From: Eksposisi Roma Refleksi Paskah 2007 KEBANGKITAN KRISTUS : JAMINAN KEPASTIAN KESELAMATAN DAN HIDUP oleh : Denny Teguh Sutandio
Nats : Lukas 23:56b-24:12 ; Yohanes 11:25 ; 1 Korintus 15:12-58. "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga." (Lukas 24:5-7) Ketika Kristus disalib dan mati, karya-Nya memang sudah genap, tetapi tidak berarti Ia tetap mati, karena pada hari ketiga, Ia bangkit. Ketiga ayat di atas adalah perkataan para malaikat kepada para perempuan yang datang ke kubur Yesus untuk memberikan rempah-rempah. Perikop ini terdapat juga di dalam ketiga Injil sinoptik lainnya yaitu : Matius 28:1-10 ; Markus 16:1-8 ; dan Yohanes 20:1-10. Meskipun peristiwa terdapat di dalam keempat Injil sinoptik, Lukas mencatat peristiwa ini khususnya perkataan kedua malaikat dengan sangat teliti dibandingkan dengan keempat Injil lainnya. Kalau kita membaca Matius, Markus dan Yohanes, kedua malaikat ini hanya berkata bahwa Yesus sudah bangkit, tetapi di dalam Injil Lukas, dicatat bahwa malaikat itu bertanya, "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit." Kalimat ini hanya terdapat di dalam Injil Lukas. Ini berarti Kristus yang bangkit adalah Kristus yang hidup di antara orang mati. Lalu, apa signifikansi kebangkitan Kristus bagi umat percaya ? Pertama, kebangkitan Kristus membuktikan kemenangan-Nya atas kuasa dosa, iblis dan maut. Kalau kita membaca Alkitab, Tuhan menciptakan manusia, tetapi manusia yang diciptakan-Nya itu memberontak dan tidak setia kepada-Nya (berdosa), sehingga mereka dibuang dari Taman Eden. Dosa manusia mengakibatkan manusia harus menanggung penderitaan, penyakit dan akhirnya mati. Tidak ada jalan lain dari pihak manusia yang membuat manusia bisa lepas dari siklus mengerikan dari dosa ini, kecuali hanya ada satu jalan dari pihak Tuhan, yaitu dengan mengutus Kristus untuk mati disalib demi menebus dosa manusia. Jumat Agung merupakan momen agung di dalam sejarah di mana Tuhan menjadi manusia rela disalib dan mati demi menebus dosa manusia. Di dalam salib, ada penebusan Kristus yang memperdamaikan, meredakan murka Tuhan dan menggantikan kita yang seharusnya mati. Tetapi kematian-Nya tidak akan menghasilkan apapun, jika IA tidak bangkit. Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Ia telah mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut. Di dalam film The Passion of The Christ, ketika Kristus bangkit dari kematian, iblis digambarkan menjerit kalah. Itulah gambaran yang sebenarnya tentang kondisi iblis pada saat Kristus bangkit. Pada saat yang sama, kemenangan-Nya atas dosa, iblis dan maut diberikan kepada umat pilihan-Nya, sehingga umat-Nya juga memiliki kuasa Tuhan untuk mengusir setan. Rasul Petrus mengatakan di dalam 1 Petrus 5:9a, "Lawanlah dia dengan iman yang teguh," Hal yang sama juga diungkapkan oleh Rasul Paulus di dalam 1 Korintus 15:54-57, "Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Tuhan, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita." Inilah kemenangan Kristus yang juga menjamin kemenangan kita akan kuasa dosa, iblis dan maut. Memang, kita masih bisa berdosa, tetapi satu hal yang perlu diingat adalah kuasa dosa tidak bisa lagi mencengkeram kita, karena kuasa dosa telah dikalahkan di dalam salib dan kebangkitan-Nya. Oleh karena itu, sudah seharusnya, anak-anak Tuhan hidup sebagai anak-anak terang yang mengerjakan apa yang Tuhan inginkan (Roma 12:1-2 ; Efesus 2:10 ; 4-5) dan menang mengalahkan setiap pencobaan iblis berdasarkan kebangkitan Kristus. Kedua, kebangkitan Kristus menggenapkan rencana Tuhan di dalam keselamatan. Rasul Paulus mengajarkan, "Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu." (1 Korintus 15:17) Bukan hanya mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut, kebangkitan Kristus juga menggenapkan rencana Tuhan di dalam keselamatan. Paulus mengatakan bahwa kalau Kristus tidak bangkit, maka iman kita di dalam-Nya menjadi sia-sia, karena semua orang juga mati dan tidak bangkit lagi. Bukan hanya sia-sia, kalau Kristus tidak bangkit, kita pun masih hidup di dalam dosa, karena Kristus sendiri tidak bangkit yang melambangkan bahwa Kristus sendiri tidak dapat mengalahkan dosa. Tetapi semua kemungkinan itu tidak pernah terjadi, karena fakta sesungguhnya adalah Kristus bangkit (1 Korintus 15:20). Kebangkitan-Nya menggenapkan rencana Tuhan di dalam keselamatan umat pilihan-Nya. Berarti umat pilihan-Nya mendapatkan keselamatan yang genap setelah Kristus bangkit dan terus-menerus disempurnakan oleh Roh Kudus sehingga di dalam kekekalan nantinya mereka telah sempurna seperti Kristus, Kakak Sulung mereka. Ketiga, kebangkitan Kristus memberikan jaminan kepastian hidup. Selain jaminan keselamatan, kebangkitan Kristus juga akan menghidupkan mereka yang sudah mati kelak, karena Kristus sendiri bersabda, "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya." (Yohanes 11:25-26) Inilah iman Kristen sejati. Iman Kristen sejati berani menerobos dan jauh melampaui realita yang dilihat oleh manusia biasa, yaitu realita kematian fisik. Sehingga, iman di dalam Kristus mengakibatkan kita tidak bersedih dan menangis pada saat seorang percaya (Kristen sejati) meninggal, tetapi justru bersukacita karena orang percaya yang telah meninggal akan mendapatkan tempat yang indah bersama-Nya di Surga. Sedangkan barangsiapa yang sengaja menolak dan menghina Kristus, percayalah, "ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Tuhan." (Yohanes 3:18b) Puji Tuhan ! Tidak ada jaminan kepastian hidup selain hanya di dalam Kristus dan kebangkitan-Nya. Oleh karena itu, Rasul Petrus berani mengajarkan, "Terpujilah Tuhan dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Tuhan karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir." (1 Petrus 1:3-5) Kebangkitan-Nya juga memberikan pengharapan hidup kepada umat pilihan-Nya bahkan ketika mereka berada di dalam penderitaan (baca 1 Petrus 1:6, "Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan."). Berarti, iman Kristen sejati di dalam kehidupan kekal mengakibatkan mereka tidak goyah ketika mengalami berbagai pencobaan, karena iman itu dibangun di atas pengharapan yang sangat kokoh di dalam kebangkitan Kristus. Keempat, kebangkitan Kristus menjamin kebangkitan (tubuh) umat pilihan-Nya. Selain jaminan kepastian hidup, kebangkitan-Nya menjamin kebangkitan umat pilihan-Nya, seperti yang diajarkan oleh Rasul Paulus, "Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan." (1 Korintus 15:13) Kalimat pengandaian ini harus dibalik dan kenyataannya adalah Kristus sudah bangkit dan kebangkitan-Nya menjamin kebangkitan umat pilihan-Nya. Kebangkitan umat pilihan-Nya diibaratkan seperti, "Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain." (1 Korintus 15:36-37) Begitu pula dengan kebangkitan umat pilihan harus didahului dengan kematian tubuh lama yang nantinya akan diganti dengan tubuh jasmani yang baru yang tidak bisa berdosa lagi (non-posse peccare). Perbedaan antara kedua tubuh ini dibahas oleh Paulus di dalam 1 Korintus 15:40-46 dan bagi saya, hal ini ditutup dengan suatu konklusi di ayat 47-48, "Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga." Kita sebagai umat pilihan-Nya mungkin masih bisa berdosa dan bisa tidak berdosa (posse non-peccare), karena adanya dosa asal, tetapi di dalam kekekalan nantinya, yaitu di dalam langit dan bumi yang baru, kita akan mengenakan suatu tubuh surgawi yang tidak bisa lagi berdosa. Tubuh surgawi ini bukanlah tubuh yang baru, tetapi tubuh yang lama akan disempurnakan. Penyempurnaan tubuh kita yang lama membuktikan bahwa Tuhan berkuasa memakai tubuh fisik kita yang lemah untuk diubah menjadi tubuh baru yang menjadi alat-Nya, sehingga kelak kita akan dapat bersama-sama dengan-Nya. Sungguh suatu anugerah yang terbesar dan teragung di dalam sejarah, bahwa kebangkitan-Nya menjamin kebangkitan umat pilihan-Nya. Tidak ada agama atau filsafat atau ajaran yang berani mengajarkan konsep akhir zaman dengan begitu jelas kecuali hanya di dalam Alkitab. Puji Tuhan ! Setelah merenungkan hal ini, maukah Anda kembali kepada Kristus yang telah mengunjungi dunia ini, mati disalib dan bangkit dari kematian ? Tidak ada jalan lain kembali kepada Bapa jika tidak melalui Kristus yang adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup (Yohanes 14:6). Kebangkitan-Nya memang banyak disalahmengerti dan dihina, tetapi sebenarnya kebangkitan-Nya memberikan kepastian keselamatan dan hidup bagi umat pilihan-Nya yang percaya di dalam-Nya. Karena itu, bertobatlah dan kembali kepada-Nya sekarang. Happy Easter ! ============================================= From: Antonius Steven Un TESTIMONI KEBANGKITAN KHAS MATIUS Antonius Steven Un Sebagaimana seluruh Injil bersifat testimonial, baik terhadap kelahiran, kematian, keilahian maupun kebangkitan Kristus, demikian pula dengan Matius. Hampir mirip dengan Injil Sinoptik lain dan Injil Yohanes, Matius menambahkan dua testimoni khas yang tidak dicatat di tempat lain, dalam kaitan dengan kebangkitan Kritus. Pertama, testimoni dari musuh-musuh Yesus, yakni imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Matius berkepentingan lebih ketimbang Markus, Lukas maupun Yohanes untuk menuliskan testimoni ini karena konteks Injil Matius yang memang ditulis oleh Jews-Christian kepada Jews-Christian yang tinggal di antara Jews-Non-Christian. Alasannya adalah di dalam 28:15, "ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini". Gosip bahwa mayat Yesus dicuri oleh murid-murid, beredar luas di antara orang Yahudi sampai masa ketika Matius menuliskan Injil ini. Itu sebabnya mengapa ia mau menulis testimoni (baca: membongkar skandal) tentang perlakuan lawan-lawan Yesus. Satu perikop sebelum perikop kebangkitan, Matius mencatat tentang permintaan penjagaan kubur Yesus oleh pihak orang Yahudi kepada Pilatus. Alasan yang diberikan adalah "penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama" (27:64). Alasan ini secara tersurat adalah ideological-religious reason, tetapi karena Pilatus tidak berkepentingan dengan itu maka Pilatus membaca alasan mereka sebagai social-political reason. Karena alasan ini maka Pilatus memerintahkan prajurit agar menjaga kubur itu "sebaik-baiknya" (27:65). Kita bisa memahami ini karena layanan publik polisi 1717 yang setiap hari dikirimi SMS busuk, tetapi kalau menyangkut bom misalnya, polisi tidak pernah menganggap remeh. Polisi pasti memberikan penjagaan sebaik-baiknya. Siapa tahu, SMS yang ini benar sehingga akhirnya polisi akan dituduh mengabaikan keselamatan masyarakat. Itu sebabnya, dengan pemikiran ini, pasti penjagaan yang dilakukan tidak main -main. Kalau begitu, gosip bahwa murid-murid mencuri mayat Tuhan Yesus adalah gosip yang tidak masuk akal. Kalaupun para penjaga itu mengantuk, tidak mungkin murid-murid membongkar batu besar itu tanpa terdengar oleh mereka. Dalam perikop kebangkitan, Matius mencatat bahwa para penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang mati (28:4). Pengalaman eksistensial ini membuktikan bahwa sebenarnya yang pertama melihat kebangkitan justru adalah penjaga-penjaga. Sayang, uang akhirnya membutakan mereka. Para penjaga mengalami gentar ketakutan yang hebat karena Matius memainkan istilah yang digunakan, yakni sama dengan istilah "gempa bumi yang hebat" di ayat 2 (egeneto dan egenonto). Lagipula mereka ketakutan seperti orang mati, suatu pengalaman yang dialami oleh Yohanes di Pulau Patmos ketika menulis Kitab Wahyu. Saking hebatnya pengalaman itu sampai-sampai ketika menulis kitab itu, Yohanes tidak menggunakan bahasa Yunani sebaik Injil atau surat-suratnya. Pengalaman ekstrim para penjaga ini tidak mungkin dapat dibungkam begitu saja. Pengalaman ekstrim itu kerap memaksa seseorang menceritakan secara luar biasa, atau bahkan justru tidak bisa bicara. Tetapi bahwa untuk memutarbalikan pengalaman itu, merupakan sesuatu yang tidak mudah. Tidak heran, para imam kepala harus merogoh kocek dalam jumlah besar untuk menutup mulut dari pengalaman ekstrim-eksistensial para penjaga itu (28:12). Tidak cukup dengan bayaran itu, karena lenyapnya mayat Yesus adalah suatu kesalahan pada para penjaga, imam kepala juga melengkapi dengan suatu jaminan keamanan atas kesalahan ini: "dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa" (28:14). Di sini, Matius menyatakan yang sebenarnya, skandal itu bukan pada murid-murid tetapi justru pada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Dengan membongkar skandal ini, Matius melakukan sekaligus dua hal, bahwa gosi p mayat Yesus dicuri itu tidak benar dan dengan demikian lenyapnya mayat Yesus itu hanya satu kemungkinan: Yesus Bangkit! Kedua, testimoni dari peristiwa supranatural. Hanya Matius yang mencatat bahwa terjadi gempa bumi yang hebat (28:2) dan di sini Matius juga mencatat proses datangnya malaikat dan batu terbongkar. Ada kesengajaan kepentingan Matius mencatat tentang gempa bumi karena Yudaisme tidak pernah memandang remeh peristiwa supranatural. Ketika Tuhan Yesus berjalan di atas air dalam Matius 14, orang-orang mengakuinya sebagai anak Tuhan. Ketika Tuhan Yesus memberi makan 5000 laki-laki (mungkin semuanya 12-14 ribu orang) dari 5 roti dan dua ikan, maka mereka mengakui bahwa Yesus adalah nabi yang akan datang itu dan mereka ingin memaksanya menjadi raja. Dengan banyak bukti di dalam Injil, kita melihat bahwa Yudaisme memang mengakui hal supranatural sebagai pekerjaan Tuhan. Itu sebabnya, ketika Matius mencatat adanya perkunjungan malaikat dan gempa bumi maka di sini sebenarnya Matius ingin menekankan kepada orang Yahudi bahwa kebangkitan adalah pekerjaan Tuhan dan hal itu benar-benar terjadi. Tuhan sanggup melakukan hal itu! Tuhan Memberkati.

