From: Jacqueline SOUISA 

Kalau mau Berkat harus taat
Ulangan 11:8-32

Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, 
apabila kamu mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, ... (Ulangan 11:26-28)

Saat menulis renungan ini saya sedang berada di salah satu restoran "gaul" anak 
muda di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, bersama dengan teman-teman saya. 
Restoran tersebut menyajikan berbagai jenis makanan pasta. Suasana restoran 
begitu ramai. Yang menarik perhatian saya bukan hanya makanan yang serba 
menarik, tetapi juga para pengunjung yang tak kalah menariknya. Mulai dari 
kelompok Anak Baru Gede (remaja) sampai kelompok Angkatan Babe Gue (lanjut 
usia).

Entah apa yang diperbincangkan oleh mereka, namun yang pasti suasana memang 
sangat hiruk pikuk dan menarik bila diamati. Yang menjadi pembicaraan saya dan 
teman-teman saya pada saat itu adalah berbagai macam kostum yang dikenakan oleh 
para pengunjung, yang terlihat sangat aneh. Salah satunya, ada seorang pria 
mengguna kan celana panjang, yang tidak duduk, maaf, belahan bokongnya terlihat 
oleh semua orang, dan pria tersebut bersama seorang wanita. Hal tersebut 
menjadi salah satu perenungan bagi saya sebagai orang tua. Kita tentu 
mengetahui dengan jelas, bahwa Tuhan menghendaki agar kita mengajarkan segala 
kebenaran kepada anak-anak kita.

Saya teringat ketika Tuhan memerintahkan bangsa Israel agar mengajarkan 
hukum-hukum-Nya kepada anak-anak mereka (lihat Ulangan 11:18-20). Saya merenung 
sejenak, apakah keanehan-keanehan yang terjadi saat ini khususnya terhadap 
orang percaya merupakan korban akibat tidak adanya pengajaran orangtua, atau 
memang mereka sudah tidak perduli lagi dengan apa yang telah diajarkan?

Tuhan memberikan kebebasan kepada kita, untuk memilih berkat atau kutuk. Tidak 
dapat dipungkiri, siapa pun kita pasti akan meilih berkat! Namun, yang menjadi 
pertanyaan adalah maukah kita mendengarkan dan taat melakukan firman Tuhan? 
Maukah kita hidup kudus di hadapan-Nya, meskipun harus menerima cemohan dan 
ejekan dari orang lain? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, mampukan saya untuk mendengar dan melakukan perintahMu, agar 
berkat-Mu menjadi milikku. Amin.

Disalin dari Renungan Harian keluarga ALETEA
=======================================
From: Wiempy 

Buku Misquoting Jesus - English Version

Info sekilas mengenai buku ini:

The popular perception of the Bible as a divinely perfect book receives scant 
support from  Ehrman, who sees in Holy Writ ample evidence of human fallibility 
and ecclesiastical politics. Though himself schooled in evangelical literalism, 
Ehrman has come to regard his earlier faith in the inerrant inspiration of the 
Bible as misguided, given that the original texts have disappeared and that the 
extant texts available do not agree with one another. 
Most of the textual discrepancies, Ehrman acknowledges, matter little, but some 
do 
profoundly affect religious doctrine. To assess how ignorant or theologically 
manipulative 
scribes may have changed the biblical text, modern scholars have developed 
procedures 
for comparing diverging texts. And in language accessible to nonspecialists, 
Ehrman 
explains these procedures and their results. He further explains why textual 
criticism has frequently sparked intense controversy, especially among 
scripture-alone Protestants. 
In discounting not only the authenticity of existing manuscripts but also the 
inspiration 
of the original writers, Ehrman will deeply divide his readers. Although he 
addresses 
a popular audience, he undercuts the very religious attitudes that have made 
the Bible 
a popular book. Still, this is a useful overview for biblical history 
collections. - Bryce 
Christensen (Copyright © American Library Association - All rights reserved)

:: Information about the File ::
- Title: Misquoting Jesus - The Story Behind Who Changed the Bible and Why
- Paperback: 258 pages
- Language: English
- Author: Bart D. Ehrman
- ISBN: 0060738170
- Publisher: HarperSanFrancisco
- File: PDF
- Size: 30,5 MB (32.002.453 bytes)
- Size in Rapidshare: 27.8 MB

Bagi yg mau download, silahkan masuk ke link dibawah ini:
http://rapidshare.com/files/22955137/MJ_TSBB.rar

JBU,
Wiempy
=================================================
From: Jacqueline SOUISA 

Hidup baru dalam Kristus
Roma 6:1-14

Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan 
dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara 
orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang 
baru. (Roma 6:4)

Orang yang ada di dalam Kristus akan hidup dengan cara yang baru. Ia senantiasa 
memilih jalan kebaikan saat menghadapi berbagai macam kesulitan dan tantangan. 
Hal seperti itu mendisiplinkan diri seseorang untuk tetap menaati Firman Tuhan. 
Melakukan hal tersebut memang tidak mudah. Dibutuhkan komitmen untuk menjalani 
semuanya itu.

Saya pernah bertemu dengan seseorang yang senantiasa kreatif dalam hidupnya. Ia 
selalu membuat sesuatu yang baru, baik dalam cara pelayanannya maupun cara 
hidupnya. Inovasi yang dilakukannya telah memberi inspirasi yang baik dalam 
kehidupan saya. Mulai saat itu, saya juga selalu berusaha berinovasi dalam 
seluruh bentuk kehidupan yang saya jalani bersama Tuhan.

Saudara, menjalani kehidupan dan pelayanan bersama Tuhan itu seharusnya tidak 
membosankan, tetapi menyenangkan dan dinamis.
Seringkali yang menyebabkan kebosanan itu adalah cara pandang kita sendiri yang 
enggan melakukan ide-ide baru dalam pelayanan. Terlalu puas dengan apa yang 
ada. Memang setiap kreasi baru tentu ada kemungkinan untuk ditolak. Namun, jika 
setiap ide baru itu tidak kita coba, maka kita tidak tahu apakah ide itu baik 
atau tidak? Dibutuhkan atau tidak?

Hidup yang baru di dalam Kristus itu akan selalu membawa kita kearah yang lebih 
baik. Lebih baik dalam melayaniNya, lebih baik dalam berdoa, lebih baik dalam 
membaca Alkitab, dan lain sebagainya.
Bagaimana dengan kita? Sudahkan kita benar-benar menuju ke arah yang lebih baik?

Selalu ada cara baru yang dapat membuat kita senantiasa menikmati kasih setia 
Tuhan di dalam kehidupan kita.

DOA: Tuhan, buatlah hidupku yang baru ini agar senantiasa baru setiap hari. 
Amin.

Disalin dari Renungan Harian keluarga ALETEA

Kirim email ke