Tuhan Yesus dan Alkitab sebagai Firman Tuhan.”, bahkan dengan sok
berani mengadakan seminar integrasi iman dan ilmu, tetapi kenyataannya tidak
sampai 3% visi dan misi “tidak mungkin” ini benar-benar direalisasikan (khusus
tentang integrasi iman dan ilmu). Sebagai sarana pembinaan iman, sekolah
bekerja sama dengan gereja seharusnya mengadakan upaya mengintegrasikan iman
Kristen dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang dipelajari misalnya melalui
seminar-seminar dalam berbagai bidang yang menyoroti semua ilmu dari sudut
pandang Alkitab dan theologia Reformed (seminar ini harus/wajib diikuti oleh
semua murid). Selain itu, perlu dilakukan retret-retret rohani yang berkualitas
yang diadakan 2 kali setiap tahun untuk meneguhkan iman Kristen mereka.
b) Sarana Pengarahan Etika
Hubungan kedua yang perlu dibangun antara sekolah dan gereja adalah sarana
pengarahan etika. Ini berarti dalam tindakan, gereja tetap mengatur
sekolah-sekolah Kristen agar para pendidiknya mengajar etika Kristen di samping
mengajar integrasi yang tepat antara iman Kristen dan ilmu. Dalam hal ini,
mungkin bisa dilakukan melalui seminar tentang aborsi, euthanasia, dll. Jangan
sampai kasus pembunuhan terjadi di sebuah sekolah/kampus “Kristen” swasta
terkenal di Surabaya ! Kalau gereja dan sekolah Kristen tidak mengajarkan etika
Kristen yang baik, ini akan menimbulkan dampak dan pengaruh negatif dari
masyarakat bahkan akan memalukan nama Tuhan Yesus.
c) Sarana Sosial
Hubungan terakhir yang perlu dibangun antara sekolah dan gereja adalah hubungan
sarana sosial. Hal ini mencegah sekolah dikategorikan sebagai lembaga bisnis
yang mementingkan profit pribadi. Bukan hanya itu saja, hubungan gereja−sekolah
bersama-sama membantu masyarakat sekitar sambil memberitakan Injil._